
Setelah dua Minggu di tinggal Hilwa, Reno akhirnya memutuskan untuk menemuinya. Dengan tekad yang kuat, dia akan membujuk istrinya untuk mau memaafkan dan kembali padanya.
Reno sadar, walaupun Hilwa tidak bisa memberikannya keturunan, tapi istrinya lah yang memberikan dia kenyamanan. Sikap patuh dan pengabdiannya, yang tidak mungkin perempuan lain miliki.
Reno pergi dari rumah, tanpa sepengetahuan orangtuanya. Dia melajukan mobil, dengan harapan bisa membawa istrinya kembali ke rumah nya.
Keadaan Hilwa saat ini, terlihat baik-baik saja. Selama dua Minggu ini, dia menjalani hari-hari seperti sebelum menikah dengan Reno. Membantu ibunya membersihkan rumah dan merawat bunga-bunga yang dia tanam di pekarangan rumah.
Hari itu cuaca sangat hangat, matahari yang sudah menyinari bumi, Langit cerah dan awan yang indah. Mampu membuat setiap orang bersemangat untuk menjalani kesehariannya.
Hilwa yang sedang berada di pekarangan, kedatangan sebuah mobil yang masuk ke halaman rumahnya.
Deg. . .
Itukan mobil ayah kak Reno.
Hilwa diam mematung, menunggu siapa yang akan keluar dari mobil itu.
Jantungnya berpacu lebih kuat, saat melihat suaminya yang keluar dari mobil. Reno pun sama, dia menatap wajah istrinya yang sangat ia rindukan.
Reno bergegas menghampiri Hilwa dan memeluknya, "maafkan kakak wa, maafkan kakak sayang" Reno berulangkali mengucapkan kata maaf.
Hilwa hanya diam mematung, dia masih shock, tidak menduga bahwa suaminya akan datang hari ini.
"Kakak sangat merindukan kamu, kamu baik-baik saja kan?" tanya Reno yang menatap wajah istrinya.
"Hilwa baik-baik saja kak, kakak juga baik-baik saja kan?"
"Kakak baik, sayang."
Merekapun berjalan ke teras, tangan Reno tidak melepaskan tangan istrinya, "Hilwa ambilkan kakak minum dulu yah" mereka yang sudah duduk di kursi. Saat Hilwa hendak berdiri, "tidak usah wa, kakak hanya ingin bertemu kamu, duduklah !".
"Wa, tentang kejadian itu, kamu mau kan memaafkan kakak dan mau kembali lagi bersama kakak ke rumah?" ucap Reno to the point
Hilwa sedikit termenung, dia ingin sekali kembali dengan suaminya, tapi. . .apakah orangtuanya akan mengizinkannya?
"Wa, tolong berikan kakak kesempatan kedua untuk bisa memperbaiki kesalahan-kesalahan kakak, Kakak mohon" Rendy yang terus membujuk Hilwa.
Di tengah obrolannya, ayah dan ibunya Hilwa datang, mereka sudah kembali dari suatu acara. Melihat seseorang yang duduk di teras bersama putrinya, amarah pak Marna langsung meledak. Beliau bergegas menghampiri mereka.
__ADS_1
"Untuk apa kamu datang lagi ke sini, berani sekali kamu menunjukkan wajahmu, setelah apa yang kamu lakukan pada putri ku, hah!" ucap pak Marna dengan wajah yang memerah.
Reno langsung terduduk di lantai, dia bersimpuh di hadapan orangtua Hilwa. "Maafkan saya pak, waktu itu saya khilaf, saya tidak bisa mengendalikan amarah. Saya pantas di hukum, hukum saya pak. Jika itu membuat hati bapak tenang."
"Apa hak saya untuk menghukum mu, tapi jika itu yang kamu inginkan, tolong lepaskan putri saya, dan kembalikan Hilwa kepada kami secara hukum" ucap pak Marna tegas.
Deg. . .
"Tidak pak, saya tidak akan pernah melepaskan Hilwa. Saya sangat mencintainya" Reno menangis di hadapan orangtua Hilwa
Hilwa tidak tega, melihat suaminya menangis dan bersimpuh. "Kak, jangan seperti ini. Ayo bangun kak" ucap Hilwa yang ingin membantu suaminya berdiri.
"Biarkan saja, nak. Dia pantas melakukan itu semua. Setelah apa yang dia lakukan kepadamu." ucap pak Marna
"Tidak pak, jangan seperti ini. Kak Reno memang bersalah tapi Hilwa juga yang salah. Saat itu Hilwa menentang ucapan kak Reno " Hilwa yang mencoba membela suaminya.
"Tolong maafkan kak Reno pak, Bu. Dan izinkan Hilwa untuk ikut kembali bersama suami Hilwa"
Pak Marna terkejut mendengar perkataan putrinya.
"Apa kamu bilang, nak. Kamu mau kembali bersama laki-laki seperti ini?"
Pak Marna tidak bisa mengucapkan kata-kata lagi, setelah mendengar putrinya terus memohon. Beliau langsung pergi dari hadapan mereka.
Bu Tini yang melihat suaminya pergi, mencoba mengikutinya.
"Ayo bangun kak" ajak Hilwa kepada Reno untuk berdiri.
Reno pun memeluk istrinya erat, seperti takut kehilangannya. "Jangan pernah tinggalkan kakak lagi wa, kakak takut kehilangan kamu" ucapnya lirih.
Hilwa hanya mengangguk, menatap suaminya yang memintanya dengan tulus.
"Pak " Bu Tini yang mengikuti suaminya ke kamar. Dia melihat suaminya terduduk di tempat tidur dengan gelisah.
"Bapak yang ikhlas yah, putri kita masih sangat mencintai suaminya. Jadi biarkan mereka untuk kembali" ucap Bu Tini lemah
"Tapi Bu, kita sudah lihat kan, bagaimana mereka memperlakukan putri kita di sana"
"Bagaimana Hilwa akan bahagia, jika keluarga suaminya tidak menginginkannya." ucap pak Marna
__ADS_1
"Pak, apa bapak yakin, Hilwa akan bahagia jika tetap bersama kita?," tanya Bu Tini, "maksud ibu?" pak Marna tidak mengerti perkataan istrinya.
"Bapak tahu?, selama Hilwa berada di rumah kita. Dia bisa saja tersenyum di hadapan kita, tapi ibu tahu perasaan Hilwa yang memendam kerinduan kepada suaminya. Setiap malamnya, Hilwa selalu berdoa dan menangis, agar bisa di pertemukan kembali dengan suaminya". ucap Bu Tini panjang lebar.
Deg. . .
Benarkah sedalam itu, cinta putriku untuk suaminya? batin pak Marna.
"Maka dari itu, jika kita mencoba memaksakan kehendak kita kepada Hilwa, apakah dia akan tetap bahagia, pak?"
Pak Marna bernafas dalam, dan membuangnya kasar. "Baiklah, jika itu memang keinginan putri kita. Bapak tidak bisa memaksakannya" pak Marna akhirnya luluh.
* * *
Setelah berdiskusi dengan istrinya, pak Marna akhirnya mau kembali ke teras dan menemui Reno.
Beliau duduk di kursi "Baiklah, bapak akan memberikan kamu kesempatan untuk membawa Hilwa kembali bersamamu. Tapi jangan pernah sekali lagi, kamu menyakitinya" ucap pak Marna.
Reno dan Hilwa sangat bahagia mendengarnya, akhirnya ayah Hilwa luluh dan mau memberikan kesempatan untuk mereka bersatu kembali.
"Saya berjanji pak, tidak akan menyakiti Hilwa lagi. Saya akan berusaha membela dan melindunginya" ucap Reno sungguh-sungguh
"Baiklah, jangan sampai kamu mengingkari janji kamu sendiri. Jika tidak, bapak tidak akan segan membawa Hilwa kembali."
"Kalau begitu, Hilwa akan siap-siap dulu pak, Bu" ucap Hilwa dan bergegas memasuki kamarnya. Senyum terbit di wajah cantik Hilwa, yang selama beberapa hari ini tidak terlihat.
Hilwa sudah siap untuk ikut bersama suaminya, Reno sangat berterimakasih atas kebijaksanaan ayah Hilwa yang mau menerimanya kembali sebagai menantunya.
"Pak,Bu , Hilwa pamit yah. Jaga kesehatan ibu dan bapak, dan salam untuk Alif. Hilwa tidak sempat berpamitan dengannya." Hilwa yang memeluk ayah dan ibunya.
"Hati-hati nak, ibu yakin kamu kuat. Kamu bisa menjalani semua ini dengan ikhlas" ucap Bu Tini kepada Hilwa
"Tolong jaga putri saya, Hilwa, dia putri saya yang berharga " ucap pak Marna kepada menantunya.
"Insyaallah pak, saya akan menjaga amanah bapak". ucap Reno, dan akhirnya pak Marna pun memeluk menantunya.
Di saat amarah yang memenuhi hati dan pikiran. Memang tidak mudah untuk meredakannya, hanya seseorang yang bijaksana lah yang mampu mengendalikannya.
Itulah pak Marna dan Bu Tini, mereka mampu memaafkan kesalahan menantunya, demi kebahagiaan putrinya, Hilwa.
__ADS_1