
Seminggu telah berlalu, kaki Hilwa sudah sembuh. Kini dia sudah bisa beraktivitas dan melayani suaminya lagi.
Pagi itu, rumahnya kedatangan ibu mertuanya lagi. Seperti biasa Bu Tika selalu berusaha ikut campur urusan rumahtangga putranya.
"Reno mana?" tanya Bu Tika langsung masuk ke rumah, padahal Hilwa sedang mengepel lantai di teras.
"Kak Reno lagi di kamar mandi Bu, sebentar lagi ke luar"
Bu Tika yang kembali ke teras ingin menghampiri Hilwa, dan. . . bruk, kaki Bu Tika tergelincir dan bokongnya menyentuh lantai.
"Aduhhh. . ." Bu Tika meringis memegang bokongnya "kamu pasti sengaja kan?" tudingnya kepada Hilwa.
"Lho kok sengaja sih Bu, bukannya ibu yang nyamperin saya"
"Alahh kamu pasti sengaja, kan? pake pewangi lantainya banyak banget, biar lantainya licin !" Bu Tika kekeh menuding Hilwa
"Astaghfirullah ibu, saya gak mungkin mencelakai ibu"
Reno yang keluar dari kamar, karena mendengar keributan, "Ada apa ini? Ya tuhan ibu, kenapa ibu bisa jatuh begini?" tanya Reno yang melihat ibunya masih terduduk di lantai.
"Nih istri kamu, sengaja mau mencelakai ibu" Bu Tika yang ingin berdiri di bantu Reno
"Tidak kak, itu tidak benar" sanggah Hilwa
"Aawww Ren, ibu gak bisa bangun. Pantat ibu sakit banget"
"Wa, kamu bantuin ibu donk, malah diam saja !" bentak Reno
Hilwa yang masih berdiri, tersentak karena Reno membentaknya. Dia buru-buru ikut memangku, setelah tadi sempat shock karena ibu mertuanya malah menudingnya.
Bu Tika di bawa ke kursi ruang tamu dan terus meringis. "Reno bagaimana kalau ibu gak bisa jalan lagi, ibu takut kaki ibu lumpuh !" ujarnya sambil menangis
"Sudah Bu, tidak akan terjadi apa-apa. Reno akan bawa ibu ke dokter yah?" Reno bergegas masuk ke kamar, untuk mengambil jaket dan dompetnya.
__ADS_1
"Kak, Hilwa ikut yah !" Hilwa yang mengikuti suaminya ke kamar.
Reno sama sekali tidak menanggapi perkataan istrinya. "kak Reno, Hilwa ikut bawa ibu ke dokter" ucapnya yang terus mengikuti suaminya.
"Sebaiknya kamu diam saja di rumah, daripada ibu kenapa-kenapa lagi" ujar Reno, Hilwa terkejut mendengar perkataan suaminya. Dia diam mematung, mencerna apa yang baru saja dia dengar.
"Apa maksud kamu kak?, seolah kamu benar-benar menyalahkan aku?" ucap Hilwa tidak terima, baru kali ini dia menyanggah perkataan suaminya.
"Untuk saat ini, aku lebih mempercayai ibu. Karena di sini beliau sebagai korban" pungkas Reno, karena dia langsung membawa ibunya untuk ke dokter.
* * *
Saat ini, Reno dan ibunya sudah berada di rumah. Setelah tadi sempat berobat ke dokter. kata dokter cideranya lumayan parah, tulang ekor Bu Tika sedikit retak akibat terbentur ke lantai.
Hilwa yang datang ke rumah mertuanya, untuk memastikan dia baik-baik saja. Dia melihat ibu mertuanya masih meringis kesakitan. Ada ayah dan mbak Anita juga.
Semua orang yang berada di sana, terasa berbeda kepada Hilwa. Tidak ada di antara mereka yang menyambutnya, bahkan ayah mertua pun seakan mengabaikannya.
"Kak, apakah ibu baik-baik saja?" ucap Hilwa mendekati orang-orang yang mengerumuni ibu mertuanya
"Astaghfirullah mbak, demi Tuhan, saya tidak pernah berniat mencelakai ibu. Tadi saya sedang mengepel lantai, lalu ibu menghampiri saya dan kakinya tergelincir"
"Ahhh sudahlah. Mending kamu diam saja, Wa ! daripada bertambah runyam" ucap Reno menyela perkataan istrinya.
Semua orang yang berada di sana, menyalahkan Hilwa. Mereka lebih mempercayai perkataan Bu Tika. Karena mereka tahu, hubungan menantu dan ibu mertuanya selama ini, tidak baik-baik saja. Mungkin, mereka menyangka Hilwa ingin balas dendam atas perlakuan Bu Tika yang selalu menyakiti hati Hilwa.
Sampai Hilwa pulang ke rumahnya, tidak ada satu orangpun yang mengajak Hilwa berbicara, semua orang seolah mengacuhkannya.
Ya Tuhan, kenapa semua ini terjadi kepadaku? apa yang harus aku lakukan jika semua orang mengabaikan ku, dan kenapa kak Reno tidak ingin membelaku kali ini? ucap Hilwa yang terduduk di kamarnya.
Hilwa yang terus menangis, sampai dia tertidur.
Saat itu, hari sudah siang. Reno pulang ke rumah mendapati istrinya terlelap di tempat tidur "enak banget kamu ya ! kamu enak-enakan tidur, sedangkan ibu terus meringis kesakitan gara-gara keteledoran kamu. Apa kamu tidak merasa bersalah sedikitpun?" teriak Reno, sampai Hilwa terbangun. Dia terkejut mendapati suaminya sedang berdiri di hadapannya dengan wajah yang memerah.
__ADS_1
"Kak, kakak mempercayai Hilwa kan? kakak tidak mungkin percaya kalau Hilwa berniat mencelakai ibu?" ucap Hilwa bertanya kepada suaminya
"Terus, aku harus bilang kalau ibu sudah berbohong dan memfitnah kamu, begitu?"
Mata Hilwa melotot, dia seolah tidak percaya, apa yang sudah dikatakan suaminya "jadi. . .kakak percaya kalau aku memang berniat jahat kepada ibu?" tersenyum getir, ada lelehan air mata di pipinya.
"Jika kakak sudah tidak mempercayai ku lagi, maka semua orang tidak akan ada yang percaya padaku", "baiklah, kita anggap ini benar. Aku yang sudah mencelakai ibu, dengan begitu beliau tidak akan pernah menyakiti hatiku lagi"
Plak. . .
Suara tamparan keras mendarat di pipi putih Hilwa. Reno yang sudah kehilangan kendali, berani menampar istrinya. Tubuh Hilwa sampai terhuyung ke belakang, terlihat jelas ada gambar tangan Reno di pipinya.
Hilwa tersenyum menyeringai, tidak ada tangisan lagi di matanya. Hanya sebuah senyuman yang terbit dari bibirnya, menyiratkan luka yang begitu dalam.
Reno melengos pergi dari kamar. Entahlah, apa yang ada di pikirannya sekarang. Dia tidak berani menatap wajah Hilwa lagi. Apakah dia sudah muak? atau dia merasa menyesal telah menampar istrinya?
Melihat suaminya pergi meninggalkannya, seketika tubuhnya ambruk. Tidak ada tenaga lagi yang bisa menyangga tubuhnya. Hatinya pun luluh lantak, akibat tuduhan dari suaminya sendiri.
"Bagaimana aku bisa bertahan lagi, kak. Adakah alasan untuk aku bisa bertahan, jika Kakak sudah tidak lagi mempercayai ku?" ucap Hilwa lemah.
Tubuhnya bergetar, air matanya menghujani lantai. Dunianya seakan runtuh, karena tiang penyangganya sudah tidak mau lagi berdiri di sampingnya.
* * *
"Pak !" teriak Bu Tini memanggil suaminya. Gelas yang dia seduh dengan air panas, tiba-tiba terbelah menjadi dua.
"Ada apa Bu, teriak-teriak?" pak Marna yang menghampiri istrinya.
"Ini pak, gelas yang ibu seduh untuk membuat kopi untuk bapak, tiba-tiba pecah. Perasaan ibu jadi tidak enak ya, pak!"
"Oh. . .,kirain bapak ada apa. Ya, mungkin gelasnya masih basah kali Bu, jadi pecah kalau terkena air panas. Sudah, ibu jangan berpikiran yang tidak-tidak. Kita berdoa saja semoga semuanya baik-baik saja." ucap pak Marna menenangkan istrinya.
Begitulah perasaan seorang ibu, langsung terkoneksi dengan keadaan putri tercintanya. Meski Hilwa tidak pernah mengatakan apa-apa, tapi seorang ibu bisa tahu tentang apa yang telah putrinya alami.
__ADS_1
Tanpa bisa di hindari itulah cara alam memberitahu keadaan dengan seseorang terdekat kita.