Derita Gadis Yang Lara

Derita Gadis Yang Lara
BAB 59


__ADS_3

Kania memegang kuat tangan Bu Wida karena tak sudah tak tahan menahan kesakitan kontraksi yang di alaminya. 


"Kamu yang kuat ya Kania. Ibu yakin pasti kamu kuat melewati ini semua". Ucap Bu Wida menyemangati Kania sambil mengelap keringat di kening Kania yang bercucuran dengan tissu.


Kania tak bisa menjawab ucapan Bu Wida karena dia sudah tak tahan lagi merasakan sakit yang dia rasakan kini. Dia hanya menganggukkan kepalanya. 


"Kamu tahan ya Kania. Sebentar lagi kita akan sampai. Kamu harus tahan". Ucap Pak Seno suami Bu Wida mencoba ikut menguatkan Kania.


Setelah kurang lebih 30 menit akhirnya mereka sampai di Rumah Sakit. Pak Seno segera turun dari mobil dan membantu Kania turun dari mobil dengan di Bantu Bu Wida.


"Kita sudah sampai Kania. Pelan pelan ya turunnya". Ucap Bu Wida sambil memapah Kania berjalan menuju ke dalam Rumah Sakit.


Kania berjalan dengan tertatih sambil memegangi perutnya. 


"Suster Dokter tolong ada yang mau melahirkan. Suster tolong". Teriak Pak Seno mencari bantuan kepada suster yang berada di sekitar Rumah Sakit.


Suster yang ada di Nursing station pun akhirnya segera bergegas menghampiri Kania dan juga Bu Wida sambil membawa kursi Roda lalu segera membawa Kania ke Ruang persalinan.


"Tolong Sus. Cepat segera di tangani soalnya dia juga mengalami pendarahan". Ucap Bu Wida menyuruh suster tersebut segera menangani Kania karena Bu Wida sudah tak tahan lagi melihat Kania yang menahan kesakitan.


"Baik Pak Bu. Kita akan berusaha semampu kami". Ucap Suster tersebut dan segera membawa Kania.


Pak Seno dan Bu Wida mengikuti di belakang Kania dan Suster tersebut sampai ke Ruang Persalinan. Bu Wida pun ikut masuk ke dalam menemani Kania melaksanakan proses persalinan karena tidak ada keluarganya yang datang sampai sekarang. Dan Pak Seno pun menunggu di depan Ruang Persalinan.


"Bu tolong hubungi Mas Riko lagi ya. Siapa tahu mas Riko mau mengangkat telfonnya". Pinta Kania sambil menyodorkan ponselnya dengan tangan yang gemetar.


"Baik Kania Ibu coba hubungi suami kamu sekarang ya". Sahut Bu Wida sambil meraih ponsel milik Kania.


Bu Wida lalu mencoba menghubungi Riko namun sama saja Riko tak mengangkat telfonya.


"Gimana Bu. Di angkat nggak telfonnya". Tanya Kania sambil menahan kesakitan yang sudah tak tertahan lagi.


Bu Kania mengeleng gelengkan kepalanya.


"Nggak di angkat Kania. Sudah sekarang biar Ibu saja yang menemani Kamu persalinan. Kasihan juga anak kamu jika tak segera di lahirkan. Nanti Ibu akan coba menghubungi suami kamu lagi". Ucap Bu Wida sambil mengelus lembut kepala Kania.

__ADS_1


"Baik Bu"


Kania pun akhirnya mau mendengarkan perkataan Bu Wida .


"Kita lakukan persalinannya sekarang ya Bu. Kita tak ada banyak waktu lagi. Kasihan bayinya yang di dalam jika kelamaan menunggu". Pinta Dokter yang menagani persalinan Kania.


"Lakukan sekarang saja Dok". Sahut Bu Wida tanpa menunggu lama lagi.


"Ayo Bu. Atur napasnya dan segera mengejan, lakukan berulang ulang ya Bu ya". Pinta Dokter tersebut.


Kania mengejan dengan sekuat tenaganya sambil memegang erat tangan Bu Wida. Dengan beberapa Kania mengejan akhirnya sudah terlihat kepala Bayinya namun Kania malah berhenti mengejan begitu saja.


"Aku sudah nggak kuat lagi Bu". Ucap Kania dengan lemas.


"Kamu pasti kuat Kania. Ayo lakukan lagi lihat kepala bayimu sudah terlihat. Istigfar Kania istighfar minta pertolongan Allah agar persalinan kamu lancar". Ucap Bu Wida mencoba menguatkan dan menyemangati Kania sambil memegang erat tangan Kania.


"Jangan bicara seperti itu Bu. Ibu pasti kuat, ayo lalukan lagi. Tempurung kepalanya udah mulai kelihat. Ayo mengejan lagi sambil atur napas Ibu ya. Kita lakukan lagi, sebentar lagi dia akan segera keluar". Ucap Dokter tersebut.


Kania mencoba mengatur napasnya sebaik mungkin dan mulai mengejan lagi. Di dalam pikirannya sekarang dia harus bisa melahirkan anaknya dengan selamat walaupun harus berjuang sendirian.


"Akkhhhhhhhh" teriak Kania lalu merebahkan kepalanya begitu saja dengan keringat yang bercucuran akhirnya bayinya keluar dengan selamat.


"Selamat Ya Bu. Anak Ibu cantik sekali seperti Ibunya". Ucap Dokter tersebut sambil tersenyum dan membersihkan tubuh bayi mungil tersebut yang penuh dengan darah.


"Lihat Kania anak kamu cantik sekali seperti kamu". Timpal Bu Wida lagi sambil tersenyum bahagia melihat Kania.


Kania merasa sangat lega sekali anaknya sudah lahir di Dunia ini dengan keadaan selamat tanpa kekurangan apapun.


"Iyha Bu. Dia sangat cantik sekali". Ucap Kania sambil memandangi anaknya yang tengah di bersihkan oleh Dokter tersebut.


"Ini Bu bayinya. Di azani dulu ya Bu bayinya lalu segera susui bayinya ya". Ucap Dokter itu dengan lembut sambil menyerahka bayi mungil tersebut kepada Kania.


Namun Kania malah merasa sedih ketika mendengar Ucapan Dokter tersebut ketika menyuruh mengazani anaknya. Karena tak ada suaminya untuk mengazani putrinya itu.


Bu Wida paham dengan sikap Kania lalu Bu Wida berinisiatif untuk memanggil suaminya untuk masuk ke dalam.

__ADS_1


"Pah. Kamu ikut masuk dulu ya untuk mengazani anak Kania". Pinta Bu Wida kepada suaminya.


"Tapi Mah, memangnya nggak papa kalau Papah yang mengazani bayi Kania". Jawab Pak Seno dengan raut wajah keheranan.


"Mau gimana lagi Pah suaminya Kania Mamah Hubungi nggak di angkat". Ujar Bu Wida.


"Coba deh Mamah coba hubungi lagi. Siapa tau di angkat". Perintah Pak Seno


"Baiklah kalau gitu Pah. Mamah coba sekali lagi". Ucap Bu Wida.


Bu Wida mencoba menghubungi Riko sekali lagi. Siapa tahu ada jawaban dari Riko.


Raut wajah Bu Wida berubah menjadi muram


"Sama saja Pah. Nggak ada jawaban juga". Ucap Bu Wida dengan lesu.


"Yaudah kalau gitu kita masuk ke dalam saja biar Papah yang megazaninya". Ucap Pak Seno sambil mengandeng istrinya masuk ke dalam Ruang persalinan lagi.


Bu Wida menghampiri Kania.


"Kania gimana kalau yang mengazani anak kamu biar suaminya saya saja. Ibu sudah mencoba menghubungi suaminya kamu lagi tapi sama saja nggak ada respon sama sekali dari suami kamu". Ucap Bu Wida dengan penuh kekecewaan.


"Iyha Bu nggak papa".


"Pak Kania minta tolong untuk mengazani anak Kania ya". Pinta Kania kepada Pak Seno.


"Iyha Kania biar saya yang mengazaninya". Sahut Pak Seno sambil tersenyum.


Kania lalu menyerahkan anaknya kepada Pak Seno untuk segera di adzani.


"Bu boleh saya minta ponsel saya. Biar saya coba menghubungi suaminya saya lagi". Pinta Kania.


"Boleh. Ini ponsel kamu Kania". Ucap Bu Wida sambil menyerahkan ponsel Kania.


Kania langsung mencoba menelfon suaminya lagi berkali kali dia mencoba menelfonnya namun sama saja tak di respon oleh suaminya. Lalu Kania mencoba mengetik pesan untuk suaminya itu.

__ADS_1


(Mas anak Kamu sudah lahir sekarang. Dia sangat cantik seperti yang kamu inginkan. Seorang bayi perempuan) 


Kania tanpa berpikir lama dia langsung mengirim pesan kepada Riko.


__ADS_2