
Akhir pekan telah usai, saatnya mereka pulang ke rumah masing-masing.
Sejak saat itu, Reno tidak terlalu perduli dengan istri pertamanya Hilwa. Saat ini dirinya selalu memprioritaskan Stefani dan bayi yang ada dalam kandungannya. Satu kali lagi dia telah melanggar janjinya sendiri yang berjanji akan memprioritaskan Hilwa, saat dia memohon untuk mempertahankan Hilwa di sisinya.
Ini adalah awal-awal keterpurukan Hilwa. Tapi kini hatinya menjadi kebas, sikapnya tidak selembut dulu. Sesekali dia bisa membantah perkataan suaminya dan melawan perkataan Stefani dan ibu mertuanya. Tapi saat dia sendiri di dalam kamar, tetap saja dia rapuh. Dia selalu terisak saat merenungi nasib rumah tangganya.
Hari telah berganti dan hitungan bulan pun bertambah. Usia kehamilan Stefani sudah memasuki bulan ke tujuh. Perutnya sudah terlihat membesar dan kehamilan itulah alasan dia selalu menarik simpati Reno dan ibu mertuanya.
Saat itu mereka berada dalam perjalanan pulang. "Kak! aku ingin pindah ke rumahmu sekarang juga. Akhir-akhir ini aku selalu ingin dekat denganmu setiap saat. Mungkin ini keinginan calon anak kita, yang selalu ingin dekat dengan ayahnya." ucap Stefani manja. Tentu saja itulah kelemahan Reno, ketika Stefani selalu memberi alasan untuk setiap keinginannya. "Baiklah! aku akan bicarakan ini terlebih dahulu dengan Hilwa." jawab Reno. Meskipun Stefani tidak puas dengan perkataan Reno, tapi akhirnya dia pun menurutinya dan akan menunggu keputusan suaminya itu.
Ini malam jatah Reno pulang ke rumah istri pertamanya. Sekarang Reno sudah bisa membagi waktu, selang-seling dia menemani para istrinya. Tapi kebanyakan di rumah orangtuanya si, karena alasan keinginan si jabang bayi.
"Hilwa. Ada sesuatu yang ingin kakak sampaikan." ucap Reno saat mereka berdua sudah berada di tempat tidur. "Apa kak, katakanlah." sahut Hilwa. "Stefani memintaku untuk mengizinkannya tinggal di rumah ini. Apa kamu akan menerimanya," tanya Reno.
"Kak! bukankah kamu sudah berjanji tidak akan membuatku serumah dengan maduku. Bagaimana bisa aku melewati hari-hari ku dengan adanya Stefani di rumah ini. Maaf kak, aku tidak akan sanggup." tolak Hilwa tegas. Reno menarik nafas dalam, "tapi ini mungkin keinginan calon anakku, Wa. Kata Stefani dia hanya ingin selalu berdekatan denganku." sepertinya Reno keceplosan berbicara seperti itu, karena setelah mengatakannya dia langsung tertunduk merutuki kebodohannya.
Hilwa tersenyum getir, dia sudah muak sebenarnya, setiap kali Reno selalu mengucapkan kehendaknya dengan alasan keinginan si jabang bayi. "Maaf kak untuk kali ini aku tidak akan pernah sependapat dengan keinginanmu. Jika kamu berani melakukannya, tunggu saja apa yang akan aku lakukan." ancam Hilwa. Dan langsung merebahkan tubuhnya dan berbalik ke sisi lain. Jatah Hilwa malam ini, hanya ada sebuah perdebatan yang dia dapat.
Sejak malam itu, Reno selalu membuat alasan setiap Stefani merengek meminta pindah ke rumahnya bersama Hilwa. Dia belum mempunyai keberanian untuk membawa Stefani tanpa izin dari istri pertamanya.
"Ibu, aku sudah beberapakali meminta kak Reno untuk membawaku tinggal di rumahnya. Tapi dia selalu saja menunda dengan memberikan berbagai alasan. Aku benar-benar ingin selalu dekat dengan ayah dari anak yang aku kandung Bu, hiks." akting Stefani.
"Baiklah ibu akan membantumu untuk berbicara dengan Reno, agar dia bisa membawamu tinggal di rumahnya." janji Bu Tika.
__ADS_1
Kamu lihat Hilwa!, sebentar lagi aku akan menendang mu dari rumah dan kehidupan kak Reno. Karena dia harus menjadi ayah satu-satunya dari anakku. seru Stefani dalam hati.
* * *
Andre saat ini sedang berada di sekolah tempat ayah Hilwa mengajar. Dia disana untuk memberikan sedikit bantuan untuk operasional di sekolah itu, atas perintah ayahnya.
"Nak Andre, rupanya sedang berada di sini?" tanya pak Marna yang baru saja keluar dari dalam kelas.
"Eh iya pak. Saya di suruh ayah untuk berkunjung. Tapi saya disini cuma sebentar pak, habis ini saya langsung pulang lagi. Kalau bapak mau pulang juga, mari saya antar." ajak Andre. "Tidak, terimakasih nak. Nanti merepotkan nak Andre." tolak pak Marna.
"Tidak apa-apa pak. Saya juga kebetulan mau pulang, biar sekalian saya antar." paksa Andre, dia sepertinya sangat berniat untuk membawa pak Marna pulang.
Pucuk dicinta ulam pun tiba. Hari ini memang pak Marna tidak membawa sepeda motornya karena pas waktu ingin berangkat, bannya kempes. "Ya sudah, kalau tidak merepotkan nak Andre." sahut pak Marna akhirnya. "Ayo pak."
Bu Tini sempat keluar dari dalam rumah untuk membawakan teh untuk tamu suaminya. Andre pun menyalaminya dan Bu Tini kembali masuk ke dalam rumah.
"Disini banyak sekali berbagai macam tanaman ya pak. Jadi terlihat indah, dan bunga-bunga itupun terlihat cantik saat sedang bermekaran." ucap Andre menatap pekarangan rumah pak Marna.
"Iya nak. Putri bapak dulu yang menanam dan merawatnya. Karena sekarang dia sudah menikah, jadi kamilah yang harus merawatnya, agar saat dia berkunjung merasa senang karena bunga-bunga yang dia tanam terawat dengan baik." sahut pak Marna antusias.
"Oh ya pak. Saya kemarin bertemu dengan Hilwa dan keluarga suaminya saat sedang liburan." ucap Andre tidak kalah antusias. "Oh ya! syukurlah kalau dia baik-baik saja. Dia jadi jarang berkunjung sekarang, karena suaminya sibuk bekerja. Jadi bapak tidak tahu pasti bagaimana keadaannya. Ya, hanya sesekali itupun lewat sambungan telepon." ucap pak Marna panjang lebar.
"Saya sangat salut kepada putri bapak. Dia bisa menjalani hari-harinya saat suaminya mempunyai istri yang lain." ujar Andre lirih. Tapi dia melihat ekspresi wajah pak Marna jadi berubah. "Apa maksud nak Andre dengan istri yang lain?" tanya pak Marna.
__ADS_1
Andre termenung. Apakah ayah Hilwa tidak mengetahui kalau Hilwa sudah di madu. Aduh gawat, kenapa mulutku keceplosan si. Eh tapi mana aku tahu kalau Hilwa menyembunyikannya dari orangtuanya. Kasihan sekali kamu Hilwa. monolog Andre.
"Eum maaf pak, apa bapak benar-benar tidak mengetahui kalau Reno sudah mempunyai dua istri. Bahkan istri keduanya sedang mengandung."
Duarrr!!!
Seketika kepala pak Marna berdenyut. Jantungnya memompa lebih cepat. Dia benar-benar shock dengan apa yang Andre katakan. "Apa perkataanmu bisa di percaya nak Andre?" tanya pak Marna memastikan.
"Iya pak. Bahkan saya melihat dengan mata kepala saya sendiri, saat mereka sedang berlibur di villa ayah saya."
"Kurang ajar! beraninya dia menyakiti putriku lagi." geram pak Marna. Beliau begitu marah, mendengar fakta kalau putri yang dicintainya telah di madu oleh suaminya, bahkan tanpa sepengetahuannya.
"Lagi pak!, jadi Reno sering menyakiti Hilwa?" tanya Andre dia ikut geram.
"Bagaimana bisa Hilwa menyembunyikan hal sebesar ini dari orangtuanya." ucap pak Marna getir. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana hari-hari putrinya sekarang dengan ibu mertua dan di tambah madunya.
"Hiks, hiks. . . Malang sekali nasibmu nak. Kenapa semua ini menimpamu. Kenapa orang lain selalu menyakiti hatimu. Sedangkan dirimu sendiri tidak pernah menyakiti hati orang lain. Apa mungkin dosa bapakmu ini yang mengakibatkan semua ini." getir pak Marna berucap. Dia memukul-mukul dadanya yang terasa sesak dan tubuhnya yang terus terguncang menahan Isak tangis.
Bu Tini menghampiri suaminya yang sedang menangis. "Ada apa ini pak? kenapa bapak seperti ini?" beliau mengusap punggung suaminya yang terus bergetar. "Hilwa Bu Hilwa. Kita harus membawanya sekarang juga dari rumah itu. Bapak tidak sudi, harus menyerahkan putriku lagi kepada laki-laki pengecut seperti Reno." ucap pak Marna tegas. "Memang apa yang terjadi kepada putri kita Hilwa pak." tanya Bu Tini penasaran. "Reno sudah menikah lagi. Dan putri kita Hilwa mempunyai madu. Tidak akan bapak biarkan, hidup Hilwa menderita lagi. Kita harus segera ke sana dan membawa Hilwa Bu." ucap pak Marna ingin beranjak dari duduknya.
"Biar saya antar pak, Bu. Saya khawatir melihat kondisi bapak dan ibu takut terjadi sesuatu di perjalanan." tawar Andre.
"Baiklah terimakasih nak."
__ADS_1