
"Kemana saja kamu, Dre?" tanya seorang ibu yang sedang duduk di kursi ruang keluarga bersama suaminya.
Pemuda itupun menoleh. Terlihat seorang wanita yang masih terlihat cantik meski di usianya yang sudah menginjak usia 50 tahunan lebih. "Keluyuran saja. Bukannya cari jodoh, biar bisa langsung nikah." gerutunya.
Andre pun terkekeh. Karena kata-kata itu yang sering dia dengar dari mulut ibunya. "Ayolah bu apa tidak bosan itu-itu saja yang di ucapkan. Aku saja bosan mendengarnya." ledek Andre. "Dasar anak kurang ajar! Ayah lihat! itulah kelakuan putramu. Apa tidak malu di saat yang lain yang seusiamu sudah mempunyai anak, dia membawa wanita pun belum pernah." ledeknya balik. Andre terus terkekeh mendengar ledekkan ibunya.
Dia menghampiri wanita itu, memeluk dan mencium pipinya. "Ibuku yang cantik dan baik hati. Bersabarlah! saat ini putramu sedang berusaha mencari jati diri." ucapnya santai dan duduk di sampingnya.
"Maksud kamu jati diri apa?, apa yang sedang kamu cari. Jangan sok-sokan cari jati diri segala, cari itu calon istri dan bawa langsung ke hadapan ibu." ucap Bu Eva geram. "Iya itulah yang sedang aku cari bu, jadi ibu bersabarlah. Mungkin lain kali calon menantu ibu yang aku bawa. hehe." timpal Andre. "Wah benarkah? apa sudah ada hilalnya. Siapa wanita itu, ibu jadi tidak sabar untuk melihatnya." ucap Bu Eva berbinar.
Andre berdiri dari duduknya, "tunggu jandanya dulu ya Bu.Tapi tidak tahu kapan." Dia sudah berlari menjauhi amukan dari ibunya. Bu Eva sempat loading, mencerna terlebih dahulu apa yang dikatakan putranya. "Maksudnya?, eh anak kurang ajar! apa kamu mendekati seorang wanita yang sudah mempunyai suami? Jangan gila kamu! Heh mau kemana kamu, jelaskan sama ibu siapa wanita itu?." Tapi yang di tanya sudah tidak terlihat lagi bentuknya. Hilang dari pandangannya.
Pak Indra yang melihat istri dan putranya selalu saja seperti itu, beliau hanya geleng-geleng kepala dan terkekeh. "Ayah ini kok malah tertawa si. Apa Ayah tidak dengar apa yang putramu ucapkan barusan. Masih bisa-bisanya sih tertawa, ini situasi genting ayah." gerutu Bu Eva. "Biarlah! toh memang janda sekarang kan sedang di depan. Jadi tidak masalah bukan?." Pak Indra pun berdiri dan menjauhi istrinya, dan benar saja, suara teriakan itu melengking, "dasar anak dan ayah sama saja, sama-sama membuatku jengkel." Bu Eva yang memegang tengkuk karena urat syarafnya sepertinya menegang mendengar jawaban kedua laki-laki yang sangat di cintainya. "Ahh tidak, sepertinya darah tinggi ku kumat lagi." ucapnya terduduk di kursi.
Sedangkan Andre hanya tersenyum simpul, dia masih bisa mendengar ocehan ibunya meski dia sudah berada di dalam kamar. Dia tersenyum membayangkan wajah gadis yang sudah mencuri hatinya, tapi seketika senyum itu meredup, di saat membayangkan bagaimana nasibnya. Jangan terlalu keras pada hidupmu Hilwa. Karena semakin kamu bertahan, maka penderitaan itu akan semakin membelenggu mu." ucapnya lirih.
* * *
__ADS_1
"Kak bukannya Stefani meminta untuk pindah ke rumah ini?" tanya Hilwa. Saat ini mereka sedang sarapan.
Reno yang ingin mengambil lauk ke piringnya terhenti. "Apa kamu sudah mau mengijinkannya?" tanya Reno antusias. "Hem boleh. Mulai besok Stefani boleh tinggal di rumah ini kak." jawab Hilwa santai.
Tentu saja jawaban Hilwa membuat Reno berbinar. "Terimakasih sayang, kamu sudah mau memahamiku." ujarnya dan langsung menyuapkan makanan ke dalam mulutnya. Hilwa hanya tersenyum tipis menanggapi perkataan Reno.
Dan benar saja, sore harinya Reno membawa Stefani ke rumahnya dengan membawa tas yang sangat besar. "Akhirnya kak aku bisa tinggal juga bersama kamu di sini." ucap Stefani sumringah. "Iya. kita akan memulai kehidupan baru di sini bersama Hilwa. Tapi kamu harus ingat pesanku, jangan mengusik dan kamu harus menghormatinya. Paham?." ucap Reno penuh penekanan. "Iya, iya! berapa kali kamu harus mengulang perkataan itu kak. Iya aku sadar diri kok, aku ini hanya istri kedua kamu." jawab Stefani merengut.
"Hilwa sayang!" Reno yang melihat hilwa keluar dari kamarnya. "Oh ya kak. kamu juga boleh membawa Stefani ke kamar kita." ucap Hilwa santai. "Lho! terus kamu mau tidur di mana. Kakak tidak mungkin membiarkan kamu keluar dari kamarmu." tanya Reno heran. "Nggak papa kak. Jangankan kamar, hati kamu saja sudah kamu berikan kepada Stefani." jawab Hilwa tersenyum sinis. "Ayo kamu boleh menempati kamar ini mulai sekarang." Hilwa membiarkan Stefani masuk ke kamarnya. Dan dia pun menenteng tas besar keluar dari kamar itu
"Iya tapi ke mana?, kamar lainnya di sebelah sana Hilwa. kamu mau pergi ke mana?" berondong Reno.
"Kak! aku kan sudah bilang, kalau aku tidak bisa hidup seatap dengan maduku. tapi kamu tetap kekeh mau membawa Stefani ke rumah ini. Jadi ya aku harus mengalahkan, demi ibu calon anak kamu." ucap Hilwa menunjuk Stefani dengan ekor matanya.
"Tapi tenang saja kak. Aku hanya pindah ke rumah Ayah kok. Ayah menyuruhku tinggal di rumahnya. Beliau selalu merindukan teh hangat buatanku." timpal Hilwa lagi. "Yang benar saja kamu. Apa kita tidak bisa hidup bertiga di rumah ini?" tanya Reno geram. "Apa kamu mau membuatku sakit mata, apabila harus melihat kalian bermesraan di rumah ini. Jangan harap aku mau melakukannya." sergah Hilwa.
"Oh ya Stefani. Kamu harus rajin bersih-bersih ya di rumah ini. karena kak Reno orangnya anti jorok. Selamat jadi nyonya rumah." seru Hilwa dengan tersenyum tipis.
__ADS_1
Stefani bukannya bahagia mendengar perkataan hilwa, dia malah bengong. Cukup terkejut sepertinya dengan yang hilwa lakukan saat ini. Bagaimana bisa dia mengatakannya dengan tersenyum seperti itu.. Dasar wanita tidak tahu diri!. geram Stefani dalam hati.
Hilwa melangkahkan kakinya dengan gontai, senyum terbit dari bibirnya. Dia memejamkan mata seolah menyemangati dirinya sendiri.
Tanpa berpikir panjang Stefani langsung membawa tasnya memasuki kamar itu. sedangkan Reno melihat nanar kepergian Hilwa. "Apa yang akan kamu lakukan sebenarnya. Aku tidak bisa menebak apa isi hatimu sekarang. Semoga saja kamu tidak merencanakan untuk keluar dari rumah ini selamanya." lirih Reno.
Kedatangan Hilwa sudah ditunggu oleh ayah mertuanya. "Selamat datang kembali di rumah ini menantu ayah." ucap pak Dedi tersenyum hangat. "Makasih ayah sudah mengizinkan hilwa untuk tinggal di sini. Tapi bagaimana dengan ibu, tentu beliau akan terkejut bukan?" tanya Hilwa cemas. "Sudah, Ayah sudah memberitahunya. Dan sepertinya dia cukup keberatan, hehe." ucap pak Dedi dengan kekehan.
Dan benar saja. Bu Tini menatap nyalang ke arah menantunya itu. "Huh merepotkan saja. Untuk apa kamu pindah ke sini si?." tanya Bu Tika. "Ya agar Stefani bisa tinggal dengan kak Reno kan. Ibu, aku ini sudah mengalah lho, demi calon cucu ibu itu." ucap Hilwa santai menanggapi ocehan ibu mertuanya.
Bu Tika pun melengos menanggapi perkataan hilwa. Kenapa sekarang dia bisa menjawab perkataanku sih. Dasar menantu tidak tahu diri. Gerutu Bu Tika.
"Sepertinya kamu harus menyiapkan mental lebih lagi ya, nak. Mendengar setiap hari ocehan ibu mertuamu itu." ujar pak Dedi. "Tenang saja Ayah. Hilwa sudah terbiasa kok, hehe."
"Aku di sini hanya ingin menjadi putri ayah. Sungguh!" ucap Hilwa dengan mata berkabut. Pak Dedi pun mengangguk seolah mengerti apa yang di katakan oleh Hilwa.
Iya kak. Jika aku masih tetap bertahan disini. Itu bukan karena mu. Tapi demi beliau, ayah mertua yang selalu menyayangiku seperti putri kandungnya sendiri. Jika saat itu, aku langsung ikut dengan bapak dan ibu. Tentu hati Ayah Dedi akan merasa bersalah atas kepergianku. Aku tidak ingin kepergianku, meninggalkan luka untuk seseorang yang selalu menyayangiku hingga saat ini. ucap Hilwa dalam hati.
__ADS_1