
Satu bulan telah berlalu.
Kebahagiaan telah meliputi keluarga Reno. Pasalnya dia telah menerima bonus besar dari tempatnya bekerja.
Hari ini Reno membeli banyak makanan untuk keluarganya, serta memberikan sedikit uang saku untuk Bu Tika, Anita beserta anak-anaknya dan juga pembantu di rumah orangtuanya.
Mereka ikut berbahagia atas keberhasilan Reno. Doa-doa meluncur dari mulut mereka yang mendapatkan hadiah kecil dari Reno dan Hilwa.
Ayah dan ibunya pun terlihat bangga atas apa yang Reno raih. Tapi di saat bersamaan, seseorang datang membawa kabar yang begitu mengejutkan. Entah itu kabar baik atau kabar buruk untuk Reno dan orangtuanya.
"Kak Reno! maaf aku datang kesini. Aku ingin menyampaikan sesuatu yang sudah kamu tunggu-tunggu." Stefani datang dengan tiba-tiba. Senyum bahagia dan cemas tersirat dari wajah cantiknya.
"Nak Stefani! ada apa kemari nak, ayo masuk." Hanya Bu Tika yang bersikap ramah
Stefani pun melangkah dengan begitu tenang ke hadapan mereka. "Kami sedang ada acara kecil-kecilan nak. Reno sudah membuat kami semua bahagia." ucap Bu Tika menghampiri Stefani
Stefani yang mendengarnya cukup senang. Mungkin ini memang waktu yang baik untuk aku memberitahu mereka. batin Stefani
"Saya ikut senang Bu atas apa yang kak Reno dapat. Saya juga kesini ingin memberikan kebahagiaan untuk kalian juga." Stefani masih terlihat tenang
"Apa maksud kamu, Stef? ayo kita bicarakan ini dulu berdua." sergah Reno, dia begitu terkejut dengan kedatangan Stefani ke rumah orangtuanya, apalagi semua orang sedang berkumpul.
"Tidak kak, ini saat yang tepat untuk aku memberitahukan tentang hubungan kita."
"Jangan gila kamu! di sini sedang banyak orang, ada ayah dan juga Hilwa." cegah Reno
"Biar kak! biarkan mereka semua tahu tentang hubungan kita. Karena saat ini aku meminta status yang jelas untuk anak yang sedang aku kandung."
Duarrrr. . .
Bagai disambar petir di siang bolong, semua orang membelalakkan mata dengan mulut yang terbuka. Mereka masih mencerna setiap kata yang mereka dengar dari mulut Stefani.
"Apa maksud kamu nak Stefani?" Bu Tika maju untuk memastikan apa yang dia dengar tidak salah
"Iya Bu, saat ini saya sedang hamil, dan ini anaknya kak Reno." ucap Stefani tanpa ragu
Hilwa yang berdiri di samping Anita, mundur dua langkah. Tubuhnya seketika tidak bertenaga, pikirannya blank dan penglihatannya seakan kabur.
__ADS_1
"Tidak mungkin" ucap Hilwa lirih, tapi masih bisa di dengar oleh semua orang.
"Kamu yakin nak? kamu sedang hamil dan itu anaknya Reno?" Bu Tika masih ingin memastikan
"Iya Bu, saya mengandung cucu ibu."
"Oh terimakasih nak, ibu senang mendengarnya." Bu Tika tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya dan memeluk Stefani di hadapan semua orang.
"Apa-apaan kamu Bu! apa kamu sudah tidak waras! tidak mungkin putra kita menghamili perempuan ini." sergah pak Dedi
"Reno! tolong jawab pertanyaan ayah. Tidak mungkin kamu menghamilinya, kan?" tunjuk pak Dedi ke wajah Stefani
Reno masih shock atas apa yang terjadi saat ini. Entah dia harus senang dengan apa yang Stefani ucapkan. Tapi saat ayahnya membentaknya, pikiran Reno sedikit tersadar dengan keadaannya.
"Apa kamu sudah yakin, kalau kamu sudah hamil Stef?" Reno malah bertanya untuk memastikannya lagi
"Iya kak, aku hamil anak kamu, anak kita." ucap Stefani berbinar dan menggenggam tangan Reno
"Kurang ajar! Reno Ardinata, jawab pertanyaan ayah. Kamu tidak mungkin menghamili wanita ini kan?" bentak pak Dedi untuk kedua kalinya
Bruk. . .suara seseorang terjatuh.
Mereka semua menoleh. Hilwa yang saat ini sudah terduduk di lantai. Anita yang berada di sampingnya, mencoba menahan tubuh Hilwa.
Reno yang ingin menghampiri istrinya, di cekal oleh pak Dedi
Plaakk. . .satu tamparan keras mendarat di pipi kiri Reno.
Semua orang terkejut, baru kali ini mereka melihat pak Dedi menampar putranya.
"Ayah" ucap Reno lirih memegang pipinya yang terasa panas
"Siapa yang mengajarkan kamu melakukan perbuatan biadab ini?" sergah pak Dedi dengan wajah memerah, menatap Reno dengan mata yang menyalang
"Ayah, apa maksud kamu. Meski Reno telah melakukan kesalahan, tapi dia sudah memberikan kita cucu, yah!" ucap Bu Tika mencoba membela putranya
"Cucu kamu bilang! saya tidak sudi mempunyai cucu dari hasil perbuatan haram." pak Dedi kini menatap Bu Tika, yang di tatap tentu saja ketakutan. Dia baru melihat suaminya marah seperti itu.
__ADS_1
"Maafkan aku yah, aku sudah khilaf. Karena ibu terus mendesak ku untuk segera memberikannya cucu, jadi terpaksa aku melakukan percobaan dengan Stefani. Apa aku bisa mempunyai anak, jika melakukannya dengan perempuan lain." ucap Rendy sejujurnya
"Kamu sudah tidak waras Reno. Melakukan percobaan dengan cara yang haram. Nak! kamu sudah berzinah dengan perempuan itu dan kamu sudah menyakiti hati istrimu." ucap pak Dedi lirih dia bingung harus berbuat apa lagi, dia tidak habis pikir, kenapa jalan itu yang malah di ambil putranya.
"Maafkan Reno yah. Reno khilaf." ucap Reno pasrah, dia siap menerima kemarahan ayahnya lagi.
Pak Dedi tidak bisa berkata-kata lagi, beliau pergi dari hadapan mereka, dan entah kemana.
Reno beralih menghampiri istrinya. "Wa! maafkan kakak. Kakak mohon kamu bisa memakluminya." ucap Reno dia berlutut di hadapannya istrinya
Hilwa tidak bisa menjawab perkataan suaminya, terlihat saat ini dia masih shock. Seperti sebagian nyawanya hilang berlarian. Hilwa hanya terbengong menatap lurus ke depan, entah apa yang dia lihat.
"Hilwa sayang! kamu mendengar kakak bicara kan?" Reno mencoba menyadarkan Hilwa dari lamunannya
Hilwa terhenyak, saat tangan Reno mengguncang bahunya. "Ini mimpi kan, kak? kenapa Hilwa bermimpi yang sangat mengerikan." ucap Hilwa pelan, dia menatap suaminya yang sedang tertunduk
"Maafkan Kakak Wa" hanya itu yang bisa Reno ucapkan
Seketika air mata Hilwa luruh seperti hujan deras yang membasahi pipinya. "Jadi ini bukan mimpi kak? kamu tega menduakan ku?" tanya Hilwa lirih
Reno semakin tertunduk dalam. Meski dia tidak menyesali perbuatannya, tapi dia tahu, pasti hati istrinya hancur.
Reno mencoba memeluk tubuh Hilwa, tapi tangan Hilwa menghadangnya. "Jangan kamu sentuh aku kak! Kamu sudah tidak halal menyentuhku." ucap Hilwa dengan tatapan seperti pedang yang siap menghunus wajah suaminya
"Jangan bicara seperti itu Wa. Kakak masih suami kamu. Dan kakak tidak akan melepaskan kamu, kakak janji." ucap Reno mencoba mendekati Hilwa lagi
"Kamu sudah kotor kak, aku tidak sudi lagi di sentuh olehmu." pekik Hilwa, sorot matanya memancarkan kebencian tapi matanya tidak bisa membendung air yang jatuh dengan begitu deras.
"Jangan berkata seperti itu, kakak mohon, maafkan kakak." Reno terhuyung ke belakang saat tangan Hilwa mendorong tubuhnya.
Hilwa berlari keluar dari rumah itu, dengan Isak tangis kedua kalinya yang dia dapat dari rumah mertuanya.
Dia masuk ke rumah dan mengunci dirinya di kamar. menjerit, meraung meluapkan kekecewaan terhadap suami yang sudah mengkhianati dirinya.
Aaaaaaaa! kenapa ini terjadi kepadaku Tuhan. . . kenapa?
Apa aku hamba yang hina, sehingga mendapatkan hidup seperti ini, mana mungkin aku sanggup menjalani takdir ini, hiks hiks. . .
__ADS_1