
Selama beberapa hari setelah kejadian itu, hubungan Reno dan Hilwa tidak sehangat dulu.
Begitupun dengan pak Dedi dan Bu Tika. Pak Dedi masih menunjukkan kekecewaan kepada istrinya.
Semua telah berubah, Hilwa sudah tidak pernah lagi mengunjungi rumah mertuanya. Begitupun pak Dedi, dia merasa malu akan sikap istrinya, sehingga dia pun tidak pernah menunjukkan dirinya ke hadapan menantu nya.
Tapi Hilwa selalu beranggapan sikap semua orang yang berubah, karena kecewa atas perilakunya tempo hari.
"Kak, tadi Alif telepon, katanya ibu sakit." ucap Hilwa ragu
"Lalu?"
"Apa Hilwa boleh menjenguk ibu? apa kak Reno mau mengantar ku?"
"Aku sibuk, tapi jika kamu mau menjenguk ibumu, pergilah. Lama juga tidak papa, sekalian kamu rawat ibumu sampai sembuh." ucap Reno acuh, dia tetap menyuapkan makanan ke mulutnya.
Ya, saat ini mereka sedang sarapan di meja makan.
Kenapa perkataan Reno teras menyakitkan bagi Hilwa. Sikap acuhnya, yang semakin menjadi dari hari ke hari.
"Ya sudah Hilwa akan pergi nanti siang. Apa kakak tidak ingin menyampaikan sesuatu kepada orangtua ku?" hanya mengetes saja, apakah Reno masih perduli kepada keluarga nya.
"Eum tidak ada. tapi salam kan saja, maaf aku tidak menjenguk nya, bilang kalau aku sedang sibuk." ucapnya tetap acuh
"Baik kak"
Mereka akhirnya melanjutkan sarapan, tidak ada percakapan lagi di antara mereka. hanya dentingan sendok dan piring yang saling beradu.
* * *
Hilwa sudah sampai di rumah orangtuanya, dia menggunakan ojeg untuk menempuh perjalanan.
"Assalamu'alaikum" ucap Hilwa yang membuka pintu rumah
"Wa'alaikum salam" Bu Tini menyahut dari dalam
Bu Tini berbinar melihat putrinya datang. "Neng, kamu kemari nak?" Bu Tini yang sedang duduk di kursi dengan tubuh yang lemas
Hilwa menghampiri ibunya, mencium dan memeluknya.
"Ibu kok bisa sakit sih? maaf Hilwa baru datang menjenguk ibu." ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
"Tidak papa nak, kamu sudah datang menemui ibu, ibu sudah sangat bahagia." Bu Tini tersenyum hangat, meski wajahnya masih tampak pucat
"Ibu sakit apa? apa ayah sudah membawa ibu ke dokter?"
"Sudah. Ibu tidak apa-apa, hanya tubuh ibu yang masih lemas."
"Kamu sudah makan, nak? mana suamimu?" tanya Bu Tini yang sejak tadi tidak melihat Reno
__ADS_1
"Kak Reno sedang sibuk, Bu. maaf dia belum bisa menjenguk ibu." Hilwa yang menundukkan kepala
"Tidak papa nak, kamu jangan sedih gitu donk. Mana senyumnya putri ibu?"
Hilwa pun memaksakan bibirnya untuk tersenyum, agar ibunya tidak khawatir.
Sampai di mana ayah dan adik nya pulang, mereka menyambut kedatangan Hilwa dengan sukacita. Mereka bahagia akhirnya bisa berkumpul kembali.
Tidak ada kesedihan yang Hilwa tunjukkan kepada orangtuanya, sehingga mereka tidak mengetahui dengan pasti keadaan putrinya sebenarnya.
Bahkan kehadiran Reno pun tidak terlalu di permasalahkan oleh mereka, karena mereka yakin, Reno tidak akan menyakiti putrinya lagi.
Sampai seminggu, Hilwa menantikan kedatangan suaminya. Entah untuk menjemputnya atau sekedar menjenguk ibunya. Tidak ada kabar, bahkan untuk sekedar bertukar pesan pun, Reno sepertinya tidak terlalu menanggapi.
"Sebenarnya ada apa denganmu, kak? kenapa kamu berubah seperti ini?" tanya Hilwa kepada hembuskan angin yang menerpa wajahnya.
* * *
Sehari setelah istrinya pergi ke rumah orangtuanya, Reno lebih intens bertemu dengan Stefani.
Entah untuk sekedar berangkat kerja bareng atau sehabis pulang kerja, mereka selalu bersama.
Seperti hari ini, mereka sudah janjian untuk makan malam sehabis pulang kerja.
Mereka memasuki sebuah restoran yang cukup mewah. Ada beberapa macam hidangan yang sudah tersedia di meja. Mereka menyantapnya dengan sesekali saling suap-menyuap, seperti sepasang kekasih.
"Kak habis ini, kita ke hotel yah. Mumpung aku lagi dalam masa subur, siapa tahu langsung tokcer." ucap Stefani dengan gamblang
Reno sedikit termenung "baiklah, kita akan mencobanya lagi." tentu saja hal ini membuat Stefani bahagia.
Mereka segera menyudahi makan malamnya, dan bergegas memasuki sebuah hotel yang tidak jauh dari sana.
Setelah memesan kamar, mereka naik ke lantai atas menggunakan lift.
"Kak, kamu tunggu dulu di sini. Aku akan membersihkan diri dulu."
Selama menunggu Stefani yang berada di kamar mandi, Reno duduk di tepi tempat tidur dan mengecek beberapa pesan yang masuk ke ponselnya.
Ada pesan dari Hilwa juga. Dia menanyakan keadaannya, dan kapan dia akan menjemputnya pulang. Huh, merepotkan!, kenapa tidak pulang sendiri saja, dia berangkat ke sana pun sendiri, kenapa harus menunggu ku menjemputnya. gumam Reno, dan meletakkan ponsel di atas nakas.
ceklek, pintu kamar mandi terbuka.
Reno melihat Stefani masih memakai baju handuknya, berjalan menghampirinya ke tempat tidur.
Dengan berani Stefani naik ke atas pangkuan Reno dan membuka kancing bajunya.
Setelah saling menatap, mereka akhirnya menempelkan bibir, dan terjadilah sekali lagi hubungan yang terlarang itu.
Hasrat yang tidak di salurkan Reno kepada istrinya, kini menemukan tempat penyaluran lain. Stefani yang siap menerima benih Reno dan mengandung anaknya jika mereka di perkenankan.
__ADS_1
* * *
Satu hari sebelum Hilwa pulang ke rumahnya.
Pagi itu ayah Hilwa sudah tidak ada di rumah, beliau menghadiri acara santunan anak yatim di sekolahnya. Sebagai guru di sana, pak Marna lah yang merekomendasikan beberapa murid yang tidak mampu dan yang sudah tidak mempunyai orangtua.
"Neng, sepertinya bapakmu melupakan sesuatu." ucap bu Tini yang menemukan map di atas meja
Hilwa yang baru selesai mencuci piring, menghampiri ibunya. "Apa itu Bu?"
"Sepertinya daftar anak-anak yang menerima santunan hari ini, neng." ucap Bu Tini setelah memeriksa dokumen apa yang ada dalam map itu.
"Bagaimana ini Bu, sepertinya acaranya akan di mulai sebentar lagi. Kenapa bapak bisa lupa barang sepenting ini sih."
"Ya sudah biar ibu saja yang mengantarkan map ini, takutnya bapakmu mencarinya."
"Biar Hilwa saja Bu, ibu kan baru saja sembuh."
"Apa tidak merepotkan mu, nak?" tanya Bu Tini khawatir
"Nggak Bu, hitung-hitung Hilwa jalan-jalan. Kan selama di sini Hilwa hanya diam di rumah." ucapnya tersebut hangat
"Ya sudah, tapi hati-hati ya!"
Hilwa pun pamit dan langsung bergegas mencari ojeg untuk ia tumpangi.
Setelah Hilwa Sampai di sekolah ayahnya. Terdapat banyak sekali wali murid dan para donatur di sana.
Dia mencari-cari ayahnya yang ternyata sudah ada di atas panggung bersama seorang donatur, mungkin!. Terlihat dari cara berpakaian laki-laki itu.
Saat terlihat ayahnya kelimpungan mencari sesuatu, Hilwa pun memberanikan diri mendekati ayahnya.
"Pak, apa bapak mencari ini?" tanya Hilwa yang sudah berhasil mendekati ayahnya, dia berucap sangat pelan tapi berhasil di dengar oleh semua orang yang ada di atas panggung
Pak Marna pun menoleh "benar nak, bagaimana bisa map ini ada padamu?"
"Bukan ada sama Hilwa pak, tapi bapak meninggalkannya di rumah. Jadi terpaksa Hilwa nganterin."
"Jadi terpaksa nih ceritanya?"
"Hehe, nggak juga sih pak. hitung-hitung Hilwa jalan-jalan, kan baru hari ini Hilwa bisa keluar rumah." Hilwa yang cengengesan
Pak Marna pun mengusap kepala Hilwa dengan penuh kasih sayang "Makasih ya, nak. Kalau begitu tunggu bapak sampai selesai acara ini ya. Kita pulang bersama."
"Iya pak." Hilwa pun bergegas menjauhi ayahnya dan bergabung dengan para wali murid.
Interaksi ayah dan putrinya itu, tidak luput dari tatapan seorang laki-laki yang saat ini berdiri di samping pak Marna.
Dia begitu takjub dengan sikap pak Marna dan Hilwa yang tidak canggung memperlihatkan kasih sayang di antara mereka.
__ADS_1