DERITA MENANTU RAHIM YANG KOSONG

DERITA MENANTU RAHIM YANG KOSONG
Menyambut calon menantu


__ADS_3

Sebelum adzan magrib berkumandang, Hilwa dan Andre sudah sampai tujuan. Yaitu rumah orangtua Andre. Setelah turun dari mobil, mata lentik Hilwa menatap sekeliling. Rumah yang sangat besar dan mewah juga halaman yang cukup luas. Dia jadi semakin ragu untuk memasuki rumah itu


"Mas, apa sebaiknya Hilwa menginap di mana gitu. Kok Hilwa merasa tidak enak yah." ucap Hilwa sebelum Andre mengajaknya ke dalam. Aku hanya takut, ibu Mas Andre seperti ibunya kak Reno. Bagaimana kalau beliau sinis kepadaku, batin Hilwa.


Ya itulah salah satu penyebab Hilwa merasa rendah diri, akibat ibu mertuanya yang dulu selalu merendahkannya, dia jadi merasa ragu dan menganggap semua ibu dari laki-laki sama saja.


"Apa yang kamu takutkan, Wa. Orangtua Mas baik kok, dan sebentar lagi juga adzan Maghrib. Tidak akan keburu sholat jika kita harus mencari tempat untuk kamu tinggal lagi." sahut Andre. "Ayo masuk, atau mau Mas gendong?" goda Andre. Seketika wajah Hilwa menatap ke arah lain, dia ingin menyembunyikan rona merah di pipinya. Entahlah kenapa di saat Andre terus menggodanya, dia merasa jantungnya tiba-tiba berdebar sangat kencang.


"Ya sudah, ayo masuk Mas." akhirnya Hilwa pasrah. Andre pun melangkah lebih dulu dan Hilwa mengikutinya dari belakang. "Assalamu'alaikum" seru Andre di barengi mengetuk pintu.


Tidak lama pintu pun terbuka, "ibu kira siapa, tumben banget kamu Ndre mengetuk pintu dulu." sahut Bu Eva. Tapi tidak lama terdiam ketika seseorang terlihat dari belakang punggung Andre. "Ini Hilwa Bu. Seseorang yang ingin ibu temui." ucap Andre yang mengerlingkan sebelah matanya.


Tanpa berpikir panjang Bu Eva langsung menyeruduk tubuh Andre dan menghampiri Hilwa. "Oh jadi ini calon menantu ibu?" ucapnya. Hilwa tentu saja terkejut mendengar perkataan ibunya Andre. "Aduh" terlihat Andre menepuk jidatnya.


"Ayo masuk nak." ajak Bu Eva yang menggandeng tubuh Hilwa. Andre pun mengekori mereka dari belakang. "Ayah lihatlah calon menantu kita sudah datang." seru Bu Eva kepada pak Indra yang sedang duduk di ruang tengah. Nampak pak Indra terkejut, kenapa Hilwa bisa ada disini?, gumamnya.

__ADS_1


"Sehat Om?" tanya Hilwa yang mencium tangan pak Indra. "Alhamdulillah om sehat, bagaimana kamar kamu, nak?" tanya balik pak Indra. "Alhamdulillah Hilwa juga sehat." sahut Hilwa. Nampak Bu Eva mengerutkan keningnya, "sepertinya kalian sudah saling kenal, ih curang. Kok ibu saja sih, yang belum kenal dengan calon menantu ibu." ucap Bu Eva merengut.


"Eum maaf Bu, sepertinya ibu salah paham. Saya yang akan jadi pegawai di butik ibu. Mungkin bukan Hilwa yang ibu maksud sebagai calon menantu ibu" ucap Hilwa menjelaskan. Bu Eva pun seketika melirik putranya. Andre pun melengos dan tersenyum simpul. "Dasar anak ini, kenapa kamu tidak menjelaskan dari tadi sih. Ibu jadi malu. hihi" ucap Bu Eva salah tingkah. "Maaf ya nak. Soalnya Andre belum pernah membawa perempuan manapun ke rumah. Ibu kira dia membawa calon istrinya." ucapnya lagi.


"Tidak papa Bu. Dan maaf jika saya mengganggu ibu eh Tante-" ucap Hilwa menggantung, "ibu saja. Biar lebih akrab, hehe." timpal Bu Eva. Hilwa pun mengangguk.


"Oh ya Bu, Andre belum sempat mencarikan tempat tinggal untuk Hilwa. Untuk sementara boleh ya, Hilwa tinggal disini?" tanya Andre. "Tentu boleh donk. Malah ibu senang, bisa punya teman sesama perempuan. Jadi di rumah ini, bukan hanya ibu yang cantik donk, ada Hilwa juga." ujar Bu Eva yang mengusap bahu Hilwa.


Sedangkan Hilwa hanya tertunduk dan tersenyum. Ternyata benar apa yang dikatakan Mas Andre, beliau sangat baik dan ramah. batin Hilwa


"Ayo Wa. Biar Mas yang bawa tas kamu." ajak Andre. "Biar Hilwa saja, Mas. Nanti berat." tolak Hilwa lembut. "Nggak berat kok, bawa kamu saja Mas sanggup kok." timpal Andre. Lagi-lagi wajah Hilwa memerah, dan Andre pun tersenyum simpul. Interaksi mereka tidak luput dari tatapan kedua orang yang masih berdiri disana. Andre lupa kalau orangtuanya masih ada disana.


Seketika senyum merekah terbit dari bibir Bu Eva dan pak Indra.


Hilwa pun dengan pasrah membiarkan Andre membawakan tasnya. "Kamu lihat kan sikap ibuku bagaimana, jadi harap maklum ya." desis Andre tepat di telinga Hilwa yang tertutup hijab. Hilwa hanya mengangguk, dan menahan getaran di dadanya yang tiba-tiba bergetar hebat.

__ADS_1


"Aww, sakit Bu." ringis pak Indra yang mendapat cubitan di pinggangnya. "Ibu ini kenapa sih, Andre yang bawa perempuan, kenapa malah ayah yang di cubit." gerutu pak Indra. "Putra kita uwu juga ya. Huh syukurlah ibu kira dia tidak normal." celetuk Bu Eva. "Astaghfirullah ibu, suudzon sama anak sendiri." seru pak Indra tidak terima. "Ya lagian dia sama sekali belum membawa satu wanita pun. Tapi akhirnya ibu senang dia membawa wanita juga ke rumah ini. Meski katanya hanya sebagai pegawai, tapi ibu nggak percaya. Tidak mungkin kan, kalau hanya sebagai pegawai, dia memperlakukan gadis itu sampai seperti itu." cerocos Bu Eva.


"Iya ayah juga bahagia. Karena ayah tahu Hilwa gadis yang baik dan sholeha." tapi apakah dia sudah benar-benar berpisah dari Reno. Bagaimana dengan kamu, Ded. Berpisah dari menantu yang sangat kamu sayangi. batin pak Indra, merasa prihatin dengan sahabatnya dan takdir Hilwa yang sudah berpisah dari suaminya di saat usianya yang masih muda.


"Mas harap kamu nyaman ya disini. Karena tidak gampang mencari tempat tinggal di kota ini." ucap Andre. Saat ini mereka sudah ada di kamar yang akan di tempati Hilwa. "Iya Mas. Insyaallah Hilwa akan berusaha menyesuaikan diri, sebelum Hilwa pindah ke tempat lain." sahut Hilwa. Percayalah Hilwa, itu hanya alasan Andre. Untuk kamu tetap mau tinggal di rumahnya.


"Ya sudah Mas juga ingin membersihkan diri dan sholat magrib dulu, habis ini kamu keluar kita makan malam bersama-sama." pungkas Andre. "iya Mas."


Saat Andre keluar dari kamar Hilwa, orangtuanya sudah tidak ada di ruang tengah. Mungkin mereka juga sedang melaksanakan sholat magrib dulu. Tanpa berpikir panjang Andre langsung menaiki tangga menuju kamarnya yang ada di lantai atas.


Semua orang sudah berada di ruang makan, setelah melaksanakan sholat magrib sekaligus isya. "Kenapa Hilwa belum keluar juga ya, aku susul saja." Andre yang hendak berdiri, "biar ibu saja yang menyusul calon menantu ibu. Nanti kamu main serobot lagi." ucap Bu Eva yang mendahului Andre.


Pak Indra geleng-geleng kepala saat melihat putranya kembali duduk dengan wajah yang memelas. "Tahan dulu nak. Jangan terlalu terburu-buru." seru pak Indra. "Eum Ndre. Apakah Hilwa sudah benar-benar berpisah dari Reno?" tanya pak Indra memastikan. "Iya ayah. Sidang perceraiannya pun sudah selesai. Dan kini Hilwa benar-benar sendiri. Apakah Andre sudah bisa mendekatinya bukan?" tanya Andre. "Walaupun begitu, kamu jangan terburu-buru. Biarkan Hilwa menikmati kesendiriannya dulu, mungkin akan ada sedikit trauma dalam dirinya. Kamu bantu saja dia untuk mengobati lukanya dulu. Setelah itu kamu akan mudah untuk masuk ke dalam hatinya." ucap pak Indra menasehati putranya.


"Iya ayah. Andre akan sabar menunggu kok. Lagian Hilwa sudah ada disini, jadi Andre tidak perlu khawatir." timpal Andre. "Oh jadi ini salah satu cara kamu untuk mendekatinya?" tanya pak Indra. "Iya ayah. Andre hanya takut Hilwa di miliki orang lain lagi, karena belum apa-apa sepupunya Reno, sudah mulai mendekati Hilwa. Jika dia disini, tidak mungkinkan orang lain berani mendekatinya." seru Andre. "Pintar juga anak ayah. haha" sahut pak Indra menepuk bahu putranya.

__ADS_1


Dan akhirnya mereka pun tergelak bersama.


__ADS_2