DERITA MENANTU RAHIM YANG KOSONG

DERITA MENANTU RAHIM YANG KOSONG
BISMILLAH, aku menerimanya.


__ADS_3

Malam yang cerah dengan bintang yang bertaburan di angkasa sana. Sepertinya mereka ingin menyaksikan bagaimana cara Andre meminang pujaan hatinya.


Setelah selesai melaksanakan sholat isya, mereka sudah membawa Hilwa ke area taman belakang. Meski pakaian mereka biasa saja tapi dekorasi di tempat itu bisa di bilang cukup romantis.


Bagaimana tidak, Andre sudah menyewa jasa dekorasi dan makanan yang sangat mahal untuk acaranya malam ini. Kini area taman belakang dekat area kolam renang di hias dengan sedemikian rupa. Satu meja dengan empat kursi yang terletak di pinggir kolam sudah di hiasi dengan ornamen berwarna merah muda. Lilin-lilin kecil dan kelopak bunga bertaburan di dasar kolam renang. Meja pun tentu saja tidak luput dari lilin dan makanan yang sudah tersedia.


Hilwa nampak diam termangu melihat semua itu. Mungkin ada sebuah perayaan untuk orangtua Andre pikirnya. "Mas, apa ibu dan om sedang merayakan sesuatu?" desis Hilwa saat mereka berjalan beriringan menghampiri meja itu. Andre hanya menjawab dengan sebuah senyuman manisnya.


"Ayo sayang kita makan" ajak Bu Eva yang merangkul bahu Hilwa, dan menyuruhnya duduk di tempat yang sudah mereka rencanakan. Hilwa duduk di kursi yang menghadap langsung ke kolam itu, sehingga bisa dengan jelas melihat indahnya hiasan di sana. Ada bentuk hati juga. "Wah ternyata mereka romantis juga, hihi" gumam Hilwa yang masih dengan prasangkanya sendiri.


"Di makan Wa, bukan di lihatin terus." bisik Andre tepat di telinga Hilwa yang tertutup hijab.


Blush! seketika wajah Hilwa memerah dan dia berusaha memalingkan wajahnya ke arah lain. Bu Eva dan pak Indra hanya saling tatap dan tersenyum simpul. "Ayo kita makan dulu, sebelum acara selanjutnya di mulai." seru Bu Eva yang melihat para anak muda itu salah tingkah.


Merekapun serempak mengambil sendok dan garpu untuk memulai mencicipi makanan tersebut. Hilwa pernah merasakan makanan ini terakhir bersama Reno saat dirinya dulu di jemput dari rumah orangtuanya. Meski berusaha menampiknya tapi kenangannya bersama Reno selalu saja singgah, dan saat itu juga dia selalu membuangnya jauh. Hilwa selalu menyangka bahwa mantan suaminya kini sudah bahagia bersama keluarga barunya, apalagi mereka sudah dikaruniai seorang anak. Karena perkiraan Hilwa, Stefani sudah melahirkan.


Setelah mereka selesai memakan hidangan tersebut, kini acara yang di tunggu-tunggu pun akan di mulai.

__ADS_1


Andre turun dari kursi dan berlutut dengan satu kaki sebagai penyangganya. Dia mengeluarkan sebuah kotak persegi kecil yang berwarna merah dari dalam saku jasnya. Tentu Hilwa terkejut karena melihat Andre yang berlutut di samping dirinya. "Mas!" ujar Hilwa menggantung,


"Mungkin menurutmu waktunya belumlah tepat, tapi saat ini Mas sudah tidak bisa menundanya lagi. Setelah melihatmu untuk pertama kalinya, entah kenapa Mas sudah merasakan hal yang berbeda. Mungkin itu yang dinamakan jatuh cinta pada pandangan pertama. Setelah lebih mengenalmu lagi, Cinta itu sudah sulit Mas bendung, hingga detik ini cintaku semakin bertambah. Hilwa Anindya, maukah kamu menerima cinta ini dan hiduplah bersamaku." ucap Andre jelas tanpa keraguan.


Deg!


Apa ini? kenapa Mas Andre seperti ini?. batin Hilwa, dia berusaha berdiri dari duduknya.


Dia melihat ayah dan ibu Andre sedang menatapnya. "Mereka pun sudah tahu, dan apakah ini rencana mereka?" hanya batin Hilwa yang berucap, dia sama sekali belum mengucapkan sepatah katapun.


"Mas, kenapa kamu melakukan semua ini dan kenapa aku yang kamu cintai. Aku sama sekali tidak pantas di miliki oleh siapapun Mas" jawab Hilwa. Saat ini dia benar-benar tidak mempunyai kepercayaan diri lagi, jika harus bertanding dengan laki-laki manapun.


"Tidak Wa, Mas tidak segampang itu bisa mencintai seseorang. Hanya kamu Hilwa yang bisa membuat Mas jatuh cinta." kekeuh Andre.


"Iya Hilwa, Andre sama sekali belum pernah memperkenalkan wanita lain selain dirimu. Jadi kamu tidak usah meragukan cintanya." sela Bu Eva.


"Bagaimana ini? aku bahkan sama sekali tidak pernah membayangkan untuk menikah lagi. Aku terlalu takut Mas, untuk membina rumahtangga lagi. hiks" lirih Hilwa yang hanya bisa di dengar oleh Andre. Kini tubuhnya merosot ke lantai.

__ADS_1


"Hilwa, tatap mataku! apa ada keraguan atau kebohongan. Mas janji, akan menerima kamu dan bersedia membahagiakan kamu. Hanya kamu Hilwa, wanita yang Mas cintai." seru Andre yang kini menggenggam tangan Hilwa yang menahan Isak tangisnya. "Jangan ragukan cinta ku. Mas ingin menjadi sandaran dan pelindungmu. Terimalah cinta ini. Aku janji akan membuatmu wanita paling bahagia." tambahnya.


Melihat Hilwa yang terisak, sampai membuat Bu Eva menghampirinya. Dia merangkul tubuh Hilwa dan membenamkan di dadanya. Meski dia tidak tahu apa yang Hilwa rasakan saat ini, tapi beliau ingin merangkul gadis yang sangat di cintai putranya. Ya, Bu Eva belum tahu apa yang pernah di alami Hilwa.


"Sudah sayang. Jika kamu keberatan untuk menerima pinangan putra ibu, tidak papa sayang. Jangan menangis seperti ini." lirih Bu Eva berucap dan mengusap bahu Hilwa.


"Aku hanya tidak pantas di miliki oleh orang lain Bu, aku tidak cukup pantas untuk Mas Andre." sahut Hilwa lirih. "Tidak sayang, jangan bicara seperti itu. Kamu sangat pantas untuk putra ibu dan jadi menantu ibu. Ibu pun sangat mengharapkannya." ujar Bu Eva menenangkan Hilwa.


Hilwa yang tadinya terus tertunduk, kini menatap wajah Bu Eva dan Andre. Dia melihat suatu harapan untuk dirinya bisa menerima pinangan itu.


"Bagaimana Hilwa? kamu mau kan menerima lamaran Andre dan menjadi menantu kami?" kini pak Indra yang ikut menimpali setelah tadi beliau hanya diam menyaksikannya.


Hilwa menjawab dengan satu tarikan nafas, "Iya Mas, BISMILLAH Hilwa menerima pinanganmu." jawab Hilwa yakin.


"Alhamdulillah" ucap mereka serempak. Andre tidak menunda lagi untuk memakaikan cincin yang sudah dia persiapkan. Dia memakaikan cincin bermata indah itu di jari manis Hilwa. Dia ingin sekali memeluk gadis itu, tapi yang dia lakukan hanya mencium tangannya saja.


"Bangunlah nak!" ucap Bu Eva yang masih merangkul tubuh Hilwa yang tadi sempat terduduk di lantai. "Hilwa, jika Andre mengingkari janjinya, Om sendiri yang akan memukulnya." seru pak Indra, "Ibu juga yang akan menjewer telinganya, dan ibu tidak akan segan mengeluarkannya dari daftar keluarga kita, hehe." timpal Bu Eva yang membuat Andre dan pak Indra menggelengkan kepalanya, sedangkan Hilwa hanya tersenyum.

__ADS_1


Dia begitu terharu, melihat kasih sayang orangtua Andre yang sudah dia rasakan selama beberapa bulan ini. Meski dia juga sebenarnya mempunyai perasaan yang sama terhadap laki-laki yang kini sudah meminangnya, tapi dia selalu berusaha menampik dan membuang jauh-jauh perasaan itu sebelum perasaan itu semakin tumbuh. Karena bagaimanapun tidak ada yang bisa menolak pesona Andre, laki-laki mapan juga tampan.


Hilwa sama sekali tidak menyangka bahwa Andre juga menaruh hati padanya. Dia kira hanya rasa kasihan, karena Andre tahu, bagaimana Hilwa mengalami kehidupannya sebelumnya. "Mudah-mudahan keputusanku ini sudahlah tepat. Aku hanya ingin di sayangi dan di lindungi, dan Mas Andre janji akan melakukan semua itu untukku." ucap Hilwa dalam hati.


__ADS_2