DERITA MENANTU RAHIM YANG KOSONG

DERITA MENANTU RAHIM YANG KOSONG
Pergi meninggalkan rumah


__ADS_3

Saat Hilwa akan pergi dari rumahnya, saat itu hari akan menjelang magrib. Sebenarnya Hilwa tidak ingin meninggalkan rumah, tapi orangtuanya terus membujuknya untuk sedikit menenangkan pikirannya terlebih dahulu.


"Neng, bapak dan ibu bukan menyuruh kamu untuk meninggalkan suamimu, tapi kamu harus menenangkan pikiranmu terlebih dahulu. Memantapkan hati, langkah apa yang akan kamu ambil selanjutnya" ucap Bu Tini kepada putrinya. Dan akhirnya Hilwa pun luluh, dia mengikuti apa yang orangtuanya sarankan.


Hilwa pergi dengan menggunakan ojek, karena orangtuanya hanya menggunakan sepeda motor. Sepanjang perjalanan tidak hentinya Hilwa meneteskan air mata, bukan seperti ini yang dia mau.


Jika orangtuanya tidak datang dan mengetahui semuanya, mungkin dia akan terus memohon pengampunan sampai ibu mertuanya luluh. Tapi takdir berkata lain, saat ini dia harus menuruti keinginan orangtuanya dulu, agar mereka tidak terlalu mencemaskan dirinya.


Setelah menempuh perjalanan yang lumayan jauh, akhirnya Hilwa dan orangtuanya tiba di rumahnya. Mereka tiba berbarengan, karena sepanjang perjalanan orangtua Hilwa, terus mengikuti ojek yang Hilwa tumpangi.


"Ayo nak, kita masuk ke dalam. Kamu pasti lelah kan?" ajak Bu Tini kepada putrinya.


"Bersihkan diri kamu dulu, setelah ini kita makan bersama ya" ucap pak Marna yang langsung pergi ke kamar mandi.


Di dalam kamar mandi, pak Marna tidak bisa lagi menyembunyikan kekecewaannya terhadap menantu dan keluarganya. Dia meninju dinding dengan sangat keras, meluapkan semua amarah yang sejak tadi dia tahan.


"Berani sekali mereka memperlakukan putriku seperti itu, aku bahkan tidak pernah sama sekali membentak apalagi menamparnya." ucap pak Marna lirih.


Sementara di kamar, ibu mendengar semua yang suaminya ucapkan. Dia pun hatinya teriris, melihat semua yang putrinya alami. Jika dia tahu semua ini akan terjadi, mungkin dia tidak akan mengizinkan putrinya meninggalkan rumah ini.


Setelah selesai membersihkan diri dan menunaikannya sholat magrib, Hilwa ke luar dari kamar.


"Kak Hilwa" Alif yang menghampiri dan memeluknya. "Alif kangen sama kak Hilwa" Hilwa pun tersenyum, meskipun Alif sudah besar, dia tipe adik yang sangat dekat dengan kakak perempuannya.


"Kakak juga donk. Bagaimana, apakah kamu sudah jagain ibu dan bapak dengan baik, heum?" ucap Hilwa yang mengusap rambut adiknya.

__ADS_1


"Pasti kak. Alif juga sering bantuin ibu dan bapak di rumah. Tapi semenjak kak Hilwa pergi, rumah ini jadi sepi. Apa sekarang kak Hilwa akan tinggal lagi bersama kami?" ucapan Alif, membuat Hilwa mematung. Benar, apakah dia tidak akan bisa kembali lagi ke rumah suaminya?.


Di tengah lamunannya, ibu dan ayah Hilwa sudah ke luar dari kamar. Mereka tersenyum dengan hangat, setelah tadi sudah melampiaskan luapan amarahnya, kini mereka akan bersikap seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Mereka sepakat untuk tidak pernah mengungkit kejadian yang sudah menimpa putrinya.


"Ayo nak, kita makan. Tadi sebelum berangkat, ibu sudah memasak makanan untuk kita makan." ucap Bu Tini kepada anak-anak nya.


Mereka pun makan dengan sangat lahap. Mereka tertawa karena sikap Alif yang selalu menjahili kakaknya. Itulah yang selalu terjadi, sebelum Hilwa menikahi Reno. Suara tawanya selalu bisa menghangatkan rumah orangtuanya.


* * *


Sepeninggal Nayla, kehidupan Reno seperti hampa. Tidak ada lagi seorang istri yang selalu melayaninya. Tidak ada lagi bantal guling hidup yang selalu dia dekap setiap malam.


Sesekali dia menginap di rumah orangtuanya, tapi karena ayahnya tidak terlalu hangat kepadanya, dia lebih sering menyendiri di rumah.


"Kamu lihat ! istrimu sudah di bawa oleh orangtuanya, apa ini yang kamu inginkan? kamu sudah merasa bosan kepadanya? Berani sekali kamu menampar Hilwa. Selain dia istrimu, dia juga putri dari seorang ayah yang sangat mencari putrinya. Sekarang apa yang akan kamu lakukan, sebelum kamu bersujud kepada orangtuanya, mereka tidak akan membiarkan Hilwa kembali lagi padamu" ucap pak Dedi panjang lebar, setelah Hilwa pergi dari rumahnya waktu itu.


Reno yang sedang duduk termenung di tempat tidur, bernafas dalam dan mengacak rambutnya frustasi. Dia menyesal, sangat menyesal. Kenapa waktu itu, dia tidak bisa mengendalikan amarahnya, sampai membuat istri dan orangtua Hilwa kecewa.


Aku harus pergi ke rumah orangtua Hilwa, aku akan meminta maaf kepadanya, bahkan aku rela bersujud di kaki nya agar dia mau ikut kembali bersamaku. Aah, tapi bagaimana dengan orangtuanya. Apakah mereka masih mau mempercayakan putrinya kepada ku?. Gumam Rendy


Setelah tersadar dirinya akan berangkat kerja, Reno pun bergegas ke luar rumah dan menaiki mobilnya. Mobil pak Dedi yang sudah di serahkan ke Reno, karena beliau sudah tidak lagi pergi kemana-mana. Jika beliau butuh, mobil itu akan di pinjamnya kembali'.


Di tengah di perjalanan, Reno bertemu lagi dengan gadis itu. Ya, Stefani yang berada di pinggir jalan. Dia melambaikan tangan ke arah mobilnya.


Untuk apa dia melambaikan tangan ke arahku, gumam Reno. Tapi tetap saja, mobilnya pun berhenti.

__ADS_1


Setelah Reno membuka kaca jendelanya, "kak, aku nebeng lagi ya? mobilku mogok lagi." ucap Stefani ramah.


Mau tidak mau Reno membukakan pintu mobilnya. Dan Stefani langsung menaiki mobil, duduk di samping Reno.


"Untung saja ada kakak, kalau tidak, aku bisa terlambat datang ke kantor " ucap Stefani tersenyum manis.


Reno sama sekali tidak ingin menanggapinya. Stefani tersenyum kecut, ketika Reno sama sekali tidak tertarik dengan obrolannya.


Sampai Stefani tiba di tempat kerjanya, tidak ada obrolan sama sekali di antara mereka. "Makasih ya kak, atas tumpangannya. Oh ya, kalau kakak tidak keberatan, nanti pulang kerja, aku nebeng lagi ya kak. Aku tunggu di sini ya!" ucapnya yang terus berlalu menjauh dari mobil Reno.


"Tapi. . .eh" Reno tidak bisa meneruskan kata-katanya untuk menolak permintaan Stefani. Memang tidak ada yang berubah darinya, selalu seenaknya. gumam Reno geleng-geleng kepala.


* * *


"Gimana Anita, apakah kamu sudah memberitahu nak Stefani untuk tidak membawa mobilnya?" ucap Bu Tika kepada putrinya.


"Sudah Bu, sepertinya mereka sudah berangkat kerja bareng. Semoga rencana kita berhasil ya Bu" jawab Anita


"Iya, ibu harap, Reno bisa secepatnya melupakan istrinya dan mencari penggantinya. Ibu sudah tidak sabar, untuk menjadikan nak Stefani menjadi menantu ibu" ucap Bu Tika antusias.


Anita pun mengangguk, tapi sebenarnya dalam hati kecilnya dia tidak setuju dengan rencana ibunya, yang ingin memisahkan Reno dan Hilwa.


Selama ini, Reno tidak pernah mengeluhkan tentang istrinya. Tapi karena ibu selalu berkata, Reno itu putra satu-satunya di keluarga kita. Dia harus mempunyai keturunan, dan Hilwa tidak bisa memberikannya. Jadi dia terpaksa mengikuti rencana ibunya.


Semoga keputusannya ini akan membuat adiknya bahagia, karena bagaimanapun sebagai seorang kakak, menginginkan yang terbaik untuk adik tercintanya.

__ADS_1


__ADS_2