DERITA MENANTU RAHIM YANG KOSONG

DERITA MENANTU RAHIM YANG KOSONG
Menjemput Hilwa


__ADS_3

Saat ini Andre sedang dalam perjalanan.


Dia langsung merubah haluan saat ingin berangkat bekerja. Masalah pekerjaan bisa di nanti-nanti, kalau urusan perasaan tentu tidak bisa di tunda bukan?


"Ada apa denganku, kenapa kali ini aku begitu menginginkan seorang wanita. Begitu banyak gadis yang aku temui, tapi hanya dia saja yang mampu menggetarkan hatiku sejak pandangan pertama." gumam Andre tetapi tatapannya lurus ke depan dan tangannya tidak berhenti memegang kemudi.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, akhirnya Andre tiba di halaman rumah pak Marna. Dia bergegas keluar dari mobil, sesaat setelah dia merapikan penampilannya. "Alif!" seru Andre. Saat matanya melihat bocah laki-laki yang keluar dari rumah. "Ada apa kak!, kak Hilwa ada di dalam." sahut Alif.


"Kamu mau uang jajan nggak?" ujar Andre. "Mau-mau." seru Alif. Tentu saja siapapun tidak akan menolaknya bukan. "Tapi kamu janji harus rajin belajar dan bantuin ibu dan bapak Alif ya." ucap Andre. "Siap kak" Alif pun mengulurkan tangan. Tanpa berpikir panjang Andre merogoh isi dompetnya, dan mengeluarkan uang berwarna merah sebanyak 5 lembar. Seketika mata Alif pun berbinar, "ini banyak sekali kak. Nanti Alif di marahin ibu kalau memegang uang sebanyak ini." Alif berusaha menolak, tapi hatinya tetap senang melihat uang sebanyak itu.


"Kamu boleh kasih ke ibu dan minta belikan sesuatu untuk kamu. Sepatu misalnya." ujar Andre. "Baiklah kak. Kebetulan memang Alif ingin ganti sepatu, terimakasih ya kak." seru Alif.


Tidak lama seseorang muncul di balik pintu. "Mas Andre, Alif. Kalian sedang ada?" tanya Hilwa, karena dia mendengar suara orang sedang mengobrol di balik pintu. Andre mengisyaratkan agar Alif menutup mulutnya, dan Alif pun mengangguk. "Kalau begitu Alif pergi dulu ya, kak. Assalamu'alaikum." seru Alif dan pergi dari hadapan mereka. "Wa'alaikum salam" jawab Andre dan Hilwa bersamaan.


"Masuk Mas. Bapak sama ibu ada di dalam." ajak Hilwa. Andre pun mengekori Hilwa dan ikut masuk ke dalam. Benar saja bapak dan ibu Hilwa sedang duduk di ruang tamu. Andre pun menyalaminya secara bergantian. "Duduklah nak" pinta pak Marna.

__ADS_1


"Gimana di perjalanan, lancar nak?" tanya pak Marna. "Alhamdulillah lancar. Maafkan saya pak, kemarin saya mengajak Hilwa untuk ikut dengan saya. Apa bapak mengizinkan?" tanya Andre. "Saya tidak bermaksud apa-apa. Kebetulan butik ibu saya sedang memerlukan tambahan pegawai. Beliau ingin seseorang yang berhijab, saya kira cocok untuk Hilwa." tambah Andre.


Pak Marna manggut-manggut mendengar penjelasan dari Andre. "Bapak serahkan semuanya kepada Hilwa. Jika dia berkenan bapak akan mendukung apapun yang terbaik untuknya." tutur pak Marna.


"Kalau ibu sangat senang nak Andre. Biar Hilwa tidak terus-terusan murung kalau berdiam terus di rumah. Biar cepat move-on gitu nak." ucap Bu Tini menimpali. "Ibu tahu kata-kata move-on dari mana coba. Lagian siapa yang murung, Hilwa tidak papa kok." timpal Hilwa yang baru saja dari dapur membawakan minuman untuk tamunya.


"Ya siapa tahu kamu masih mengingat mantan suami kamu, nak. Ibu cuma khawatir kamu terlalu larut pada kenangan masa lalu kamu. Setidaknya jika kamu punya kegiatan, kamu bisa segera melupakannya dan siapa tahu kamu sampai mempunyai jodoh di kota." ucap Bu Tini secara gamblang.


"Ibu ini! Tapi mudah-mudahan sih Bu. hihi" timpal pak Marna. "Bapak sama ibu sama saja. Jadi seneng nih kalau Hilwa cepat-cepat pergi lagi dari rumah." goda Hilwa yang memasang wajah sendu. "Tidak kok nak. Bukan itu maksud kami." jawab pak Marna dan Bu Tini bersamaan. "Hihihi" seketika tawa Hilwa pecah melihat orangtuanya yang langsung panik. "Kamu menggoda kami ya, dasar anak ini. Sudah besar masih saja suka jahil sama orangtua." seru Bu Tini.


Seketika tawa pecah di antara mereka. Andre hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Hilwa kepada orangtuanya. Tidak jauh berbeda denganku kalau di rumah. hihi, gumam Andre.


Tapi seketika kedua orangtua Hilwa terlihat senyam-senyum, entahlah. Apa arti dari senyuman mereka.


"Hilwa memang nggak bawa banyak barang Mas. hanya beberapa stel pakaian dan mukena saja." sahut Hilwa. Andre pun mengangguk. "Ya sudah, kita berangkat sekarang saja Wa. Keburu kemalaman di jalan." ajak Andre. "Iya Mas. Hilwa ambil tas dulu di kamar."

__ADS_1


Selama Hilwa masuk ke kamar, banyak wejangan yang pak Marna berikan kepada Andre. " Bapak percayakan putri bapak sama kamu nak Andre. Tolong jaga dia, jika dia sudah tidak betah disana, tolong kamu antar lagi ke sini ya, nak." ujar pak Marna. "Iya pak. Insyaallah Hilwa akan betah disana. Dan terimakasih bapak sudah mempercayakan Hilwa kepada saya. Saya akan menjaga Hilwa seperti amanah bapak." sahut Andre. Bahkan jika bapak mengizinkan untuk aku mempersunting Hilwa, tentu aku akan sangat bahagia pak. hehe, ucap Andre dalam hati.


Setelah itu Hilwa berpamitan dengan orangtuanya. Ada Alif juga. "Hei ganteng, kalau mau uang saku lagi dari kakak. Kamu harus jagain ibu sama bapak Alif ya. Dan doakan semoga tujuan kakak tercapai." desis Andre di telinga bocah laki-laki itu. Alif pun mengangguk dan mengacungkan jari jempolnya tanda setuju. Walaupun dia tidak tahu apa tujuan pria dewasa itu.


Hilwa melambaikan tangan setelah masuk ke dalam mobil. Dia di antar oleh tatapan kedua orangtua beserta adiknya.


Selama di perjalanan tidak ada yang berani membuka percakapan. Mereka sama-sama merasakan kecanggungan. Hilwa hanya menatap ke samping. Dia membiarkan kaca mobil terbuka sedikit, agar udara masuk melalui celahnya. Nampak Hilwa memejamkan mata saat angin menerpa wajahnya. "Apakah masih jauh kak, eh Mas!" tanya Hilwa.


Nampak Andre tidak suka dengan apa yang Hilwa ucapkan, "ternyata apa yang dikatakan ibumu itu benar, masih ada bayang-bayang Reno di pikiranmu. Baiklah aku akan segera menggeser laki-laki itu secepatnya." gerutu Andre dalam hati.


"Masih Wa. Apakah kamu lelah?, jika iya, kita bisa beristirahat sebentar. Atau kamu juga lapar?" tanya Andre. "Nggak kok Mas. Hilwa nggak lelah ataupun lapar. Jalan saja, sebentar lagi hari akan gelap." sahut Hilwa.


"Untuk sementara nggak papa kan kalau kamu menginap di rumah Mas dulu, eum maksudnya di rumah orangtua Mas. Karena Mas belum sempat mencarikan mu tempat tinggal." ucap Andre. "Apa tidak apa-apa Mas. Nanti malah merepotkan orangtua Mas. Hilwa merasa nggak enak Mas." sahut Hilwa.


"Nggak kok. Ibu dan ayah pasti nggak keberatan. Mereka malah senang, apalagi ibu. Dia sangat menginginkan anak perempuan, apalagi menantu." ucap Andre menggoda Hilwa. Entah kenapa wajah Hilwa kini memerah. "Apa ibunya Mas Andre sudah tahu kalau Mas Andre membawa Hilwa?" tanya Hilwa cemas, dia takut Andre belum memberitahu mereka.

__ADS_1


"Ibu bahkan sudah tidak sabar ingin bertemu denganmu. Tapi jangan kaget ya, jika ucapan ibu sedikit frontal. Kamu harus terbiasa yah dengan sikapnya mulai sekarang." ucap Andre lembut.


Hilwa pun mengangguk. Dan mereka pun melanjutkan perjalanan yang hanya sebentar lagi untuk tiba di tujuan.


__ADS_2