
Seminggu setelah acara lamaran, pernikahan Andre dan Hilwa sudah di tetapkan. Orangtua Andre yang menginginkannya dan segala sesuatunya pun merekalah yang mengaturnya.
Rencananya acara ijab Kabul akan di laksanakan di rumah Hilwa. Sedangkan untuk resepsi, mereka akan memboyong keluarga Hilwa ke kota di mana keluarga Andre tinggal. Selain orangtua Andre ingin mengadakan pesta besar-besaran, mereka juga akan lebih leluasa untuk mempersiapkan segala sesuatunya.
Hari yang di tunggu-tunggu pun tiba, yaitu acara janji suci Andre untuk mempersunting pujaan hatinya. Mempelai laki-laki dan orangtua dan beberapa kerabat dekat menghadiri hari bahagia itu. Para tetangga yang ingin ikut menyaksikan pun turut hadir.
Andre terlihat sudah siap. Dia duduk di hadapan bapak penghulu dan beberapa saksi dan kedua orangtua mempelai. Dia nampak tenang, sebelum mempelai wanita keluar dari kamarnya. Dia nampak termangu melihat calonnya nampak anggun dan pangling dengan balutan gaun berwarna putih, dan makeup yang soft.
Hilwa berjalan dengan sangat anggun. Dia di apit oleh ibu beserta ayahnya. Semua mata menatap takjub dengan kecantikan Hilwa yang di dandani tidak seperti biasanya. Karena keseharian Hilwa tidak pernah menggunakan makeup sama sekali. "Duduklah nak" ucap pak Marna yang sudah sampai di hadapan mempelai laki-laki dan bapak penghulu.
Mata Andre tidak berkedip sekalipun sampai sebuah tangan menyentuh pundaknya. "Sadar Ndre, kamu belum mengucapkan ijab Kabul." desis pak Indra tepat di telinga putranya. Andre menoleh dan akhirnya tersadar. Dia merasakan panas dingin seketika yang tadinya dia berusaha bersikap tenang. "Kenapa aku jadi grogi kaya gini sih. Ayolah hati tenanglah. Hanya satu kalimat saja, aku akan memiliki Hilwa seutuhnya." ucap Andre dalam hati
Bu Eva pun ikut menepuk pundak Andre memberikan semangat. Acara sambutan di mulai oleh bapak penghulu dan beliau memberikan sedikit ceramah untuk kedua mempelai.
Sampai akhirnya tiba di acara inti. Dengan satu tarikan nafas, "Saya terima nikahnya Hilwa Anindya binti Marna Sumarna dengan seperangkat alat sholat dan Mas kawin berupa logam Mulya dan sebuah mobil di bayar tunai." ucap Andre dengan suara lantang. Dan saksi pun mengucapkan kata sah secara serempak. "Alhamdulillah" sahut semua orang yang berada di sana.
__ADS_1
Mungkin kalimat yang Andre ucapkan terdengar sangat sederhana, tapi mempunyai makna yang dalam. Dia sudah berjanji kepada Tuhan-Nya untuk menyayangi dan melindungi Hilwa yang kini sudah berstatus sebagai istrinya. Menerima segala kekurangan dan berjanji untuk selalu setia sampai akhir hayatnya. Perjanjian mereka bukan dengan manusia saja tapi janji kepada Tuhan-Nya.
Hilwa kini mencium punggung tangan suaminya dengan hidmat. Dan Andre pun mencium kening Hilwa. Ada perasaan yang membuncah yang mereka berdua rasakan saat ini. Kedua orangtua merekapun tidak kuasa menahan keharuan, sehingga mereka menetaskan air mata bahagia.
Andre dan Hilwa tidak pernah menduga jalan takdir mereka. Pertemuan yang membuat Andre jatuh cinta pada pandangan pertamanya. Hingga akhirnya dia merasakan hanya Hilwa lah yang mampu menggetarkan hatinya.
Acara ijab Kabul di lanjutkan dengan beramah tamah dengan mencicipi berbagai hidangan yang sudah tersedia. Tidak ada acara selanjutnya, karena besok mereka akan bertolak langsung ke kota dimana Andre dan orangtuanya tinggal.
"Kalian beristirahatlah! karena besok kita akan berangkat pagi-pagi sekali. Kalau bisa jangan melakukannya dulu Ndre. Ayah takut Hilwa kelelahan." ujar pak Indra di depan semua orang. Sontak saja membuat wajah pengantin baru itu bersemu merah dan salah tingkah.
"Aww, ibu!" kali ini Bu Eva yang mencubit pinggang putranya. Andre nampak meringis dan mengusap-usap kulit pinggangnya. "Kok beneran di cubit sih." gerutu Andre. "Habis kamu ini, masih banyak orang juga. Udah ingin main buka-bukaan." sahut Bu Eva. Sontak saja membuat gelak tawa semau orang yang masih berada disana.
"Maklum Bu, putramu kan bujangan lapuk. Wajar kalau sudah nggak sabar." kelakar pak Indra. "Hahahaha" suara semua orang. Andre hanya mendengus mendengar dirinya menjadi bahan lelucon orangtuanya.
Sampai siang hari para tamu sudah membubarkan diri masing-masing. Kini tinggal Andre saja yang masih berada di rumah pak Marna, sedangkan orangtuanya sudah Kembali ke penginapan.
__ADS_1
Andre dan Hilwa sudah berada di dalam kamar. "Mas sebaiknya kamu istirahat saja. Besok kamu kan yang nyetir mobil." ujar Hilwa memecah kecanggungan. "Mas nggak cape kok. Kalau kamu mau kita melakukan sesuatu Mas masih sanggup." sahut Andre. "Kalau maksud Mas Andre itu, maaf Mas Hilwa sedang datang bulan." ujar Hilwa ragu. Seketika tubuh Andre pun lemas, karena sesuatu yang sangat dia inginkan, hanya tinggal bayangan saja.
"Mas pasti kecewa. Maaf Mas, ini sebuah takdir juga. Bukan kemauan Hilwa lho Mas." ucap Hilwa mencoba menggoda laki-laki yang kini sudah berstatus suaminya.
"Nggak papa sayang. Mas bisa menahannya ko'. Sekarang atau nanti, kamu sudah menjadi istri Mas. Jadi tidak ada masalah, jika Mas harus menundanya." sahut Andre pasrah. "Makasih Mas, tinggal tiga hari lagi mungkin." ucap Hilwa mencoba memberi harapan. "Iya sayang nggak papa, kamu sudah menjadi milik Mas saja, Mas sudah sangat bahagia. Ayo kita istirahat saja. Tapi Mas bolehkan peluk kamu?" tanya Andre. "Boleh Mas, Hilwa sudah halal untuk Mas Andre." sahut Hilwa tersenyum dengan pipi yang memerah. "Ahhh, ini gila! Baru seperti ini saja, tubuhku langsung panas dingin. Bagaimana kalau nanti tempur yah." batin Andre dengan segala bayangannya.
Akhirnya di siang hari itu, sepasang suami istri yang baru saja sah hanya tertidur dengan hanya saling memeluk satu sama lain. Tapi ada sih kecup-kecup sedikit, banyak juga nggak papa Mas Andre. Nggak akan ada yang melarang. hehe
Sampai Waktunya Andre terbangun dan melakukan sholat wajib seorang diri, karena Hilwa sedang halangan. Setelah itu mereka keluar dari kamar. Bu Tini sudah mempersiapkan makanan di meja, dan pak Marna pun sudah menunggu mereka.
"Ayo nak kita makan, biar nanti malam banyak tenaga." ujar pak Marna, yang dia tujukan pasti kepada Hilwa dan Andre. "Lagi palang merah pak, belum boleh." sahut Andre meladeni guyonan ayah mertuanya. "Sabar dulu kalau begitu, orang sabar di sayang istri." sahut pak Marna tersenyum simpul. Hilwa dan Bu Tini hanya menggelengkan kepala mendengar obrolan para lelaki itu.
"Besok kita berangkat pagi-pagi sekali pak, Bu. Mas Andre dan ayah Indra yang membawa mobilnya. Kita tidak perlu membawa apa-apa. Ayah dan ibu Mas andre yang akan menyiapkan segala sesuatunya." ucap Hilwa saat mereka sudah menghabiskan makanannya.
"Iya nak, kalau begitu lebih baik kalian kembali lagi ke kamar. Dan beristirahat sepuasnya, supaya besok kalian tidak kecapean." ujar Bu Tini
__ADS_1
Baik banget ibu mertuaku, tau aja kalau aku ingin berduaan dengan putrinya. hihi, batin Andre bersorak.