DERITA MENANTU RAHIM YANG KOSONG

DERITA MENANTU RAHIM YANG KOSONG
Melamar secara resmi


__ADS_3

Segalanya sudah di persiapkan. Kini Andre sudah tidak sabar ingin mengikat Hilwa. "Bu, ayo donk. Dandannya lama banget sih." gerutu Andre, dia sudah bolak balik dari tadi hanya tinggal menunggu ibunya saja. Sedangkan ayahnya sudah nangkring di kursi, dengan segelas teh hangat.


"Kalau kamu nanti punya istri, harus lebih sabar. Ayah pun begitu awal-awalnya, tapi setelah lama, ayah bisa memaklumi semua yang ibumu lakukan. Termasuk menunggu seperti ini, ayah mah sudah terbiasa." sahut pak Indra santai. "Hilwa nggak bakalan pecicilan seperti ibu, dia orangnya-" perkataan Andre menggantung. "Hilwa apa? kalau perempuan ya memang seperti ini, Ndre. Kamu harus bisa memakluminya. Karena pemikiran perempuan sangat luas. Dari mulai baju, rok, sepatu dan atas kepala harus serasi. Begitupun dengan Hilwa, karena ibu yang akan mengajarinya, haha." sahut Bu Eva yang di akhiri sebuah lelucon.


Pak Indra menepuk kening dan menggelengkan kepala melihat istrinya yang selalu saja menggoda putranya. "Apa aku nanti pindah rumah saja yah, jika kami sudah menikah. Jangan sampai dia dicemari oleh ibu" sahut Andre yang terlihat bergidik ngeri. Dia pun membalas lelucon ibunya. "Dasar anak kurang ajar! kamu kira ibumu ini virus yang akan mencemari menantu ibu." ketusnya. Bu Eva sedikit merengut mendengar ledekan putranya.


"Haha, nggak donk Bu. Ibu bukan virus tapi-" perkataan Andre menggantung, "sudah-sudah kalau kaya begini terus kita akan kesiangan untuk menemui orangtua Hilwa. Anak sama ibu sama saja, tidak ada yang mau mengalah." sela pak Indra. "Ayo Bu, kita temui calon menantu ibu." rayu Andre. "Tau ah!" ketus Bu Eva dan berlalu begitu saja. Sontak membuat para lelaki itupun tergelak.


Di pagi yang cerah ini, sebuah mobil melaju dengan kecepatan standar. Andre yang melajukan kendaraannya. Meski hatinya sudah begitu tidak sabaran, tapi tetap dia memilih mengutamakan keselamatan mereka.


Sampai akhirnya mereka tiba di tempat tujuan. Begitu mobilnya sudah tiba di halaman rumah, kedua orangtua Hilwa sudah siap untuk menyambut kedatangan calon besan mereka.


"Assalamualaikum" seru orangtua Andre. "Wa'alaikum salam." sahut penghuni rumah serempak. Mereka pun saling berjabat tangan dan saling menyapa satu sama lain. "Lho siapa anak tampan ini?" tanya Bu Eva kepada Alif yang mencium punggung tangannya. "Saya Alif Bu, adik kak Hilwa." jawabnya. Bu Eva pun tersenyum sambil mengacak rambut Alif dengan gemas.


"Ayo silahkan masuk." ajak Bu Tini.


Mereka pun mengikuti tuan rumah dengan jalan beriringan dan Andre yang mengekori dari belakang. "Dimana Hilwa Bu?" tanya Bu Eva kepada Bu Tini. Beliau sudah duduk di kursi. Terlihat banyak sekali macam-macam makanan yang tersedia di meja.

__ADS_1


"Masih bersiap-siap di kamarnya. Sebentar lagi juga keluar. Maklum ya Bu, kalau perempuan memang seperti itu." sahut Bu Tini. Bu Eva langsung menatap putranya seperti mengisyaratkan "tuh kan Hilwa juga seperti itu. We!" tapi hanya Andre saja ya yang bisa mengartikannya. hehe


Andre pun melengos, mendapat tatapan dari ibunya. "Biarlah mau Hilwa seperti apapun, aku tetap cinta kepadanya." batin Andre


"Ayo di minum dulu, Bu, pak, nak Andre. Kalian pasti kecapean selama di perjalanan." ujar pak Marna. Saat Andre ingin menyeruput teh nya, dia melihat Hilwa yang baru saja keluar dari kamarnya.


Hilwa yang sedikit berdandan, membuat Andre merasa pangling. Dia memakai busana yang senada dengan warna hijabnya. Dengan anggun kakinya melangkah menghampiri semua orang yang ada di ruang tamu.


"Kedip Ndre." seloroh Bu Eva. Andre yang terkejut malah menumpahkan teh nya. Dan alhasil teh itu membasahi celana yang dia pakai. "Aww panas." ringis nya. "Kamu ceroboh sekali Ndre, celana kamu jadi basah kan." seru Bu Eva yang melihat Andre mengibaskan tangannya.


"Iya Wa, Mas tadi ceroboh." sahut Andre. "Habis kamu cantik sekali." desisnya, yang hanya bisa di dengar oleh Hilwa dan ibunya yang duduk di samping Andre. "Aww" ringis Andre yang kini mendapat sikutan dari ibunya. Mereka semua sontak menoleh, tapi karena melihat wajah Hilwa yang merona, mereka bisa menebak apa yang pemuda itu katakan.


"Mas, mau ganti pakaian?" tanya Hilwa. "Nggak usah Wa, Mas bisa menahannya kok. Lagian nanti kering sendiri, hehe." sahut Andre yang salah tingkah.


"Ayo duduk nak" perintah pak Marna kepada putrinya. Dan menepuk ruang kosong yang dekat dengan tempat duduknya. Tanpa berpikir panjang Hilwa pun menghampiri ayahnya, dan menempati ruang kosong itu.


Lama mereka berbasa-basi, sampai akhirnya tiba di tujuan utamanya. "Begini pak, Bu. Sebelumnya kami meminta maaf karena kami dengan lancang sudah melamar putri bapak tanpa persetujuan kalian. Dan saat itu putri bapak sudah menerima lamaran putra saya Andre. Jadi kamu kesini hanya ingin meresmikannya dan bersilaturahmi dengan bapak dan ibu." ucap pak Indra dengan jelas.

__ADS_1


Pak Marna dan Bu Tini menganggukkan kepalanya, "iya pak. Saya juga sudah mendengarnya dari Hilwa. Dan kami sebagai orangtua tidak bisa menghalangi niatan para putra-putri kita. Apalagi niat baik, tentu kita sebagai orangtua hanya bisa mendukung dan mendoakannya saja." sahut pak Marna.


"Iya benar pak. Itulah tugas kita sebagai orangtua. Dan bagaimana, sekarang giliran bapak. apa bapak menerima lamaran kami?" tanya pak Indra. "Tentu pak, saya tidak bisa menolak jika putri saya sudah menerima pinangan nak Andre. Tapi apa bapak dan ibu sudah tahu, bagaimana status Hilwa dan-" perkataan pak Marna menggantung, "tentu pak. Bapak tidak usah mengkhawatirkan masalah itu. Kami sudah sangat menyayangi Hilwa dan kami siap menerima apapun yang ada pada diri putri bapak termasuk apapun kekurangannya." sela pak Indra yang tahu kemana arah pembicaraan pak Marna.


"Hah syukurlah. Terimakasih karena bapak sudah sangat menyayangi putri saya Hilwa." jawabnya dengan hati yang lega. Karena memang itu yang beliau takutkan. Mereka belum mengetahui status dan kekurangan putrinya. Dan ketakutan pak Marna, jika orangtua Andre tidak bisa menerimanya. Tapi dugaannya ternyata salah, orangtua Andre tidak seperti besan perempuannya yang dulu.


"Dan ini hanya sekedar buah tangan dari kami. Maaf kami tidak bisa memberikan apa-apa untuk putri bapak yang berharga ini." ucap Bu Eva yang menyerahkan sebuah kotak persegi yang lumayan besar berwarna merah. Dia memberikannya kepada Hilwa.


Hilwa cukup ragu untuk menerimanya. "Ibu tidak perlu repot-repot, Hilwa dan orangtua Hilwa sangat senang dengan kedatangan kalian saja kesini." ucapnya. "Terimalah nak, kamu berhak menerimanya." timpal pak Indra.


Hilwa menatap orangtuanya, dan mereka menganggukkan kepala dan menyuruh Hilwa menerima pemberian calon mertuanya itu. "Hilwa terima ya Bu, dan terimakasih atas semuanya." ucap Hilwa lirih.


"Iya sayang. Mudah-mudahan kamu menyukainya." ucap Bu Eva tersenyum hangat. "Dicicipi dulu Bu, makanannya. Mudah-mudahan kalian menyukainya." ujar Bu Tini, mempersilahkan para tamunya. "Iya Bu terimakasih."


Mereka pun serempak mengambil makanan yang sudah tersedia di meja. Bahkan tuan rumah pun ikut menikmati makanan itu. Kebahagiaan tergambar jelas di wajah mereka masing-masing.


Sedangkan Andre mencoba mencuri-curi pandang kepada Hilwa. Dan Hilwa yang menyadari tatapan Andre, wajahnya berubah merona.

__ADS_1


__ADS_2