
Pagi-pagi sekali rumah Reno sudah di gedor-gedor, dengan suara teriakan. Karena para penghuninya, masih berada di dalam kamar.
Reno yang masih terlelap, sedangkan Hilwa berada di kamar mandi.
Suara bising itu di lakukan oleh ibunya Reno sendiri, dan dengan terpaksa Reno, cepat membuka pintu rumahnya.
Saat pintu terbuka, Reno masih berusaha mengenakan kaosnya. Karena saat bangun tadi, dia tidak memakai pakaian apapun, alias tubuh yang polos.
Bu Tika sedikit mengernyit, setelah apa yang dia lihat. "Ren, kamu baru bangun. Seharian kemarin kemana saja?"
Reno tidak cepat menjawab pertanyaan ibunya. Dia malah pergi ke dapur, untuk mengambil air minum dan mengumpulkan seluruh nyawanya.
Semoga dugaanku salah. Gumam Bu Tika, bergegas masuk ke dalam kamar putranya.
Mata Bu Tika, seketika terbelalak melihat tempat tidur putranya yang acak-acakan. Posisi selimut dan bantal yang bukan pada tempatnya.
Di tengah lamunannya, terdengar suara pintu kamar mandi terbuka.
Dan betapa terkejutnya Bu Tika, melihat siapa yang keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai baju handuk dan rambutnya yang masih basah.
"Ibu" ucap Hilwa, dia pun terkejut kenapa ibu mertuanya berada di dalam kamarnya.
"Apakah ibu mencari ku?" tanya Hilwa yang melihat Bu Tika hanya diam mematung.
"Apa yang kamu lakukan dengan putraku semalam?, kenapa tempat tidur kalian bisa acak-acakan kaya gini?" tanya Bu Tika tidak sadar, dia masih shock dengan fakta yang dia lihat pagi ini.
Hilwa mengernyit, apa maksud ibu mertuanya?
"Menurut ibu, jika suami istri yang baru bertemu setelah beberapa Minggu terpisah. Apa yang akan mereka lakukan" timpal Reno yang baru memasuki kamar.
Kali ini barulah Bu Tika tersadar. Dia pun melengos keluar dari kamar.
"Kak, ada apa pagi-pagi ibu datang ke sini?" tanya Hilwa, Reno hanya mengedikkan bahu tidak tahu, dan bergegas masuk ke dalam kamar mandi.
Setelah Hilwa sudah memakai pakaiannya, barulah dia keluar dari kamar, tapi tidak mendapati ibu mertuanya berada di sana.
Bu Tika berjalan ke rumahnya dengan tergesa, wajahnya yang pias seperti seseorang yang sudah melihat hantu.
Setelah sampai di pintu pagar, Anita yang baru keluar rumah, mendapati ibunya sedang diam mematung dengan wajah yang pias.
"Bu, ibu kenapa? ada apa Bu, apa terjadi sesuatu?" tanya Anita khawatir
Bu Tika pun menoleh dan tersadar. "Anita, ternyata adikmu seharian kemarin bersama Hilwa istrinya. Tadi ibu lihat, dia ada di kamarnya." ucap Bu Tika antusias
"Benarkah, bagus donk. Berarti Reno sudah berhasil membujuk istrinya kembali." Anita menyahut
__ADS_1
Bu Tika tidak terima dengan jawaban anak perempuannya berikan, dia memukul bahu putrinya "kamu ini, kos bagus sih. Bukannya kita sudah merencanakan sesuatu untuk menyatukan Reno dengan nak Stefani."
Anita sedikit termenung "sudahlah Bu, biarkan saja Reno memilih siapa yang nyaman untuk dirinya. Percuma saja kita berusaha untuk menjauhkan Reno dengan Hilwa, toh akhirnya Reno bisa membawa kembali istrinya ke rumah." ucap Anita bijak.
"Kamu sudah tidak mendukung rencana ibu, sudahlah, biar ibu yang merencanakannya sendiri." ucap Bu Tika kekeuh.
Sifat keras kepala Bu Tika tidak bisa di ganggu gugat. Dia selalu berspekulasi sendiri, apa yang menurutnya baik dan pantas. Tanpa mau menerima saran dari orang lain.
* * *
Sore hari setelah pulang kerja, ada sebuah mobil yang memasuki halaman rumah Bu Tika.
Seseorang itu turun dari mobilnya dengan sangat anggun, dia bahkan membawa sebuah bingkisan yang dia bungkus dengan sangat indah.
Kebetulan sang penghuni rumah sedang berada di teras, mereka sedang asyik bercengkerama sambil memperhatikan kedua bocah yang aktif saling berkejaran.
"Permisi Bu" ucap sang wanita dengan tersenyum ramah.
Mereka yang sedang duduk di teras pun menoleh, "eh nak Stefani. Tumben main ke sini, nak. Ada apa?" tanya Bu Tika tidak kalah ramah.
"Saya dengar ibu sedang sakit, jadi saya ingin menjenguk ibu. Tapi sepertinya ibu sudah sehat." ucap Stefani yang menelisik keadaan Bu Tika.
"Oh iya, ibu memang kemarin tidak bisa berjalan. Tapi sekarang ibu sudah sehat kok. Ayo nak, masuk." Bu Tika mengajak Stefani untuk masuk ke rumahnya.
"Disini saja, Bu. Saya tidak akan lama kok. Saya hanya mampir sebentar, tadi habis pulang kerja langsung ke sini." Stefani menolak ajakan bu Tika sehalus mungkin.
Tanpa menjawab, Stefani pun duduk di kursi teras.
Bu Tika pergi ke dapur, untuk mengambilkan air minum untuk tamunya.
"Hai, kak Anita" sapa Stefani
"Hai, gimana kabar kamu?" tanya Anita
"Baik kak, kakak bagaimana?"
"Baik juga. Oh ya, gimana pekerjaan kamu?" tanya Anita basa basi
Sebelum Stefani menjawab, ada dua orang yang memasuki halaman rumah dengan berpegangan tangan.
"Assalamu'alaikum" ucap keduanya bersamaan.
"Wa'alaikum salam" Anita dan Stefani pun serempak menjawab
Stefani terkejut dengan kedatangan kedua orang tersebut, "kak Reno!" ujar nya
__ADS_1
Reno yang baru saja memasuki teras termenung, kenapa Stefani bisa ada di rumahnya.
"Hai, kamu di sini?" tanya Reno berbasa-basi, tanpa melepaskan genggaman tangannya.
Ya, kedua orang itu adalah Reno dan Hilwa. Mereka sepakat ingin mengunjungi rumah orangtua Reno sehabis pulang kerja.
Tapi, Hilwa tidak menyangka ada seorang tamu yang tidak dia kenal.
Hilwa menyalami mereka berdua.
Kali ini, Anita bisa sedikit ramah kepada adik iparnya. Mungkin dia menyadari, bahwa adiknya lah yang tidak bisa melepaskan istrinya.
"Kamu sudah kembali Wa?" tanya Anita
"Iya mbak, kak Reno kemarin menjemput ku."
"Syukurlah, bagaimana orangtuamu sehat?"
"Alhamdulillah baik mbak, bagaimana keadaan anak-anak?"
"Mereka juga baik." sahut Anita.
Tidak lama Bu Tika, menghampiri mereka dengan membawakan minuman untuk tamunya.
"Ini nak Stefani, cuma minuman. Maaf ya, di rumah ibu tidak ada apa-apa" ucap Bu Tika yang duduk di samping Stefani.
"Tidak papa Bu, oh ya, saya tadi mampir ke toko kue. Dan saya bawakan cake strawberry, mudah-mudahan ibu suka." Stefani yang menyerahkan bingkisannya.
"Adu-du kok repot-repot sih, nak. Kamu udah mau jenguk ibu aja, ibu udah seneng banget." Bu Tika yang terlihat sumringah.
Bu Tika terus saja mengajak ngobrol Stefani, sedangkan Hilwa yang sejak tadi berdiri di hadapannya, sama sekali tidak di respon olehnya. Seperti sesuatu yang tak kasat mata.
Melihat sikap Bu Tika kepada istri Reno yang acuh, membuat Stefani bahagia. Ternyata, dia menantu yang tak di akui rupanya. gumam Stefani
Pak Dedi yang baru saja tiba, melihat menantunya yang sudah kembali. Beliau terlihat begitu bahagia.
"Hilwa, kamu kembali nak!" ucap pak Dedi yang menghampiri menantunya.
"Iya yah, apa ayah sehat?" tanya Hilwa dan mencium punggung tangan ayah mertuanya.
"Ayah sehat, nak. Ayah sangat senang kamu kembali ke rumah. Maafkan ayah, waktu itu. . ." pak Dedi tidak meneruskan kata-katanya.
"Tidak apa-apa ayah, itu sudah berlalu. Hilwa kan sudah kembali" Hilwa menimpali ucapan ayah mertuanya.
Pak Dedi pun tersenyum, beliau merangkul tubuh Hilwa, mengusap punggung menantunya dengan penuh kasih sayang.
__ADS_1
Interaksi menantu dan ayah mertuanya itu, tidak lepas dari tatapan Stefani. Dia geram, karena ternyata Hilwa berhasil mencuri hati ayahnya Reno.