
Hilwa tidak pernah menduga kehidupan rumahtangganya akan seperti ini.
Alur kehidupannya tidak setenang arus danau yang pernah ia impikan. Akankah perahu yang mereka tumpangi bisa sampai ke tepian, atau bahkan karam. Karena dirinya tidak sanggup akan gelombang arus yang begitu besar.
"Hilwa, sayang! buka pintunya. kakak mohon dengarkan penjelasan kakak dulu. Jangan seperti ini." Reno yang sejak tadi mengetuk-ngetuk pintu
Hilwa yang saat ini berada di dalam kamar, hanya bisa menahan Isak tangisnya.
Tidak lama terdengar suara kunci yang di putar dan pintu pun terbuka. Reno masuk dengan kunci cadangan. Dia melihat Hilwa sedang terduduk di lantai bersandar di tepi ranjang dengan menelungkupkan wajahnya.
Reno melangkahkan kaki menghampiri istrinya "Hilwa, kakak tahu kamu pasti terluka. Tapi kakak mohon, dengar penjelasan kakak dulu." Tidak ada sahutan "kakak terpaksa melakukan semua ini. Kamu tahukan kakak sudah lelah dengan permintaan ibu yang selalu mendesak ingin di berikan cucu." Hilwa masih anteng dengan kebisuannya. "Untuk kali ini, kakak mohon kamu mau memahami situasi kakak." ucap Reno lirih, berlutut di hadapan istrinya.
"Wa! tolong katakan sesuatu." Reno sudah mulai frustasi, istrinya tidak ingin membuka mulut.
"CERAIKAN AKU KAK!" satu kalimat itu mampu mewakili semua kekecewaan Hilwa
Reno tentu saja terkejut, bukan ini yang ia harapkan yang keluar dari mulut istrinya. "Tidak wa, jangan pernah ucapkan kata itu. Sampai kapanpun, kakak tidak akan mau berpisah denganmu."
"Untuk apa kakak masih mempertahankan ku? Bukankah sudah ada Stefani yang lebih baik dari istri yang rahimnya kosong ini." ucap Hilwa getir
"Wa! Kakak tidak pernah berharap kamu mengatakan hal itu. Apa tidak bisa kamu menjalani semua takdir ini. Kakak janji, akan berusaha adil dan lebih memprioritaskan kamu." bujuk Reno "besok kakak harus menikahi Stefani. Karena anak yang ada di dalam kandungannya, harus mempunyai status yang jelas."tegas Reno
Hilwa tersenyum getir dengan air mata yang keluar lebih deras dari sebelumnya. Dia masih belum bisa menerima kenyataan kalau suaminya sudah mengkhianati dirinya. Tapi sekarang dia harus menerima kenyataan, kalau besok dia akan memiliki madu.
"Ceraikan aku lebih dulu. Terserah kakak mau menikah kapan pun." Hilwa tetap pada pendiriannya
__ADS_1
"Tidak akan! Kamu tidak akan pernah menerima kata cerai dari mulutku. Jalani saja takdir kita dan terimalah anak yang ada dalam kandungan Stefani. Dengan begitu, ibu tidak akan pernah mendesak mu untuk segera hamil." Reno keluar dari kamar setelah mengucapkan kalimat panjang itu.
Dia menutup pintu, seketika terdengar jeritan dari dalam kamar yang begitu menyesakkan. "Maafkan kakak Wa! kakak sangat melukai hatimu, tapi inilah takdir yang harus kita jalani. Sampai kapanpun, kamu istri yang kakak cintai." Reno mengusap air mata yang keluar dari matanya.
* * *
Reno kembali ke rumah orangtuanya. Di sana masih ada Stefani yang menunggu keputusan untuk statusnya yang jelas. "Bagaimana kak? apa Hilwa mau menerimaku dan anak kita?" tanya Stefani setelah melihat Reno menghampiri dirinya.
Reno belum bisa menjawabnya. "Udahlah tinggal nikah aja, dengan atau tanpa izin dari Hilwa." Bu Tika menimpali
"Nggak bisa gitu donk Bu. Kalau Reno dan Stefani mau menikah secara legal, mereka harus menerima restu dari Hilwa dulu. Itu sih setau ku." Anita pun ikut menimpali ucapan ibunya
"Bagaimana ini kak? kalau Hilwa tidak juga memberikan kita restu, apa aku dan anak ini tidak bisa mempunyai status yang jelas?" ucap Stefani khawatir
"Tenang nak Stefani, ibu akan memaksa Hilwa untuk merestui pernikahan kalian. Kamu tenang saja, cucu ibu harus mempunyai status yang jelas, ibu janji itu."
"Kalau begitu aku pulang dulu ya Bu." Stefani yang ingin beranjak dari duduknya. "Biar Reno antar yah" tawar Bu Tika. "Ayo Reno kamu antar calon istri kamu."
Reno mau tidak mau mengantar Stefani pulang ke rumahnya. Saat mereka membuka pintu, berpapasan dengan pak Dedi yang baru datang entah dari mana. "Ayah habis dari mana?" sebenarnya Reno hanya berbasa-basi, dia tidak mengharapkan ayahnya menjawab pertanyaannya. Dan benar saja, pak Dedi hanya menoleh dengan tatapan yang menusuk, masih ada kilat amarah dari sorot matanya.
* * *
Mereka tiba di rumah orangtua Stefani. "Kak, kita harus meminta izin kepada orangtua ku. Kakak mau kan?"
Deg. . .benar! dia harus meminta izin dari orangtua Stefani untuk menikahinya. Tapi apa bisa semudah itu, mereka mau menerimanya sebagai menantu. Apalagi dengan statusnya yang sudah mempunyai istri.
__ADS_1
"Baiklah. Mau tidak mau aku harus melakukannya bukan?" ucap Reno, meski dalam hatinya tidak yakin.
Saat mereka memasuki rumah, orangtua Stefani sedang duduk di kursi ruang tamu. Sepertinya mereka sedang membicarakan hal yang serius. "Ayah, ibu! aku dan kak Reno. . ." ucapan Stefani menggantung, ayah Stefani melemparkan benda ke hadapan mereka. "Katakan pada ayah, milik siapa itu?" Stefani membelalakkan mata melihat benda yang jatuh di hadapannya. "Itu anu yah, itu. . ." Stefani terbata "jawab dengan jelas Stefani Arliana, milik siapa benda menjijikkan itu?"sergah ayah Stefani
Reno dan Stefani terkejut.
Mendengar ayahnya yang berteriak, seketika lutut Stefani di benturkan ke lantai. Dia bingung harus mengatakan apa, selain memohon ampun atas kesalahannya. "Maafkan Stefani ayah." hanya itu yang mampu dirinya ucapkan
"Apa ini hasil ayah menyekolahkan mu tinggi-tinggi, apa ini hasil dari kebebasan yang kamu maksud itu?" ayah Stefani menatap nyalang kepada putrinya. "Siapa pemuda ini, bukankah kau dulu mantan kekasihnya?" kali ini tatapan itu tertuju ke Reno. "Maafkan saya pak, saya telah membuat kesalahan dengan Stefani." ucap Reno, diapun berlutut.
"Apa maksud kamu! Apakah kamu yang telah menghamili putri saya?" ujar ayah Stefani dengan nafas yang memburu
Stefani dan Reno hanya bisa tertunduk. "Kurang ajar! bukankah kamu sudah menikah Reno?" ayah Stefani yang baru mengingat nama mantan kekasih putrinya dulu.
Melihat Reno yang hanya tertunduk, ayah Stefani menjadi geram "Brengsek! kamu menghamilinya padahal sudah mempunyai istri?" beliau menghampiri Reno, mengangkat kerah baju dan ingin melayangkan tangannya "tidak ayah, jangan!"pekik Stefani "ini semua salahku. Aku yang berusaha menggodanya. Salahkan saja aku ayah." Stefani mencoba mencekal tangan ayahnya
"Kalian berdua benar-benar sudah tidak waras! bagaimana bisa kalian melakukan hubungan terlarang, membuat aib keluarga saja."
"Jangan harap aku akan mengakui anak yang ada dalam kandunganmu sebagai cucuku. tinggalkan rumah ini sekarang juga. Sebelum kamu menyebarkan aib untuk keluarga ini."pungkas ayah Stefani
"Tidak ayah. Jangan seperti itu, bagaimanapun dia putri kita satu-satunya. Maafkanlah kesalahannya dan terimalah anak yang ada dalam kandungannya." kali ini ibu Stefani ikut berbicara, setelah dari tadi hanya diam membisu, karena beliau tidak pernah melawan apapun perkataan suaminya. "Kamu membelanya Bu? inikah hasil didikanmu selama ini?" kilat amarah ayah Stefani belum reda, dan ibu Stefani pun terkena sasarannya.
"Nggak ayah! jangan salahkan ibu dalam hal ini, aku yang sepenuhnya bersalah." bela Stefani "jangan terus menyalahkan ibu atas semua kesalahan yang terjadi di rumah ini, ibu tidak pantas ayah salahkan. Dan ayah tahu! aku pun sudah muak tinggal di rumah ini, mempunyai ayah yang toxic!"sergah Stefani
Plak! satu tamparan keras mengenai kiri pipi Stefani. "Dasar anak kurang ajar! berani kamu mengatai ayah?"berang ayah Stefani "enyah kalian dari hadapanku, aku tidak sudi melihat kalian di rumah ini."usirnya kepada Reno dan Stefani
__ADS_1
"Jangan pergi nak! ibu mohon" Raung ibu Stefani melihat kepergian putrinya.