Derita Gadis Yang Lara

Derita Gadis Yang Lara
BAB 8


__ADS_3

Setelah Kania sampai Rumah dan meletakkan motornya di Teras depan Rumah lalu dia pun bergegas masuk ke Dalam Rumah. Tanpa dia sadari ternyata Bapaknya pun di Dalam Rumah.


"Habis dari mana Kamu sekolah maghrib baru pulang. Setiap hari kamu seperti ini rupanya, ngak Sekolah tapi keluyuran" Ucap Bapak yang tiba-tiba membuat Kania terpanjat.


"Bukan Pak tadi Kania habis dari Taman Kota menjual Teh karena di Kasih tugas dari Bu guru untuk menjual barang dagangan Pak" Kania yang menundukan kepalanya karena takut Bapaknya akan memarahinya.


"Alasan saja Kamu ini, Kamu itu kalau cuma sekolah mau keluyuran nggak usah Sekolah buang-buang duit tau ngak". Mata Bapak melotot ke Arah Kania.


"Tapi Kania nggak bohong Pak Kania benar-benar menjual barang dagangan dari Bu Guru" ucap Kania yang berkata sejujurnya.


"Alahhh kamu itu sama aja kayak Ibumu sama-sama mencari alasan"


Prakkkkkk


Tttyaarrrr...


Bapaknya melempar gelas dan kacanya pun berhamburan pecah berkeping-keping.


"Pakkkk, Kania tau Kania ini bukan anak kandung Bapak. Tapi Kania mohon jagan sikap Bapak jangan seperti ini lagi. Cukup Pak cukup". Kania berteriak meluapkan amarahnya.


"Ngmong apa kamu ini" pekik Bapak sambil mendekati Kania memegang kedua lengan tangan Kania dan melotot ke Arah mata Kania.


Kania pun memberanikan diri menatap mata Bapaknya itu sambil meneteskan air matanya.


"Sudah Pak cukup dengan sandiwara yang Bapak dan Ibu lakukan selama ini". Kania melawan dan menempiskan kedua tangan Bapaknya sontak saja membuat Bapaknya terkejut dengan pengakuan Kania itu.


"Kania sudah mengetahui yang sebernya Pak, bahwa Kania ini bukan anak kandung Bapak dan Bapak kandung Kania sudah meninggal kan iya kan Pak jawab pertanyaan Kania". Bentak Kania yang tak bisa membendung emosinya saat ini.


"Kamu bisa mengetahui semua ini dari mana. Kamu jangan asal bicara ya Kania". Bapaknya yang masih saja mengelak.

__ADS_1


"Hahahahaha.. mengelak Bapak bilang, Kania dengar sendiri dari mulut Bapak dan Ibu. Apa Bapak juga masih mau ngelak lagi.". Tatap Kania sambil meneteskan air matanya .


Bapaknya pun akhirnya tak bisa mengelak lagi dan mulai tersentuh dengan sikap Kania yang seperti ini.


"Iyha kamu memang sebenarnya bukan anak Kandung Bapak Kania" ucap Bapaknya lirih.


Kania pun semakin deras meneteskan air matanya. Dirinya merasa sangat terpukul dengan perkataan Bapak yang mengakui bahwa dirinya bukan anak Kandungnya.


Kania pun terduduk lemas di Kursi ruang tamu.


"Kenapa selama ini Bapak dan Ibu tidak pernah bilang yang sejujurnya kenapa Pak Ke.ke.kenapaaa". Kania sesenggukan bicara pun kesusahan.


"Maafkan Bapak dan Ibu Kania, bukan maksud kami menutup-nutupi ini semua dari kamu". Ucap Bapak sambil mengelus punggung Kania.


Tiba-tiba saja Ibu yang barusan pergi ke Warung membeli sayuran pun terkejut melihat pemandangan yang tengah terjadi di Depan Matanya. Ibu pun bingung melihat Kania yang sedang menangis dan Bapak yang duduk di sampingnya sambil menenangkan Kania.


Namu Kania melepaskan dan agak menghindar duduknya dari Ibunya.


"Kamu kenapa Kania kok bersikap seperti itu pada Ibu, ada apa dengan Ibu kamu marah sama ibu.?" Beberapa pertanyaan yang dilontarkan yang membuat Kania semakin menangis dan mengembang kempiskan dadanya.


"Sekarang jawab pertanyaan Kania Bu. Kenapa selama ini Ibu berbohong Kepada Kania". Kania menatap tajam Ibunya seperti mau menerkam mangsanya.


"I.i.ibu berbohong apa sama Kamu Kania, Ibu.tidak..." belum sempat selesai bicara pun Kania memotong ucapan Ibu.


"Sudahh Lah Bu Kania capek dengan ini semua, cukup Bu cukup dengan semua ini" Kania yang tak sanggup lagi berkata lalu pun menyandarkan tubuhnya di Kursi.


Bapaknya yang sedari tadi memperhatikan mereka berdua pun akhirnya angkat bicara.


"Kania sudah mengetahui yang sebenarnya Bu, kalau Kania itu bukan anak Kandung Bapak" ucap Bapak lalu duduk di dekat Ibu.

__ADS_1


Ibunya pun terkejut dengan ucapan Bapak akhirnya pun memeluk Kania mencoba memberi penjelasan kepada Kania.


"Maafkan Bapak dan Ibu selama ini Kania, karena tak bicara jujur kepadamu". Ujar ibu dan mencoba meraih tangan Kania mencoba membujuk agar Kania bisa tenang.


"Kenapa Ibu dan Bapak menutupi ini semua kepada Kania Pak Bu.?" Kania yang mencoba menguatkan hatinya untuk mendengarkan penjelasan dari Ibunya itu.


Ibunya yang bingung ingin menjelaskan ini semua dari mana karena ibunya tak ingin Kania mengetahui masalalu Bapaknya.


"Ibu tak ingin menceritakan Bapak kandungmu itu karena Bapakmu itu dulunya seorang lelaki yang bejat dan biadap Kania" Tutur Ibunya yang membuat Kania berfikir dengan ucapan Ibunya itu.


"Maksud Ibu apa, kenapa dengan Bapak Bu kenapa" Kania yang mengoyangkan badan Ibunya yang tak sabar mendengarkan penjelasanya.


"Dulu Bapakmu itu seorang pemabuk dia tak mau bekerja, dia juga sering kasar kepada Ibu" Ibunya pun menagis bila menceritakan masalalunya bersama mantan suaminya itu.


"Waktu Ibu masih mengandung kamu disaat usia kandungan Ibu baru 7 bulan. Bapakmu itu mabuk berat saat itu tiba-tiba saja Bapakmu pulang dan mengamuk sambil memukul tubuh Ibu akhirnya Bapakmu itu diUsir oleh Kakek dan Nenekmu. Selang beberapa jam ada orang yang memberitahu Ibu kalau Bapakmu itu tertabrak Mobil di Jalan dan Bapakmu itu tewas seketika". Ibu menagis tak tahan lagi menceritakan Bapak kandung Kania itu.


Kania kecewa dengan sikap Bapaknya dan ia pun tak habis fikir ternyata kebiasaan Bapaknya dulu itu buruk sekali. Sampai-sampai Ibu yang tengah hamil pun di sakiti oleh almarhum Bapaknya itu.


"Buu kenapa Bapak kejam sekali orangnya". Kania merengek sambil memeluk Ibunya.


"Sebab itu Kania Ibu dan Bapak tak pernah menceritakan soal Bapakmu itu, karena kami fikir masalalu Bapakmu itu tidak penting dan tak perlu diingat-ingat lagi" tutur Bapak sambung Kania.


"Ibu tidak ingin Kamu mengetahui soal Bapakmu itu Kania, karena Ibu hanya ingin Kamu mengetahui bahwa Bapak sigit inilah satu-satunya Bapak kamu". Ibu mengelus kepala Kania sambil memberinya penjelasan.


"Bapak Sigit inilah yang dulu menikahi Ibu ketika Kamu masih di Kandungan Ibu usia 8bulan." Ujar Ibunya.


"Tapi kepanapa Buk sikap Bapak juga seperti ini kepada Kania, Bapak selalu membandingkan Aku dengan Reno. Apa karena Reno anak kandung Bapak sedangkan Aku bukan anak kandungnya". Tanya Kania penasaran.


"Jujur Kania memang Bapak dulu itu menginginkan Anak Laki-laki ternyata malah Kamu lahirnya perempuan. Dan Bapak bersyukur Ibu melahirkan anak laki-laki. Maka itu Bapak selalu membandingkan Kamu dengan Reno. Karena Bapak selalu berfikir kalau anak laki-laki itu yang akan menjunjung derajat keluarga kita Nanti. Maafkan Bapak Kania". Bapak menceritakan alasan yang sebenarnya dan Kania pun kecewa dengan alasan Bapak itu.

__ADS_1


__ADS_2