
Saat ini Reno mengendarai mobilnya di tengah hujan deras. Dia menyusuri sepanjang jalan yang mungkin akan di lewati Hilwa.
Tapi hingga dia sampai dijalan raya pun tidak ada tanda-tanda keberadaan nya. "Kemana dia, harusnya dia masih di sekitar sini bukan?. Atau dia sudah menemukan taksi dan pulang ke rumahnya." gumam Reno. "Aku tetap harus memastikan dia sudah sampai di rumah orangtuanya dengan selamat." ujarnya dan melajukan mobilnya ke arah rumah pak Marna.
Mobil Reno terhenti disaat dari kejauhan sudah terlihat rumah orangtua Hilwa. Tapi keningnya mengkerut ketika mendapati dua mobil mewah terparkir di halaman rumahnya. Dia masih ingat mobil yang satunya pernah di kendarai oleh Andre saat dia datang ke villa waktu itu. Dan satunya lagi jelas dia sudah mengetahuinya. Mobil sepupunya Ivan. "Ahh sial! kenapa mereka bisa ada di sini sih. Dan mereka bahkan bisa masuk ke rumah orangtua Hilwa, sedangkan aku sudah tidak ada hak untuk bisa memasuki rumah itu lagi." gerutu Reno.
Dia duduk termenung di belakang kemudi. Maju tidak mungkin, tapi kalau mundur, dia penasaran setengah mati untuk apa kedua laki-laki itu ada di rumah mantan istrinya. Dia hanya merutuki takdirnya dan Hilwa yang harus kandas. Ternyata rasa cintanya benar-benar masih ada. "Kenapa aku dulu begitu bodoh sudah mengkhianati Hilwa. Ini gara-gara ibu dan Stefani. Jika saja waktu itu mereka tidak mendesak ku, mungkin aku akan tetap mempertahankan Hilwa di sisiku. Bagaimana ini aku bahkan sangat merindukannya. Apa yang harus aku lakukan sekarang?" geram Reno dan mengusap wajahnya kasar.
Sampai akhirnya dia memutuskan untuk kembali. Karena percuma dia menunggunya di luar tidak akan bisa bertemu dengan Hilwa. "Aku yakin Hilwa sudah sampai di rumah, tapi siapa dari mereka yang mengantarkan Hilwa. Jika Ivan? tapi kenapa Andre bisa ada di rumah itu Ahh dua-duanya, sama-sama breng*sek." caci Reno kepada kedua laki-laki yang sama sekali tidak bisa mendengarnya.
Hingga dia sampai di rumah orangtuanya. Entahlah kenapa saat ini dia ingin sekali bertemu dengan banyak orang. Dia berharap mungkin salah satu dari mereka bisa mendinginkan hatinya yang sedang terbakar. Entah itu terbakar karena penyesalan atau karena cemburu. "Ren, habis dari mana kamu? apa kamu sedang mencari Hilwa juga.?" berondong pak Diki. Semua anggota keluarga masih berkumpul di ruang tengah. Minus ayahnya. Karena beliau sedang berada di kamarnya seorang diri.
"Ivan dan Amira juga sedang mencarinya tapi sampai sekarang belum juga kembali. Paman harap Hilwa baik-baik saja." ucap pak Diki. "Paman, aku benar-benar laki-laki terbodoh di dunia, kan?. Aku sudah melepaskan istri sebaik Hilwa. Aku sudah menyia-nyiakannya." gumam Reno yang terduduk di kursi. "Sudahlah Ren, jangan kamu sesali. Ini mungkin sudah takdir kalian. Tidak ada yang bisa melawan takdir. Bebaskanlah hatimu, dengan begitu kamu akan mudah untuk melewati semuanya." ucap pak Diki.
__ADS_1
"Sudahlah Ren, kamu jangan memikirkan Hilwa lagi. Jika dia sudah pergi. Ya, jangan di ingat-ingat lagi donk. Toh kamu sudah mempunyai Stefani yang sebentar lagi akan memberikanmu anak." timpal Bu Tika. "Ibu. Walau bagaimanapun mereka sudah hidup cukup lama, pasti berat untuk melupakan kenangan indah bersama Hilwa. Jadi jangan terlalu memaksanya, biarlah hanya waktu yang akan mengobati hati Reno." ujar Anita. Semua orang mengutarakan pendapat mereka masing-masing.
"Ibu sama sekali tidak pernah mengerti perasaanku. Seharusnya seorang ibu bisa paling mengerti apa yang aku rasakan saat ini. Tapi ibu tetap saja, orang yang selalu membuat pengaruh buruk untuk rumahtangga ku. Bahkan ibu turut andil dalam kepergian Hilwa dari kehidupanku." ucap Reno tajam. "Apa maksud kamu , Ren. Kamu menuduh ibu sekarang. Jelas-jelas itu murni kesalahan kamu, kenapa kamu bisa berpikiran Ivan menggoda Hilwa dan menyebabkan kesalahpahaman tadi. Huh dasar, kamu sedang mengambinghitamkan ibu sekarang?" sungut Bu Tika tidak terima.
"Apa ibu tidak merasa apa yang sudah ibu lakukan sebelumnya?. Ibu lah yang selalu mendesak ku agar segera memberikan ibu cucu. Dan jika malam itu Stefani tidak menggodaku, aku mungkin tidak akan pernah mengkhianati Hilwa. Aku sangat menyesalinya Bu. Persetan dengan anak, aku hanya ingin Hilwa kembali kepadaku." sergah Reno.
Dia tidak tahu, di balik pintu ada Stefani yang sudah berdiri sejak tadi. Dia bahkan mendengar bagaimana Reno terus menyalahkan dirinya karena waktu itu sudah berhasil menggodanya. "Apa benar kak Reno tidak menginginkan anak ini lagi. Bagaimana ini, apa yang harus aku lakukan?. Aku kira kepergian Hilwa adalah awal kebahagiaan untukku, tapi dia masih saja menginginkan wanita sia*lan itu." geram Stefani. Dia akhirnya kembali ke rumah, setelah tadi dia sangat mengkhawatirkan suaminya yang pergi di tengah hujan deras.
* * *
Penyesalan Reno kian berlarut-larut. Pak Dedi dan Bu Tika tidak menyangka bahwa putranya akan tersiksa sebegitu mendalamnya sejak kepergian Hilwa.
Kedua orangtua itu harus melihat Reno seperti tidak bersemangat menjalani hari-harinya. Sampai sidang perceraian pun pihak dari pak Marna lah yang mengajukannya. Sebab sudah tiga hari, tidak ada keputusan yang jelas untuk status putrinya.
__ADS_1
Pak Diki beserta keluarganya terpaksa harus mengurungkan niatnya untuk pulang. Sebab pak Dedi menyerahkan semuanya kepada pak Diki dan Ivan untuk mengurus sidang perceraian Reno.
Sedangkan Andre yang membantu dari pihak pak Marna. Dia juga belum pulang ke kota. Sebab pak Marna meminta bantuannya untuk membantu mengurus gugatan untuk Reno. Sebab pak Marna tidak tahu menahu tentang semua tahap demi tahap sidang perceraian itu.
Sidang mediasi hanya perwakilan Reno lah yang hadir yaitu pak Diki dan Ivan. Sedangkan Hilwa dan pak Marna sengaja menghadirinya di antar oleh Andre. Karena pihak yang bersangkutan tidak bisa hadir, maka proses mediasi akan mengabulkan keinginan dari pihak penggugat, dan sesuai instruksi pihak Reno yang menyerahkannya sesuai keinginan pihak Hilwa. Walau Reno dan pak Dedi masih belum ikhlas, tapi apa boleh buat, Reno sudah mengucapkan talak dan ini hanya melegalkannya secara hukum.
Sepanjang proses mediasi Ivan sangat geram melihat kenapa harus ada laki-laki yang bernama Andre itu yang ada di tengah-tengah kubu pak Marna. Walaupun dia tidak berinteraksi langsung dengan Hilwa tapi tetap saja dia menyimpan curiga kenapa Andre harus ada di tengah-tengah mereka. Sedangkan dirinya harus berada di kubu Reno. Walaupun begitu baik Andre dan Ivan, dua-duanya sama-sama di untungkan dari proses perceraian Reno dan Hilwa. Semakin cepat semakin baik, dengan begitu mereka akan semakin gencar untuk melanjutkan niat mereka masing-masing.
"Hilwa. Kenapa kamu menolak harta gono gini dari Reno. Bukankah kamu berhak menerimanya, bukan?" tanya pak Diki yang menghalangi Hilwa dan pak Marna untuk pulang. "Tidak papa paman. Hilwa hanya merasa tidak berhak menerimanya. Karena Hilwa tidak ikut campur tentang kepemilikan rumah atau barang lain yang di miliki kak Reno." jawab Hilwa lembut. "Tapi kan tetap saja ada bagian untuk kamu. Apa kamu benar-benar tidak ingin menerimanya?" tanya pak Diki memastikan. "Biarlah paman, Hilwa hanya ingin memulai kehidupan Hilwa dari nol lagi tanpa ada sangkut paut dari pemberian siapapun. Insyaallah Hilwa ikhlas." ucap Hilwa meyakinkan. "Baiklah kalau begitu, paman akan katakan apa yang kamu ucapkan kepada Reno dan ayahnya." sahut pak Diki.
Ya. Hilwa memang tidak meminta harta gono gini dari Reno. Selain dia tidak pernah merasa mengeluarkan sepeserpun dari kepemilikannya bersama Reno dulu, dia juga tidak ingin mantan ibu mertuanya merendahkannya lagi. Bu Tika dulu selalu menyebut pihak orangtua Hilwa tidak pernah membantu sepeserpun saat pembelian rumah dulu. Yang memang rumah itu hasil kerja keras Reno yang di bantu oleh ayahnya. Begitupun dengan mobil, itu murni pemberian dari pak Dedi.
"Aku juga tidak ingin dibayang-bayangi oleh masa lalu jika menerima pembagian harta dari mereka. Aku ingin memulai semuanya dari awal. Semuanya!" batin Hilwa berucap. Tentu itupun dengan persetujuan dari orangtua Hilwa. Pak Marna juga tidak ingin jika nanti kedepannya, pihak dari Reno akan mengungkit pemberian mereka, jika suatu saat Hilwa bisa menemukan kebahagiaannya lagi.
__ADS_1