DERITA MENANTU RAHIM YANG KOSONG

DERITA MENANTU RAHIM YANG KOSONG
Pergi dari rumah


__ADS_3

Hujan akhirnya benar-benar turun.


Sesaat setelah Hilwa keluar dari rumah mantan suaminya. Ya, mantan. Karena sejak kata talak itu Hilwa sudah bukan lagi istri dari Reno secara agama. Pak Dedi pulang ke rumahnya dengan menahan sesak di dadanya. Dia tidak bisa berbuat apa-apa jika takdir yang sudah berbicara. Meski dia sudah memprediksi perpisahan ini sebelumnya, tetap saja jika melihatnya secara langsung, hatinya tidak kuasa menahan sesak di dadanya. Melihat kepergian menantu yang sangat di sayangi.


"Bagaimana Mas, apa Hilwa baik-baik saja. Reno tidak berbuat apa-apa kan?" pertanyaan pak Diki mewakili hati semua orang. Pak Dedi hanya bisa menggeleng perlahan. "Apa maksud kamu Mas. Tolong jelaskan semuanya. Kami hanya takut terjadi sesuatu dengan Hilwa." desak pak Diki. "Hilwa sudah pergi dari rumah, dan dia tidak mungkin lagi berada di tengah-tengah kita." ucap pak Dedi akhirnya.


"Apa maksud paman? kenapa kak Hilwa pergi? mana hujan-hujan begini lagi." cemas Amira. "Iya benar paman. Di luar sedang hujan, bagaimana jika Hilwa-" ucapan Ivan menggantung, "Aku akan mencarinya." Ivan bergegas menyambar kunci mobilnya. "Aku ikut kak." teriak Amira. Semua orang tidak ada yang berani menghalangi Ivan dan Amira, karena mereka pun sama khawatirnya.


Mereka tidak ada yang menyalahkan Hilwa disini. Karena apa yang terjadi tadi, murni sebuah kesalahpahaman. Bu Tika dan istrinya pak Diki yang menjadi saksinya. Kalau Ivan benar-benar memasuki kamar Hilwa karena ingin membersihkan diri. Dan Ivan pun menjelaskan kepada semua orang, tadi sewaktu dia masuk belum ada Hilwa di dalam kamar itu. Reno lah yang benar-benar salah di sini. Dia berasumsi sendiri dan menyebabkan kesalahpahaman ini terjadi.


Sedangkan Reno, dia menangis meraung di dalam kamar. Saat ini Stefani sudah berada di rumah. ternyata dia keluar karena sedang mencari makanan. "Ada apa denganmu kak? kenapa kamu seperti ini?, katakan sesuatu. Jangan membuatku bingung." cerca Stefani. Dia melihat suaminya yang memukul-mukul tepi tempat tidur dan menangis meraung tanpa ada kata yang dia ucapkan. "Hilwa sudah pergi. Istri yang sangat aku cintai, kini telah pergi meninggalkanku." hanya kata itu yang mampu Reno ucapkan.


"Apa?! Hilwa sudah pergi. Pergi dari rumah ini selamanya maksudnya?, ahh akhirnya. Dia pergi juga, dan aku menjadi satu-satunya istri Reno." sorak Stefani dalam hati.


"Ya sudahlah kak. Jangan kamu pikirkan dia lagi. Kan ada aku dan anak kita. Aku pastikan kita akan bahagia tanpa dia." ucap Stefani santai. "Apa kamu bilang? tidak semudah itu melupakannya Stefani. Dan ini gara-gara kamu juga. Karena kamulah awal mula kehancuran rumahtangga ku dengan Hilwa." kini tatapan mata Reno berubah tajam. Ada kilatan amarah dari setiap kata-katanya. "Ma-maaf kan aku kak. Aku tidak bermaksud bicara seperti itu. Sungguh." Stefani yang mulai ketakutan. "Jika kamu tidak hadir di kehidupanku, mungkin saat ini Hilwa masih bersama ku. Dan dia masih menjadi istriku." cercau Reno, memojokkan Stefani ke sandaran tempat tidur. "Ti-dak kak jangan seperti ini. Ada anak di dalam kandunganku." Stefani terbata karena ketakutan. Dia sengaja mengucapkan kata itu, karena takut Reno akan berbuat yang tidak dia inginkan. "Ahhh sial!" Reno mengusap wajahnya kasar. Dia mengacak rambutnya frustasi.


Reno juga akhirnya pergi mencari keberadaan Hilwa, karena sadar di luar sedang turun hujan. Dan dia yakini saat ini istrinya sedang kehujanan di jalanan.

__ADS_1


* * *


Sedangkan Hilwa saat dia sedang menyusuri jalan raya. Hujan pun turun dengan derasnya. Dia tidak sempat berteduh dan malah membiarkan tubuhnya di guyur hujan.


Dia berusaha mendinginkan tubuhnya, berharap hujan bisa meredam semua pikirannya yang kalut. "Aku yakin bapak dan ibu akan mendukung keputusanku ini bukan?, mereka bahkan sudah mengetahui bagaimana keadaanku saat ini. Ayolah Hilwa. Ini adalah awal, bukan akhir bagimu." gumamnya yang menyemangati dirinya sendiri.


Hujan yang terus mengguyur tidak membuat Hilwa berhenti melangkahkan kakinya. Tapi lama kelamaan badan Hilwa pun menggigil, dia baru menyadari keadaannya sekarang. Saat dia ingin menyebrang jalan, tiba-tiba mobil berwarna hitam menghalangi jalannya dan hampir saja mobil itu menyentuh tubuh Hilwa.


Ckit! suara ban mobil bergesekan dengan aspal. Hilwa menoleh ke arah kemudi mobil. Tapi pandangannya tidak terlihat jelas.


Dia membukakan pintu mobil dan menyuruh Hilwa untuk masuk ke mobilnya. "Masuklah. Mas akan mengantar kamu." pintanya. Hilwa pun langsung menurutinya. Karena badannya pun saat ini sudah basah kuyup. "Maaf Mas. Tubuh Hilwa basah semua, jadi membasahi mobil Mas Andre." ucapnya yang tidak enak hati. Saat ini mereka sudah duduk di kursi mobil. "Jangan dipikirkan. Yang penting kamu nggak kehujanan sekarang. Ini ada handuk, pakailah untuk membantu mengeringkan tubuhmu." Andre yang memberikan handuk kecil yang ada di mobilnya. "Makasih Mas." jawab Hilwa.


Sesaat suasana hening. Tidak ada yang berani memulai percakapan di antara mereka. Mereka hanya bergelut dengan pikirannya masing-masing. "Mas harus antar kamu kemana, Wa?" tanya Andre akhirnya. "Ke rumah orangtua Hilwa saja." jawabnya singkat. Banyak sekali pertanyaan yang ingin Andre tanyakan. Tapi dia sungkan, takut membuat Hilwa merasa tidak nyaman. Tapi dari ciri-cirinya Hilwa yang membawa tas yang cukup besar. Dia pasti ke luar dari rumah suaminya. Tapi kenapa? dan ada apa?. Pertanyaan itu tidak berani keluar dari mulut Andre.


"Mas sudah tahu rumah orangtua Hilwa?" tanya Hilwa yang heran, karena Andre sama sekali tidak bertanya dan seperti sudah hafal. "Waktu itukan Mas yang nganter orangtua kamu. Masa kamu lupa." seru Andre. Hilwa menepuk keningnya, "oh iya. Maaf ya Mas, Hilwa tidak terlalu mengingat nya waktu itu. Dan maaf, Mas malah sudah tahu kehidupan Hilwa seperti apa. Hidup Hilwa sangat menyedihkan bukan?" ucapnya lirih dan langsung tertunduk. Ingin sekali Andre merangkul tubuh Hilwa dan menenangkan gadis itu.


"Jangan berpikir seperti itu. Menurutku kamu cukup tangguh dalam menghadapi semua permasalahanmu." hanya kata itu yang mampu keluar dari mulut Andre.

__ADS_1


Mobil pun akhirnya tiba di halaman rumah orangtua Hilwa. "Masuk dulu Mas. Di rumah pasti ada bapak." ajak Hilwa. Tentu saja Andre tidak menolaknya, karena dia pun ingin mengetahui apa yang menimpa Hilwa saat ini.


Kedua orang itu menerobos hujan dan masuk ke teras. "Assalamu'alaikum" seru Hilwa dan mengetuk pintu. Tidak lama pintu pun terbuka. "Hilwa! kamu kemari nak?" Ucap Bu Tini. "Ayo masuk. Eh ada nak Andre juga, mari masuk nak." ajak Bu Tini dan mengambil tas Hilwa yang basah.


Saat memasuki rumah, melihat ayahnya yang tengah duduk di kursi ruang tamu, Hilwa tidak kuasa menahan tangis yang sejak tadi sudah dia tahan. "Bapak . . ." seru Hilwa lirih dan berlutut di kaki pak Marna yang sedang duduk di kursi. Pak Marna pun terkejut, kenapa putrinya bisa sampai seperti ini. "Kamu kenapa nak. Dan kenapa pakaian mu basah kuyup kaya gini?" tanya pak Marna. "Maafkan Hilwa pak. Hilwa sudah gagal." hanya itu yang mampu Hilwa ucapkan.


Deg. Semua orang sudah mengerti maksud Hilwa.


"Sudah-sudah. Jangan seperti ini. Kamu tidak salah nak. Ini sudah takdir. Jangan pernah menyalahkan diri kamu sendiri atas apa yang sudah terjadi." sahut pak Marna. "Iya Hilwa. Justru kami senang, kamu akhirnya bisa melepaskan diri kamu. Yakinlah akan ada kebahagiaan yang akan menyambut mu." timpal Bu Tini yang duduk di samping suaminya.


Andre yang sejak tadi sudah duduk di kursi, hanya diam menyaksikan. Dia belum menemukan benang merahnya. Apakah Hilwa sudah benar-benar berpisah dengan Reno atau hanya keluar dari rumahnya saja.


"Apa Reno dan ayah mertuamu tahu, kamu pergi dari rumah itu?" tanya Bu Tini. Hilwa mengangguk, "Apakah sudah-" ucapan pak Marna menggantung dia ragu untuk menanyakannya. "Kak Reno sudah menjatuhkan talak untuk Hilwa, pak." jawab Hilwa lirih. dia sudah bisa menduga kemana arah pertanyaan ayahnya.


Semua orang yang berada disana, menarik nafasnya dalam. Sungguh mereka sudah menduga hal ini akan terjadi. Tapi tetap saja, mereka menatap iba kepada gadis yang masih sangat muda dan harus menyandang status janda di usianya saat ini. "Tabahlah nak. Jangan kamu menoleh lagi ke belakang. Yang lalu biarlah berlalu. Bukalah lembaran baru, dan yakin dengan takdir mu yang akan datang. Insyaallah akan ada takdir yang indah untukmu." ucap pak Marna bijak.


"Yes! akhirnya. Hilwa sudah sendiri. Apa aku sudah boleh mendekati ya?. Ahh tidak-tidak, biarkan dia menikmati kesendiriannya dulu. Aku tidak boleh gegabah dalam bertindak. Nanti Hilwa malah menjauh, jika aku masuk ke kehidupannya saat ini." seru Andre dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2