
Setelah kejadian tadi sore yang menimpa dirinya. Kania mengurung dirinya di dalam kamar sambil menangis meratapi nasibnya hari ini. Suami yang Kania percaya dan selalu ada untuknya kini malah berubah tak mempercayainya lagi setelah melihat kejadian yang suaminya lihat tadi. Hati Kania sangat teriris sekali seperti di sasat oleh pisau yang sangat tumpul.
"Kenapa kamu tak mempercayaiku lagi Mas. Kejadian tadi tidak seperti yang kamu lihat dan yang kamu pikirkan. Kamu salah paham Mas". Ucap Kania menangis tersedu sambil menumpahkan amarahnya hanya lewat tangisannya.
Kania terduduk bersandar di Ranjang kamarnya sambil mengelus lembut perutnya. Karena hanya bayi yang ada di dalam perutnya yang saat ini menemaninya di kala dirinya terluka.
"Maafin Mama ya sayang. Mama jadi buat kamu ikut merasakan apa yang Mama rasakan saat ini. Kamu bantu doakan Mama dan Ayah ya. Agar Ayahmu mempercayai mama lagi dan tak salah paham lagi dengan Mama". Ucap Kania berdialog dengan bayi yang ada di kandungannya itu.
Riko pun lalu sampai di garasi Rumah dan lalu bergegas masuk ke dalam Rumah. Namun dia tak langsung menuju ke Kamarnya. Dia lebih memilih duduk di Sofa Ruang tamu terlebih dahulu.
"Di minum dulu kopinya Riko". Ucap Ibu Dewi datang tuba tiba tiba sambil membawakan secangkir kopi untuk anaknya itu.
"Makasih Bu". Jawab Riko sambil meminum kopi yang telah di buatkan oleh Ibunya.
"Kamu baik baik aja kan Nak.?? Ibu turut sedih dengan kejadian tadi yang menimpa kamu. Ibu juga nggak habis pikir dengan istri kamu itu. Beraninya dia masukkan laki laki ke Rumah ini". Ucap Bu Dewi yang mulai mengompori anaknya.
"Udah lah Bu. Biarkan saja, Riko lagi malas ngebahas itu. Ohh iyha tadi memangnya Ibu Kemana. Emangnya Ibu nggak tau kalau pria itu datang kesini". Tanya Riko yang penasaran.
"Tadi tuh Ibu keluar ke Rumah teman Ibu. Biasa lah ngumpul arisan. Ehh setelah sampai di Rumah malah mergokin Kania sama pria lain di Rumah ini. Ibu kecewa betul sama Kania itu. Ibu pikir dia wanita baik baik. Tapi sama saja dengan wanita murahan di luar sana". Ucap Bu Dewi yang terus menerus mencoba mengompori Riko anaknya.
"Itulah Bu yang Riko nggak sempat pikir dengan Kania. Ternyata Riko juga tertipu dengan kepolosannya". Ucap Riko yang mulai terkompori oleh Ibunya dan menyalahkan Kania istrinya.
"Udah lah Riko. Kamu ceraikan saja Kania, lebih baik mending kamu sama si Bella. Yang udah mau mengakui kesalahannya dan siap untuk merubah menjadi lebih baik". Ucap Ibu Dewi mencoba menghasut Anaknya itu.
"Riko belum kepikiran sampai situ Bu. Lagian Kania juga lagi hamil. Mana mungkin Riko menceraikan Kania saat masih mengandung anak Riko". Jawab Riko yang masih bimbang dengan perasaannya.
"Ya tunggu saja sampai dia lahiran. Habis itu kamu talak saja dia dan kembali lagi sama Bella". Bujuk Bu Dewi kepada Riko anaknya itu.
__ADS_1
Entah terbuat dari apa hati Bu Dewi sampai dia tega menyuruh anaknya menceraikan istrinya itu. Padahal dia tahu kalau Kania nggak bersalah. Dia juga dalang dari semua permasalahan ini yang sekongkol dengan Bella untuk menghancurkan Kania menantunya.
"Riko belum bisa pastikan Bu. Kita lihat saja nanti bagaimana. Kita ikuti saja biarkan waktu yang menjawab". Ucap Riko lalu meneguk kopinya hingga tandas.
Bu Dewi sedikit kecewa dengan jawaban Riko kali ini. Karena tidak sesuai dengan apa yang Bu Dewi harapkan. Namun dia mencoba tenang agar Riko tak curiga dengan rencananya bersama Bella.
"Ya sudah kalau itu mau kamu. Ibu nurut aja lah mana yang terbaik buat kamu. Tapi ya itu yang Ibu harapkan. Kamu bisa balikan lagi sama Bella dan menceraikan Kania". Ucap.Bu Dewi mengulangi lagi niatannya itu.
"Ya sudah Bu. Riko ke kamar dulu. Mau bersihin badan Riko biar segar". Ucap Riko.
"Iyha". Sahut Bu Dewi datar.
Riko pun lalu beranjak dari Sofa dan menuju ke Kamarnya. Namu Riko sedikit ragu ketika dia engan masuk ke Kamar.
"Ashh. Biarlah, anggap aja dia tidak ada". Ucap Riko di dalam hatinya.
"Kamu sudah pulang Mas". Ucap Kania menyambut suaminya seperti biasanya sambil mengusap air matanya.
Namun Riko terdiam tak menjawab pertanyaan dari Istrinya.
"Mas mau aku buatkan minuman. Mas mau Kopi, susu atau teh". Tawar Kania mencoba tetap melayani suaminya seperti biasanya.
"Nggak perlu. Tadi Ibu sudah buatin aku kopi". Ucap Riko cuek
Riko lalu mengambil handuk yang berada di gantungan tembok lalu masuk ke Kamar mandi begitu saja. Tanpa menghiraukan Kania yang sedang menangis.
"Kamu benar benar marah sama aku Mas. Kamu juga tak menghiraukan aku sama sekali". Ucap Kania lirih dan meneteskan air matanya yang sempat tadi ia hapus karena Riko sudah pulang.
__ADS_1
Namun Kania tetap seperti biasanya menyiapkan baju yang akan di kenakan Riko setelah mandi dan mengambilkan makanan suaminya.
Ketika Kania tengah menyiapkan makanan untuk Riko. Riko pun keluar dari kamar mandi dan menuju ke arah almari.
"Mas ini bajunya sudah aku siapkan". Ucap kania.
Tetapi Riko tak menghiraukan Kania. Malah dia mencari baju lain. Lalu Riko mengenakan baju itu dan langsung baring di atas Ranjangnya.
"Mas ini aku juga sudah siapkan makanannya. Kamu makan dulu ya. Pasti kamu lapar kan belum makan.??" Tawar Kania yang tak pantang menyerah melayani suaminya . Walaupun Riko tak menghiraukannya sama sekali.
"Kamu makan saja. Aku sudah kenyang. Aku capek mau Tidur". Ucap Riko lalu memunggungi Kania dengan memeluk guling begitu saja.
Kania makin menagis melihat Sikap suaminya yang begitu dingin dengan dirinya. Dia seperti tak dianggap ada oleh Riko kali ini. Kania lalu naik di atas Ranjang ingin menceritakan sebenarnya dan sejujurnya.
"Mas aku mohon jangan seperti ini lagi Mas. Aku nggak sanggup Mas bersikap seperti ini kepada ku. Mas tolong percaya sama aku. Aku nggak seperti yang Mas pikirkan". Ucap Kania sambil menangis sesenggukan berbicara itu kepada Suaminya.
"Sudah lupakan saja. Jangan ganggu aku. Aku sudah bilang kan kalau Aku capek. Aku mau tidur cepat hari ini". Ucap Riko tanpa menatap Kania dan masih saja memunggunginya.
"Mas. Tolong percaya sama aku mas". Ucap Kania sekali lagi.
Namun kali ini Riko bener bener tak menggubris penjelasan Kania sama sekali. Dia menutup matanya sampai dia benar benar tertidur pulas.
"Mas aku sungguh tak sanggup mas bersikap seperti ini". Ucap Kania lirih sambil memandang wajah suaminya yang terlelap dan mengelus rambut suaminya itu.
Hati Kania bertambah sakit sekali kali ini.
Riko tak hanya marah dengannya namun Riko juga mendiamkannya dan tak menghiraukan istrinya sama sekali.
__ADS_1
Otak Kania sangat buntu sekali. Dia ingin sekali pulang ke Rumah orang tuanya. Tapi dia masih ragu dengan tindakannya itu. Takut orang tuanya kecewa dengan Riko dan memarahi Riko. Karna dia pulang sendirian tanpa ada Riko di sampingnya.