DERITA MENANTU RAHIM YANG KOSONG

DERITA MENANTU RAHIM YANG KOSONG
Keputusan yang berat


__ADS_3

Suasana di kediaman pak Dedi cukup ramai. Hari ini mereka akan mengadakan acara syukuran 7 bulanan calon cucu mereka. Acara masih di lakukan di rumah pak Dedi, karena sampai hari ini Stefani belum pindah ke rumah yang dia inginkan.


Hilwa turut andil dalam beberapa pekerjaan. Meski selalu terdengar bisik-bisik yang membicarakannya, entah itu yang mengejek atau yang berusaha simpati. Tapi Hilwa tidak ingin menghiraukannya.


Untuk kali ini Bu Tika tidak membuka mulutnya untuk menyakiti hati Hilwa. Hatinya begitu bahagia karena tinggal menghitung beberapa bulan lagi, calon cucu yang di tunggu-tunggunya akan segera lahir ke dunia.


Sebentar lagi acara akan di mulai. Stefani di gandeng Reno untuk duduk di tengah-tengah para ibu-ibu pengajian yang hadir. Sekali lagi, semua mata itu tertuju kepada Hilwa yang duduk agak jauh dari keluarganya. "Lihatlah! istri pertamanya hanya duduk di pojokkan seorang diri. Apakah dia sengaja memisahkan diri atau keluarga suaminya yang sudah tidak mempedulikannya." ucap salah satu ibu pengajian.


"Iya ya, kasian sekali. Padahal kalau di lihat, masih cantikan istri pertama ya Bu. Tapi ya karena itu, katanya rahimnya kosong." timpal ibu di sebelahnya. "Makanya seorang wanita itu tidak cukup cantik dan baik saja. Tuh buktinya, yang cantik dan baik masih mereka sia-siakan." celetuk ibu yang satunya. Dan mereka pun semua mengangguk tanda setuju.


Wahai para ibu-ibu penduduk bumi. Seorang wanita yang tidak bisa memberikan keturunan itu bukan kemauannya. Tapi itu sebuah takdir. Takdir yang mau tidak mau harus mereka jalani. Tidak tahukah para wanita itu selalu terisak di setiap sujudnya. Tidak tahukah para wanita itu merasakan sakit hati atas ucapan kalian yang seenaknya. Sebelum hal ini terjadi kepada anak cucu kalian juga, jadi berhentilah merendahkan seorang wanita yang belum atau tidak bisa memberikan keturunan.


Tapi banyak kok dari mereka yang merasa santai menjalankannya. Dan masih banyak juga seorang suami yang setia kepada istrinya walaupun tanpa seorang anak di tengah-tengah mereka.


Pembuka acara sudah memulai acaranya.


Hening.


Saat beberapa sambutan ia lontarkan untuk mewakili keluarga pak Dedi dan berterimakasih atas semua para tamu yang sudah berkenan hadir. Tidak lama Ayat-ayat suci Al-Qur'an pun terdengar dari dalam rumah bahkan terdengar sampai ke jalanan juga, saking banyaknya orang-orang yang hadir.


Saat acara itu masih berlangsung, suara mobil yang ditumpangi tiga orang itu memasuki rumah Reno dan Hilwa. Sepi. " Sepertinya Hilwa tidak ada di rumah pak." ucap bu Tini. "Ada suara orang-orang mengaji pak. Sepertinya dari rumah mertuanya Hilwa pak." tambah Bu Tini. "Ya sudah, ayo kita kesana Bu." ajak pak Marna dan Andre yang mengikuti mereka dari belakang.


Semakin dekat tempat yang mereka tuju, semakin jelas sumber suara itu terdengar. "Ternyata benar pak, suara pengajian itu dari rumah besan kita. Kira-kira ada acara apa ya pak?" tanya Bu Tini tapi yang ditanya cuma mengedikkan bahunya.


"Kita tunggu saja sampai acaranya selesai. Habis itu kita masuk ke dalam dan bertemu dengan Hilwa." Pungkas pak Marna. Mereka pun akhirnya duduk di teras yang beralaskan karpet.

__ADS_1


Selama satu jam mereka menunggu, akhirnya acara pun selesai. Para ibu-ibu pengajian sudah mulai membubarkan diri dengan membawa satu kotak makanan.


Setelah dirasa semua para tamu sudah keluar. Barulah pak Marna dan Bu Tini memasuki rumah. Sedangkan Andre hanya menunggu di teras. Dia tidak ingin melangkah lebih jauh, takut terjadi kesalahpahaman lagi.


Betapa terkejutnya pak Marna dan Bu Tini, melihat seorang wanita yang di apit oleh menantunya dan ibu mertua Hilwa. Sedangkan tatapan mereka menangkap sosok putrinya yang sedang ikut membereskan sisa-sisa sampah yang ada di rumah itu.


"Hilwa putri ayah. Apa yang sedang kamu lakukan nak?" tanya pak Marna secara spontan. Semua orang tentu saja menoleh ke sumber suara.


Mereka semua terkejut melihat sosok kedua orangtua yang sangat mereka kenal. Sementara Hilwa, tangannya refleks menjatuhkan benda yang dia pegang. "Ibu, bapak!" mata Hilwa membulat sempurna melihat kedua orangtuanya sedang berdiri di depan pintu. Bagaimana bisa bapak dan ibu ke sini, di saat situasi seperti ini. ucap Hilwa dalam hati.


Semua orang yang sedang duduk, akhirnya berdiri. Hilwa mencoba melangkahkan kakinya untuk menghampiri orangtuanya. "Apa yang sebenarnya terjadi, nak?" tanya pak Marna kepada putrinya. "Pak, Bu. tenang dulu biar Hilwa jelaskan." ucap Hilwa mencoba menenangkan.


"Jelaskan tentang semua ini. Dan siapa wanita yang sedang duduk bersama suamimu?" berondong pak Marna menunjuk ke arah Stefani dan Reno. Tapi bibir Hilwa terasa kelu, apa yang harus dia jelaskan kepada orangtuanya.


Pak Marna menatap tajam ke arah besannya itu. "Jangan bilang kalau putramu sudah berani menduakan putri saya." ucap pak Marna tajam. "Pak, Hilwa mohon bapak tahan amarah bapak dulu. Dan dengarkan penjelasan ayah." ujar Hilwa. "Bapak hanya ingin dengar ya atau tidak!" teriak pak Marna.


"Benar pak. Putra saya Reno sudah menduakan Hilwa. Dan dia sudah menikahi wanita lain." ucap pak Dedi akhirnya.


"Kurang ajar!, berani sekali kamu menduakan putri saya Hilwa." kini tatapan tajam itu beralih ke arah Reno. Yang di tatap tentu saja ketakutan. Baru kali ini dia melihat tatapan ayah Hilwa tajam seperti itu. Jika dia tidak punya malu, dia ingin bersembunyi saja di balik punggung ibunya.


"Kemari kamu Reno! jangan jadi laki-laki pengecut. Hadapi saya, sebelum kamu berani menyakiti putri saya." tantang pak Marna. Reno yang mendengarnya malah tambah ketakutan. Biarlah dia di cap sebagai laki-laki pengecut atau apapun. Yang jelas saat ini dia tidak berani berhadapan dengan bapak mertuanya.


"Saya mohon sabar dulu pak." ucap pak Dedi mencoba menenangkan. "Sabar! apa anda bisa sabar, jika melihat putrimu di sakiti. Anda bilang, sudah menganggap Hilwa sebagai putri anda sendiri. Tapi mana buktinya. Bahkan anda tidak bisa membela di saat kemalangan menimpanya." geram pak Marna.


Tentu saja, hal itu yang di rasakan pak Dedi selama ini. Dia merasa tidak becus melindungi menantunya. Dia bahkan yang memaksa Hilwa untuk tetap bertahan dengan putranya Reno. "Maafkan saya pak." hanya kata itu yang mampu pak Dedi ucapkan. Dia merasa yang pak Marna tuduhkan adakah benar adanya.

__ADS_1


"Ayo kita pulang nak." ajak pak Marna kepada Hilwa. Seketika mata Reno membulat, walaupun dia ketakutan tapi kalau Hilwa di bawa oleh ayahnya, bisa jadi dia tidak akan pernah bertemu dengan Hilwa lagi. "Saya mohon pak. Jangan bawa Hilwa pergi." Reno berlutut di hadapan ayah Hilwa. Kini ketakutannya hilang, saat ketakutan yang lain menyerangnya. Dia lebih takut, jika tidak bisa lagi bertemu dengan istrinya Hilwa.


Pak Marna terkekeh melihat Reno yang kembali berlutut disaat dia akan membawa putrinya pergi. "Bangun kamu Reno. Saya tidak ingin melihat penyesalan palsu mu lagi. Bukankah kamu sudah pernah melakukan ini sebelumnya?" tanya pak Marna menatap tajam ke arah menantunya. "Tidak pak. Saya tidak akan pernah bosan untuk meminta pengampunan atas kesalahan yang telah saya lakukan." jawab Reno lirih.


"Kalau begitu, bisa kamu jelaskan apa saja kesalahanmu selama ini. Saya ingin mendengarnya langsung dari mulutmu." sergah pak Marna.


Reno hanya bisa tertunduk. Bagaimana mungkin dia menjelaskan semua kesalahannya sekarang. Bahwa dia sudah meniduri wanita lain dan membuatnya hamil begitu?. Ahhh tidak! bagaimana ini. Gerutu Reno dalam hati.


"Jelas kamu tidak bisa mengatakannya. Karena kamu hanya laki-laki pengecut yang hanya bisa mengobral janji, tanpa adanya pembuktian." sarkas pak Marna.


"Berani sekali anda menyebut putra saya laki-laki pengecut. Jaga ucapkan anda pak." sergah Bu Tika menghampiri besannya itu. "Bagaimana mungkin anda masih membela putra anda Bu. Jelas-jelas Reno sudah membuat kesalahan." ucap pak Marna tidak habis pikir. "Saya tidak munafik kalau putra saya melakukan kesalahan. Tapi itu di karenakan putri anda yang tidak bisa memberikan putra saya keturunan. jadi kesalahan tidak sepenuhnya ada di putra saya." ucap Bu Tika tidak kalah tajam.


"Apa benar sebuah kesalahan jika Hilwa tidak bisa memberikan keturunan. Apa itu benar-benar kesalahan putri saya, Bu? tanya pak Marna. "Oh ya jelas. Reno sudah membuktikannya sendiri, dia bisa mempunyai anak dari wanita lain. Sudah jelas bukan? bahwa Putrimu memiliki rahim yang kosong."


"Jaga ucapanmu, Bu. Dan sebaiknya kamu diam lah!" perintah pak Dedi. "Bagaimana bisa mereka merendahkan putraku. Jelas-jelas putrinya yang mempunyai kekurangan." ucap Bu Tika tetap tidak mau kalah.


"Apa kamu bisa diam! Jangan membuatku lebih malu lagi. Jelas-jelas Reno yang salah di sini. kamu masih ingin membelanya?" kini pak Dedi pun ikut geram dengan sikap istrinya.


"Ayo nak, kita pergi dari sini. kamu sudah tidak pantas berada di sini dengan orang-orang seperti mereka." ajak pak Marna yang menggenggam tangan Hilwa.


Pak Marna terkejut melihat Hilwa hanya diam membatu. "Tidak pak. Biarkan hilwa menjalaninya saat ini. Hilwa ingin tetap mencobanya." tolak Hilwa. "Hilwa, bagaimana bisa kamu menjalani hari-harimu seperti ini. kamu tidak akan sanggup nak." ucap Bu Tini yang sedari tadi hanya menyimak. " Hilwa hanya ingin mencoba, seberapa besar batas kesabaran Hilwa pak, Bu."


"Tidak nak, jangan seperti ini. ayo kita pergi dari rumah ini, dengan membuka lembaran baru. Ibu yakin kamu akan menemukan kebahagiaan setelah ini." rayu Bu Tini. Hilwa tetap menggeleng "maafkan Hilwa Bu. Hilwa akan tetap bertahan sampai kesabaran Hilwa habis. Hilwa mohon ibu bisa memahami keputusan Hilwa."


Seketika tubuh Bu Tini lemas, mendengar keputusan putrinya yang tetap ingin bertahan.

__ADS_1


__ADS_2