DERITA MENANTU RAHIM YANG KOSONG

DERITA MENANTU RAHIM YANG KOSONG
Andre mendekati Hilwa


__ADS_3

Setelah mereka sarapan dalam satu meja. Semua anggota keluarga pak Dedi dan juga pak Indra beserta putranya melakukan olahraga pagi di sekitar villa.


Reno dan Andre memakai sepeda untuk olahraga paginya. Sedangkan yang lainnya hanya berjalan kaki di sekitar lingkungan villa.


Udara pagi yang sangat sejuk, karena pepohonan yang masih rindang dan cahaya matahari yang begitu menghangatkan. Kebahagiaan benar-benar terpancar dari wajah mereka. Hilwa berada dalam barisan paling belakang, berjalan beriringan dengan pak Dedi dan pak Indra. Entahlah, Hilwa lebih nyaman jika berada di tengah-tengah para orangtua itu, dibandingkan dengan para wanita yang sedang berjalan di depan.


Reno dan Andre mengayuh sepeda dengan beberapa putaran. Akhirnya rasa lelah pun mengakhiri mereka.


Hilwa mengacungkan botol minuman ke arah suaminya. "Kak! minum dulu." tawar Hilwa berteriak. Reno yang ingin menghampiri Hilwa tertahan, "kak, aku juga membawa minum untuk kakak. Minumlah!," ucap Stefani lebih dulu menyodorkan minuman kepada Reno.


Hilwa melihatnya, dia baru saja ingin menurunkan tangannya yang sedang memegang botol minuman, tersentak karena tiba-tiba tangan seseorang mengambil botol minum itu. "Saya juga haus. Boleh saya minta?" tanya Andre. "Tentu boleh, Mas. Minumlah?."sahut Hilwa. Dalam beberapakali tegukan, air dalam botol itupun tandas. "Haus ya Mas?" tanya Hilwa. "Iya nih, lumayan juga. Sudah lama saya tidak bersepeda." sahut Andre. "Ayo naik!"


Hilwa tentu saja bingung, siapa yang Andre maksud untuk naik ke sepedanya. "Kamu! ayo naik ke sepedaku." pintanya lagi. Hilwa mau tidak mau duduk di belakang tubuh Andre, dan tangan kanan memegang pinggangnya.


Mereka menaiki sepeda meninggalkan seluruh anggota keluarganya. "Mas, kita mau kemana?" tanya Hilwa. "Saya ingin membawamu keliling di sekitar villa ini. Jadi diam lah." ucap Andre setengah berteriak. Hilwa pun mengikuti kemana laki-laki ini membawanya.


Mereka hanya berkeliling di sekitar villa ini saja. "Indah bukan?" tanya Andre. "Iya mas, indah sekali." tatapan Hilwa menatap takjub melihat pemandangan yang begitu sejuk di pandang mata. Semilir angin menerpa wajah Hilwa, dia merentangkan tangan. Agar angin itupun menyapu telapak tangannya. Ia ingin merasakan kebebasan seperti udara yang bertiup di sekitarnya.


Saat sepeda Andre masih melaju, tiba-tiba sepeda yang lain menghadangnya.


Ckit! suara rem dan ban sepeda yang saling bergesekan. Sepeda Reno tahu-tahu sudah ada di depan mereka. "Kak!" ucap Hilwa cemas. Kenapa suaminya mencoba menghadangnya. "Turun kamu, Hilwa!" sergah Reno dengan wajah yang memerah. Dengan hati-hati Hilwa turun dari sepeda. "Jangan coba-coba anda mendekati istri saya." bentak Reno kepada Andre. "Tunggu bro! jangan ngegas dulu. Kami tidak pergi kemana-mana lho." sahut Andre. "Saya tidak ingin tahu anda pergi kemanapun, tapi jangan pernah membawa istri saya. Apa anda kira saya tidak tahu, sejak kemarin anda menatap istri saya dengan tatapan yang tidak biasa." tuduh Reno. "Kak! apa yang kamu bicarakan. Ini tidak seperti yang kakak tuduhkan" timpal Hilwa, merasa tidak enak dengan suaminya yang menuduh Andre.

__ADS_1


"Diam kamu Hilwa!." Hilwa pun mendapat bentak kan dari suaminya. "Sabar bro! jangan pernah membentak perempuan seperti itu. Apalagi dia istrimu." ucap Andre tidak terima Reno membentak Hilwa di depan matanya. "Jangan mencampuri urusan rumahtangga orang lain. Sebaiknya anda menjauh dari istri saya." tajam Reno menatap Andre.


Reno menyeret tangan Hilwa untuk naik ke sepedanya, tanpa mendapat penolakan. Dan sepeda Reno pun melaju meninggalkan Andre yang diam mematung. Ahh sial! mana mungkin bisa aku mencegahnya. Dia memang suami Hilwa. Dan kenapa dia peka sekali si. Dia tahu aku terus menatap istrinya sejak kemarin. batin Andre merutuki kepekaan Reno.


Semua orang merasakan kekhawatiran. Saat Reno menyusul sepeda Andre yang membawa Hilwa. Mereka takut terjadi kesalahpahaman. Apalagi pak Dedi dan pak Indra yang takut kejadian mereka terulang lagi saat memperebutkan seorang wanita yang sama-sama mereka sukai.


Tapi ternyata dugaan mereka salah. Tidak ada keributan seperti yang mereka khawatirkan. Reno dan Hilwa sudah berada di dalam kamarnya. Dan Andre sedang duduk di kursi teras rumah. Mereka sengaja tidak menanyakan apapun tentang kejadian tadi kepada Andre, takut membuat kecanggungan di antara mereka.


Waktu makan siang sudah tiba.


Merekapun kembali duduk di satu meja yang sama. Tidak ada obrolan ringan di antara mereka. Kejadian tadi membuat suasana menjadi canggung. Hanya ada suara dentingan sendok dan piring yang saling beradu.


Sampai mereka selesai makan siang pun, hanya obrolan basa-basi yang terucap, apalagi antara Reno dan Andre, mereka sama-sama diam seribu bahasa.


"Dasar wanita murahan. Bisa-bisanya kamu menggoda Andre di hadapan semua orang." tuduh Stefani kepada Hilwa. Tentu saja Hilwa mendelik tidak terima. "Apa kamu tidak salah berucap. Siapa wanita murahan disini. Jelas-jelas dia yang sudah berhasil menggoda suami orang yang pantas disebut wanita murahan." sahut Hilwa tidak mau kalah. Kali ini dia akan tinggal diam lagi, jika seseorang merendahkan harga dirinya. "Kurang ajar! berani kamu menghinaku, hiks!" ucap Stefani memelas saat matanya menangkap sosok ibu mertuanya yang tiba dari belakang tubuh Hilwa.


"Ada apa ini?, kenapa kamu menangis Stefani?." tanya Bu Tika yang khawatir melihat menantu kesayangannya menangis. "Hilwa menghinaku Bu. Dia bilang aku wanita murahan, hiks." ucap Stefani yang terisak.


"Beraninya kamu menghina menantuku!," sergah Bu Tika. "Bu, Hilwa juga menantu ibu. Dan Stefani duluan yang menghinaku. Dia yang pertama bilang aku wanita murahan." timpal Hilwa. "Memang benar. Selain kamu wanita yang mempunyai rahim yang kosong, sekarang predikatmu bertambah jadi istri yang tidak tahu diri. Beraninya menggoda laki-laki di depan semua anggota keluarga suamimu." sarkas Bu Tika.


Tentu saja hati Hilwa sakit mendengar penuturan ibu mertuanya yang malah tambah menghina dirinya. Apalagi di hadapan menantunya yang lain. "Cukup Bu! jangan menghinaku lagi. Apa ibu belum cukup puas sudah merendahkan ku selama ini?," tanya Hilwa getir.

__ADS_1


"Tidak! saya tidak akan puas sebelum kamu pergi dari kehidupan putra saya, Reno. Semakin kamu berusaha bertahan, maka kamu akan semakin sering mendengar penghinaan dari mulutku. Camkan itu!." ucap Bu Tika dengan nafas yang memburu.


Reno sudah berdiri sejak tadi tidak jauh dari mereka. Setelah mendengar suara keributan dari dalam rumah, dia bergegas mencari sumber keributan. Dia bahkan sudah mendengar perkataan ibunya yang menghina Hilwa. Tapi kali ini dia hanya diam saja, karena saat ini diapun sependapat dengan apa yang di ucapkan ibunya yang menganggap Hilwa sudah menggoda laki-laki lain. Walaupun dia sendiri tidak menyaksikan Hilwa menggoda Andre, tapi Hilwa tidak menolak saat Andre berusaha mendekati dirinya.


Satu orang lagi yang tidak sengaja menyimak perseteruan antara menantu dan ibu mertuanya itu. Andre yang ingin turun dari dalam kamar, tidak sengaja mendengar ibu mertua Hilwa memaki menantunya sendiri.


Sungguh malang nasibmu, Hilwa. Jika saja kamu lebih dulu bertemu denganku sebelum bertemu dengan Reno. Pasti hidupmu akan bahagia, karena aku tidak akan membiarkan wanitaku menderita. geram Andre. Apalagi dia melihat Reno hanya diam mematung menyaksikan istrinya di hina oleh ibunya sendiri. Dasar laki-laki payah. umpat Andre.


Saat hari sudah menjelang sore. Pak Indra dan Andre sudah meninggalkan villa. Setelah berpamitan dengan semua orang, kini mereka sedang berada di perjalanan pulang dengan Andre yang mengemudikan mobilnya.


Sesaat keadaan hening sebelum pak Indra memberikan pertanyaan yang sejak kemarin ingin beliau tanyakan kepada putranya itu. "Ndre! tolong jawab pertanyaan ayah dengan jujur. Dan mudah-mudahan dugaan ayah salah. Apa kamu menyukai Hilwa?" tanya pak Indra to the point.


Deg! bagaimana bisa ayahnya menanyakan hal itu dengan sangat gamblang tentang perasaannya kepada Hilwa. "Apa maksud ayah. Mana mungkin aku menyukai wanita yang sudah bersuami." bantah Andre. "Ayah harap jawabanmu benar adanya. Tapi ayah tidak bisa kamu bodohi. Ayah tahu gelagat putra ayah sendiri. Tidak seperti biasanya kamu mendekati wanita sejauh itu." ucap pak Indra menatap putranya yang fokus memegang kemudi.


Ahh sial! Apa aku terlalu kentara saat mendekati Hilwa. Bahkan Reno pun menyadarinya. Ada apa denganku. Kenapa aku begitu tertarik kepada Hilwa, sampai membuatku bertindak bodoh seperti itu. Jelas-jelas aku sudah mendekati wanita yang sudah bersuami, di hadapan keluarga suaminya lagi. monolog Andre merutuki kebodohannya.


"Walaupun Hilwa gadis yang baik. Tapi dia masih berstatus istri laki-laki lain. Dan kamu harus bisa menahannya." nasihat pak Indra.


"Jadi, jika status Hilwa sudah bukan lagi istri dari laki-laki lain, boleh aku mendekati ayah?," tanya Andre antusias. Dia menangkap ucapan ayahnya sebagai restu, jika dia boleh mendekati Hilwa jika statusnya sudah berubah.


Ya! pak Indra berani mengucapkan hal itu, karena beliau mendengar perkataan pak Dedi tadi pagi. Setelah mereka mendapati anak dan menantunya berada di dapur. Pak Dedi berucap, jika suatu saat menantunya sudah tidak kuat lagi untuk bertahan di sisi putranya, beliau akan mendukung Hilwa untuk bisa melepaskan diri dan memilih kehidupannya yang lain. Asal itu membuat menantu kesayangannya bahagia. Beliau akan mengikhlaskan Hilwa untuk memilih laki-laki yang lebih baik dari putranya.

__ADS_1


Aku sangat yakin jika Hilwa akan berpisah dengan Reno suatu saat nanti. Dan saat itulah, aku tidak akan melepaskan Hilwa dan akan membuatnya berada di sisiku dan membahagiakannya. batin Andre dengan tekadnya.


__ADS_2