
Saat seorang laki-laki membuka matanya, di luar masih gelap.
Dia bisa merasakan seorang wanita yang tertidur menyandarkan kepala di dadanya. Di tengah keremangan cahaya lampu, kesadarannya mengingat penuh, semua yang dia lakukan semalam dengan wanita ini.
Bagaimana bisa aku melakukannya dengan Stefani. gumam Reno, dia merutuki kebodohannya semalam.
Ya, Reno yang tertidur di kamar Stefani, setelah semalam menggagahinya. Dia tidak langsung pulang ke rumah, karena faktor kelelahan dan juga hujan yang kunjung mereda.
Reno mencoba menggerakkan lengannya yang di pakai bantal oleh Stefani. terdengar gumaman "kak, aku masih ngantuk. tidur lah lagi! ucapnya yang malah mengeratkan pelukannya.
"Aku harus pulang stef, Hilwa pasti di rumah sendirian." Reno yang terus menggerakkan lengannya.
Dengan terpaksa Stefani mengangkat kepalanya.
Reno pun bangun dan memungut pakaiannya yang berserakan di lantai.
Ini benar-benar gila! apalagi kita melakukannya dengan sangat liar semalam. Gerutu Reno dalam hati
Dia sudah memakai pakaiannya, dan bersiap pergi meninggalkan kamar Stefani.
"Kak, kalau kak Reno menginginkan ku lagi, jangan sungkan untuk menghubungi ku. Aku akan senang hati melayani kak Reno." ucap Stefani yang merapatkan selimut ke tubuh polosnya.
Reno tidak berniat menjawab perkataan Stefani. Dan dia pun tidak yakin, akan melakukannya lagi.
"Siapa laki-laki pertama yang menyentuh mu?" malah pertanyaan itu yang Keluar dari mulut Reno
Deg. . .
"Sudahlah kak, jangan membahasnya. Itu sudah jadi bagian dari masa laluku. Yang terpenting sekarang aku bersama kak Reno, dan siap memberikan keturunan untuk kakak." ucapnya ngeles, dia tidak mau mengungkit tentang dirinya yang sudah tidak suci lagi.
Reno tersenyum menyeringai "berarti aku beruntung mendapatkan Hilwa, dia masih gadis suci saat pertama kali ku sentuh." ucap Reno yang berlalu dari hadapan Stefani
"Beruntung apanya, wanita yang tidak bisa memberikan keturunan untuk suaminya." ucap Stefani keras, dia sengaja agar Reno bisa mendengarnya. Walaupun dia sudah pergi dari hadapannya.
Stefani tersinggung dengan ucapan Reno. Lihat saja! walaupun aku bukan gadis suci lagi, tapi aku yang akan memberikanmu anak, kak. gumam Stefani geram.
__ADS_1
Saat Reno memasuki rumah, hari memang masih gelap. Bahkan matahari pun belum ada tanda-tanda akan muncul.
Dia begitu terkejut mendapati rumahnya yang gelap gulita. Bahkan gorden pun belum sempat Hilwa tutup.
Apa Hilwa tidak ada di rumah? batin Reno
Dia bergegas masuk ke dalam, pintu pun tidak terkunci.
Dia mencoba meraba saklar lampu, ruangan itu pun menjadi terang.
Tidak ada tanda-tanda istrinya ada di sana. Reno bergegas masuk ke kamar, dan. . .Nyut, hatinya begitu nyeri melihat istrinya meringkuk seorang diri di atas tempat tidur.
Seketika rasa bersalah menjalar memenuhi hatinya. Kenapa kemarin dia tidak cepat mendatangi istrinya. Dengan begitu, dia tidak akan melakukan perbuatan yang terlarang dengan Stefani.
Reno melangkahkan kaki mendekati tempat tidur. Dia melihat Hilwa yang meringkuk tanpa selimut yang membungkus tubuhnya, padahal selimut ada di bawah kakinya.
Masih ada sisa Isak tangis dan tubuh yang bergetar, meskipun matanya masih terpejam.
Apa semalaman dia terus menangis, dan apakah tubuhnya tidak kedinginan?
"Hilwa, sayang, bangun! tubuhmu sangat panas." Reno mencoba membangunkan istrinya.
Hilwa hanya membuka matanya sedikit. Dia merasa kepalanya sangat pusing.
"Wa, kenapa bisa kaya gini, si?" Reno meraba semua badan Hilwa, semuanya panas.
"Kakak bawa kamu ke dokter yah?"
Hilwa menggelengkan kepalanya "aku nggak mau! biarkan saja aku seperti ini. Aku hanya butuh istirahat." ucap Hilwa yang merebahkan kembali tubuhnya.
"Wa, kenapa kamu kaya gini? badan kamu panas, kakak khawatir sama kamu."
Hilwa tersenyum getir, "khawatir kak? setelah semalaman kakak mengabaikan ku!"
Deg. . .benar ini salah dirinya. Dia yang mengabaikan istrinya. Dan yang lebih parahnya, dia malah bermalam di rumah perempuan lain.
__ADS_1
"Maafkan kakak Wa ! semalam kakak harus menemani ibu, karena ibu terus menangis, karena ayah memarahinya." kilah Reno. Dia merasa alasannya tidak masuk akal, untuk apa dia menemani ibunya semalaman, tentu ada Mbak Anita yang akan menjaga ibunya jika itu benar-benar terjadi. Tapi itu alasan yang hanya bisa ia pakai, tentu Hilwa akan percaya, jika dia sudah bermalam di rumah ibunya.
"Terus kenapa kakak kesini, ibu lebih membutuhkan kakak dari pada aku." ucap Hilwa yang mulai geram dengan alasan yang suaminya pakai.
"Jadi kamu mengusir ku, Wa?. Memang lebih baik aku tidak pulang ke rumah ini, lebih baik aku kembali ke rumah ibu." ucap Reno yang sudah terpancing emosi, dia berjalan ke luar kamar, dan hendak membuka pintu untuk pergi ke rumah ibunya.
Aahh sial ! harusnya aku tidak terpancing, aku tidak perlu marah kepada Hilwa. Saat ini dia sedang sakit dan hatinya pasti hancur.
Reno tidak jadi membuka pintu rumahnya. Dia pun kembali ke dalam dan duduk di ruang tamu.
Dia mengacak rambutnya frustasi. Kenapa bisa kaya gini? batin Reno
Belum apa-apa hidupnya sudah di ambang kehancuran. Hilwa yang mulai memberontak karena kekecewaannya. dan ibunya yang terus bersikeras meminta anak darinya. Belum lagi, sekarang Stefani yang sudah mulai masuk ke dalam kehidupannya.
Aahhh, kenapa ini terjadi kepada kita Wa?, kita baru saja memulai lembaran baru. Dengan susah payah kakak sudah meminta mu kembali kepada ayahmu. Dan berjanji tidak akan menyakiti mu lagi, tapi sepertinya kakak sudah melanggar janji itu. Reno menarik nafas dalam-dalam dan mengusap wajahnya kasar.
Sampai Reno sudah rapi dengan setelan kerjanya, Hilwa belum ada tanda-tanda akan beranjak dari tempat tidur.
Dia tertegun, melihat istrinya yang sama sekali tidak bergerak atau merubah posisi tidurnya. "Apa kemarin ibu mengatakan perkataan yang sangat menyakitinya. Aku sudah sering mendengar ibu berbicara kasar kepadanya, tapi baru kali ini, Hilwa bertindak seperti ini." gumam Reno
Dia pun berlalu saja, pergi meninggalkan istrinya di rumah sendirian.
Tanpa sarapan, tanpa berpamitan, Reno pergi dari rumah untuk berangkat bekerja.
Reno berjalan agak menjauh dari rumah, sebab mobil Stefani terparkir berada jauh dari rumahnya.
Dia sengaja agar semua orang tidak curiga, tapi siapa sangka, seorang wanita paruh baya memangil namanya.
"Den Reno?"
deg, Reno terperanjat kaget dan menoleh "eh bi Inah, kenapa bibi ada di sini?" ucapnya gugup
"Bibi habis dari pasar den, den Reno sedang apa di sini?" tanya bi Inah heran
"Eumm anu bi, saya baru mau berangkat kerja. Kebetulan mobilnya terparkir di sini, kalau begitu saya permisi bi!" pamit Reno, semoga bi Inah tidak menyadari mobil yang aku pakai.
__ADS_1
Tapi telat, bi Inah sudah menyadarinya. "kenapa mobil yang den Reno pakai, seperti mobil perempuan itu kemarin. Siapa namanya? ah ya, Stefani. Neng Hilwa menyebut namanya Stefani. Jangan sampai dugaan ku benar. Kasian neng Hilwa, jika den Reno benar-benar mengkhianati nya." ucap bi Inah dalam hati, dan melihat mobil yang di tumpangi Reno menjauh.