
Saat ini Reno sedang ikut sarapan di rumah orangtuanya. Karena Stefani sedang merajuk akibat pertengkarannya tempo hari. Mereka jadi semakin renggang, saling acuh. Hanya bayinya yang membuat Reno masih bolak balik ke rumahnya. Menunjukkan perhatian dan kasih sayangnya.
Kini kehidupan mereka sangatlah hampa. Benar, Reno hanya terikat karena anaknya saja, tanpa ada cinta untuk istrinya.
Mereka kini hanya bertiga, karena Anita sudah ikut suaminya lagi ke luar kota. "Pak Indra menyuruh ayah untuk datang ke villa nya lagi. Katanya untuk merayakan putranya yang sudah berhasil melamar pujaan hatinya." ujar pak Dedi memulai percakapan.
"Maksud ayah Andre? Om Indra kan hanya mempunyai satu putra. Tapi siapa yang telah di lamar nya?" sahut Reno. "Apa jangan-jangan Hilwa yang di lamar putra pak Indra itu." timpal Bu Tika. Dan sontak semua orang pun terkejut, termasuk pak Dedi. Karena pak Indra tidak memberitahu lebih detailnya tentang siapa yang di lamar oleh putranya.
"Sial! aku harus memastikan siapa yang di lamar Andre." gumam Reno. "Ayah, apa ayah tidak ingin memastikan siapa tahu Hilwa lah yang di lamar Andre?" ujar Reno. "Biarlah, ayah juga setuju jika Andre yang akhirnya menjadi pendamping Hilwa. Dia pemuda yang baik dan mapan. Dan orangtua Andre sangat menyayanginya." sahut pak Indra.
"Aku akan berangkat ke villa om Indra sekarang juga." seru Reno, "ibu juga ikut. Ibu ingin memastikan jika benar Hilwa yang di lamar Andre." timpal Bu Tika.
"Untuk apa kalian datang ke sana. Nanti malah bikin rusuh, ayah tidak mau membuat hubungan ayah renggang dengan sahabat ayah. Biarkan saja jika benar Hilwa lah orangnya." sela pak Dedi.
"Pokoknya aku akan kesana, jika ayah dan ibu mau ikut, jika tidak, nggak papa. Setidaknya kita harus memberikan ucapan selamat bukan untuk mantan istriku." ujar Reno tersenyum menyeringai.
Dan akhirnya mau tidak mau pak Dedi pun ikut dengan Reno berserta istrinya. Setelah selesai sarapan mereka langsung melakukan perjalanan ke villa yang pernah mereka kunjungi.
* * *
Pagi-pagi sekali hilwa sudah menyiapkan sarapan di dapur. Memang mereka tidak membawa ART karena tidak berniat berlama-lama untuk berkunjung ke villa ini.
Sebenarnya setelah sarapan mereka berniat pulang, karena tujuan mereka sudah berhasil semalam. Pak Indra dan Bu Eva baru saja keluar dari dalam kamar. "Wah calon menantu kita gesit sekali ya Bu, pagi-pagi sudah berada di dapur" ujar pak Indra. "Iya yah, Andre tidak salah memilih calon istri." sahut Bu Eva. Hilwa hanya tersenyum menanggapi perkataan calon mertuanya, tapi tetap saja wajahnya bersemu merah.
"Ini om" Hilwa menyerahkan secangkir teh hangat kesukaannya. "Ibu sedang diet ya, Hilwa. Jadi tidak minum teh." ucap Bu Eva tersenyum hangat.
__ADS_1
"Mulai sekarang panggil ayah saja, sama kaya Andre. Karena sebentar lagi kamu akan menjadi bagian dari keluarga kami." ucap pak Indra setelah beliau menyeruput teh nya. "Iya ayah" seru Hilwa.
Andre baru saja turun dari dalam kamarnya. "Kenapa mata kamu layu Ndre, apa semalam kamu tidak tidur?" tanya Bu Eva. "Andre nggak bisa tidur Bu" sahutnya. "Lho kenapa, harusnya kamu tidur nyenyak donk, karena keinginanmu sudah tercapai." ujar Bu Eva. "Justru itu Bu, aku sudah tidak sabar untuk melegalkan nya" jawab Andre secara gamblang.
"Eh Hilwa, Mas kira kamu masih di dalam kamar." ujar Andre yang salah tingkah. "Emang enak ketahuan kamu sudah kebelet." desis pak Indra di telinga Andre dan berlalu begitu saja. Bu Eva pun hanya senyum-senyum melihat putranya yang salah tingkah dan wajah Hilwa yang memerah.
"Mas, mau teh juga?" tanya Hilwa yang mencoba mencairkan suasana. "Boleh say- eh Hilwa." Andre pun hampir keceplosan dia ingin sekali memanggil Hilwa dengan panggilan sayang. Tapi dia masih ragu, karena belum halal. "Mas tunggu di meja makan ya." ucap Andre. Hilwa hanya mengangguk.
Saatnya mereka sarapan. "Kamu Sepertinya sudah terbiasa memasak ya Hilwa. Masakan kamu semuanya enak." ucap Bu Eva. "Iya Bu Hilwa sering memasak di rumah Hilwa yang dulu." sahut Hilwa. "Maksudnya di rumah orangtua kamu?" tanya Bu Eva lembut. "Di rumah mantan suam-" ucapan Hilwa menggantung, karena mereka tiba-tiba kedatangan beberapa tamu.
"Assalamualaikum" ucap seorang laki-laki paruh baya yang seusia dengan pak Indra. "Wa'alaikum salam" jawab mereka serempak.
"Lho Ded, kamu kesini juga. Kenapa tidak bilang dulu. Hampir saja, kami sebentar lagi akan pulang." seru pak Indra yang berdiri dari duduknya. Mereka kedatangan tamu tiga orang.
Sementara pak Dedi dan pak Indra saling sapa, yang lain sepertinya terkejut karena kedatangan tamu yang mereka tidak pernah duga sebelumnya. Tapi Bu Eva yang sudah mengenal baik pak Dedi, menghampirinya. "Lho kenapa nggak bilang-bilang Mas kalau mau kesini, jadi kami bisa mempersiapkan sesuatu." ujar Bu Eva yang menyalami tamunya.
Sementara Hilwa dan Andre hanya termenung, apa maksud dari kedatangan mereka. Tapi Hilwa tetap saja menghampirinya. Yang pertama dia sapa adalah mantan ayah mertuanya. "Ayah, bagaimana kabarnya?" sapa Hilwa dan mencium telapak tangan pak Dedi. "Ayah baik Wa, bagaimana keadaan kamu, heum?" tanya pak Dedi. "Alhamdulillah Hilwa baik, Hilwa senang bisa bertemu ayah lagi."Ujarnya. "Wa, syukurlah kamu baik-baik saja" ujar Reno yang sedari tadi tidak luput menatap mantan istrinya.
"Iya kak, kakak baik juga kan?" tanya Hilwa memastikan. "Kakak juga baik, Wa." sahut Reno, karena tidak mungkin dia bilang kalau dia tidak baik-baik saja. Apalagi setelah melihat Hilwa benar-benar ada di tempat ini. Yang pasti benar dugaannya, kalau wanita yang di lamar Andre adalah mantan istri tercintanya.
"Ibu juga senang kamu baik-baik saja Hilwa. Kamu sedang apa disini? Mana orangtua kamu?" berondong Bu Tika, tapi yang jelas dia sudah tahu jawabannya. Melihat Hilwa yang hanya diam saja, membuat Bu Eva membuyarkan percakapan mereka, walaupun dia tidak tahu kenapa Hilwa bisa di kenali oleh keluarga sahabat suaminya. "Ayo kita duduk dulu." ajaknya.
Dan semua orang pun berjalan ke arah ruang tamu.
"Biar Hilwa yang ambilkan minum Bu" Ucapnya dan segera bergegas ke dapur. Sementara semua orang sedang saling bertukar sapa, Reno pamit dari hadapan mereka. "Om, Reno ke toilet dulu ya." pamitnya. Andre yang tahu kemana tujuan Reno sebenarnya mengikuti nya dan juga pamit.
__ADS_1
"Hilwa, sedang apa kamu disini?" tanya Reno yang memang pergi ke dapur untuk menemui mantan istrinya. "Kak, kenapa kamu kesini?" Hilwa yang terkejut malah balik bertanya.
"Jawab dulu pertanyaan ku. Sedang apa kamu disini? dan kenapa kamu berada di tengah-tengah mereka?" desak Reno dan mencengkram pergelangan tangan Hilwa. "Lepasin tangan Hilwa kak, Hilwa tidak mau membuat mereka salah paham." ucapnya yang berusaha melepaskan cekalan tangan Reno.
Reno yang tidak juga melepaskan cekalan tangannya, "lepasin Hilwa. Jangan ganggu dia lagi. Kamu sudah tidak ada hak apa-apa lagi terhadapnya." ucap Andre yang sejak tadi menguping pembicaraan mereka.
Dengan sekuat tenaga Hilwa melepaskan tangan Reno. "Mas, ini tidak seperti yang kamu-" perkataan hilwa menggantung, "tidak sayang. Jangan katakan apapun. Mas percaya sama kamu." sela Andre.
Reno yang mendengar Andre memanggil Hilwa dengan sebutan sayang tentu membuat darahnya mendidih. "Kurang ajar! Kamu sudah merebut Hilwa dariku." sergah Reno yang mencengkram kerah Andre.
Andre hanya menanggapinya dengan tersenyum sinis. "Apa anda tidak salah ucap. Merebut Hilwa? jelas-jelas dia bukan siapa-siapa lagi untuk anda. Dan siapapun berhak untuk memilikinya." sahut Andre santai.
"Kak! lepaskan Mas Andre. Kenapa kamu seperti ini." geram Hilwa melihat tingkah mantan suaminya. "Hilwa kenapa kamu bersamanya. Kembalilah kepadaku sayang, kakak sangat tersiksa setelah berpisah denganmu." akhirnya Reno mengakuinya dengan wajah yang memelas.
Deg!
"Apa maksud kakak? jangan pernah bilang seperti itu. Kita sudah berpisah kak. Dan kamu sudah mempunyai Stefani dan anak yang selalu kamu inginkan bukan?" sahut Hilwa. Yakinlah dia sedang berusaha mengendalikan amarahnya. Kenapa tiba-tiba Reno berbicara seperti itu.
"Tidak sayang. Kakak tidak membutuhkan mereka. Ternyata kamu yang kakak butuhkan untuk berada di samping kakak." ucap Reno lirih, dan berusaha menggenggam tangan Hilwa. Tapi Andre segera menepisnya. "JANGAN SENTUH CALON ISTRIKU" sergah Andre. Kini dia sudah tidak bisa lagi menahan amarahnya.
Tentu saja Reno yang merasa di halangi amarahnya pun mulai terpancing. "Breng*sek!" dan bugh, bugh akhirnya perkelahian pun tidak bisa mereka hindari.
"Mas Andre, kak Reno tolong hentikan!" teriak Hilwa.
Semua orang yang mendengar suara keributan di dapur langsung menghampiri ke sumber suara. Dan betapa terkejutnya mereka melihat para putranya sedang berkelahi dengan saling memukul bergulingan di lantai.
__ADS_1