
Sudah 2 hari Hilwa berada di rumahnya. Tapi sikap Reno tetap saja dingin. Hilwa terus berkutat dengan pikirannya sendiri, apa penyebab sikap suaminya jadi berubah.
Saat itu Hilwa sedang menyapu di teras dan Reno sedang memainkan ponselnya.
Terlihat dari kejauhan Anita sedang menuju ke rumahnya. "Kak! sepertinya mbak Anita sedang menuju ke sini."
Reno pun mengangkat kepalanya, "benar, ada apa mbak Anita ke rumah kita?"
Sebelum Hilwa menjawab pertanyaan Reno, Anita sudah lebih dulu sampai di hadapan mereka.
"Kebetulan kalian ada di rumah, ayah menyuruh kalian untuk segera menemuinya." ucap Anita to the point
"Ada apa mbak, kenapa ayah tiba-tiba menyuruh kita untuk menemuinya." tanya Reno heran
"Mbak juga tidak tahu, Ren. Yang jelas ayah menyuruh mbak untuk menyampaikan ini kepada kalian."
"Sekarang mbak?" tanya Reno lagi
"Bulan depan. Ya, sekarang lah! kamu gak lihat mbak buru-buru begini." Anita yang sedikit emosi
"Baik mbak. Aku akan segera ke sana." sahut Hilwa
Reno dan Hilwa saling pandang, saat Anita berlalu dari hadapannya. "Kenapa ayah memanggil kita ya kak? apa kita sudah membuat kesalahan?." Reno hanya mengedikkan bahu dan berlalu ke dalam rumah.
Hilwa sempat membereskan menyapu teras sebelum pergi ke rumah mertuanya bersama Reno.
Terdengar suara orang sedang berbincang di ruang tamu, saat Hilwa dan Reno memasuki rumah orangtuanya.
"Assalamu'alaikum" ucap keduanya
"Wa'alaikum salam" jawab semua orang yang sedang duduk di ruang tamu
"Rupanya kalian sudah ke sini." ucap pak Dedi, melihat anak menantu menghampirinya dan istrinya dan mencium tangan secara bergantian.
"Iya yah, apa ayah sehat?" tanya Hilwa
__ADS_1
"Ayah sehat nak. Duduklah!"
Pak Dedi menunjuk kursi kosong yang ada di hadapannya.
"Ayah senang, kalian baik-baik saja. Maaf ayah tidak sempat menjenguk ibumu Hilwa." ucap pak Dedi tidak enak hati
"Tidak apa-apa, ayah. Ibu sudah sembuh kok."
"Ayah kenapa menyuruh kami untuk kesini? apa ada sesuatu yang penting?"tanya Reno, dia sudah tidak sabar untuk mengetahui alasannya untuk datang ke rumah orangtuanya tiba-tiba.
Dan sepertinya memang penting, terlihat ada ibu juga. Meskipun raut wajahnya tidak menunjukkan keramahan saat dia bersitatap dengan Hilwa.
"Ayah hanya ingin kalian berkumpul. Sudah lama sekali bukan, kita tidak seperti ini. Kamu juga Ren, sewaktu istrimu tidak ada, kamu jarang ke sini, dan katanya kamu sering pulang malam."
Deg. . .
Benarkah! kak Reno sering pulang malam. Kemana dia? tidak seperti biasanya kak Reno suka pulang malam. batin Hilwa
"Eumm anu yah, ada urusan yah." hanya itu yang bisa Reno ucapkan. Tapi wajahnya memucat, dia takut kelakuannya terbongkar.
Tapi bukan itu yang ingin di bicarakan oleh pak Dedi. Beliau belum tahu apa yang di lakukan putranya di belakang istrinya.
"Maaf yah, seharusnya Hilwa yang harus meminta maaf kepada ibu. Hilwa sudah berani membentaknya." ucap Hilwa tertunduk
"Tidak nak, ayah tahu apa yang ibu Reno katakan waktu itu. Pasti sangat melukai hatimu, bukan?"
Hilwa tidak bisa menjawab, matanya sudah mulai berkabut. Dia tidak menyangka ayah mertuanya yang dia kira marah karena kelakuannya tempo hari, justru merasakan apa yang dia rasakan.
"Hilwa. . .tidak papa kok yah. Hilwa juga menyadari itu semua. Maafkan atas kekurangan Hilwa." tidak ada yang bisa dia katakan, selain mengakui, memang benar apa yang ibu mertuanya ucapkan, meskipun memang menyakitkan.
"Semua manusia tidak ada yang sempurna di dunia ini. Setiap orang mempunyai kekurangan, nak" pak Dedi tetap membela Hilwa, beliau tidak ingin menantunya berkecil hati.
"Iya ayah. Maafkan Hilwa."
"Gimana Bu, apa kamu mau meminta maaf kepada menantumu?" kini pak Dedi bertanya kepada istrinya
__ADS_1
Ibu akhirnya mengangguk, setelah sebelumnya dia tetap menolak. Tapi karena pak Dedi terus membujuk bahkan sempat membentaknya karena sikap keras kepala istrinya.
"Hilwa! ibu minta maaf atas ucapan ibu tempo hari. Ibu harap kamu bisa memaklumi ucapan ibu. Bagaimanapun, ibu sangat menyayangi putra ibu Reno, karena dia putra ibu satu-satunya." tetap ada kata ketidaksukaannya kepada Hilwa.
"Iya Bu, Hilwa bisa memakluminya. Dan Hilwa juga harap, ibu bisa memaklumi keadaan Hilwa. Bagaimanapun, Hilwa sangat ingin memberikan keturunan untuk kak Reno. Tapi takdir tuhan, tidak bisa di paksakan." ucap Hilwa dia pun tidak mau kalah, mengutarakan isi hatinya.
"Alhamdulillah. Jika begitu, kan ayah bahagia melihatnya. kita kan keluarga sudah seharusnya hidup rukun tanpa saling menyakiti. Ayah harap, ibu dan Hilwa bisa seperti dulu lagi, dan melupakan kejadian itu."
Huh! kalau bukan di paksa oleh ayahnya Reno, mana mau saya minta maaf sama kamu. Tetap! jika Hilwa tidak bisa memberikan Reno keturunan, saya tidak akan mengakuinya sebagai menantu. ucap bu Tika dalam hati, tapi di bibir dia bisa tersenyum meskipun di paksakan.
Itulah sikap bijaksana pak Dedi, tidak salah beliau memang sangat di hormati oleh orang sekitarnya. Dengan pembawaannya yang bijak, dan rendah hati meski beliau orang terpandang.
* * *
Drrttt . . .drrtt. . .
Suara ponsel Reno berdering, meski dengan mode senyap.
Reno membuka ponsel dan melihat siapa yang menelponnya, seketika tubuhnya membeku melihat papan panggilan. "Maaf yah, aku harus mengangkat telepon dulu." Reno pamit
Dia bergegas keluar rumah, "Hallo! kenapa stef? aku sedang ada di rumah orangtuaku." ucap Reno sedikit berbisik
"iya maaf kak, tapi gimana jadi nggak kita bertemu malam ini. Kak Reno kan sudah janji." ucap Stefani di ujung telepon
"Iya nanti aku pikirkan lagi. Sekarang jangan lagi menghubungiku seperti ini, nanti mereka bisa curiga." ucap Reno tegas
"Iya! iya kak, maaf! kalau begitu sampai jumpa nanti malam ya kak, aku tunggu ya!" Tut. sambungan telepon pun terputus
Reno pun kembali ke dalam, setelah panggilan di akhiri.
Seseorang yang sejak tadi berada di teras, tidak sengaja mendengar percakapan antara Reno dengan seseorang di telepon.
Untuk keduakalinya bi Inah melihat gelagat yang tidak beres dengan anak majikannya.
Dia mencoba menyangkalnya. Tidak mungkin den Reno mengkhianati neng Hilwa. Neng Hilwa sosok istri yang baik dan Sholeha, tidak ada satu kekurangan pun ada pada dirinya, kecuali kehendak tuhan yang belum mengizinkannya untuk memberikan keturunan untuk keluarga ini. bi Inah berucap dalam hati
__ADS_1
Gelagat suami yang mengkhianati seorang istri akan sangat terlihat. Entah itu dari sikap atau kebiasaannya yang berubah. Jika seorang istri bisa peka, dia bisa merasakan tentang perubahan itu.
Begitupun dengan Hilwa, tapi dia selalu menyangkalnya. Tidak mungkin kak Reno nya mengkhianati dirinya.