
"Mau kemana Bu, bawa-bawa sisa makanan segala." tanya Anita kepada ibunya yang sedang membungkus sisa lauk yang ada di meja.
"Mau ibu bawa untuk Stefani. Kasian kan, mungkin dia belum makan. Kata Reno tadi dia belum bisa memasak, nanti cucu ibu yang ada di perutnya kelaparan." imbuh Bu Tika. "Ya, tapi kan kenapa harus sisa si Bu. Kan Stefani bisa beli di warung makan." jawab Anita mengingatkan.
"Alah itu pemborosan namanya. Masa setiap kali dia makan harus beli sih." timpal Bu Tika tidak setuju dengan ucapan putrinya. "Ya sudah terserah ibu lah. gimana baiknya menurut Ibu saja." sahut Anita pasrah.
"Ya sudah coba kamu bantu bereskan piring kotor ini. Ibu mau menemui Stefani dulu." ucapnya dan berlalu dari hadapan Anita.
Tidak lama setelah Bu Tika tiba di rumah Reno.
"Astaga Stefani!" pekik Bu Tika yang baru saja datang ke rumah putranya. Dan melihat keadaan rumah yang sangat berantakan. Sampah plastik berserakan, lantai pun berdebu, tidak sampai di situ piring kotor pun menumpuk di wastafel. Bu Tika seketika termenung melihat keadaan rumah putranya yang tidak seperti biasanya yang rapi dan bersih.
"Ada apa sih Bu, kenapa pagi-pagi sudah teriak. Kepalaku masih pusing Bu." sahut Stefani yang baru saja keluar dari kamarnya.
Mulut Bu Tika menganga melihat penampilan Stefani yang masih berantakan. Dia masih mengenakan baju tidurnya dan rambutnya yang terlihat acak-acakan. "Mungkin kalau kamu belum bisa memasak ibu masih bisa memakluminya. Tapi lihatlah keadaan di sekelilingmu Stefani, apa kamu tidak merasa risih melihatnya dan bagaimana bisa seorang perempuan jam segini masih terlihat berantakan. Benar kata Anita kamu berbeda sekali dengan Hilwa yang rajin dan gesit." gerutu Bu Tika.
"Kenapa harus Hilwa lagi sih Bu. Tadi kak Rendy yang membandingkan ku dengan si Hilwa itu. Aku ya aku, dia ya dia. Kami sama sekali tidak bisa dibandingkan. Karena tetap saja dia wanita yang mempunyai rahim yang kosong." sungut Stephani tidak terima.
"Ah sudahlah Ibu malas berdebat pagi-pagi dengan kamu. Ternyata kamu wanita yang pemberontak juga ya. Tidak seperti Hil-,"
__ADS_1
"Hilwa lagi maksud ibu. Kenapa Ibu sekarang jadi memuji dia sih." Stefani menyanggah perkataan Ibu mertuanya dan melengos begitu saja. "Heh Stefani kenapa kamu pergi begitu saja, tidak sopan kamu. Lagian saya ke sini membawakan makanan untuk kamu." sergah Bu Tika.
Mendengar kata makanan Stefani kembali berbalik, "Makanan? sini Bu kebetulan perut saya sudah lapar." Stephani mengulurkan tangannya meminta makanan itu. "Ini. Hilwa yang memasak. kebetulan hari ini dia banyak sekali memasak makanan. Jadi ya banyak sisa deh."
"Apa?! sisa Bu?. Yang benar saja masa makanan sisa di kasih ke saya si Bu." timpal Stefani. "Alah sudah makan saja. Lagian sisa juga bukan dari tempat sampah. Cuma sisa bekas sendok saja." ujar Bu Tika. "Bukannya kamu nggak bisa masak. Udah makan jangan manja." ucapnya lagi.
Mau tidak mau Stefani mengambil makanan itu. Biarlah aku buang saja setelah ibu pulang. gumam Stefani dalam hati. "Kamu siap-siap karena sebentar lagi kita akan kedatangan keluarga ayahnya Reno. Kalau kamu ingin kita kenalkan kepada mereka. Datang saja ke rumah." pungkas Bu Tika dan berlalu dari hadapan Stefani.
Dan benar saja setelah ibu mertuanya pergi, Stefani langsung membuang makanan yang ibu mertuanya bawa dengan sengaja untuknya. "Udah sisa, masakan si Hilwa lagi. Nggak sudi aku memakannya." seru Stefani dan langsung pergi keluar rumah.
Dia berjalan kaki menuju warung makan terdekat. Sepanjang perjalanan dia bertemu dengan ibu-ibu di sekitarnya. Tatapan mata mereka memandangnya sinis. Entahlah apa yang mereka katakan tapi terlihat mulut mereka komat-kamit.
"Nasi dan lauknya satu ya Bu, bungkus." pinta Stefani. "Emang nggak masak neng?" tanya ibu-ibu yang sedang memesan makanan juga. "Hem nggak Bu. saya lagi malas." jawab Stefani tersenyum kikuk. "Padahal neng Hilwa selalu rajin memasak lho. Kemana dia?" tanya ibu itu, bukan pertanyaan sih, terdengar seperti ledekan. "Oh ya Bu. Saya dengar, neng Hilwa itu mengalah dan tinggal di rumah pak Dedi lagi. Demi pelakor itu." desis ibu lainnya ke telinga temannya, tapi masih bisa di dengar oleh stefani. Seketika mata ibu-ibu melotot tidak percaya. "Kasihan sekali ya neng Hilwa itu. Padahal dia gadis yang baik tapi rumahtangganya hancur gara-gara pelakor." sungut para ibu. Ada tiga orang ibu-ibu yang sedang mengantri disana.
"Huh pelakor aja, sok-sokan belaga. Ngeri ya Bu, pelakor jaman sekarang sudah tidak tahu malu lagi. Dengan bangganya dia bisa dengan mudah masuk dan menghancurkan rumahtangga perempuan sebaik neng Hilwa itu. Nauzubillah, jangan sampai putri-putri kita ataupun rumahtangga kita di ganggu sama pelakor ya Bu." ujar salah satu ibu. Ibu-ibu yang lainnya mengangguk dan bergidik ngeri membayangkannya.
"Selalu saja si Hilwa yang di puji. Apa bagusnya sih dia. Huh dasar wanita kok rahimnya kosong sih." gerutu Stefani malah meledek Hilwa yang tidak tahu apa-apa.
* * *
__ADS_1
Siang hari telah tiba.
Benar saja keluarga dari pak Dedi pun sudah datang. Sepasang suami istri dan 2 orang anaknya. Sama seperti pak Dedi yang mempunyai satu putri dan putra, hanya saja anak pertama mereka laki-laki.
Pak Diki adik dari pak Dedi yang tinggal jauh di seberang sana, menyempatkan waktu untuk mengunjungi kakak laki-lakinya. "Siap-siap Mas, dalam tiga hari ini kami akan sangat merepotkan kalian." ucapnya yang sedang menyalami semua anggota keluarga.
"Tidak masalah, Mas senang direpotkan oleh kalian." sahutnya dan membuat gelak tawa semua orang. "Ayo silahkan duduk" ajak pak Dedi.
Hilwa dan bi Inah pun menghampiri mereka dengan membawakan minuman dan berbagai camilan dan menaruhnya di atas meja.
Deg!, jantung seorang pemuda yang duduk di samping pak Diki bergetar hebat. "Kamu masih seperti dulu Hilwa. Tidak ada yang berubah sama sekali." gumam putra pak Diki, Ivan.
Ya. Pemuda itu sejak dulu mengagumi dalam diam istri dari sepupunya itu. Entahlah sejak dulu, dia sudah tertarik dengan sosok gadis manis itu. Mungkin, karena mempunyai selera yang sama dengan Reno. Itu mungkin!.
Hilwa pun menyalami mereka semua dan selalu tersenyum manis. "Apa kabar Hilwa?" tanya pak Diki. "Alhamdulillah baik paman. Paman dan bibi juga bagaimana kabarnya?" tanya Hilwa balik. "seperti yang kamu lihat sekarang, nak. Paman selalu tampan dan gagah bukan, hahaha." sahut pak Diki dan membuat semua orang menggeleng. "Tentu paman. Paman selalu terlihat tampan dan gagah." ucap Hilwa mengiyakan ucapan pak Diki.
"Aku juga baik lho kak." celetuk anak perempuan pak Diki yang bernama Amira. Dia sama seperti Hilwa yang memakai hijab. Hilwa pun menoleh dan tersenyum ke arah gadis itu. "Ayo sini duduk disamping ku kak." ajak Amira. "Kakak bahagia bisa bertemu dengan kamu lagi, gadis manis." ucap Hilwa yang memeluk Amira. "Aku juga kak. Kita bisa mengobrol banyak sekarang, karena 3 hari kami akan tinggal disini." sahut Amira antusias. "Oh ya. Ayo tidur di kamar kakak. Kakak juga tinggal disini." ajak Hilwa. "Lho! bukannya ada kak Ren-" Ucapan Amira menggantung karena melihat kedatangan seorang wanita lain yang belum pernah dia lihat sebelumnya.
Semua mata tertuju kepada Stefani yang baru saja datang ke rumah. Dengan sangat percaya diri dia menghampiri semua orang. "Oh ya kenalkan. Dia istri kedua Reno, Stefani." ujar Bu Tika yang melihat tatapan mata mereka seolah bertanya siapa wanita itu.
__ADS_1
Tentu saja semua orang terkejut mendengarnya. Sejak kapan Reno menikahi lagi. Dan apakah wanita ini sedang hamil. Kasihan sekali hilwa. ucap semua orang dalam hati.
Begitupun Ivan. Dia benar-benar tidak menyangka, Reno bisa menduakan gadis sebaik Hilwa. "Tentu kalau dia jadi istriku. Aku tidak akan pernah menyia-nyiakannya." seru Ivan dalam hati.