DERITA MENANTU RAHIM YANG KOSONG

DERITA MENANTU RAHIM YANG KOSONG
Insyaallah Hilwa ikhlas


__ADS_3

Pak Dedi tidak ada tanda-tanda hatinya akan melunak. Dia bersikap biasa saja di rumah, tapi dengan raut wajah yang masih memendam amarah.


Hingga saat makan malam pun, dia tetap berkumpul di meja makan bersama istri dan Anita, tentunya ada Stefani juga. Suasana mencekam di meja makan, tidak ada yang berani mengeluarkan sepatah katapun. Stefani pun dengan susah payah menelan makanan yang masuk ke dalam mulutnya. Kalau dia tidak lapar, mungkin dia akan tetap diam di kamar tanpa harus berhadapan dengan calon ayah mertuanya.


Untung saja dentingan suara sendok dan piring yang saling beradu meredam suara detak jantung mereka yang memburu, karena kecemasan yang ada dalam pikiran mereka masing-masing.


Sampai pak Dedi selesai makan dan meninggalkan meja makan, mereka semua akhirnya bisa bernafas lega. "Huh ayahmu menyeramkan sekali kalau marah" celetuk Bu Tika yang pasti ia tujukan ke putrinya Anita. "Beliau juga suami ibu. Gila! aku baru bisa bernafas dengan lega. Kenapa tadi suasananya mencekam sekali si! padahal ayah tidak ngapa-ngapain. Kenapa aku juga ikut-ikutan ketakutan." desis Anita. Stefani hanya bisa mendengus mendengar perkataan calon ibu mertua dan kakak iparnya itu.


Reno tahu-tahu sudah ada di hadapan mereka, "Astaga Reno kamu mengagetkan mbak saja!" pekik Anita, dia mengusap dadanya yang terkejut dia kira ayahnya menghampiri mereka lagi. "Kenapa wajah Mbak pias begitu, ibu juga?" selidik Reno. "Sudah kamu duduk. Pasti kamu mau sarapan kan? istri kamu masih ngambek?"goda Anita. Reno mendengus mendengar ledekan kakaknya, karena kenyataannya memang benar.


Reno duduk tanpa melihat ke arah Stefani yang sejak tadi menatapnya. Stefani memanyunkan bibir, karena di abaikan oleh calon suaminya. "Oh ya, nak Stefani makan yang banyak, biar janin dalam kandunganmu sehat." ucap Bu Tika lembut. Reno baru menoleh ke arah Stefani. Astaga aku lupa, dia masih ada di rumahku. batin Reno


"Kak! aku ingin berangkat kerja, tapi aku tidak membawa pakaian ku." ucap Stefani ragu. "kenapa kamu tidak pulang ke rumah dulu, kan bisa sebelum berangkat kerja?"timpal Anita. Stefani hanya tertunduk, dia bingung harus mengatakan apa. "Pinjam dulu sama mbak Anita, mbak pasti punya setelan baju kerja kan?"saran Reno. "Lho kok, pinjem baju mbak si! Lagian mbak juga nggak tau baju kerja mbak masih ada apa nggak."protes Anita. "Iya nak Stefani, kenapa tidak pulang ke rumah saja dulu. Habis itu, kamu boleh menginap di sini lagi jika kamu mau." tutur Bu Tika lembut


Stefani hanya diam membisu. "Mulai hari ini, Stefani akan tinggal di rumah ini. Begitupun setelah kita menikah. Jadi Reno harap ibu dan mbak Anita tidak lagi mempermasalahkan ini. Masalah keperluan, biar Reno yang akan menanggung nya." tegas Reno


"Iya, iya! sepertinya masih ada beberapa stel baju kerja yang tersisa di lemari mbak." Pasrah Anita, dia tidak mau mempermasalahkan hal yang sepele. Cukup mereka bersitegang dengan ayahnya saja, jangan ditambah dengan Reno. Karena mereka memiliki watak yang sama. Sama-sama tidak bisa di bantah!.

__ADS_1


Setelah Stefani mendapatkan setelan baju kerjanya, akhirnya mereka berangkat kerja bersama.


* * *


Selama dua hari Stefani tinggal di rumah orangtua Reno. Dia belum mempunyai status yang jelas. Statusnya masih abu-abu. Karena Reno belum mendapat restu dari istri pertamanya. Dan juga sikap ayah Reno yang belum melunak.


Orang-orang sekitar mulai bergunjing, tentang keberadaan perempuan lain di rumah pak Dedi. Mereka menebak-nebak, apakah saudara atau wanita lain dari Reno.


"Ayah! Apakah kita harus terus menunda pernikahan Reno dan Stefani?. Ayah bisa dengar bukan, gunjingan para tetangga yang mempertanyakan keberadaan Stefani di rumah kita. Kita harus secepatnya menikahkan mereka." tutur Anita lembut. Hanya dia saat ini yang mampu melunakkan hati ayahnya. Ada pepatah mengatakan, sekeras-kerasnya hati seorang ayah akan melunak jika mendengar perkataan lembut dari putrinya. Dan benar saja, pak Dedi pun mau bernegosiasi dengan Anita di dalam kamarnya. Setelah Anita pun di desak oleh ibunya.


"Anita! bagaimana bisa ayah memutuskan sesuatu yang akan melukai hati menantu ayah. Hilwa sudah ayah anggap seperti putri ayah sendiri. Bagaimana mungkin ayah sanggup melihatnya menderita." lirih pak Dedi berkata "Bagaimana jika posisi itu, ada padamu. Apa kamu bersedia melihat suamimu menikahi perempuan lain?"


Pak Dedi diam termenung, menatap lurus ke depan. Entah apa yang beliau pikirkan saat ini. "Baiklah! tapi sebelumnya ayah akan menemui Hilwa terlebih dahulu. Ayah ingin memastikan kondisinya baik-baik saja." Pungkas pak Dedi. Anita pun pergi dari kamar ayahnya, setelah berhasil membujuknya.


* * *


Hilwa selama 2 hari ini tidak mempunyai semangat hidup. Dia seperti mayat hidup, yang hanya diam di tempat tidur tanpa makan dan minum. Hanya sesekali dia turun dari kasur untuk menunaikan sholat wajib.

__ADS_1


Tok, tok, tok. . .


Terdengar suara ketukan pintu kamar. Hilwa terperanjat kaget, siapa yang mengetuk pintu kamarnya. Tidak mungkin kak Reno mengetuk pintu sebelum memasuki kamarnya. Apalagi ibu mertuanya, dia pasti langsung nyelonong masuk.


"Ini ayah, Hilwa! bisa kamu keluar sebentar. Ada sesuatu yang ingin ayah bicarakan." terdengar suara lembut dari balik pintu kamar. Ayah! apa yang ingin beliau bicarakan, gumam Hilwa. Tapi dia berjalan membukakan pintu kamarnya.


Saat pintu terbuka, pak Dedi melihat kondisi menantunya yang terlihat memprihatinkan. Bagaimana tidak. Wajahnya yang pucat, bibir yang kering dan terdapat sisa-sisa air mata yang sudah mengering. "Kamu baik-baik saja, nak?" tanya pak Dedi cemas "ada sesuatu yang ingin ayah bicarakan, kamu mau kan berbicara dengan ayah?." Hilwa pun mengangguk dan mengikuti ayah mertuanya duduk di kursi ruang tamu.


"Ayah minta maaf, setelah semua yang terjadi. Ayah sudah gagal mendidik putra ayah." pak Dedi menjeda perkataannya. Belum apa-apa, beliau sudah melihat mata menantunya berkabut. Beliau menarik nafas dalam-dalam, guna menyampaikan sesuatu yang pasti akan menyakiti hati menantunya. "Ayah minta keikhlasan hatimu untuk merestui pernikahan kedua Reno."


Deg! Bahkan ayah pun, memintaku untuk mengikhlaskan semua ini. batin Hilwa. Dia hanya bisa tertunduk, tanpa bisa mengucapkan sepatah katapun. Air matanya kini lolos lagi membasahi pipi dan hijabnya. Semakin tertunduk, semakin basah hijab yang di pakai Hilwa.


"Ayah tahu ini sangat berat. Tapi kenapa kamu tidak mencobanya. Jika suatu saat kamu sudah tidak bisa menahannya, ayah akan mendukung semua keputusanmu apapun itu." pak Dedi menggenggam tangan Hilwa, yang saat ini sedang bergetar. "Ayah! Hilwa sudah meminta cerai dari kak Reno. tapi dia tidak mau melepaskan Hilwa. Hilwa tidak mungkin sanggup menjalani semua ini. Hilwa tidak akan sanggup ayah. . .!" getir Hilwa


Pak Dedi tidak kuasa melihat menantunya menderita. Beliau merangkul bahu dan mengusapnya perlahan. "Yang sabar nak! Ayah tahu kamu wanita yang kuat. Ayah bangga sama kamu selama ini. Maafkan ayah dan putra ayah Reno. kami belum bisa membahagiakanmu Selama ini." Seketika tangis Hilwa pecah berada dalam pelukan ayah mertuanya. Hanya beliaulah sandarannya saat ini.


"Ayah berharap, kamu masih mau menjadi menantu ayah." ujarnya lembut. Beliau masih berusaha membujuk Hilwa agar tetap bersedia menjadi bagian dari keluarganya.

__ADS_1


"Insyaallah Hilwa ikhlas! Demi ayah dan orangtua Hilwa!"


__ADS_2