
Sore ini pak Marna dan Bu Tini, memutuskan untuk berkunjung ke rumah Hilwa. Setelah seharian Bu Tini merengek kepada suaminya, karena perasaannya yang tiba-tiba tidak enak, selalu teringat kepada putrinya.
"Ayo pak, ibu sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Hilwa" ajak Bu Tini yang sudah siap untuk pergi.
"Iya, iya ayo Bu" pak Marna pun sudah siap, mereka akan pergi ke rumah Hilwa menggunakan sepeda motornya.
"Nak, kamu tidak apa-apa kan. Di rumah sendiri? ibu pastikan tidak akan lama, dan akan pulang malam ini". ucap Bu Tika kepada putranya Alif.
"Iya Bu, tidak apa-apa. Salam untuk kak Hilwa ya Bu !.
Ibu mengangguk lalu bergegas menaiki sepeda motornya. Selama di perjalanan, hatinya cemas. Mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa pada putrinya dan semua firasatnya tidak benar.
* * *
Saat ini Hilwa sudah berkunjung kembali ke rumah ibu mertuanya. Dia mencoba menekan egonya, untuk berusaha meminta pengampunan dari ibu mertuanya, walaupun dia merasa tidak bersalah.
Sedangkan Reno, setelah pergi dari kamar Hilwa, dia lantas ke rumah ibunya lagi. Saat ini, dia sedang tiduran di sofa ruang tamu, menenangkan sedikit pikirannya yang kacau. Kenapa, aku tadi sampai menampar Hilwa sih !, batin Reno. Dia mengusap wajahnya kasar, bingung kalau nanti bertemu dengan istrinya lagi. Apa yang harus dilakukannya?
"Assalamu'alaikum" ucap Hilwa setelah memasuki rumah orangtua Reno.
"Wa'alaikum salam" ucap semua orang yang ada di sana, tanpa mengetahui siapa yang datang ke rumah.
Setelah mereka melihat Hilwa lah yang datang kembali, ada yang melengos ada pula yang bernafas dengan berat, yaitu Reno sendiri. Kenapa dia datang kesini lagi? Aah apa dia mau di permalukan lagi oleh ibu dan mba Anita. batin Reno.
"Bu, jika memang saya bersalah, tolong maafkan saya. Biarkan saya melayani ibu, untuk menembus kesalahan saya" Hilwa yang sudah duduk di samping ibu mertuanya.
Reno dan Anita terkejut dengan perkataan Hilwa. Anita tidak menyangka, apalagi Reno setelah dia menampar wajah istrinya, tapi Hilwa malah meminta pengampunan kepada ibunya.
"Ngapain kamu ke sini lagi, hah?, sudah sana pergi. Lagian ada Anita yang melayani saya." ucap Bu Tika yang tidak mau melihat menantunya.
"Tapi Bu, saya mau meminta maaf, jika saya salah. Tolong biarkan saya juga melayani ibu" bujuk Hilwa.
"Tidak, pergi kamu. Saya tidak sudi melihat wajah kamu lagi !" bentak Bu Tika
"Neng !" ucap seseorang di depan pintu, dua orang sudah memasuki rumah Bu Tika. Saat mereka ingin masuk, pintunya sudah terbuka, dan akhirnya mereka mendengar semua perkataan ibu mertuanya kepada Hilwa, putrinya.
__ADS_1
Ya, mereka adalah orangtua Hilwa yang sudah berada di rumah besannya. Setelah tadi, mereka ke rumah Hilwa, tetangganya bilang Hilwa sedang berada di rumah mertuanya, karena beliau sedang sakit.
Saat tiba di rumah, mereka benar-benar terkejut. Putrinya yang sedang meminta pengampunan dan ibu mertuanya yang mengucapkan kata kasar kepada putrinya.
Bu Tini langsung menghampiri putrinya "neng, ada apa nak? kenapa kamu seperti ini. Apa yang sudah kamu lakukan, heum?" ucap Bu Tini lemah kepada Hilwa
Hilwa tidak bisa mengucapkan apapun, hanya lelehan air mata yang meluncur dan sulit dia bendung saat menatap wajah ibunya.
"Ayo, cerita sama ibu nak !, jangan ada yang di tutup-tutupi lagi." ucap Bu Tini
Sedangkan Reno terkejut dengan kedatangan mertuanya, dia sama sekali tidak menyangka, ibu dan ayah Hilwa akan datang di saat seperti ini.
"Bawa putri kalian pergi dari sini, saya sudah muak melihatnya !" ucap Bu Tini
Pak Marna yang maju, setelah mendengar perkataan besannya kepada putrinya. "Maaf Bu, maksud bu Tika apa, menyuruh putri saya untuk pergi? apa yang sudah putri saya lakukan, sehingga mendapat perlakuan seperti ini?" ucapnya menahan luapan amarah di dadanya.
"Putri kamu sudah mencelakai saya, saya tidak bisa berjalan gara-gara dia" tunjuk Bu Tika kepada Hilwa.
Pak Marna menatap putrinya "benar nak, apa yang di katakan ibu mertuamu?"
"Bu Tika, saya tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tapi saya percaya, putri saya tidak mungkin berniat mencelakai ibu" pak Marna yang berusaha membela putrinya.
"Halah, orangtua dan anak, sama-sama tidak mau mengakui kesalahannya. Mending kalian pergi dari sini, dan bawa putri kamu pergi dari rumah ini" ucap Bu Tika yang tetap keras kepala.
"Baiklah, jika itu mau ibu. Saya akan membawa putri saya pergi dari rumah ini" pak Marna yang duduk menghampiri putrinya, "ayo nak, kita pergi" ajak pak Marna.
Hilwa menggeleng, dia tidak mau meninggalkan rumah mertuanya dengan keadaan seperti ini. "ayo nak, ibu tidak ingin melihat kamu di perlakukan kasar lagi seperti ini " bujuk Bu Tini yang memegang wajah Hilwa,
Deg. . .
Bu Tini dan pak Marna terkejut, melihat bekas tamparan di wajah putrinya. "Siapa yang melakukan ini kepadamu, nak?" pak Marna berteriak marah
"Siapa yang berani menampar wajah putriku, siapa?" pak Marna bertanya kepada semua orang yang ada di sana.
Reno yang sejak tadi ketakutan, karena takut orangtua Hilwa menyadari bekas tamparannya dan akhirnya terjadi juga. Bekas tamparannya pasti di ketahui juga, dan memang itu sangat jelas terlihat.
__ADS_1
"Maafkan saya pak, saya tadi khilaf. Say. . ." Reno tidak bisa meneruskan kata-katanya, "Apa yang sudah kamu lakukan pada putrinya saya, kamu berani menamparnya? Setelah puluhan tahun saya merawat putri saya, sedikit pun tidak pernah membentak apalagi berani menamparnya. Dan kamu berani melakukannya?" ucap pak Marna yang di penuhi amarah, dia mencengkram kerah baju Reno.
"Ma-maaf kan saya pak, tadi saya khilaf, saya tidak bermaksud untuk. . ."
"Apa-apaan ini, tolong lepaskan putra saya pak. Ada apa ini sebenarnya?" pak Dedi yang baru saja tiba di rumah, mendapati putranya yang ketakutan.
Pak Marna berbalik menatap besannya "lihat, putra anda sudah berani menampar wajah putri saya, dan istri anda sudah mengatakan kata-kata kasar" pak Marna menunjuk Bu Tika yang sejak tadi terkejut melihat kemarahan ayah Hilwa.
Pak Dedi melihat wajah Hilwa, deg. . .
"Ren, apakah benar, kamu sudah berani menampar istrimu?" tanya pak Dedi.
Seketika tubuh Reno lemas, dia terduduk di lantai. "Benar pak, saya khilaf. Maafkan saya" ucapan maaf itu dia tujukan untuk semua orang yang berada di sana.
"Sejak kapan, bapak pernah mengajarimu berbuat kasar kepada perempuan, hah?? apalagi dia istrimu sendiri, Reno Ardinata!" pak Dedi berteriak. Kali ini beliau yang marah terhadap putranya.
"Ma-maaf kan saya pak, saya benar-benar tidak bermaksud" menangis juga akhirnya, setelah Reno di bentak oleh ayahnya.
"Ayo nak, kita pergi. Kamu sudah tidak di inginkan lagi di rumah ini" ucap pak Marna menghampiri Hilwa.
"Tidak pak, jangan seperti ini. Hilwa tidak ingin pergi dari sini" Hilwa yang kekeh menolak ajakan orangtuanya.
"Nak, apa kamu tega melihat hati ibu dan bapak tersiksa. Hati orangtua mana, yang ridho melihat putrinya di perlakukan seperti ini. Kamu putri bapak satu-satunya, kamu putri berharga untuk kami, nak" ucap pak Marna lirih, dia tidak bisa membendung lagi kekecewaannya.
Akhirnya Hilwa pun luluh, dia akan menuruti permintaan ayahnya. "Tunggu dulu pak, kita selesaikan dulu permasalahan ini. Tolong jangan bawa Hilwa pergi dari sini, dia juga putri saya" cegah pak Dedi
"Anda bilang, Hilwa juga putri anda? tapi apa, apakah anda sudah melindunginya. Lihat, keadaan putriku sekarang !" pak Marna yang sudah merangkul tubuh Hilwa.
Benar, selama ini dia sangat menyayangi Hilwa dan sudah menganggapnya sebagai putrinya sendiri. Tapi dia tidak bisa membela ataupun melindunginya.
Akhirnya Hilwa di bawa oleh orangtuanya pergi dari rumah itu.
Hilwa sempat melihat suaminya, dia tetap duduk tertunduk tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Kak, kenapa jadi seperti ini. . .batin Hilwa lirih.
__ADS_1