DERITA MENANTU RAHIM YANG KOSONG

DERITA MENANTU RAHIM YANG KOSONG
Hari pertama


__ADS_3

Pagi yang cerah, cocok sekali untuk mereka yang ingin memulai pekerjaan baru. Seperti halnya Hilwa saat ini. Setelah habis sholat subuh dia langsung turun ke dapur.


Ada seorang wanita yang berusia sekitar 40 tahunan sedang mulai menyiapkan untuk sarapan. "Permisi, boleh saya bantu bi?" tanya Hilwa yang menghampirinya. Wanita itu pun menoleh, "eh neng tidak perlu. Neng kan tamu disini, jadi neng hanya duduk manis saja. Biar bibi yang mengerjakan ini." jawab wanita itu. "Tapi saya tidak enak bi kalau harus berdiam diri, izinkan saya membantu ya bi." paksa Hilwa. "Ya sudah, kalau memang neng memaksa." ucap wanita itu pasrah.


"Panggil saja Hilwa bi." ujar Hilwa memperkenalkan diri. "Saya Siti neng Hilwa, panggil saja bi Siti." wanita itu juga memperkenalkan dirinya. Dan mereka berdua melakukan aktivitas pertama mereka di dapur.


Bu Eva mendengar tawa renyah dari bibir Hilwa saat sedang mengobrol dengan pembantunya. Seutas senyum terbit dari bibirnya. Entahlah, apa arti senyuman itu. "Lho Hilwa juga disini. Kenapa kamu repot-repot nak." ujarnya.


"Iya nyonya, neng Hilwa ini maksa ingin membantu bibi." tambah bi Siti. "Nggak papa Bu, lagian Hilwa sudah terbiasa membantu ibu di rumah." sahut Hilwa. "Ya sudah ayo kita ke meja makan, sepertinya makanannya sudah siap." ajak Bu Eva. "Iya Bu" Hilwa pun mengikuti Bu Eva dengan membawa nampan berisikan beberapa cangkir teh.


Ternyata pak Indra sudah lebih dulu duduk di kursinya. "Apa om suka teh?" tanya Hilwa yang sudah berada di meja makan. "Oh iya tentu Hilwa. Kamu bawakan teh buat om?" sahutnya. "Ini om, mudah-mudahan teh nya sesuai selera om. Biasanya ayah Dedi yang suka Hilwa buatkan teh ini." ujar Hilwa.


Pak Indra pun mengangguk dan meneguk teh hangat itu. Satu, dua seruput pak Andre meneguknya, "wah ternyata benar ya, memang teh buatan kamu ini nikmat. Pantas saja Dedi selalu memuji teh buatan kamu" seru pak Indra. "Syukurlah kalau om menyukainya juga." sahut Hilwa. "Kamu wajib coba Bu teh ini." ucap pak Indra kepada istrinya.


"Wah, apa ini. Apanya yang harus di coba ayah?" tanya Andre yang sudah datang menghampiri mereka. "Iya ini enak lho. Wah bakal ketagihan ini, sering-sering ya buatkan teh untuk kami Hilwa." timpal Bu Eva.


"Mas Andre juga mau minum teh?" tawar Hilwa. "Boleh, Mas sebenarnya jarang ngeteh. Paling nyusu" ucap Andre tidak sadar.


"Aww, Bu! apa-apaan sih kok jewer kuping Andre. Memang salah ya kalau Andre suka minum susu." gerutu Andre. "Ya nggak salah kalau kamu suka minum susu. Yang salah itu kalau kamu nyusu." sergah Bu Eva. "Emang apa bedanya coba, minum susu sama nyusu." sahut Andre tidak terima.

__ADS_1


"Nanti kalau kamu sudah menikah baru tau rasanya nyusu." timpal pak Indra terkekeh. Tapi akhirnya mendapatkan pelototan dari istrinya. Andre hanya mengedikkan bahunya acuh, entah dia memang polos atau sedang loading.


"Sudah-sudah, ayo kita sarapan. Nanti keburu kesiangan. Ini kan hari pertama Hilwa bekerja di butik." perintah Bu Eva. Akhirnya mereka pun sarapan dengan tenang.


* * *


Setelah sarapan mereka bergegas pergi dengan mobil masing-masing. Sebenarnya Bu Eva jarang pergi ke butik, karena dia sudah mempercayakan semuanya kepada para pegawainya. Hanya sesekali beliau memantau keadaan di sana. Dia hanya menemani suaminya di rumah tapi sesekali ikut bersosialisasi dengan ibu-ibu arisan.


"Ini butik ibu, Hilwa. Tidak terlalu besar, tapi lumayan kan kalau untuk sekedar mengisi dompet ibu" ujar Bu Eva yang tersenyum simpul. "Ayo masuk" ajak Bu Eva.


Saat pintu dibuka, sudah ada 2 orang pegawai yang menyambutnya. "Selamat pagi Bu." sapa para pegawai. "Selamat pagi cantik" sahut Bu Eva. "Kenalkan ini Hilwa, pegawai baru disini. Dia yang akan memegang bagian busana muslim. Tolong bimbing dia ya." perintah Bu Eva.


"Hai Hilwa. Selamat bergabung, saya Mira dan ini Sindi." ucap salah satu pegawai kepercayaan Bu Eva. "Saya Hilwa. Mohon bimbingan untuk kedepannya mbak" sahut Hilwa karena memang usia mereka berada di atas Hilwa.


Hilwa cepat sekali tanggap. Dia langsung memahami bagaimana tugasnya. Dan dia gampang sekali berbaur karena dia tipikal orang yang sederhana dalam bersikap dan berucap, sehingga siapapun yang mengenalnya akan langsung menyukainya.


"Hilwa, ibu pergi dulu ya. Nanti kalau sudah jam pulang, ada sopir ibu yang akan menjemputmu." seru Bu Eva yang hendak pergi. "Iya Bu. Hati-hati di jalan." sahut Hilwa. Bu Eva hanya membalas dengan senyuman.


Seharian ini hilwa mengerjakan pekerjaannya. Banyak pelanggan yang berdatangan. Sepertinya hari ini butik mendadak ramai sekali. Hilwa dengan sigap melayani mereka.

__ADS_1


"Bagaimana menurut Adek, apa hijab ini bagus untuk saya?" tanya seorang wanita. "Sepertinya ini kurang cocok Bu. Bagaimana kalau yang ini, mungkin akan lebih pas di wajah ibu." ucap Hilwa yang memberikan hijab dengan warna yang lain.


Ibu itu pun menuruti Hilwa dan segera memakai hijab yang dipilihnya. "Wah iya yah, ini lebih cocok untuk wajah saya. Tidak salah yah Bu Eva mempekerjakan kamu di butik ini." ucapnya memuji Hilwa.


Hari ini banyak sekali pelanggan yang puas karena pelayanan Hilwa. Dan mereka pun berjanji akan menjadi pelanggan tetap di butik itu.


Saat menjelang waktu pulang Hilwa sudah menunggu jemputan yang di janjikan Bu Eva. Dia berdiri di depan butik yang susah tertutup. Semua rekannya sudah lebih dulu pulang. Tidak lama mobil berwarna hitam yang dia kenali menghampirinya. "Mas Andre? kenapa Mas kesini?" tanya Hilwa yang melihat Andre keluar dari dalam mobil itu.


Sebelum menjawab pertanyaan Hilwa, Andre lebih dulu menyunggingkan senyum terbaiknya. "Mas kebetulan lewat sini, Wa. Jadi sekalian Mas jemput kamu, biar sekalian kita pulang ke rumah." jawab Andre.


"Mas pulang jam segini juga. Kebetulan sekali ya. Tapi kata ibu, akan ada sopir yang menjemput Hilwa. Bagaimana kalau dia kesini." ucap Hilwa. "Gampang biar Mas yang kabari ibu, kalau kamu pulang denganku." sahut Andre tidak habis akal.


Hilwa pun akhirnya ikut masuk ke dalam mobil Andre. "Cape, Wa?" tanya Andre basa-basi. "Lumayan Mas. Hari ini kata mbak Mira, butik mendadak ramai sekali. Jadi banyak pelanggan yang Hilwa layani. Tapi Hilwa senang Mas, tidak terasa yah hari ini cepat berlalu." ujar Hilwa.


"Syukurlah kalau kamu senang. Semoga kamu betah yah bekerja disini. Tapi walaupun kamu cape, tapi kok tetap cantik ya" gombal Andre.


"Apaan sih Mas, garing banget deh. Muka lepek kaya gini di bilang cantik. Ketahuan bohong nya." sanggah Hilwa.


"Kok bohong sih. Mas jujur lho. Atau mata Mas yang sudah lelah kali ya, penglihatan Mas jadi kabur, haha." seru Andre. "Kalau itu baru Hilwa percaya." sahut Hilwa menanggapi perkataan laki-laki yang duduk disampingnya.

__ADS_1


Mereka pun akhirnya tergelak bersama.


"Hilwa. Aku bahagia bisa melihat tawa di bibirmu. Semoga hari ini dan seterusnya hanya kebahagiaan yang akan kamu rasakan. Dan aku menjadi salah satu penyebab kebahagiaan mu itu." batin Andre yang terus menatap Hilwa yang tersenyum.


__ADS_2