DERITA MENANTU RAHIM YANG KOSONG

DERITA MENANTU RAHIM YANG KOSONG
Menjenguk atau menyakiti?


__ADS_3

Saat ini Hilwa di rumah benar-benar sendirian. Kakinya yang terkilir tidak terlalu terasa sakit, di bandingkan luka di hatinya. Mungkin kalau bisa terlihat hati Hilwa saat ini sudah rombeng saking terlalu sering tertusuk oleh ucapan ibu mertua dan kakak iparnya.


Di tambah lagi dengan suaminya yang berubah dingin. Dia yang biasanya selalu perhatian, sekarang di waktu dirinya tidak bisa melakukan apa-apa, boro-boro menyiapkan makanan. untuk berpamitan pun dia tidak sempat.


Hilwa tidak bisa menyalahkan siapa-siapa saat ini. dia tetap menyalahkan dirinya atas ketidakberdayaan dan kekurangannya.


Sampai suaminya pulang, Hilwa tidak melakukan apapun. dia hanya pergi ke dapur untuk mengisi perutnya dan melaksanakan sholat saja. itu juga dengan tangan merayap ke dinding.


Waktu sudah menjelang sore, Reno sudah pulang bekerja. Dia melihat Hilwa sedang melakukan shalat ashar sambil duduk di samping tempat tidur.


Deg. . .


Perasaan bersalahnya kini muncul melihat istrinya yang dia tinggalkan tanpa meninggalkan makanan dan tidak seorang pun yang melayaninya.


Setelah Reno melihat istrinya selesai sholat, dia buru-buru menghampiri nya. "neng, kamu tidak apa-apa di rumah sendirian?" Reno yang duduk di hadapan Hilwa. ada raut kecemasan di wajahnya, dan Hilwa melihatnya.


Hilwa tersenyum, ternyata suaminya masih perduli kepadanya. "tidak apa kok kak, dari tadi Hilwa hanya duduk di tempat tidur" ucapnya nyengir


"Terus kamu makan bagaimana? maaf ya tadi kakak tidak sempat meninggalkan makanan untuk kamu, soalnya tadi kakak buru-buru "ucap Reno menggaruk kepalanya tidak gatal. dia tahu alasannya memang tidak masuk akal. jelas-jelas dia sengaja, bahkan untuk berpamitan pun dia tidak berniat.


"Gak apa-apa kak, Hilwa ngerti kok"


Syukurlah istrinya tidak marah. Dan sejak kapan Hilwa marah? dia sama sekali belum pernah marah kepada Reno, Hilwa selalu manut apa yang suaminya ucapkan.


Memang untuk sebagian wanita yang tidak bisa mempunyai keturunan dari suaminya, mereka selalu manut dan tidak bisa membantah apa yang di ucapkan suaminya. Entahlah, apa alasan mereka bersikap seperti itu?


Apakah dia merasa takut ditinggalkan? atau dia merasa mempunyai kekurangan, makanya dia selalu mengistimewakan suaminya lebih dari dirinya sendiri.


"Kakak bawa makanan untuk kamu. habis kakak mandi dan sholat, kita makan sama-sama ya" ucap Reno dan bergegas masuk ke kamar mandi.

__ADS_1


Sampai suaminya menyelesaikan sholat, Hilwa tidak beranjak dari tempat tidur. Dia menatap suaminya lekat, dia berharap suaminya akan selalu seperti ini.


Karena kalau tidak, dia tidak akan mempunyai alasan untuk tetap bertahan lagi di rumah ini. Satu tetes air mata Hilwa jatuh di pipinya, Reno yang melihatnya dia bergegas menghampiri istrinya "Maafkan kakak sayang, kakak tidak bermaksud seperti itu tadi pagi. Hanya saja pikiran kakak sedang kacau, kamu mau kan memaafkan kakak?" ucapnya sambil mengusap air mata Hilwa.


Hilwa tidak bisa mengucapkan sepatah katapun, hanya sebuah tangisan yang mampu mengungkapkan semua yang Hilwa rasakan. Dia takut, sangat takut. jika suaminya suatu saat benar-benar berubah dan meninggalkannya.


Reno yang melihat Hilwa menangis tanpa henti, dia mencoba memeluk dan mencium pipi Hilwa agar Hilwa berhenti menangis.


"Kak, Hilwa mohon jangan seperti itu lagi. Hilwa sangat takut kak" Hilwa mempererat pelukannya, seolah Reno ingin meninggalkannya.


"Iya, kakak janji. kakak tidak akan seperti itu lagi. Sekarang ayo kita makan. kamu pasti sudah lapar bukan?"


Hilwa pun mengangguk. Tubuh Hilwa di gendong oleh Reno menuju meja makan. di sana sudah ada makanan kesukaan Hilwa. Mereka pun makan dengan saling suap-suapan.


* * *


Hari ini akhir pekan, Reno tidak akan pergi kemana-mana. Dia akan habiskan hari liburnya untuk mengurus istrinya dan membawanya ke dokter.


Kalau untuk makan, dia lebih memilih membelinya di luar. Setelah Reno selesai membersihkan rumah, dia kedatangan ibu dan kakaknya. Mereka yang ceritanya ingin menjenguk Hilwa, itu juga atas perintah ayahnya Reno.


Mereka tidak membawa apa-apa, hanya membawa perkataan yang akan membuat Hilwa sakit hati lagi, Mungkin !!!


"Istri mu sedang sakit, tapi kok rumah bisa rapi kaya gini?" ucap Anita yang baru memasuki rumah


Tapi mereka melihat Reno yang duduk di kursi terlihat kelelahan. "Jangan bilang kamu yang melakukan semua ini?" ucap ibu yang mengitari seluruh ruangan.


"Memangnya apa salahnya Bu, kalau aku yang membersihkan semuanya. Lagian kalau Hilwa tidak sakit, mungkin aku tidak akan pernah melakukannya".


"Memangnya kamu bisa Ren, padahal seumur-umur kamu belum pernah memegang sapu" tanya kak Anita

__ADS_1


"Ya bisalah, jangankan sapu. Wanita saja, aku bisa memegangnya" ucap Reno nyengir


Ibu pun melengos, dia duduk di kursi tidak jauh dari putranya.


Hilwa yang keluar kamar karena mendengar ibu mertua dan kakak iparnya datang. Dia mengira, bahwa mereka benar-benar ingin menjenguknya.


Dia berjalan dengan tangan merayap ke dinding. Reno yang melihatnya buru-buru menghampiri Hilwa dan memapahnya sampai duduk di kursi.


"Heuh coba kamu kalau punya anak Ren, nanti kalau dia sudah besar, kan bisa merawat kalian berdua kalau kalian sakit " ucap ibu yang melihat Hilwa di perhatikan oleh putranya.


" Sudahlah Bu, jangan membahas masalah anak. Ibu tahu kan kalau kami selama ini sudah berusaha. hanya Tuhan saja yang belum mengizinkan " ucap Reno.


Ibu kembali melengos. "oh iya Ren, yang kemarin itu nak Stefani benarkan mantan pacar kamu?"


Deg. . .


Apa-apaan sih ibu, malah membicarakannya. batin Reno


"Nak Stefani itu, udah cantik dia wanita pekerja keras lagi. Sayang sekali dia belum menikah, padahal laki-laki manapun tidak akan menolak jika dia menginginkannya"


"Lagian bisa-bisanya sih kamu dulu memutuskan nak Stefani, apa alasannya coba. padahal jika di lihat-lihat dia masih mengharapkan kamu !" cerocos Bu Tika tanpa henti.


"Ibu sudahlah. itukan sudah berlalu, lagian ibu ke sini bukannya mau menjenguk Hilwa ya?" Reno yang mengakhiri obrolan ibunya.


"Iya, ayahmu yang nyuruh ibu. Padahal ibu di rumah banyak pekerjaan"


"Iya nih, mana anak-anak di rumah lagi. Udah yuk Bu, kita pulang saja. Lagian Hilwa kayanya baik-baik saja"


"Ya udah Ren, ibu pulang. oh iya kalau Hilwa masih belum bisa ngapa-ngapain, bawa saja dia untuk sementara ke rumah ibunya. kan di sana ada yang bisa merawatnya. Biar kamu tinggal di rumah ibu dulu " Bu Tika langsung bergegas keluar dari rumah setelah mengatakan itu.

__ADS_1


Reno bernafas dengan berat, dia tidak habis pikir dengan sikap ibu dan kakaknya. Padahal mereka sangat menyayangiku, tapi kenapa sama Hilwa mereka tidak bisa memperlakukannya dengan baik. batin Reno lalu melirik wajah istrinya yang tertunduk.


Reno tahu apa yang Hilwa rasakan, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Karena perilaku dan perasaan seseorang tidak bisa di paksakan semau kita


__ADS_2