
Akhir pekan telah tiba.
Saatnya hari yang kebanyakan orang tunggu-tunggu. Dimana hari ini menjadi hari penghujung setelah sepekan ini mereka melakukannya aktivitas rutin mereka.
Keluarga besar pak Dedi sebentar lagi akan berangkat ke suatu tempat. Ya, keluarga besar. Karena semua anggota keluarga ikut, termasuk Hilwa, Reno dan juga Stefani. Semua perlengkapan sudah mereka bawa, merekapun memakai pakaian ala-ala liburan pada umumnya.
"Kak, aku duduk di depan denganmu ya. Soalnya takut perutku mual kalau duduk di belakang." teriak Stefani yang baru saja keluar dari rumah. Hilwa yang baru saja ingin masuk ke mobil pun terhenti.
"Nggak papa kan Wa?" tanya Reno cemas. "Nggak papa kak. Kalau begitu Hilwa duduk di belakang." Hilwa yang baru memutar tubuh, "ibu duduk di mobil kamu ya Ren?" Bu Tika nyelonong masuk ke dalam, dan duduk di jok belakang. "Sini Anita! bawa cucu-cucu ibu, biar ibu bantu jagain." ajak Bu Tika kepada putrinya.
"Kamu sama ayah saja, Wa. Lagian ayah butuh orang untuk enak di ajak ngobrol seperti kamu. Ayo masuk!." ajak pak Dedi kepada menantunya. "Iya ayah." sahut Hilwa sumringah. Reno terpaksa membiarkan Hilwa masuk ke mobil ayahnya. Walaupun dia tidak enak hati, melihat istrinya yang seolah di usir dari mobilnya.
Mobil melaju meninggalkan halaman rumah. Jalanan yang akan mereka lalui akan semakin menanjak. Untung pak Dedi masih mempunyai fisik yang kuat kalau untuk sekedar mengemudikan mobil yang tidak terlalu jauh. "Hilwa. Kamu maklumi saja mereka ya. Jangan berkecil hati, kamu harus bisa bertahan dan bersabar." ucap pak Dedi membuka lamunan Hilwa. "Baik ayah." jawab Hilwa singkat. Entah sampai kapan ayah!, aku bisa ikhlas dan bersabar. batin Hilwa.
Mobil melaju beriringan meninggalkan pusat kota. Jalanan di penuhi mobil-mobil yang akan berlibur seperti mereka. Karena tempat yang mereka tuju, sangat cocok untuk mereka yang akan mengakhiri akhir pekan.
Sekilas Reno melihat senyum Hilwa yang lebar, dia bahkan tertawa saat tidak sengaja mobilnya melewati mobil yang Hilwa tumpangi. Entah apa yang di bicarakan dengan ayahnya, sehingga dia bisa melihat istrinya yang beberapa hari ini tidak menunjukkan keceriaannya.
__ADS_1
Setelah melewati jalanan yang berkelok dan menanjak akhirnya mereka sampai di tempat tujuan. Semua anggota keluarga keluar dari dalam mobil. Hilwa menarik nafas dalam, seperti sedang menikmati hembusan angin yang menerpa wajahnya. "Ahhh segarnya." ucap Hilwa yang memejamkan mata sejenak.
Ayo kita masuk, ini villa teman baik ayah. Dia yang merekomendasikan tempat ini untuk kita berlibur. "Hore" sorak kedua cucu pak Dedi yang ada dalam gendongan Anita dan Reno.
Mereka masuk ke dalam bangunan berlantai dua itu. "Wah! villa ini bagus sekali yah. Apakah yang ayah maksud teman ayah itu pak Indra?" tanya Bu Tika. "Iya Bu, dia yang memiliki villa ini. Dan sepertinya dia juga akan datang ke tempat ini, untuk bertemu dengan ayah. Karena kami sudah lama tidak bertemu." papar pak Dedi. "Wah, hebat sekali yah. Pasti teman ayah itu sangat kaya. Bisa mempunyai villa sebagus ini." puji Bu Tika. "Iya dia memang teman ayah yang sudah sukses, dia bahkan mempunyai beberapa cabang perusahaan di berbagai kota." tutur pak Dedi bangga. Bu Tika dan Anita sudah tidak sabar bertemu dengan teman baik ayahnya.
Villa itu mempunyai lahan yang sangat luas, dan tumbuhan yang ditanam beraneka ragam. Suasana sejuk meliputi area sekitarnya.
Seorang laki-laki tergopoh menghampiri mereka. "Selamat datang tuan dan nyonya, saya sudah menyiapkan kebutuhan kalian di villa ini. Pak Indra sendiri yang menyuruh saya untuk memberikan kunci villa ini kepada tuan." ucap seorang penjaga villa, memberikan kunci kepada pak Dedi. "Terimakasih pak." ucap pak Dedi ramah. "Panggil saja saya mang Ujang tuan, saya penjaga di villa ini. Kalau tuan butuh sesuatu jangan sungkan untuk mencari saya." ucap laki-laki yang mengaku bernama Ujang. "Baik mang Ujang terimakasih." pungkas pak Dedi. Beliau pun membuka pintu dan menyuruh seluruh keluarganya masuk.
* * *
"Kak, kamar kita di sebelah mana?" tanya Stefani. "Ada 3 kamar yang terletak di lantai atas. Kalian boleh memakainya. Tapi yang satunya akan di gunakan oleh putra teman ayah. Karena sepertinya dia akan kesini." ucap pak Dedi, kepada Reno. "Biar ayah dan Anita yang memakai kamar di bawah." tambah pak Dedi.
"Ya sudah, aku akan memakai kamar di atas. Tolong bawakan tas aku kak. Aku ingin beristirahat sebentar, karena perut aku sedikit kram." ujar Stefani. Reno pun menurut dan mengikuti Stefani ke kamarnya. "Hilwa, kamu boleh memakai kamar di sebelahnya." ucap pak Dedi. "Iya ayah." Hilwa pun, berlalu menapaki tangga untuk masuk ke kamarnya.
Setelah beristirahat sejenak, mereka kembali berkumpul di ruang tengah. Saat itu hari sudah mulai siang. Terdengar suara langkah dari arah pintu utama. Semua orang menoleh, "Indra!" pekik pak Dedi, beliau langsung menghampiri seseorang yang baru saja tiba. "Apa kabar kamu Ded?, wah kamu masih saja tampan di usiamu yang sekarang." puji pak Indra. "Aahh kamu bisa saja, Ndra!, justru kamu yang semakin gagah." timpal pak Dedi. Mereka berdua saling memuji satu sama lain, dan tertawa bersama.
__ADS_1
"Oh ya kenalkan, ini istri dan anak-anakku, Ndra." ucap pak Dedi. "Kenalkan, saya Indra teman lama ayah kalian." ucap pak Indra memperkenalkan diri. Dan mereka satu persatu bersalaman dan mengucapkan nama masing-masing. Mereka sangat menyambut kedatangan pemilik villa yang mereka tempati saat ini.
"Wah! cantik sekali putrimu ini." ucap pak Indra saat Hilwa mencium telapak tangannya. Wajah Hilwa pun merona, mendapat pujian di hadapan semua orang. "Bisalah kita berbesanan dari sekarang, untuk mempererat persahabatan kita." tambah pak Indra. "Wah, sayang sekali Ndra. Hilwa ini menantu saya. Saya hanya mempunyai satu putri dan itupun sudah menikah dan mempunyai anak." jawab pak Dedi. "Wah sayang sekali. Tapi maaf ya Ded, saya tidak tahu." ucap pak Indra tidak enak hati.
"Kamu bahkan sudah mempunyai cucu dan anak-anakmu sudah menikah. Sedangkan aku hanya memiliki satu orang putra, itupun belum ada hilalnya untuk dia mempunyai istri." keluh pak Indra. "Benarkah? bukannya putramu sekarang ikut bersamamu?" tanya pak Dedi. "Iya Ded, dia masih di luar. Mungkin sedang mengecek sesuatu di sana." tunjuk pak Indra.
"Nah, itu dia." tunjuk pak Indra. Seorang laki-laki yang sangat tampan dan mempunyai kharisma berjalan menghampiri mereka. "Assalamu'alaikum" ucap putra pak Indra. "Wa'alaikum salam," serempak semua orang menjawab. "Hallo Dre, apakah kamu masih mengingat om?" tanya pak Dedi. "Tentu saja om, mana mungkin saya lupa." sahut Andre. Ya, putra pak Indra bernama Andre yang berusia 28 tahun. "Kamu makin tampan dan gagah saja, Ndre!" puji pak Dedi. "Makasih om."
"Oh ya kenalkan, ini istri dan anak-anak om." pak Dedi memperkenalkan anggota keluarganya. Semua orang saling berjabat tangan memperkenalkan diri. "Hilwa!" ucap Andre, sangat matanya menatap gadis yang berhijab itu. Tentu semua orang terkejut mendengar ucapan Andre yang mengenal Hilwa. Hilwa pun mengangkat wajahnya yang sedari tadi hanya menunduk. "Pak Andre? benarkah ini pak Andre?" ucap Hilwa memastikan. "Ya! saya Andre. Saya tidak menyangka akan bertemu kamu lagi disini." ucap Andre yang tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. "Iya pak, saya juga tidak menyangka nya." sahut Hilwa.
"Bagaimana bisa kamu mengenal menantu pak Dedi?" tanya pak Indra. Andre mengalami keterkejutannya dua kali. Mengetahui fakta bahwa gadis di depannya kini sudah menikah. "Kami tidak sengaja bertemu di acara amal waktu di sekolah di tempat tinggal kita dulu ayah." Andre berusaha menjelaskan. "Hilwa ini putri dari salah satu guru disana." tambahnya lagi. Semua orang menganggukkan kepalanya, kecuali Reno. Dia tidak suka laki-laki mengenal dan menatap istrinya seperti Andre menatap Hilwa.
Ternyata kamu sudah menikah, Hilwa. batin Andre
"Ayo kita duduk. Sejak tadi kita hanya berdiri saja." ajak pak Dedi.
Andre masih tidak menyangka kalau gadis yang dulu sempat mencuri hatinya, ternyata sudah bersuami.
__ADS_1
Sedangkan Reno merasa geram karena sejak tadi, Andre terus menatap istrinya dengan tatapan yang sulit di artikan.