
Saat Reno melangkahkan kaki untuk masuk ke dalam rumah, warna jingga di langit barat masih tersisa tinggal sedikit lagi. Dia sejenak meresapi keindahan alam itu. Matahari terbenam menjadi bukti, bahwa apapun yang terjadi hari ini bisa berakhir dengan indah.
"Semoga ke depannya bisa seperti ini. Aku pulang setiap malam ke rumah Hilwa, dan Stefani bisa menerima itu. Apa mungkin?," gumam Reno. Dia hanya ingin terus seperti ini. Tanpa ada drama-drama antara istri muda dan istri tuanya, seperti yang dengar selama ini.
Saat dia berhasil memutar handle pintu, suara yang sangat menyejukkan hati begitu terdengar. Hilwa saat ini sedang melantunkan ayah Al-Qur'an dengan sangat merdu. Inilah salah satu kelebihan istrinya, yang tidak mungkin orang lain tahu.
Reno bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk langsung membersihkan diri, dia pun ingin melaksanakan sholat wajib. Dia sengaja tidak masuk ke kamar Hilwa, karena takut mengusiknya.
Saat dia masuk ke dalam kamar, Hilwa sudah selesai membaca Al-Qur'an. Entah kenapa hatinya ingin sekali memeluk istrinya kini. Reno mencoba mendekati Hilwa dan memeluknya dari belakang, "kak!" Hilwa tersentak kaget. "Biarkan seperti ini sayang! kakak sangat merindukan kamu!." desis Reno telat di telinga Hilwa. Entahlah seharusnya hatinya kini berdebar bahagia, tapi dia tidak merasakan itu. Hatinya masih terasa perih.
"Aku belum melaksanakan sholat isya kak. Aku harus mengambil wudhu lagi." Hilwa mencoba melepaskan belitan tangan suaminya yang melingkar di tubuh. Tapi Reno malah mengeratkan pelukannya, bahkan dia membawa tubuh Hilwa ke atas kasur.
"Aku belum siap kak!" hati Hilwa menjerit. Wajahnya kini pias. Sepertinya Reno ingin meminta haknya malam ini. Tidak ingin menerima penolakkan, Reno langsung menubruk kan bibir dan menindih tubuh Hilwa. Jika bisa, Hilwa ingin menolaknya, tapi dia sadar Reno masih suaminya dan dia berhak mendapatkan haknya.
Reno menanggalkan mukena yang menempel di tubuh Hilwa, menciumi seluruh wajah dan bibir dengan sangat menggebu. Sudahlah tinggal pasrah saja, toh dia yang akan bekerja keras. batin Hilwa
Sebelum Reno menyantap makan malamnya, dia sudah lebih dulu menyantap hidangan yang lebih menggiurkan. Istrinya Hilwa kini sudah mau melayaninya lagi di tempat tidur.
Pergerakan mereka terjadi lumayan lama. Hingga Reno merasa puas dengan aktivitas yang dia lakukan barusan. Kini hatinya berbunga, tidak ada kebahagiaan yang bisa dia bandingkan saat ini.
__ADS_1
"Makasih sayang!" ucap Reno lirih dan berguling di samping tubuh Hilwa. "Ayo kita mandi lagi kak, kita sholat bareng dan habis itu kita makan malam." ucap Hilwa bergegas ke kamar mandi. Reno pun mengikuti istrinya ke kamar mandi, tanpa ada ronde kedua ya!
Sedangkan di rumah pak Dedi para penghuni rumah sedang makan malam. "Apa Reno malam ini masih menginap di rumahnya?" tanya Bu Tika yang entah kepada siapa dia bertanya. Stefani malah mendengus mendengar pertanyaan ibu mertuanya. "Biarkan dia melakukan apa yang dia inginkan, jangan coba-coba memaksanya untuk melakukan hal yang tidak dia sukai." sahut pak Dedi.
Semua orang mengerti apa yang pak Dedi maksud. "Tapi yah, Stefani juga istrinya sekarang. Dia juga harus mendapatkan haknya. Apalagi sekarang dia harus menerima perhatian lebih dari Reno. iya kan nak?" Bu Tika malah bertanya kepada menantunya, dan jelas Stefani menginginkan itu. "Pokoknya ibu harus membicarakannya sama Reno. ini tidak bisa di biarkan." ujar Bu Tika.
Benar kata ibu, jangan sampai Hilwa akhirnya bisa mengandung anaknya kak Reno. ucap Stefani dalam hati.
* * *
Saat matahari di ufuk timur sudah menunjukkan sinar keemasannya, dua orang wanita sudah menyambangi rumah Reno dan Hilwa.
Pintu di gedor-gedor oleh Bu Tika dan Stefani yang berdiri di belakangnya. Hilwa yang sudah lebih dulu selesai membersihkan diri, mencoba membuka pintu yang dia yakini adalah ibu mertuanya.
"Mana Reno?" sergah Bu Tika. "Kak Reno habis man-", perkataan Hilwa menggantung, karena para tamunya sudah lebih dulu menerobos masuk.
Mereka langsung masuk ke kamar, "Ren! kamu kenapa semalam nggak tidur di rum-ah?" ucapan Bu Tika terbata karena melihat putranya baru keluar dari kamar mandi. Mereka masih melihat tempat tidur yang masih berantakan. Dan rambut Hilwa yang masih basah. Apa mereka semalam melakukannya?, batin Bu Tika. Tidak! ini tidak mungkin. Ada apa dengan semua ini. Apa yang mereka lakukan semalam?, ucap Stefani dalam hati.
Kedua orang itu malah termenung setelah melihat situasi di kamar. "Reno! kamu tidak bisa seperti ini terus. Ingat status kamu sekarang. Kamu sudah mempunyai Stefani, dia juga istrimu. Tapi kamu malah betah bermalam dengan wanita tidak berguna ini" sarkas Bu Tika.
__ADS_1
"Dan kamu Hilwa! jangan coba-coba menguasai putraku. Dasar wanita tidak tahu diri, kenapa masih betah di rumah ini padahal keberadaan mu sudah tidak di butuhkan di sini." cicit Bu Tika. "Kamu kan yang selalu mencegah kak Reno untuk bermalam denganku, dasar wanita tidak berguna." Stefani ikut menimpali. Kedua wanita itu benar-benar kompak kalau soal merendahkan Hilwa, karena hatinya sudah lebih dulu di kuasai amarah.
"Jaga ucapan kalian. Ini tidak seperti yang kalian tuduhkan kepada Hilwa. Dia tidak pernah memaksaku untuk bersamanya, apalagi mencegah untuk bermalam denganmu Stefani. Ini murni atas keinginanku sendiri. Aku yang ingin bermalam dengan Hilwa. Jadi sebaiknya jaga ucapan kalian." sergah Reno.
"Kak! kamu tidak bisa gitu donk. Kamu ingat kan ada janin yang aku kandung, dan kamu harus lebih memperhatikan aku bukan malah terus bersama wanita ini." tunjuk Stefani ke wajah Hilwa.
"Hilwa! namaku Hilwa. Aku mempunyai nama yang di berikan oleh kedua orangtuaku. Dan kamu seenaknya selalu menyebut namaku dengan wanita ini. Dan kamu tahu, aku tidak pernah mencegah atau memaksa suamiku. Dia sendiri yang ingin tetap disini, dan memaksaku untuk-," Hilwa sengaja menggantungkan kata-kata nya, agar membuat mereka berdua tambah kepanasan. Dia sudah jengah dengan kelakuan kedua wanita ini.
"Melakukan apa?, apa yang kamu lakukan dengan dia kak?. Kamu malah belum menyentuhku sejak malam pengantin kita. Tapi kamu malah melakukannya dengan istri pertamamu. Jahat kamu kak! hiks." berondong Stefani, dia merasa dikhianati. Stefani berlari ke luar rumah, dengan lelehan air mata palsunya. Sebenarnya dia tidak sedih tapi kesal. Tapi dia ingin memancing simpatik dengan tangisannya.
"Puas kamu Reno! membuat calon ibu dari anakmu menangis. Dan kamu Hilwa jangan jumawa dulu, karena saat ini kamu masih memiliki hati putraku. Kita lihat kedepannya, apakah kamu masih bisa tinggal di rumah ini." cerca Bu Tika.
"Aku akan menantikan hari itu tiba ibu. Jika kak Reno sudah tidak menginginkanku lagi, aku akan siap pergi dari rumah ini." jawab Hilwa.
Mereka berdua terkejut dengan ucapan yang sudah Hilwa lontarkan, tidak seperti biasanya dia membalas ucapan ibu mertuanya. Bu Tika pun melengos, berlalu ke luar rumah dengan hati yang dongkol. Karena untuk pertama kalinya menantunya itu berani membalas ucapannya.
"Kamu lihat kak! inilah gambaran kehidupan kita kedepannya. Dan akan selalu seperti ini." pungkas Hilwa. Dia berlalu dari hadapan suaminya yang hanya diam membisu.
Seketika air mata Hilwa meluncur di pipinya tanpa bisa ia cegah. Inilah yang akan terjadi kak! keadaan rumahtangga kita tidak akan baik-baik saja. jerit Hilwa dalam hati. Dia menahan tangis yang sangat menyesakkan ini. Belum apa-apa madunya sudah berani melabraknya. Aku harus lebih kuat, tidak akan aku biarkan, harga diriku di injak-injak lagi. tekad Hilwa.
__ADS_1