DERITA MENANTU RAHIM YANG KOSONG

DERITA MENANTU RAHIM YANG KOSONG
Tidak ada rasa lagi


__ADS_3

Saat itu sudah menjelang sore.


Hilwa memang gampang sekali berbaur jika dengan keluarga dari adik ayah mertuanya itu. Mungkin karena mereka pun sejak dulu sudah menyukai Hilwa seperti pak Dedi menerima Hilwa apa adanya.


Di teras, para anak muda sedang duduk bersantai di kursi. Hilwa dan Amira beserta Ivan. Mereka bertiga asyik bercengkerama satu sama lain. Sesekali terdengar gelak tawa di antara mereka. Hilwa dan Ivan yang mendengar ocehan Amira si gadis tomboi yang berhijab itu. "Kamu hebat banget Mira, bisa melawan semua orang yang ingin menindas mu. Padahal dulu kakak kira kamu itu lemah lembut, nyatanya garang juga ya." timpal Hilwa setelah mendengar cerita Amira yang melawan teman sekolah yang menyangka Amira itu gadis lemah.


"Makanya kakak itu harus belajar dari aku. Penampilan kita boleh seperti ini, tapi tanduk kita jangan sampai kita lepas ka." sungut Amira. "Iya, ya. Sepertinya kakak harus belajar banyak sama kamu. Agar siapapun tidak bisa menindas kita seenaknya." ujar Hilwa dengan suara agak keras. Agar Stefani dan ibu mertuanya mendengarnya yang sedang duduk tidak jauh dari mereka.


"Tapi kakak lebih suka wanita seperti kamu, Wa. Yang lemah lembut dan sejuk di pandang mata." gumam Ivan keceplosan. "Eum anu, maksudnya laki-laki biasanya suka sama sifat yang lemah lembut seperti kamu, Wa. Bukan kaya dia. Makanya sampai Segede gini nggak ada laki-laki yang mau mendekatinya." ralat Ivan yang menyadari tatapan mata kedua gadis itu berubah. "Ish" Amira mendelik mendengar ucapan kakak laki-lakinya.


"Biarin aja Wee. Kalau sudah jodoh nggak akan kemana kan kak?" Amira yang meminta pembelaan kepada Hilwa. " Iya gadis manis tapi tomboi, kakak yakin kamu akan menemukan pasangan yang menerima kamu apa adanya kelak. Tapi jangan terlalu galak juga ya, nanti laki-laki pada kabur lagi " Hilwa yang ikut menggoda Amira. "Kak Hilwa.!" akhirnya mereka pun tergelak bersama.


Langkah Reno yang baru saja tiba terhenti, melihat istrinya yang terlihat bahagia duduk bersama orang lain. Entah kenapa ada perasaan nyeri di hatinya. Karena jika bersamanya sikap Hilwa berubah kaku dan sendu. Apa aku benar-benar sudah menyiratkan luka yang teramat dalam bagi Hilwa. Sehingga tawa cerah itu tidak pernah aku lihat lagi, jika berdekatan ku. Batin Reno.


"Kakak!" seru Stefani yang menyadari kepulangan suaminya.


Wanita hamil itu bergelayut manja di lengan Reno, dan mendapatkan tatapan sinis dari Ivan dan Amira. Sedangkan Hilwa terlihat biasa saja.


"Kakak pasti cape yah. Sini kak aku bantu bawain tasnya." ucap Stefani manja. Sepertinya dia ingin menunjukkan posisinya kepada semua orang. "Huh dasar pelakor." celetuk Amira pelan. Tapi masih bisa di dengar oleh semua orang. Semua orang menoleh ke arahnya. Tapi Amira acuh saja dan membuang muka.

__ADS_1


"Hai bro!, lama tidak bertemu. Wah aku benar-benar kalah saing nih. Kamu sudah mempunyai dua istri, sedangkan aku satu saja belum ada yang nyangkut." seru Ivan yang berusaha mencairkan suasana.


Tapi tatapan semua orang tidak melemah. Apalagi Reno yang melihat Ivan sejak tadi menatap Hilwa dengan intens. Ya, dia sudah menyadari dari dulu kalau sepupunya itu sudah menyukai istrinya dalam diam. "Makanya cepat cari istri. Dan kalau bisa, kalau kamu mengunjungi kami lagi, kamu sudah membawa istri kamu. Jangan hanya mengharapkan punya orang lain." sinis Reno berucap. Tapi tetap saja dia menghampiri Ivan dan Amira dan juga istrinya.


Mereka pun akhirnya bersalaman, seperti layaknya saudara yang baru saja bertemu. Dan Hilwa pun tetap mencium tangan Reno, karena dia masih istrinya.


"Ayo kak, kita masuk. Atau kita pulang dulu, supaya kamu bisa ganti baju terlebih dahulu." tanya Stefani yang masih menggelayut kan tangannya, tanpa menghiraukan tatapan mata semua orang.


"Aku menyimpan beberapa baju disini. Jadi aku ingin membersihkan diri disini saja." sahut Reno akhirnya. Dan melangkahkan kaki memasuki rumah. Dia berharap Hilwa lah yang menemaninya sekarang, bukan Stefani. Dia sempat berbalik dan menatap Hilwa sekilas, tapi yang di tatap malah asyik melanjutkan obrolannya dengan Amira dan juga Ivan. Reno membuang nafas kasar, dan melanjutkan langkahnya.


Setelah memasuki rumah, dia di sambut oleh paman dan bibinya yang sedang berkumpul di ruang tamu bersama anggota keluarga yang lain. "Aku harus membersihkan diri dulu paman. Nanti aku balik lagi." ucapnya pamit. Setelah menyalami paman dan bibinya. "Ya sudah pergilah. Kamu pasti lelah bukan?." ujar pak Diki.


Semua anggota keluarga duduk berkumpul di kursi meja makan panjang. Pak Dedi dan pak Diki duduk sebagai kepala keluarga yang menduduki kursi tunggal. Sedangkan anggota keluarganya masing-masing duduk di samping mereka. Hilwa malah seperti ikut bergabung berdekatan dengan Amira di samping kanan pak Diki dan berhadapan dengan Ivan. Tentu saja membuat selera makan Reno hancur.


Sepanjang makan malam Reno terlihat tidak berselera. Sedangkan Hilwa masih sempat-sempatnya tertawa dengan Amira yang terus di goda oleh Ivan. Ya, karena Ivan selalu saja menjahili adik perempuannya. Tatapan Reno menusuk tajam, melihat Ivan yang sesekali melirik Hilwa dengan wajah yang bersemu. "Wa, tolong ambilkan cumi pedas dong." pinta Ivan. Hilwa dengan sigap mengambilkan keinginan adik sepupu suaminya itu. "Makasih" seru Ivan. Hilwa pun menganggukkan kepalanya.


Kini Reno tidak bisa lagi menyembunyikan kekesalannya. Dia berdiri dari duduknya "aku sudah kenyang. Aku pamit dulu ayah, paman." ucapnya dan langsung meninggalkan semua orang. "Kamu mau kemana Ren. Makanan kamu belum habis." teriak Bu Tika. "Biar aku susul kak Reno, Bu." ucap Stefani. "Pergilah." Stefani yang belum menghabiskan makanannya pun tepaksa harus menyusul suaminya yang terlihat marah. Bahkan semua orang pun, tidak ada yang bisa menebak kenapa Reno bisa terlihat marah seperti itu. Kecuali Ivan. karena dia memang sengaja yang memancing kemarahan Reno.


Sampai makan malam selesai pun, Reno tidak kembali ke rumah orangtuanya. Mungkin dia pulang ke rumahnya pikir semua orang.

__ADS_1


"Ini sepertinya handphone Reno deh, Wa. Wah kenapa sih anak itu, sampai handphone sendiri dia lupa membawanya." seru Anita. "Biar aku kembalikan ke kak Reno mbak. Seperti dia belum tidur." ucap Hilwa akhirnya. "Aku ikut kak, sekalian mau lihat rumah kak Reno." seru Amira. " Ya sudah, ayo."


Kedua gadis itu keluar dari rumah. Karena jam dinding masih menunjukan jam 8 malam.


Sedangkan Reno yang sudah terbakar amarahnya tidak bisa meluapkannya di hadapan semua orang. Dia yang berharap Hilwa lah yang menyusulnya, tapi lagi-lagi Stefani lah yang berada di sampingnya saat ini. "Kurang ajar!, ada apa denganmu, Hilwa. Apa kamu berusaha membalas ku sekarang." gumam Reno frustasi. Dia mere*mas rambutnya dan mengusap wajahnya kasar. " Ada apa sih kak. Kenapa kamu seperti ini." tanya Stefani cemas. "Sejak pulang kerja, kamu jadi uring-uringan nggak jelas kaya gini sih." sungut Stefani.


Reno menatap tajam ke arah Stefani dan di detik berikutnya dia mencium bibirnya dengan menggebu. Tentu saja Stefani tidak menolaknya. Karena dia pun sangat merindukan suaminya itu.


Ciuman itu menjadi sangat menuntut, dan akhirnya pergulatan panas pun tidak bisa mereka hindari. Reno sebenarnya hanya ingin melampiaskan amarah yang ada di hatinya kepada Hilwa. Tapi Stefani lah yang ada di hadapannya sekarang.


Saat Hilwa dan Amira sudah berada di depan pintu rumah Reno. "Kak pintunya terbuka. Kak Reno pasti belum tidur." ucap Amira. "Ya sudah ayo masuk." Entah kenapa Hilwa cukup ragu untuk memasuki rumahnya lagi.


Terdengar suara yang cukup aneh di telinga Amira tapi Hilwa hapal betul suara itu.


Seketika Hilwa menutup telinga Amira dengan kedua telapak tangannya. "Ayo kita kembali ke luar." ajak Hilwa.


Setelah berada diluar, suara itu tidak lagi terdengar. "Gila! suara de**han kak Stefani nyaring banget. Jadi karena itu kak Reno tidak sempat menghabiskan makanannya karena kebelet pengen gituan. hihi." ucap Amira dalam hati dan terkikik geli.


Tapi setelah melihat wajah kak Hilwa yang berubah muram, tawa Amira terhenti. Kini tatapannya berubah iba. "Sabar ya kak." hanya itu yang bisa Amira ucapkan untuk membantu menenangkan hati Hilwa. "Apa sih, kakak tidak apa-apa kok. Ya sudah biar kakak saja yang masuk untuk meletakkan handphone kak Reno." ucap Hilwa. Mau tidak mau Amira pun menganggukkan kepalanya, karena tidak mungkinkan dia masuk dan mendengar suara lak*nat itu lagi. hehe

__ADS_1


Hilwa melangkahkan kakinya lagi masuk ke dalam dan meletakkan handphone Reno di meja. suara itu semakin jelas terdengar, "Tapi kok aku tidak merasakan sakit ya. Ahh entahlah! aku seperti biasa-biasa saja mendengarnya." Hilwa berlalu saja pergi meninggalkan rumah yang sudah dia tempati 5 tahun terakhir tanpa ada perasaan apapun lagi.


__ADS_2