
Matahari sebentar lagi akan lenyap di telan kegelapan.
"Sepertinya bi Inah sudah selesai memasak, ayo kita makan sama-sama." Ajak Bu Tika kepada semua orang
Stefani yang awalnya ragu, terus di bujuk oleh Bu Tika, dan akhirnya mengikuti semua orang ke meja makan.
Terdapat enam kursi di sana. Reno duduk di antara Stefani dan Hilwa. Sedangkan pak Dedi duduk diantara Bu Tika dan Anita. Yang pastinya Bu Tika duduk disamping Stefani, agar wanita itu merasa nyaman.
Semua orang mengambil piring masing-masing, Hilwa dengan cekatan mengambilkan nasi dan lauk untuk suaminya. "Makasih sayang" ucap Reno
Hilwa tersenyum, dan duduk di kursinya.
"Nak Stefani, ini cumi pedas kesukaannya Reno, tolong ambilkan untuknya, nak" Bu Tika yang menyodorkan cumi pedas ke hadapan Stefani.
Tentu saja, Stefani sangat senang. Dengan sigap dia menaruh cumi pedas di piring Reno. "Makasih" ucap Reno
"Sama-sama kak" sahut Stefani
"Sayang, kamu mau sambelnya gak?" tanya Reno kepada Hilwa
"Boleh kak" Hilwa langsung menyodorkan piringnya
"Aku juga mau kak, sambelnya" Stefani tidak mau kalah.
Dan Reno pun menaruh sambel di piring Stefani.
Mereka makan dengan tenang, tidak ada suara lagi selain sendok dan piring yang saling beradu.
Selesai makan, mereka membubarkan diri. Reno dan pak Dedi pergi ke teras belakang. Anita, Bu Tika dan Stefani pergi ke ruang tamu. Sedangkan Hilwa dan bi Inah membereskan piring kotor dan membawanya ke dapur.
"Sudah, biar bibi saja neng. Neng Hilwa mending bergabung sama ibu atau den Reno." ucap bi Inah
"Nggak papa bi, lagian ada Stefani. Pasti ibu merasa terganggu kalau aku ikut bergabung." ucap Hilwa dengan gamblang
Bi inah bisa mengerti apa yang Hilwa rasakan. Akhirnya dia membiarkan Hilwa membantunya di dapur.
__ADS_1
Di ruang tamu terdengar suara ibu mertuanya yang asyik bercengkerama dengan Stefani. Tapi Hilwa tidak mendengar jelas apa yang mereka bicarakan.
Yang berada di ruang tamu, Bu Tika sangat antusias mendengarkan keseharian yang Stefani kerjakan, dan sempat menyinggung tentang hubungan Reno dengan Stefani dulu.
"Iya, ibu sangat menyayangkan kenapa kalian bisa berpisah sih dulu. Coba kalau kamu yang jadi menantu ibu, pastinya ibu akan bahagia sekali."
Stefani yang mendengar perkataan Bu Tika merasa di atas angin. "Lho bukannya, istri kak Reno itu terlihat sangat baik ya, Bu. Kenapa ibu mengharapkan ku yang jadi menantu ibu." ucap Stefani, sebenarnya dia hanya memancing, agar dia bisa mendengar Bu Tika menjelekkan Hilwa.
"Perempuan nggak cukup baik saja, dia juga harus bisa memberikan keturunan untuk suaminya. Dan istrinya Reno itu, tidak bisa memberikannya. Ibu yakin, Reno dengan sendirinya akan meninggalkan istrinya." ucap Bu Tika, dia tidak tahu, ada seseorang yang sejak tadi mendengarkan percakapan mereka, dengan muka yang memerah menahan amarah.
Ya, Hilwa sejak tadi sudah berada tidak jauh dari mereka. Hilwa yang awalnya ingin memberikan teh, untuk ibu mertua dan tamunya.
Tapi Hilwa harus mendengar ibu mertuanya yang membicarakan kekurangannya kepada perempuan lain.
Dan yang lebih parahnya lagi, Stefani yang sudah tahu Hilwa sudah berada di sana. Makanya dia sengaja memancing Bu Tika.
Hilwa memegang nampan dengan sangat kuat, dia berusaha sebisa mungkin meredam kekecewaannya.
Dia pun tetap melangkah menghampiri Bu Tika dan Stefani. "Ini teh nya Bu."
"Cukup Bu ! Seharusnya ibu katakan itu bukan kepadaku atau wanita ini. Tapi coba ibu katakan kepada putra ibu sendiri, dengan begitu dia tidak perlu repot-repot memintaku untuk kembali." Hilwa yang sudah tidak bisa menahan amarah di hatinya.
"Sudah berani kamu ya, membentak saya!" Bu Tika pun tidak mau kalah.
"Bu, sudah Bu. Nanti kedengaran ayah dan Reno." Anita yang berusaha meredam amarah ibunya
"Biarkan saja, biar Reno dan ayahmu tahu. Kalau perempuan ini, sudah tidak layak berada di tengah-tengah keluarga kita."
Deg. . .
Ucapan Bu Tika, benar-benar sudah keterlaluan.
Hilwa yang sudah tidak tahan lagi, dia keluar dari rumah itu, melewati Reno dan ayah mertuanya.
"Wa, mau kemana kamu? apa yang terjadi?" Reno terkejut melihat istrinya yang berlari ingin meninggalkan rumah dengan bercucuran air mata.
__ADS_1
"Lepasin aku kak, benar kata ibu. Tidak seharusnya aku masih berada di sini. Dan seharusnya aku tidak kembali kepadamu." Hilwa yang terus meronta
"Tunggu dulu, nak. Apa yang sebenarnya terjadi? kenapa kamu berbicara seperti itu?" tanya pak Dedi. Beliau pun terkejut dengan perkataan menantunya.
Hilwa terus meronta, dia tidak bisa mengatakan sepatah katapun. Hati dan harga dirinya begitu hancur, seakan sudah berserakan tidak berbentuk lagi.
Melihat istrinya yang terus meronta, akhirnya Reno melepaskan cengkraman tangannya.
Hilwa berlari ke rumahnya dengan Isak tangis dan cucuran air mata.
"Apa yang ibumu katakan, sehingga Hilwa menangis seperti itu" pak Dedi yang geram melihat kejadian ini.
Beliau bergegas ke ruang tamu menemui istrinya.
"Apa yang sudah kamu katakan, kepada menantumu, hah?" tanya pak Dedi yang sudah terpancing emosi.
"Memang apa yang aku katakan, aku hanya bicara apa adanya. Kalau menantu kita, tidak bisa memberikan keturunan untuk Reno" ucap Bu Tika tidak merasa bersalah.
Pak Dedi yang tidak bisa lagi menahan kemarahannya, dia hendak mengangkat tangan untuk menampar istrinya. "Ayah ! jangan" cegah Anita.
"Jangan yah, tolong maafkan perkataan ibu. Aku mohon" bujuk Anita
Pak Dedi meremas jarinya, seperti ingin meremas wajah istrinya yang tidak punya perasaan, sudah menyakiti hati menantunya berulang kali.
Wajah Bu Tika seketika berubah pias, dia tidak menyangka, suaminya akan semarah itu.
Pak Dedi pun berlalu dari hadapan mereka, ingin menghindari istrinya. Dia takut kalau masih berada di sana, tidak akan bisa lagi mengendalikan amarahnya.
Melihat suaminya yang berlalu pergi, seketika tangis Bu Tika pecah. Dia begitu shock, baru kali ini, suaminya ingin berbuat kasar kepadanya.
Tubuh Bu Tika ambruk dan tangisnya semakin menjadi. Anita dan Stefani dengan sigap menahan tubuhnya.
"Apa ibu bersalah, ibu hanya menginginkan yang terbaik untuk putra ibu. Reno satu-satunya putra ibu, dia harus mempunyai keturunan. Ibu menginginkan cucu darinya." Raungan Bu Tika begitu getir, siapa pun yang mendengarnya pasti merasa iba.
Begitupun dengan Reno, dia yang tadinya sudah terpancing emosi sama seperti ayahnya. Sekarang jadi merasa iba, sebagai putranya, dia tidak tega melihat ibunya meraung menangisi nasibnya yang belum juga di berikan keturunan.
__ADS_1
Hatinya kini bimbang, dia sangat mencintai istrinya. Tapi dia juga sangat menyayangi ibunya. Sementara ibunya, tetap bersikeras ingin mendapatkan cucu darinya, yang tidak bisa Hilwa berikan.