
Setelah Bapak sudah bisa mengontrol amarahnya dan sedikit tenang sekarang, tiba-tiba saja Kakek dan Nenek datang. Mereka yang sedari tadi tengah di Sawah katanya mereka di kabari oleh tetangga sebelah kalau di Rumah ada keributan dan Kakek dan Nenek pun langsung bergegas pulang ke Rumah memastikan keadaannya.
"Ada apa ini kata tetangga sebelah ada keributan di Rumah ini. Memangnya ada apa". Tanya sang Kakek.
Kania pun berlari dan bersimpuh di depan Kakek dan Neneknya sambil menangis mengatakan sejujurnya dan mengakui perbuatannya
"Kek Nek maafin Kania. Kania telah gagal menjadi cucu yang terbaik buat Kakek dan Nenek. Kania hamil Kek Nek. Maafin Kania". Ucap Kania yang tak hentinya meneteskan air mata.
"Apa Kamu hamil Kania.!!! Siapa yang menghamili kamu. Dan laki-laki ini siapa.??. Apa dia orangnya yang menghamili Kamu??." Tanya Kakek yang terkejut dengan berita ini
"Bangun Kania bangun jangan seperti itu. Kita bicarakan baik-baik permasalahan ini Kania". Sahut Nenek, membangungkan Kania yang besimpuh di depan mereka.
Kania pun lalu berdiri dan mereka semua pun akhirnya duduk dan mulai menenangkan dan mengontrol emosinya masing-masing.
"Kania kita semua ini sudah mati-matian untuk menyekolahkan kamu agar masa depanmu nanti lebih baik tapi kenapa malah kamu salah jalan seperti ini. Kakek itu nggak ingin kamu hidup seperti Kakek dan Nenek. Kami semua ingin kamu hidup enak dan menjadi orang yang sukses kelak nanti. Tapi kenapa malah seperti ini jalan Kamu Kania.". Ucap Kakek sangat terpukul sekali dengan keadaan Kania saat ini.
"Maafkan Kania Kek. Kania telah mengecewakan Kakek dan juga yang lainnya". Ucap Kania dengan penuh penyesalan.
Tak butuh waktu lama Kakek pun akhirnya menghubungi Dewa paman Kania.
Dreettt..
Dretttt...
(Hallo Dewa cepat kemarin ada yang ingin Kakek bicarakan penting) Ujar Kakek
(Baik Kek Dewa akan segera kesana) Jawab Dewa disebrang telfon.
Tuttt..
Tuttt...
Kakek pun mengakhiri telfonnya.
Selang beberapa menit Dewa pun datang. Hanya butuh waktu sekitar 20 menit Dewa menuju Rumah Kakeknya itu. Setelah sampai di Depan Rumah dan turun dari motornya Dewa pun bergegas masuk ke dalam Rumah karena penasaran apa yang sedang terjadi.
__ADS_1
"Assalamualaikum". Salam Dewa
"Walaikumsalam". Sahut semua orang yang ada di dalam.
"Masuk Dewa ada yang ingin Kakek katakan sama Kamu". Pinta Kakek.
Dewa Pamannya Kania itu pun lalu masuk dan duduk di Kursi bergabung dengan yang lainnya.
"Ada apa ini Kek kok pada ngumpul di Sini. Terus kenapa dengan Kania dan juga Fatma menagis sepeti itu. Apa yang terjadi dengan mereka". Ucap Dewa panik melihat Kania dsn juga Fatma menangis.
"Kania hamil Paman". Ucap Kania dengan rasa takut dan bersalah.
"Apa.!!!!. Apa yang ada dipikiran Kamu Kania sampai-sampai kamu melakukan hal keji itu. Siapa yang menghamili kamu jawab Paman Kania jawab". Ucap Pamanya syokk mendengar berita dari mulut Kania.
"Riko Paman yang telah menghamili Kania. Tapi Riko mau bertanggung jawab atas perbuatannya kok Paman". Ucap Kania sambil menunjuk ke arah Riko.
Paman Dewa pun menatap tajam ke arah Riko. Dan langsung berdiri mengampiri Riko ingin menarik dan memukul Riko namun di tahan oleh Bapaknya Kania.
"Sudah Dewa sudah percuma saja Kamu memukulnya itu sama saja tidak menyelesaikan masalah malah menambah masalah". Ucap Bapaknya Kania yang sudah berfikir jernih.
"Terus mau gimana lagi ini Sigit Kania hamil dan kandungannya semakin lama semakin besar". Tanya Dewa.
"Baiklahh kalau itu keputusan Kamu. Saya beri kamu waktu sampai besok. Bawa kedua orangtuamu kesini untuk melamar Kania dan membahas pernikahan kalian nantinya". Ucap Bapak Kania.
Riko pun akhirnya pamit segera pulang dan akan membahas soal lamaran besok bersama kedua orangtuanya.
"Saya mohon pamit untuk pulang Pak,Bu, dan semuanya. Saya akan membicarakan ini semua dengan kedua orangtua saya dan besok saya akan membawa kedua orangtua saya untuk melamar Kania". Ucap Riko.
"Saya pegang omongan Kamu. Awas saja kalau Kamu berbohong Saya pastikan Kamu tidak akan selamat". Ancam Paman Dewa dan memberi peringatan kepada Riko.
"Saya janji Paman besok saya akan kemari membawa kedua orangtua saya.". Ucap Riko meyakinkan.
"Baiklah kami tunggu kedatangan kalian besok". Sahut Bapak Kania.
"Baik, kalau begitu saya Pamit pulang dulu". Riko pamit.
__ADS_1
Setelah Riko pulang mereka semua pun lalu bertanya dengan Kania.
"Ibu tanya sama Kamu Kania usia kehamilan Kamu sekarang berapa bulan. Jawab sejujurnya sama Ibu". Tanya Ibu.
"4 bulan Bu". Ucap Kania dengan gugup.
"Astaga Kania selama ini kamu menutupi Kandungan kamu itu sampai usia 4 bulan.??!!". Sahut Bapaknya
"Iyha Pak. Maafkan kesalahan Kania selama ini dan Maafin Kania telah mengecewakan kalian semua. Kania telah menghancurkan nama Baik keluarga ini". Ucap Kania penuh penyesalan.
"Sudah percuma saja Kamu menangis Kania. Nasi sudah menjadi Bubur. Yang sudah terlanjur ya sudah kami harap Kamu bisa memperbaiki kesalahanmu dengan menjadi orang yang lebih baik lagi". Ucap Kakeknya.
"Ya sudah kita istirahat saja dulu. Besuk kita tunggu kabar dadi laki-laki itu. Dia benar kesini atau nggak.". Ucap Bapak.
Paman Dewa pun pamit untuk pulang dan yang lainnya pun istirahat di Kamar masing-masing. Kali ini Bapak dan Juga Ibu Kania tidur di Rumah Kakek karena besok Riko akan melamar Kania dan juga membawa kedua orang tuanya kesini.
Riko pun sampai di Rumah sambil berteriak memanggil Ayah dan Juga Ibunya.
"Yahh. Buuu dimana kalian Riko mau bicara sama kalian". Teriak Riko
Riko pun berjalan menuju Dapur mencari Ibunya ternyata kosong, lalu menuju Kamar Ibunya dan ternyata dikunci dari Dalam. Riko pun mengetuk pintu Kamar Ibunya.
Tokkk..
Toookkkk..
Toookkkkkkk...
"Ibu buka pintunya Bu, Riko ingin berbicara penting". Ucap Riko sambil mengetuk kuat pintu Kamar Ibunya.
"Aduhhh, ada apa sihh Riko malam-malam ganggu orang tidur saja. Apa yang mau kamu omongin nggak bisa besok apa ya. Heran dehh Ibu". Gerutu Ibu kesal.
"Ayah mana Bu Ayah di dalam kan.". Tanya Riko sambil celingukan ke Arah dalam mencari ayahnya.
"Ada lagi tidur di Dalam. Memangnya ada apa sihh. Mau ngomong apa". Ucap Ibu penasaran.
__ADS_1
"Ibu bangunkan Bapak dulu gih. Riko tunggu di Ruang tamu, bilang saja sama Bapak kalau Riko mau bicara penting". Ucap Riko lalu berlalu meninggalkan Ibunya yang masih mematung di depan Pintu.
"Ada apa sih Riko itu malam-malam kek gini mau bicara. Kaya besuk nggak bisa aja. Nggak tau apa kalau orang lagi ngantuk". Gerutu Ibunya yang masih kesal. Dan berlalu masuk ke Kamarnya.