
Hari yang di tunggu-tunggu pun terjadi. Hari yang sangat membahagiakan bagi sebagian orang yang berada di rumah pak Dedi saat ini.
Sebagian tetangga dan kerabat sudah hadir di rumah itu. Mereka sebenarnya cukup terkejut dengan berita tentang pernikahan kedua putra pak Dedi yaitu Reno. Semua orang sedang menerka-nerka penyebab Reno menikahi perempuan lain. Ya! pasti itu yang mereka maksud.
Hilwa istri pertamanya yang tidak kunjung hamil. Mereka semua menatap iba kepada gadis yang saat ini duduk di pojokan bersama pak Dedi. Raut wajahnya yang layu dan tatapan yang seolah kosong. Terdengar bisik-bisik dari beberapa orang yang hadir. "Kasihan banget yah neng Hilwa. Padahal dia cantik dan sholeha. Tidak ada satu kekurangan pun ada pada dirinya. Bahkan kami para tetangga pun memuji pak Dedi yang memiliki menantu sebaik neng Hilwa ini. Tapi sayang! katanya dia mempunyai rahim yang kosong, itu sih yang saya dengar dari Bu Tika." itulah segelintir ucapan dari para tetangga yang mengetahui keseharian Hilwa.
Mungkin saat ini, dia sedang tidak meneteskan air mata. Entahlah! apa mungkin dia benar-benar mengikhlaskan suaminya menikah lagi, atau dia sudah terlalu lelah untuk menangisinya.
Saat kalimat sakral itu terucap dengan lancar dari bibir suaminya. Seketika senyum miris dan tatapan iba semua orang tertuju kepadanya. Dia yang bahkan bisa dengan tegar menyaksikan prosesi ijab kobul pernikahan kedua suaminya. Sungguh wanita yang tangguh, pikir mereka.
SAH !
Satu kata itu bagaikan pisau belati yang menusuk tajam, tepat ke ulu hati Hilwa. Sebagian orang tersenyum berbinar, melihat sepasang manusia yang baru saja sah menjadi suami istri itu. "Sabar ya nak!" hanya suara lembut pak Dedi yang mampu menenangkan hati Hilwa. "Ayo ayah antar jika kamu mau pulang ke rumah. Acaranya sebentar lagi juga akan selesai. Kamu tidak perlu mengikuti semua acaranya." pak Dedi berujar lagi.
Tapi baru saja Hilwa ingin berdiri, suaminya Reno sudah ada di hadapannya. Dia tidak tahu dengan pasti kapan reno menghampirinya. Mungkin karena pikirannya yang kosong, sehingga Hilwa tidak menyadari apa yang terjadi di depannya saat ini.
__ADS_1
Semua orang tentu saja terperanjat kaget, begitupun dengan Hilwa sendiri. "Hilwa, sayang!. Terimakasih kamu sudah mengikhlaskan pernikahan ini. Kakak sangat tahu apa yang kamu rasakan saat ini. Maafkan kakak yang sudah sangat melukai hatimu." Reno berlutut di hadapan Hilwa dengan berkata panjang dan lirih.
Melihat itu Stefani merasakan cemburu di hatinya. Begitupun dengan Bu Tika yang merutuki sikap putranya. Benar-benar bodoh! batin Bu Tika geram. Mereka berdua menatap nyalang kepada Hilwa. Sepertinya Bu Tika dan menantu barunya akan kompak untuk menyakiti Hilwa ke depannya. Semua orang mendadak diam. Begitupun dengan Hilwa yang membisu, bibirnya terasa kelu untuk sekedar menjawab perkataan suaminya.
"Hilwa! kamu akan tetap menjadi istri kakak yang akan selalu kakak cintai." Reno berkata lagi, setelah menunggu istrinya tidak berniat untuk menjawab perkataannya. "Hilwa harus pulang kak!. Selamat atas pernikahannya." hanya kata itu yang mampu Hilwa ucapkan, setelah sebelumnya dia menggigit bibir bawahnya untuk meredam rasa sakit di hatinya.
"Ayo nak!" pak Dedi membantu Hilwa berdiri dan membawanya keluar rumah. Reno hanya tertunduk setelah Hilwa mengucapkan kata itu dan pergi dari hadapannya. Setelah kemarin dia terkejut atas kerelaan Hilwa untuk mengikhlaskan dirinya menikahi Stefani. "Reno akhirnya kamu besok bisa menikahi Stefani." ucap Bu Tika tersenyum sumringah.
Ya! kemarin setelah pak Dedi berhasil membujuk Hilwa. Acara persiapan pernikahan pun di lakukan, atas arahan Bu Tika sendiri. Dia sangat antusias mengatur semua persiapannya. Meski acara pernikahannya yang sangat sederhana, karena waktu yang mendadak dan Bu Tika tidak ingin menunda lebih lama lagi. Keburu perut Stefani membesar, katanya.
Setelah sebelumnya dia mendatangi orangtuanya untuk memberitahukan tentang pernikahannya. Bukannya bahagia, ayah Stefani kembali murka. Dan mengucapkan kata-kata kasar kepadanya. "Untuk apa kamu datang lagi kesini anak kurang ajar!. Aku tidak sudi datang ke pernikahanmu yang hina itu. Sampai kapanpun aku tidak akan mengakui anak yang ada dalam kandunganmu sebagai cucuku." sarkas ayah Stefani berucap.
Dan disini lah dia saat ini. Duduk seorang diri di dalam kamar yang sudah 2 hari ini dia tempati. Kamar tamu yang akan dia tempati entah sampai kapan. Setelah ini aku harus cepat-cepat membujuk kak Reno untuk membawaku ke rumahnya. Dan cepat atau lambat, aku akan menggeser posisi Hilwa dan aku bahkan akan menendangnya untuk pergi dari kehidupan kak Reno. tekad Stefani dalam hati.
Sedangkan Reno sejak saat itu, dia tidak berani menemui istrinya untuk sekedar menanyakan atas ketersediaannya membiarkan dirinya menikahi Stefani. Akhirnya Reno memutuskan untuk menginap di rumah orangtuanya. Mungkin dia malu atau tidak kuasa melihat istrinya menangis saat ini.
__ADS_1
Jangan di tanyakan lagi keadaan Hilwa, setelah dia memutuskan untuk mengikhlaskan suaminya untuk menikah lagi. Seharian ini dia tidak hentinya menangisi nasibnya yang harus mempunyai madu. Dia tidak beranjak sedikitpun dari sajadahnya. Setelah dia menunaikan sholat wajib. Dia mengadu dan meminta kekuatan untuk menjalani kehidupannya ke depan yang pasti akan sulit. "Tuhan! mungkin ini jalan takdirku. Aku akan mencoba menjalaninya. Tapi hamba mohon, berikan keikhlasan untuk hati ini. Kebas kan hati ini agar tidak terlalu merasakan sakitnya." ucap Nayla dari sebagian doanya.
Dan kembali ke waktu sekarang.
Setelah acara ijab Kabul. Semua orang membubarkan diri. Tidak terlalu banyak orang sebenarnya, hanya beberapa tetangga dan kerabat dekat saja. "Nak Stefani, benarkah orangtuamu sudah kamu beritahukan tentang pernikahan ini?" tanya Bu Tika, setelah dia menyaksikan sendiri orangtua Stefani tidak hadir di pernikahan putri mereka. "Ada apa ini sebenernya? kenapa mereka tidak hadir. Bahkan untuk menjadi walimu saja beliau tidak bersedia?." cecar Bu Tika kepada menantu barunya.
Ya! setelah tadi mereka kebingungan mendapati fakta bahwa ayah Stefani tidak kunjung datang ke acara pernikahan putrinya. Mereka tepaksa menggantikannya dengan wali hakim. "Ayahku tidak akan datang. Bisakah kalian tidak menunggunya lagi." itulah kata terakhir Stefani sebelum ijab kabulnya.
"Aku sudah di usir dari rumah Bu!. Dan ayah tidak mengakui ku lagi sebagai putrinya." satu kalimat Stefani mampu membuat semua orang terkejut. "Apa?! jadi benar dugaanku, kamu sudah di usir dari rumahmu. Tapi kenapa?," tanya Bu Tika memastikan alasannya, meski dia sudah bisa menduganya.
"Tentu saja karena mereka kecewa terhadap kelakuan putrinya. Mungkin mereka menganggap aib peristiwa ini." sarkas pak Dedi yang sudah kembali, setelah tadi mengantar Hilwa ke rumahnya. Beliau terpaksa mengucapkan kalimat menyakitkan itu untuk menantu barunya. Karena beliau pun sudah sangat geram, karena Stefani lah yang menggoda putranya, dan akhirnya Reno mengkhianati istrinya Hilwa.
Stefani termenung mendengar perkataan ayah mertuanya. Benar! ini memang salahnya, tapi bisa di pastikan dia tidak menyesali perbuatannya. Karena dia bahagia bisa mendapatkan kembali cinta pertamanya.
"Jangan di dengarkan perkataan ayah, nak Stefani!. Biarlah untuk saat ini mereka tidak mengakuimu sebagai putrinya. Ibu yakin lambat laun mereka akan mengakuimu kembali dan kamu akan tetap menjadi putri mereka." ucap Bu Tika menenangkan Stefani. Padahal dalam hatinya sangat menyayangkan sikap orangtua Stefani. Bagaimana kalau benar-benar Stefani di buang oleh keluarganya. Sia-sia aku mengharapkan mempunyai menantu yang sederajat denganku. Dia bahkan lebih parah dari Hilwa, karena dia sudah tidak diakui oleh orangtuanya sendiri. gerutu Bu Tika dalam hati.
__ADS_1
Hari ini akan terus berlanjut, karena hari ini adalah hari yang sangat panjang!