
Masih di hari yang sama.
Susana di kediaman pak Dedi. Ada bermacam-macam perasaan yang dirasakan oleh penghuni rumah. Pak Dedi yang masih geram dengan apa yang telah dilakukan putranya. Anita, meski dia iba terhadap Hilwa, tapi cukup bahagia akhirnya adiknya bisa mempunyai anak. Jangan di tanyakan lagi tentang perasaan Bu Tika, tentu! hal ini yang sangat dia tunggu-tunggu. Hal yang sangat membahagiakan akhirnya putranya memberikan dia cucu. Dia bahkan menutup mata, walaupun cara putranya untuk mendapatkan cucu hasil dari cara yang terlarang.
"Lho kenapa kamu kesini lagi nak?" tanya Bu Tika kepada Stefani yang saat ini sudah kembali ke rumahnya.
"Biarkan dia istirahat dulu Bu! untuk sementara Stefani akan tinggal di rumah ibu." sahut Reno
"Apa? kenapa bisa? emang boleh, kalau ibu si senang-senang aja bisa menjaga nak Stefani. Ya sudah ibu tunjukkan kamarnya." Bu Tika pun tanpa berpikir panjang menunjukkan satu kamar yang akan di tempati oleh Stefani
"Kamu istirahat saja. Kalau butuh sesuatu, jangan sungkan bilang sama ibu." ucap Bu Tika lembut, setelah dia melihat Stefani merebahkan tubuhnya di kasur, tanpa mengatakan sepatah katapun. Ada apa dengannya, sepertinya dia terlihat banyak pikiran. batin Bu Tika
Bu Tika kembali ke ruang tengah, dimana Reno masih duduk bersandaran di kursi panjang. Saat ini putranya terlihat kacau. Ada apa ini sebenarnya? kenapa mereka berdua terlihat banyak beban, bukannya bahagia akan mempunyai anak. Gerutu Bu Tika dalam hati
"Kamu nggak pulang Ren? Apa mau menginap saja di sini, untuk jagain nak Stefani." ucap Bu Tika yang saat ini duduk di samping putranya
"Ibu jangan mengada-ada! Mana mungkin aku meninggalkan Hilwa di rumah sendirian?" sahut Reno tidak terima dengan ide ibunya. Bu Tika pun membuang muka, sambil mulutnya komat-kamit. "Padahal Ren, kamu ceraikan saja si Hilwa itu. Jelas-jelas memang rahimnya yang kosong, buktinya kamu bisa punya anak dari perempuan lain." sungut Bu Tika
"Jangan bicara seperti itu Bu, Sampai kapan pun Reno tidak akan pernah mau berpisah dengan Hilwa. Dia istri yang Reno cintai."
__ADS_1
"Halah! istri yang kamu cintai sekarang, mungkin setelah kamu memiliki anak dari Stefani, cinta kamu akan berubah. Karena seorang anak adalah pengikat hubungan antara suami istri."
Reno termenung mendengar ucapan ibunya. Mungkinkah cintaku akan berkurang, tapi saat ini aku benar-benar tidak bisa melepaskan mu Hilwa! batin Reno
"Entah sekarang atau nanti, mungkin kamu akan menceraikan Hilwa. ibu jamin itu!"
"Bu! jangan pernah mengucapkan kata itu lagi. Aku sudah muak mendengar kata cerai dari Hilwa, dan sekarang ibu pun ikut-ikutan." sarkas Reno
"Apa? ibu tidak salah dengar! Hilwa meminta kamu menceraikan dia. Enak saja, seharusnya kamu donk yang meminta cerai, jelas-jelas dia yang tidak berguna disini." sungut bu Tika meninggalkan putranya keluar dari rumah.
Reno yang saat ini sudah bisa mengendalikan pikirannya. Lho! ibu kemana, apa jangan-jangan dia. . .Reno berlari mengikuti ibunya. Dia takut ibunya menghampiri Hilwa.
"Itu lebih baik Bu! Apa kak Reno sudah bersedia menceraikan ku?" ucap Hilwa lemah
Bu Tika tentu saja terkejut, ternyata benar Hilwa lah yang sudah meminta cerai. "Dasar tidak tahu diri! masih mending Reno mau mempertahankan mu. Ini so' belaga minta cerai segala. Kamu kira hidupmu berguna disini, hah?"geram Bu Tika
"Apa bedanya Bu, aku yang meminta cerai dengan kak Reno yang akan menceraikan ku? toh, kami sama-sama akan berpisah bukan?" kali ini Hilwa tidak bisa menahan hinaan ibu mertuanya lagi.
"Bagus kalau begitu. Dengan begitu Reno akan bahagia bersama Stefani dan anak yang sebentar lagi akan lahir. Jika kamu masih bertahan, hanya akan jadi benalu di kehidupan putraku." Sarkas Bu Tika
__ADS_1
"Cukup Bu! jangan hina Hilwa lagi. Dia sudah cukup menderita selama ini. Reno mohon, untuk kali ini, biarkan Reno yang mengambil keputusan untuk kehidupan Reno. Ibu sudah terlalu banyak ikut campur dalam urusan rumahtangga ku."ucap Reno lirih. Bu Tika pun melengos mendengar perkataan putranya seperti itu, kalau dia terus menjawab, bisa-bisa harga dirinya jatuh di hadapan menantunya.
"Wa! kita makan yah! kamu pasti belum makan dari tadi." Reno berujar lembut, dia duduk di tepi tempat tidur.
"Jangan perduli kan aku kak! Kamu perhatikan saja calon istri dan anak kamu." tegas Hilwa
"Kenapa kamu keras kepala sekali Hilwa. Walaupun kamu tetap seperti ini, itu tidak akan merubah keputusanku. Aku akan menikahi Stefani dan tidak akan melepaskan mu begitu saja." sergah Reno
"Serakah sekali!" ucap Hilwa tersenyum getir "Kamu kira perasaan seseorang bisa kamu kendalikan, kak! Lepaskan aku! atau kamu akan melihatku lebih hancur!" Hilwa menatap tajam ke arah suaminya.
Deg! baru kali ini, Reno melihat istrinya seperti itu. Sorot matanya tidak lembut seperti dulu. Ada gurat kesedihan dan kebencian yang mendalam.
"Terima saja nasibmu! Apa kamu mau melihat ayah ibumu sedih jika kamu berpisah dariku?. Kamu bisa bersikap seperti biasa, dan aku pun akan memperlakukan mu layaknya istri pertama. Kamu tetap akan menjadi prioritasku." Pungkas Reno, dia berlalu dari hadapan Hilwa. Dia tidak mau terus berdebat tentang perceraian, karena sampai kapan pun Hilwa akan tetap menjadi istri, istri pertamanya!.
Malam merayap naik. Hilwa hanya bangun untuk menunaikan sholat wajib. Perutnya memang terasa lapar, tapi ia abaikan. Sedangkan Reno dia tidur di sofa ruang tamu, tanpa bantal dan selimut. Dia ingin tahu, apa istrinya masih peduli kepadanya atau tidak.
Tapi sampai matahari terbit pun, Hilwa tidak sama sekali ke luar kamar. Reno menatap nanar pintu kamar. Apa aku sudah sangat menyakiti hati kamu, Wa! Dulu berapa kali pun aku membuat kesalahan, kamu akan tetap memaafkan ku. Bahkan saat aku menamparmu, kamu masih mau menyambut ku dengan senyuman manis mu. Apa yang harus aku lakukan untuk menebus semua kesalahanku. Monolog Reno. Dia sangat frustasi menghadapi sikap Hilwa yang sudah berubah. Istrinya yang lembut dan penurut, mungkin tidak akan ada lagi.
Reno masuk ke kamar, karena dia harus membersihkan diri dan mengambil pakaian. Dia harus tetap berangkat kerja, walau kehidupannya sangat pelik saat ini.
__ADS_1