DERITA MENANTU RAHIM YANG KOSONG

DERITA MENANTU RAHIM YANG KOSONG
Satu hari bersamanya


__ADS_3

Sedangkan di tempat lain, dua wanita yang sedang duduk di teras rumah. Mereka mengobrol sambil matanya terus memperhatikan dua bocah yang sedang bermain.


Ya, kaki Bu Tika sudah sembuh, setelah dua Minggu ini melakukan berbagai pengobatan. Kini dia bersama Anita sedang mengasuh kedua cucunya yang aktif berlarian kesana-kemari.


"Anita, adik kamu kemana sih, tumben dia keluar rumah. Dan sampai sekarang belum pulang juga?" tanya Bu Tika kepada anak perempuannya.


"Ya mana Anita tahu Bu, Anita kan gak tinggal dengan Reno"


"Kamu ini, ibu tanyain. Ya, siapa tahu dia bilang gitu sama kamu mau pergi kemana. oh ! atau jangan-jangan dia pergi bersama nak Stefani ya, mumpung istrinya lagi gak ada di rumah" ucap Bu Tika yang berprasangka.


"Ya mungkin saja Bu, sudahlah biarkan saja. Lagian Reno itu sudah besar Bu, jangan terlalu mencampuri urusannya lagi" Anita keceplosan, dia tidak fokus karena matanya terus melihat tingkah laku kedua anaknya.


Ibu melengos, benar, dia memang selalu mencampuri urusan apapun mengenai putranya. Huh, memang apa salahnya jika aku mencampuri urusan Reno, dia kan putra ku bukan putra orang lain. Lagian aku ikut campur juga, untuk kebaikannya. cerocos Bu Tika dalam hati.


Anita yang menyadari raut muka ibunya berubah "tapi Bu, benar bisa saja, Reno mengajak Stefani kencan. Siapa tahu mereka balikan lagi Bu" Anita yang berusaha membujuk ibunya dengan kata-kata.


"Iya benarkan kata ibu, siapa sih yang bisa menolak perempuan secantik nak Stefani itu. Pasti Reno juga berpalinglah dari istrinya yang tidak berguna itu" ucap Bu Tika antusias.


Nah kan !, di bujuk sedikit saja, gampang banget ibu merubah suasana hatinya. Coba Hilwa bisa sedikit saja bersilat lidah, pasti bisa memenangkan hati ibu.


* * *


Yang sedang menjadi topik pembicaraan, memang sedang berkencan dengan seorang perempuan, tapi bukan dengan Stefani, yang Bu Tika dan Anita sangka. Melainkan dengan istrinya sendiri, Hilwa.


Ya, Reno dan Hilwa sudah berada dalam mobil untuk menuju rumahnya, tapi di tengah perjalanan, Reno berinisiatif untuk mengajak Hilwa ke sebuah tempat.


"Kakak mau ngajak Hilwa kemana sih?" tanya Hilwa


"Kamu duduk manis saja, sebentar lagi juga sampai" ucap Reno tersenyum manis.


Setelah menepikan mobil di lahan parkir sebuah restoran, Rendy dan Hilwa turun dari mobil.


Mereka melangkah, dengan menautkan jemari tangan.


Saat mereka masuk ke dalam, di suguhkan dengan desain interior yang elegan dan suara alunan musik yang membuat suasana terkesan romantis.

__ADS_1


"Kak, kenapa kita ke sini. Memang tidak apa, dengan penampilan kita yang seperti ini" Hilwa menatap pakaian yang dia pakai.


"Memangnya kenapa dengan penampilan kita, aku cukup tampan dan kamu juga cantik" Rendy berusaha menggoda istrinya.


"Aawww, sakit sayang" Reno meringis, mendapat cubitan di pinggangnya.


Setelah menemukan tempat duduk yang nyaman, seorang waiters menghampiri mereka, untuk menanyakan menu makanan yang ingin mereka pesan.


Reno memilih menu makanan yang menjadi andalan di restoran itu.


Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya makanan yang mereka pesan, datang juga.


"Kak, apa ini tidak berlebihan?" Hilwa melihat makanan yang menurutnya mewah.


"Tidak apa-apa sayang, makanlah. Anggap saja, ini hari spesial untuk kita." ucap Rendy yang menggenggam tangan istrinya.


Hati Hilwa seketika menghangat. Dia sangat bersyukur, setelah menghadapi masalah kemarin, kini sikap suaminya berubah menjadi manis.


Seperti badai yang telah berlalu, akan ada sinar matahari yang menghangatkannya. Setiap permasalahan yang telah usai, akan ada momen manis yang membuat hubungan kita semakin erat.


Seperti yang Reno inginkan, dia pulang ke rumah, setelah matahari sudah berada dalam peraduannya. Gelapnya malam, menyambut kedatangan Hilwa yang kembali ke rumahnya.


"Sekarang, mandilah dulu. Kakak akan tunggu disini" ucap Reno yang sudah memasuki kamar.


Nayla dengan cepat masuk ke kamar mandi, karena tubuhnya pun terasa lengket. Setelah seharian berada di luar rumah.


Secara bergantian, Rendy pun masuk ke kamar mandi, setelah Nayla ke luar dengan tubuh yang lebih segar.


Saat memilih pakaian, Hilwa nampak berpikir. Apa tidak apa-apa, aku memakai baju seperti ini sekarang?batin Hilwa. Dia sedang mengangkat satu baju, yang menurutnya kekurangan bahan.


Sepertinya kak Reno sudah selesai mandinya. Dengan cepat, Hilwa memakai baju yang sudah dia pegang tadi.


ceklek. . .


Reno keluar dengan menggunakan handuk yang hanya menutupi tubuh bagian bawahnya.

__ADS_1


Mulut Reno menganga melihat penampilan Hilwa, yang menurutnya sangat menggoda. Meskipun penampilan Hilwa selalu memakai hijab, tapi kali ini. . .wah, Reno pun sampai pangling.


Lekukan tubuh Hilwa sangat terlihat jelas, dengan rambut panjangnya yang tergerai indah.


Tenggorokan Reno serasa tercekat, bahkan dia bersusah payah untuk menelan ludahnya sendiri.


"Sayang, kamu cantik sekali" ucap Reno yang langsung merengkuh tubuh istrinya.


Reno seperti sudah melakukan seharian penuh untuk berpuasa, dan akhirnya waktu untuk berbuka telah tiba. Seperti hal yang sudah dia nanti-nanti, akhirnya ada di depan mata.


Reno mencium bibir yang selama dua Minggu ini, tidak ia rasakan. Tangannya meraba apa saja yang dia sentuh.


Lama bibir mereka bersentuhan, saling mengulum dan membelit lidah, menyalurkan rasa yang selama dua minggu ini mereka tahan.


Reno mendorong tubuh istrinya perlahan menuju tempat tidur. Merebahkan tubuh Hilwa, dan tidak sabar ingin melahapnya.


"Kak, aaaahhh" tubuh Hilwa menggelinjang, saat Reno mengulum area sensitif istrinya. Tatapan matanya sayu, seolah meminta yang lebih dari ini.


Seolah mengerti, apa yang di inginkan istrinya. Reno melepaskan pakaian dan handuk yang melekat di tubuh mereka.


"Untuk pemanasan, kita bermain-main dulu sayang" ucap Reno yang belum puas memainkan, mainan yang selama dua Minggu ini telah hilang.


Hilwa hanya mengangguk patuh. Dia membiarkan suaminya, menyentuh apapun yang dia inginkan.


Setelah terasa cukup untuk bermain-main, Reno dan Hilwa sudah siap memainkan adegan yang sebenarnya.


Selama beberapa jam, mereka mengeluarkan tenaga yang tidak mereka gunakan selama dua Minggu ini.


Gerakan mereka, cukup membuat tubuh keduanya bercucuran keringat. Padahal di luar maupun di dalam rumah itu, hawa cukup dingin. Tapi bagi mereka, yang sudah terbakar api gejolak hasrat, cukup membuat tubuh mereka kepanasan.


Setalah mereka puas, dengan apa yang telah mereka kerjakan. Akhirnya mereka tuntaskan, dengan suara lenguhan yang menurut mereka berdua terdengar merdu.


Untuk sesaat tubuh mereka belum terlepas, saling tatap, mengalirkan rasa yang membuat mereka candu. Ingin lagi dan lagi tanpa mereka bosan untuk melakukannya.


Bahkan jika tenaga mereka masih ada, mungkin, akan ada ronde kedua. Hehe

__ADS_1


__ADS_2