
Suasana yang tadinya cukup menegangkan, sekarang sudah mulai mencair. Bu Eva menghampiri Hilwa dengan menggenggam tangan Andre, "Berbahagialah, ibu tidak akan menghalangi cinta kalian. Jalani takdir kalian dengan senyuman." beliau menyentuh tangan Hilwa dan menyatukannya dengan tangan Andre. "Terimakasih Bu" sahut Andre yang menatap Hilwa intens. Hilwa pun tidak menyembunyikan wajahnya yang kembali merona karena tatapan Andre.
Masih ada percikan api cemburu di hati Reno, apalagi melihat secara langsung, wanita yang masih sangat di cintainya sudah dipinang oleh laki-laki lain. Tapi apa boleh buat, demi melihat senyum merekah yang ada pada Hilwa saat ini, dia akan berusaha merelakan nya walaupun akhirnya dia akan tetap menderita.
"Ya sudah, sebaiknya kita pulang saja Ndra. Maaf kami sudah membuat keributan disini." ucap pak Dedi membuyarkan semua orang. "Iya, sebaiknya begitu. Kami juga harus menemui orangtua Hilwa secepatnya, untuk melamarnya secara resmi. Tapi kami akan lebih dulu mengantarnya pulang, iyakan Ndre?" sahut pak Indra.
"Lho kenapa Hilwa harus pulang, apa sebaiknya dia tetap bersama kita." sela Andre. "Kita harus menyiapkan lamaran bukan. Dan Hilwa harus memberitahu orangtuanya dulu. Sabar donk Ndre. Kamu Sepertinya sudah tidak sabaran." sahut Bu Eva. "Tenang Ndre, Hilwa sudah aman sekarang, jadi kamu tidak perlu khawatir." desis pak Indra di telinga putranya, dengan senyuman yang hanya mereka tau maksudnya.
"Eum Ndra, bagaimana kalau kami yang mengantarkan Hilwa ke rumah orangtuanya. Sejak perpisahan mereka, kami belum sempat bertemu lagi dengan orangtuanya. Kami hanya ingin tetap menjalin silaturahmi." ujar pak Dedi.
Semua orang sempat berpikir sejenak. "Baiklah Ded, kami akan mengalah. Saya titip calon menantuku ya!" sahut pak Dedi dengan senyum jenakanya. "Baiklah. Kamu jangan khawatir. Karena sebelum Hilwa menjadi calon menantumu, dia sudah lebih dulu menjadi menantu kesayanganku, haha." timpal pak Dedi yang membuat semua orang menyunggingkan senyumnya.
Akhirnya Hilwa ikut dengan mobil Reno, tapi dia duduk di jok belakang dengan kak Dedi. Sedangkan Bu Tika duduk di samping Reno. Dengan begitu, Andre tidak perlu terbakar cemburu bukan?
Keluarga pak Indra pun sudah siap untuk pulang. Kedua mobil itu sama-sama meninggalkan villa yang terletak di tengah hamparan perkebunan teh yang sejuk di pandang mata.
__ADS_1
Situasi di mobil Reno, belum cukup mencair. Masih ada sisa ketegangan yang mereka rasakan. Hanya Hilwa dan pak Dedi saja yang saling bertukar obrolan. Hilwa menceritakan semuanya kepada pak Dedi tentang kehidupannya selama beberapa bulan ini, seperti seorang putri yang curhat kepada ayahnya. Dan pak Dedi pun menanggapi obrolan Hilwa dengan antusias. Sementara yang berada di kursi depan hanya diam menyimak tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
"Akhirnya sampai juga" seru pak Dedi, yang memang mereka sudah berada di halaman rumah orangtua Hilwa. "Iya ayah. Ayo masuk dulu, mudah-mudahan ayah masih ada di rumah." ajak Hilwa. "Ibu sama Reno tunggu di mobil saja." seru Bu Tika. "Ya sudah terserah. Ayo Hilwa, ayah ingin bertemu dengan orangtuamu." sahut pak Dedi.
Reno hanya menuruti apa yang ibunya katakan. Dan sebenarnya dia pun segan jika harus berhadapan langsung dengan orangtua Hilwa.
"Assalamualaikum" ucap Hilwa dan mengetuk pintu.
Terdengar sahutan dari dalam rumah. Saat pintu terbuka, "Hilwa kamu pulang nak?, eh ada pak Dedi juga. Masuk pak." ucap Bu Tini yang menyalami mantan besannya.
"Maaf menggangu Mas. Saya kesini hanya ingin bersilaturahmi. Dan sekalian mengantar Hilwa pulang." ujar pak Dedi. "Iya pak, saya sangat senang jika bapak masih berkenan berkunjung ke rumah kami. Tapi kenapa Hilwa bisa di antar sama bapak?" tanya pak Marna heran.
"Kebetulan saya sedang berkunjung ke villa sahabat saya. Dan ternyata ada Hilwa disana." sahut pak Dedi. Percakapan mereka terhenti sejenak karena Bu Tini membawakan minuman untuk tamunya. "Di minum dulu pak." ucap Bu Tini yang meletakkan cangkir teh di atas meja. "Terimakasih Bu."
"Hilwa kenapa kamu bisa ada di villa dan dengan siapa?" tanya pak Marna menatap putrinya. "Eum Hilwa di ajak keluarga Mas Andre pak. Dan di sana Hilwa di lamar olehnya." ucap Hilwa kemudian tertunduk. Pak Dedi masih ingat, saat dia dan keluarganya melamar Hilwa dulu. Ekspresi Hilwa saat ini seperti saat dia masih gadis. Menjawab pinangannya dengan wajah yang merona dan kepala yang tertunduk.
__ADS_1
"Apa Hilwa? kamu sudah dilamar oleh nak Andre. Apa bapak tidak salah dengar?" tanya pak Marna. "Maafkan Hilwa pak, Hilwa mengambil keputusan tanpa meminta izin kepada bapak terlebih dahulu." sahut Hilwa.
Pak Marna menarik nafas dalam, dia sama sekali tidak menyangka Hilwa akan dilamar oleh seseorang secepat itu. Beliau nampak termenung sejenak, "pak biarkan saja, kita sebagai orangtua hanya bisa mendoakan untuk kebahagiaannya. Biarkan Hilwa sendiri yang memutuskan pilihannya sendiri." timpal Bu Tini memberi masukan.
Pak Marna menatap Hilwa intens, dia nampak berpikir, tapi entah apa yang menjadi beban pikirannya saat ini. "Baiklah nak, jika itu yang menjadi keputusanmu. Bapak tidak bisa menolaknya. Hanya doa yang selalu kami panjatkan, semoga kebahagiaan yang selalu menyertaimu." ucap pak Marna akhirnya. "Terimakasih pak. Karena kalian selalu mendukung semua keputusanku selama ini." ujar Hilwa haru.
"Besok sepertinya Mas Andre dan orangtuanya ingin bertemu dengan ayah dan ibu." ujar Hilwa. "Kalau begitu kita harus mempersiapkan untuk menjamu mereka." timpal Bu Tini antusias.
Mereka sejenak melupakan kalau disana masih ada orang lain. "Maafkan kami pak, kami begitu terkejut dengan berita ini." ucap pak Marna tidak enak hati. "Tidak apa-apa pak. Saya bisa memakluminya. Saya kesini hanya ingin meminta maaf atas apa yang telah terjadi. Saya berharap hubungan kita bisa terjalin sampai kapanpun. Karena saya sudah menganggap Hilwa sebagai putri saya." sahut pak Dedi.
"Tentu saja pak, kami juga mengharapkannya. Kami senang jika kita masih bisa berhubungan baik. Semoga kali ini anak-anak kita bisa menemukan kebahagiaannya." ucap pak Marna tulus. "Aamiin." seru semua orang bersamaan.
Sedangkan dua orang yang berada di dalam mobilnya, sedang menunggu dengan wajah yang merenggut. "Kenapa ayahmu lama sekali sih Ren, apa sih yang harus mereka bicarakan lagi. Toh mereka bukan siapa-siapa kita lagi. Dan Hilwa pun sebentar lagi akan menikah dengan Andre." ketus Bu Tika berucap.
Sementara ibunya yang terus mengoceh, Reno hanya melamun sejak tadi. Dia tidak berniat menyahuti perkataan ibunya. "Hilwa mungkin cinta kita benar-benar sudah kandas, mulai sekarang aku kan mencoba mengikhlaskan kamu untuk orang lain. Semoga kali ini, kamu bisa menemukan kebahagiaan dengan Andre." batin Reno berucap.
__ADS_1