DERITA MENANTU RAHIM YANG KOSONG

DERITA MENANTU RAHIM YANG KOSONG
Menjadi putri Ayah


__ADS_3

Pagi-pagi sekali hilwa sudah berada di dapur. Dia membantu bi Inah untuk mempersiapkan sarapan.


Ketika semua anggota keluarga baru bangun, Hilwa sudah selesai Dengan pekerjaannya. "Wah putri ayah cekatan sekali, mana teh hangat untuk ayah." pinta pak Dedi.


"Ini ayah." Hilwa menyodorkan secangkir teh hangat beserta camilannya ke hadapan pak Dedi dan ikut duduk bersamanya di kursi. "Aku juga mau susu donk Aunty." pinta anak-anak mbak Anita. "Oh ya, siapa yang mau Aunty buatkan susu, dia harus sudah rapi ya. Sudah mandi dan wangi." ucap Hilwa tersenyum manis." Ya sudah kalau begitu kita mandi dulu ya Aunty." seru anak-anak mbak Anita.


Anita tersenyum melihat interaksi Hilwa dan kedua anaknya. "Hilwa tinggal sebentar dulu ya ayah. Mau buatkan susu untuk mereka." pamit Hilwa. Pak Dedi pun mengangguk. Beliau bahagia melihat senyum cerah dari bibir menantunya saat ini. Tapi siapa sangka jika suatu saat nanti, dia tidak akan pernah melihat senyum itu lagi. Karena. . ., ahhh biarlah. Biar Hilwa yang memutuskan semuanya.


"Mana Aunty susu untuk kami." tagih anak-anak mbak Anita. "Ini donk. Karena kalian sudah rapi dan wangi plus giginya bersih, jadi Aunty kasih bonus camilannya ya." seru Hilwa. "Hore." sorak mereka bersamaan. Mereka pun berlari membawa susu berserta roti panggang buatan Hilwa sendiri.


"Kamu bahagia nak?" tanya pak Dedi. "Iya ayah Hilwa bahagia. Eum ayah! Jika suatu saat nanti, Hilwa akhirnya harus pergi, Hilwa mohon restui Hilwa ya ayah." kini ucapnya sendu.


Deg, benarkan!. Ini alasannya, semua yang di lakukan menantunya itu.


Meski ada ketidak kerelaan dari dalam hatinya, pak Dedi pun mengiyakan. Beliau tidak akan lagi menahan menantunya. "Pergilah nak, jika itu membuat kamu bahagia. Ayah sudah ikhlas sekarang. Tapi sebelum kamu pergi, ayah benar-benar ingin melihat kamu sebagai putri ayah dulu." imbuh pak Dedi sendu. " Terimakasih ayah. Terimakasih karena selama ini hanya ayahlah yang mau menerima Hilwa dan mengerti keadaan menantu tidak berguna ini." ucap Hilwa kini dengan suara seraknya. "Kata siapa kamu tidak berguna. Kamu menantu ayah yang berharga nak. Jadi jangan menganggap diri kamu rendah ataupun tidak berguna bagi kami. Justru ayah minta maaf, jika keluarga ayah selalu berbicara kasar terhadap mu selama ini" sanggah pak Dedi.

__ADS_1


"Sudahlah jangan bersedih lagi. Bukankah kamu mau menunjukkan kepada mereka bahwa kamu bahagia saat ini." tutur pak Dedi. Hilwa mengangkat kepalanya. Bahkan beliau pun tahu alasanku masih bertahan di sini. batin Hilwa.


Ya, selain dia tidak ingin membuat hati pak Dedi terluka, dia juga ingin membuktikan bahwa dia bahagia. Dan bukan menantu yang menyedihkan jika pun dia harus berpisah dengan suaminya.


"Baiklah ayah. Hilwa janji tidak akan bersedih lagi." ucapnya kini mulai tersenyum walaupun sedikit di paksakan.


"Ayo kita sarapan. Sepertinya semua anggota keluarga sudah siap." ajak pak Dedi. Hilwa pun mengangguk. Dan benar saja, Bu Tika dan Anita sudah siap duduk di meja makan. "Wah banyak sekali makanannya. Dan sepertinya ini enak-enak." ujar Anita antusias. "Iya mbak. Ayo cicipi tadi Hilwa memasak di bantu oleh bi Inah." seru Hilwa. "Benarkah? Kamu yang memasak semua ini. Ada acara apa, sampai-sampai kamu memasak sebanyak ini. Jangan bilang kalau ini acara perpisahan ya." ucap Anita asal bicara. Tapi senyum samar terbit dari bibir Hilwa.


Deg!


Benarkah yang dikatakan Anita. Tapi kenapa hatiku terasa nyeri yah, ahh biarlah. Memang itukan tujuanku sekarang, membuat Hilwa pergi agar Stefani dan anaknya bisa hidup bahagia bersama Reno. seru Bu Tika dalam hati.


Sementara semua anggota keluarga sudah memulai sarapan. Reno dengan tergesa memakai baju kerjanya. "Kenapa kita bisa terlambat bangun si. Kamu juga kenapa tidak bangun lebih awal. Seperti yang Hilwa selalu lakukan. Dia selalu membangunkan ku dan aku pun tidak pernah terlambat seperti ini." gerutu Reno. Stefani hanya mendengus menanggapi perkataan Reno yang membandingkannya dengan Hilwa.


"Baiklah mana sarapanku." pinta Reno. "Maaf kak, aku tidak bisa melakukannya. Kamu tahu kan, kalau aku sama sekali belum pernah menginjakkan kakiku di dapur. Karena sewaktu di rumah orangtuaku, aku tidak di perbolehkan melakukannya." ragu Stefani berucap. "Apa?! jadi aku harus makan apa selama menjadi suami kamu, jika kamu tidak bisa memasak." sergah Reno terkejut mengetahui fakta itu. "Tapi aku akan berusaha kok. Aku akan mencoba memasak untukmu kak. Karena mulai hari ini aku sudah tidak bekerja lagi kan." ujar Stefani. "Itu harus. Karena aku sudah terbiasa dengan masakan rumahan, karena Hilwa selalu memasak untukku." timpal Reno.

__ADS_1


"Huh Hilwa lagi, Hilwa lagi. Apakah dia istri sesempurna itu ya. Tapi tetap saja kan, dia tidak bisa memberikanmu anak." timpal Stefani. "Jangan memancingku Stefani, aku sedang tidak mau berdebat." bentak Reno. "Ya sudah aku sarapan saja di rumah ibu." ucap Reno dan berlalu dari hadapan istri keduanya.


Reno melangkahkan kakinya untuk sarapan di rumah ibunya. Dan benar saja, semua anggota keluarganya sedang sarapan. "Wah kebetulan, aku juga ingin sarapan disini." ucap Reno tiba-tiba yang melihat begitu banyaknya makanan di meja. "Ayo duduklah nak. Hilwa yang memasak semuanya." ucap Bu Tika keceplosan, karena dia begitu menikmati semua makanan itu.


Tentu saja kening Reno mengkerut, tumben ibunya berkata seperti itu. Tapi syukurlah, mudah-mudahan dia bisa bersikap baik kedepannya kepada Hilwa.


"Memang Stefani tidak memasak untukmu?." tanya Anita. "Dia belum bisa memasak mbak, kata dia di rumahnya dulu belum pernah sama sekali menginjakkan kakinya di dapur." sahut Reno lemah. "Huh sudah mbak duga. Stefani itu modelan wanita manja. Untung ada Hilwa yang pintar memasak. Kalau kamu hanya mengandalkan Stefani, mungkin hidup kamu nanti tidak akan terurus." ujar Anita dengan gamblang. Reno pun mengangguk mengiyakan.


Karena kursi di samping Hilwa sudah terisi dengan Anita. Mau tidak mau Reno harus duduk di samping ibunya. Dia melihat Hilwa yang acuh memakan makanannya tanpa menoleh bahkan menyapanya.


Sampai sepanjang sarapan pun tidak ada perkataan yang keluar dari mulut istrinya. Reno merasa ada yang mengganjal, tidak biasanya Hilwa bersikap seperti itu.


Bahwa saat Reno ingin berangkat kerja pun, Hilwa sudah berada di dapur sedang mencuci piring. "Hilwa, kakak berangkat kerja dulu ya." pamit Reno dan menghampiri istrinya. " Oh iya kak hati-hati dijalan ya." hanya itu yang Hilwa ucapkan. "Kamu tidak ingin mencium tangan ku, Wa" tanya Reno yang sudah terbiasa melakukan aktivitas itu setiap pagi dengan Hilwa. "Maaf kak, tangan Hilwa kotor. Kakak hati-hati dijalan ya." ucap Hilwa santai mengangkat kedua tangannya yang di penuhi sabun. "Ya sudah kakak berangkat dulu." tapi Reno tetap mencium kening Hilwa dengan hidmat. Saat bibirnya ingin menyentuh bibir Hilwa, refleks wajah Hilwa mundur. Entahlah saat ini, dia merasa risih dengan apa yang dilakukan Reno. Padahal mereka sudah terbiasa melakukan ritual itu setiap pagi. Tapi sekarang. . .ahh sudahlah, tidak usah di bahas lagi. Para readers tentu sudah tahu jawabannya bukan?.


"Maaf kak, tidak enak ada bi Inah." tutur Hilwa yang melihat raut wajah Reno yang terkejut. "Baiklah. Kamu jaga diri di rumah." sahutnya dan pergi dari hadapan Hilwa.

__ADS_1


Maaf kak, aku disini bukan untuk menjadi istrimu lagi. Tapi aku masih tetap bertahan disini hanya untuk menjadi putri di keluarga ini. Untuk membalas semua orang-orang yang baik terhadapku selama ini. Gumam Hilwa menatap nanar kepergian suaminya.


Tidak ada getaran lagi di dalam hatinya. Saat Reno bersikap manis sekalipun. Kini aku sudah yakin kak, bahwa cintaku kini sudah mulai hilang secara perlahan. Dengan begitu, aku tidak mungkin merasakan sakit saat keluar dari rumah ini kan. batin Hilwa. Dia kembali melanjutkan pekerjaannya.


__ADS_2