Derita Gadis Yang Lara

Derita Gadis Yang Lara
BAB 6


__ADS_3

Hari ini adalah hari kedua Kania bersekolah. Jam dinding menunjukkan pukul 10.00WIB . Waktu telah menandakan jam istirahat telah tiba. Teman-teman yang lain pun keluar kelas menuju ke Kantin untuk makan dan ada juga yang sekedar duduk-duduk di Depan Kelas. Lain halnya dengan Kania yang tengah makan bekal yang tadi pagi ia bawa dari Rumah. Namun ketika Kania ingin mengeluarkan box bekal makanannya dia tak sengaja melihat Nanda yang tengah duduk di Mejanya sambil melamun. Kania pun membawa box makanannya dan menuju mendekati Nanda dan duduk di Sampingnya.


"Nanda kamu kenapa kok gak pergi ke Kantin.? Aku lihat kamu seperti sedang melamun memangnya kenapa apa ada masalah.?" Kania yang merasa heran dengan sikap Nanda.


"Nggak papa kok Kan, Aku sedikit gak mood aja hari ini" Nadia mengelak dengan memalingkan matanya ke arah depan.


"Kamu nggak usah bohong Nan, aku bisa melihat di raut wajahmu itu lho kalau kamu itu lagi memikirkan sesuatu. Kamu mikirin apa cerita saja sama aku, dengan senang hati Aku akan mendengarkan curhatanmu" Bujuk Kania agar Nadia tidak murung lagi.


"Kamu makan dulu aja, nanti aku ganggu jam makanmu lagi. Setelah selesai makan nanti aku akan cerita padamu". Nanda pun mulai terbuka dengan Kania.


"Ok siap, ohh iyha Kamu mau nggak makan sama aku ini aku bawa bekal nasi goreng nihh cukup lah kalau kita makan berdua" tawar Kania sambil menyodorkan box makanannya.


"Aku masih kenyang Kan, Kamu makan aja nggak papa kok". Terlihat Nanda memikirkan masalah yang serius sampai dia pun tak mau makan.


"Yakin nihh kalau gitu aku makan sendiri lho ya nasi gorengnya". Kania meyakinkan tawarannya lagi.


"Iyha bener udah gihh makan dulu aja" ujar Nanda sambil menatap wajah Kania.


Kania pun makan nasi gorengnya tadi dan sesekali melirik Nanda yang masih saja memikirkan sesuatu dan Kania yakin kalau Nanda tengah ada masalah. Entahh itu apa dia pun tak tahu. Setelah selesai makan Kania pun menutup boxnya dan minum karena sedikit seret di Lehernya. Sesudahnya dia pun mencoba membujuk Nanda agar dia mau sedikit cerita kepadanya.


"Ohh yaa tadi kamu udah janji katanya sehabis makan kamu mau cerita sama aku. Memangnya kamu ada masalah apa sih nda?" tanya Kania yang mulai penasaran.


"Sebenarnya aku sedih Kan karena kedua orang tuaku mau bercerai". Nanda tak sanggup membendung unek-uneknya lagi, air matanya pun menetes dengan sendirinya.


Kania pun merasakan bagaimana rasanya di Posisi Nanda karena Kania sudah mengetahui bahwa dirinya itu ternyata bukan anak Kandung dari Bapaknya. Ternyata Bapak kandung Kania sudah meninggal sejak dirinya berumur 1 Tahun dan Ibunya pun tidak pernah memberi tahu kepada Kania begitupun dengan keluarganya yang lain.

__ADS_1


"Pak, walaupun Kania bukan anak kandungmu  janganlah kamu membeda-bedakan Kania dengan Reno. Mereka itu sama-sama darah dagingku yang keluar dari Rahimku Pak". Ibu sedikit kecewa dengan sikap Bapak.


"Ibu tak perlu menasehati Bapak karena Bapak tau mana yang terbaik Buat Reno dan juga Kania. Reno harus kita sekolahan yang tinggi dan kita harus memberikan apa yang Reno mau. Karena Reno anak laki-laki yang nanti harus menjadi lelaki yang mapan dan sukses". Bantah Bapak dan sedikit emosi.


"Tapi kasihan Kania juga Pak jika dia tidak Bapak sekolahkan lagi". Ibu mencoba membujuk Bapak.


Setelah bapak terdiam dan mulai berfikir akhirnya Bapak pun menyetujui pendapat Ibu dan menyekolahkan Kania ke SMK.


Tanpa Bapak dan Ibu sadari ternyata Kania tak sengaja mendengar percakapan orang tuanya Kania pun syok dan tak sanggup menahan sakit hatinya ketika dia mengetahui bahwa dia tenyata bukan anak kandung Bapaknya. Kania pun berlari ke Kamarnya dan menagis tak henti-hentinya. Namun Kania tetap manahan rasa sakitnya itu, dia tetap berpura-pura jika dia tak mengetahui kenyataan ini yang sebenarnya dia pun tak ingin menjelaskan apa yang sebenarnya dia dengarkan kepada orang tuanya. Dia tak sempat berfikir kenapa Ibunya tega tidak pernah memberi tahu masalah ini kepadanya.


Flashback off....


Kania pun melamun ketika Nanda menceritakan bahwa orang tuanya itu akan bercerai. Sambil menghapus air matanya Nanda memperhatikan raut wajah Kania yang berubah terdiam saat ia berbicara seperti itu.


"Kan.. Kaniaaa...".


"I.i.iyhaa Nda maaf, bukan maksudku membuat kamu menangis". Kania gugup karena merasa bersalah menanyakan pertanyaan itu.


"Kok kamu malah ngelamun sihh. Kamu nyesel ya dengerin ceritaku". Tanya Nanda


"Bu.bu.kaannn gitu maksudku, aku hanya ikut sedih dengan apa yang kamu alami"


"Sebenarnya kisah kita itu sebelas dua belas Nda, namun bedanya Bapakku udah meninggal dan Ibuku menikah lagi dengan Pria lain yang sekarang ternyata jadi Bapak sambungku. Namun sedihnya aku baru tahu sekarang karena Ibuku merahasiakan ini semua dariku" akhirnya Kania mulai menceritakan unek-uneknya itu kepada Nanda.


"Lhooo memangnya kenapa Ibumu nggak mengatakan sejujurnya saja sama kamu. Walaupun nantinya kamu terluka kan kamu harus tau yang sejujurnya". Nanda yang heran dengan ucapan Kania.

__ADS_1


Kania mengangkat bahunya sambil  kepalanya tanpa disadari air matanya pun menetes. Nanda yang merasakan bagaimana rasanya jika di Posisi Kania pun akhirnya mengelus pelan bahunya.


"Yang sabar ya Kan. Kita harus kuat menjalani ini semua, kita harus tetap semangat menjalani hidup yang seperti ini". Nanda yang mencoba menyemangati Kania.


Mereka berdua pun berpelukan menumpahkan perasaan apa yang mereka rasakan.


"Senyum donga kalau gitu" Kania menatap dan tersenyum kepada Nanda . Nanda pun membalas senyuman Kania.


Bel pun berbunyi menandakan jam istirahat pun telah selesai. Kania pun memegang lengan Nanda dengan lembut


"Kamu harus kuat kita harus jadi wanita yang tegar" ucap Kania sambil tersenyum kepadanya.


"Kamu juga". Kata Nanda yang masih menatap wajah Kania dengan tatapan sedih.


Kania pun mengiyakan ucapan Nanda dan lalu membawa box makanannya dan berlalu menuju bangkunya. Teman-teman yang lainnya pun sudah menuju ke bangkunya masing-masing karena jam istirahat telah selesai saatnya mulai pembelajaran.


Setelah beberapa menit Ibu gurunya pun datang dan berlalu menuju meja Guru. Jadwal jam ini adalah jadwal materi Peminatan yaitu materi Pemasaran.


"Selamat siang anak-anak jadwal hari ini adalah materi Peminatan dan Ibu akan kasih kalian tugas untuk menawarkan produk yang harus kalian jual ke siapapun. Kalian nanti harus menjualkan produk teh javan@. Masing-masing dari kalian harus bisa menjualkan sebanyak 5box 1 boxnya berisi 6 botol dan harga per boxnya Rp 23.000 dan harus laku semua jika tidak laku kalian harus menggantinya dengan uang kalian sendiri dan kalian bisa mengambil laba sendiri saat kalian menjualnya nanti" ujar Bu Karina.


"Bu, waktu menjual barangnya itu di kasih tempo nggak ya''. Tanya Kania.


"Tentu, ibu kasih waktu 3 hari untuk kalian menjualnya kalo lebih dari jangka waktu yang Ibu kasih akan memengaruhi nilai praktek kalian nantinya". Jawan Bu Karina.


"Kalian bisa ambil barangnya di Toko Pemasaran milik kita" perintah Bu Karina.

__ADS_1


"Baik Bu" jawab murid-murid serentak.


__ADS_2