
Masih di hari yang sama saat acara pernikahan telah usai.
Tidak ada acara yang meriah. Background pun tidak terpasang di sana, seperti acara pernikahan pada umumnya. Hanya ada sisa beberapa menu makanan, dan orang-orang yang sudah mulai membubarkan diri.
Sekarang hanya tertinggal keluarga inti saja. Hari ini cukup menyesakkan bagi sebagian orang. Bagaimana tidak mereka baru saja menyaksikan seorang suami yang bertekuk lutut di hadapan istri pertamanya, meminta maaf di hadapan semua orang. Keikhlasan seorang Hilwa cukup membuat semua orang takjub, kepada gadis berparas ayu itu.
Kini pandangan mereka tidak lagi menatap remeh, saat Reno tadi berlutut. Ternyata Hilwa istri yang masih sangat di cintai oleh suaminya dan tetap menjadi menantu kesayangan pak Dedi. Hanya saja, mungkin! Reno terpaksa karena dia menginginkan seorang keturunan. Padahal usia pernikahan mereka masih terbilang bisa menunggu akan kedatangan seorang anak, dan sangat tidak pantas jika mereka menyebut rahim Hilwa kosong, seperti yang selalu mereka dengar dari mulut Bu Tika.
"Reno apa-apaan kamu tadi berlutut di hadapan semua orang. Kamu benar-benar mempermalukan diri kamu sendiri." sergah Bu Tika. "Iya kak! apa kamu tidak sadar semua menatap searah mu. Kamu benar-benar telah membuat pernikahan kita seperti sebuah keterpaksaan." timpal Stefani yang sejak tadi merasa geram.
"Memang iya, aku terpaksa melakukan pernikahan ini. Jika saja waktu itu ibu tidak mendesak ku untuk segera memberikan keturunan. Dan jika saja malam itu kamu tidak menggodaku, mungkin aku tidak akan pernah mengkhianati istriku Hilwa." sarkas Reno.
Semua orang yang masih berada di sana cukup terkejut mendengar penuturan Reno. "Reno! pelan kan suaramu! kamu mau membuat keributan dengan mempermalukan diri kamu lagi." desis Bu Tika. "Tidak Bu! biarkan saja semua orang tahu, memang aku yang bersalah disini. Aku suami yang tidak tahu diri, bisa-bisanya menyakiti seorang istri sebaik Hilwa." sesal Reno.
Tentu saja, Bu Tika dan Stefani tidak terima mendengar Reno masih saja memuji wanita yang jelas-jelas tidak berguna itu. "Seorang wanita tidak cukup hanya baik saja, Reno!. Dia harus bisa memberikan keturunan, dan Hilwa tidak bisa melakukan itu. Dia seorang wanita yang mempunyai rahim yang kosong." tandas Bu Tika.
__ADS_1
"Cukup Bu! jangan pernah ibu mengucapkan kata itu lagi. Ucapan itu adalah sebuah doa, aku masih berharap, Hilwa bisa memberikanku keturunan. Agar aku bisa mempertahankan pernikahanku dengannya." pungkas Reno. Dia berlalu dari hadapan mereka, dengan penyesalan yang menggunung di hatinya.
Nasi sudah terlanjur menjadi bubur, dan mau tidak mau kita harus tetap memakannya. Penyesalan selalu datang di akhir, jika datang di awal itu namanya pendaftaran.
Di antara kekesalan Stefani dan Bu Tika, ada sebuah senyum yang menyungging. Anita! yang sejak tadi hanya menyimak. Dia sangat sependapat dengan perkataan yang adiknya lontarkan. Memang benar, Hilwa seorang istri yang baik. Tidak satu keluhan pun yang dia dapat dari adik iparnya itu, hanya saja, ya itu dia, ibunya yang tidak sabaran untuk segera mendapatkan cucu dari Reno. Padahal jika di tunggu, mungkin saja mereka masih bisa mempunyai anak. Banyak ko' dari mereka yang sudah berumahtangga belasan atau puluhan tahun yang akhirnya bisa memiliki anak. Jika mereka sanggup untuk bersabar!. Tapi, sudahlah toh ini sudah terjadi. Pikir Anita.
Reno melangkahkan kaki menuju rumahnya. Mungkin dengan cara ini, dia bisa sedikit mengurangi rasa sakit yang istrinya rasakan saat ini. Tapi setelah Reno sampai di depan pintu kamar, terdengar jeritan yang tertahan yang begitu menyesakkan.
Tangan Reno tertahan yang ingin memutar handle pintu. Keberaniannya kini menciut, saat mendengar suara menyesakkan itu. "Maafkan kakak, Wa! apa yang harus kakak lakukan untuk bisa mengurangi rasa sakit mu. Jika waktu bisa di putar kembali, kakak tidak akan pernah mengkhianati kamu, sayang!" ucap Reno lirih. Dia akhirnya terduduk di lantai, dengan menyandarkan punggungnya di depan pintu kamar.
Sedangkan di rumah pak Dedi. Stefani tidak bisa menyembunyikan raut kekecewaannya, setelah mendengar penuturan Reno yang menyesal melakukan hubungan dengannya. Tentu saja itu membuatnya geram, seolah dirinya lah yang memaksa Reno. Eh! emang iya, aku yang pertama menggodanya bukan! kenapa aku sampai melupakan itu. Tapi tetap saja aku tidak pernah menyesali semua ini, bahkan aku pun telah berkorban. Sekarang aku sudah tidak di akui oleh orangtuaku, hiks. Dan akan aku pastikan bahwa ucapanmu salah, kak. Lambat laun kamu akan bertekuk lutut di hadapanku dan akhirnya menendang wanita yang tidak berguna itu. tekad Stefani percaya diri.
Pintu sudah terbuka, saat dia sudah sampai di rumah Reno. Betapa terkejutnya Stefani, saat melihat suaminya yang duduk bersandar terlihat menyedihkan seperti itu. "Kak! bagaimana bisa kamu meninggalkanku seperti ini, di saat hari pernikahan baru saja terjadi." pekik Stefani. Reno terkejut kenapa Stefani bisa menyusulnya kesini. "Pergilah! biarkan aku tetap disini." usir Reno. "Apa?! yang benar saja kamu kak. Apa kamu tidak menghargai perasaanku?" tanya Stefani geram. Reno hanya tersenyum getir.
Bagaimana bisa perempuan di hadapannya kini, bisa bicara seperti itu. "Apa kamu tidak berpikir, justru kita yang sudah tidak menghargai perasaan Hilwa. Apa kamu tidak sedikitpun menyesali perbuatan kita?" tanya Reno tajam. Stefani kikuk, bagaimana bisa Reno menyudutkannya seperti ini. "Terus! apa dengan menyesalinya akan kembali seperti semula kak?, kamu bisa menghilangkan janin yang ada dalam kandunganku ini?" sergah Stefani tidak mau kalah. "Apa dengan kamu bersikap menyedihkan seperti ini, istrimu bisa memaafkan mu, begitu maksud mu, kak?" cerca Stefani. "Kamu sudah tidak bisa mundur kak! karena ada anak yang harus kamu perhatikan juga. Jangan istri kamu yang tidak berguna itu, kamu pikirkan." sarkas nya.
__ADS_1
Sebelum Reno menjawab, pintu kamar terbuka. "Pergi kalian! jangan membuat keributan disini. Bukankah ini hari yang sangat membahagiakan untuk kalian. Kenapa kalian malah beradu mulut di depan kamarku?" tegas Hilwa berucap.
Reno terperangah mendengar Hilwa berucap seperti itu. Bagaimana bisa istrinya berkata kasar. Bahkan raut wajahnya yang dulu teduh dan sorot matanya tidak lagi terlihat kesedihan. Kini berganti dengan kebencian yang mampu mengoyak apa saja yang ada di hadapannya.
"Hilwa, sayang! bagaimana bisa kamu berkata seperti itu. Kakak masih suami kamu, tidak pantas kamu mengusir kakak dari sini." ucap Reno lembut. "Dasar wanita tidak tahu malu. Bisa-bisanya kamu mengusir kami dari rumah ini. Kak Reno bisa saja menendang mu kapanpun dia mau." pekik Stefani tidak terima. "Dan bagaimana bisa kak, kamu selemah ini. Kamu akan membiarkan istrimu ini merendahkan mu?" Stefani menatap tajam ke arah suami istri itu.
Hilwa nampak menyunggingkan bibirnya, "Tendang aku kalau dia berani!. Aku akan sangat senang jika saat itu tiba." tantang Hilwa.
"Argh! Hentikan kalian berdua. Kepalaku rasanya mau pecah. Dan kamu Stefani pergi dari hadapanku sekarang juga." sergah Reno mengacak rambutnya frustasi.
Stefani menghentak-hentakkan kakinya sebelum keluar dari rumah itu. Mulutnya komat-kamit sepanjang perjalanan menuju rumah mertuanya.
"Wa! sekali ini saja, kamu memaafkan kesalahan ku lagi? aku sangat menyesalinya sekarang. Bukankah kamu akan tetap memaafkan ku jika aku membuat suatu kesalahan?" pinta Reno.
"Kesalahan kak?, mungkin dulu iya. Semua kesalahan mu bisa aku maafkan dengan mudah. Tapi ini bukan hanya sekedar kesalahan, tapi ini pengkhianatan kak. Pengkhianatan yang akan terus menjadi bibit buruk untuk rumahtangga kita kedepannya." Hilwa berucap tajam, menatap ke arah Reno dengan berani.
__ADS_1
"Ok! aku sudah membuat kesalahan yang sangat menyakitimu. Tapi saat itu aku khilaf, aku-" ucapan Reno menggantung, "khilaf mu sudah tidak ada gunanya kak. Bahkan khilaf mu sudah membuahkan hasil. Dan selamat! akhirnya kamu bisa memberikan cucu untuk ibumu. Dengan begitu aku harap, ibumu tidak akan lagi mendesak dan merendahkan ku." pungkas Hilwa dan berlalu dari hadapan suaminya.
Beberapa kali ini Reno terperangah, mendengar istrinya bisa mengucapkan kata-kata kasar seperti itu. Hilwa yang dulu penurut, apa mungkin tidak akan ada lagi?. sesal Reno berucap lirih.