
Satu bulan telah berlalu.
Kehidupan Hilwa benar-benar sangat membahagiakan. Suaminya sangat menyayanginya, begitupun dengan orangtua Andre, mereka benar-benar memperlakukan Hilwa sebagai menantu kesayangan.
Saat ini Hilwa sedang sarapan dengan semua anggota keluarga. Entah kenapa tiba-tiba dia merasa mual dan ingin memuntahkan semua isi perutnya yang baru beberapa suap masuk ke dalam mulutnya.
"Huek, huek" Hilwa mencoba berlari menuju kamar mandi yang berada di dapur. Sontak saja membuat suami dan mertuanya terkejut. Andre berlari menghampiri istrinya. "Sayang, kamu kenapa? Apa kamu sakit?" tanyanya.
"Sepertinya masuk angin Mas. Perutku mual sekali, Hilwa nggak tahan Mas. Mas Andre sih, ngapain semalam ngajak main di kamar mandi." gerutu hilwa. "Sini Mas bantu memijat tengkukmu sayang." ujar Andre mendekati istrinya.
"Mas pake parfum apaan sih. Kok pusing banget, Hilwa malah tambah mual." protes Hilwa. "Mas pake parfum Mas yang biasa Mas pake kok." sahut Andre mencium aroma tubuhnya.
"Ada apa ini. Sayang kamu nggak papa kan?" tanya Bu Eva yang ikut menghampiri mereka karena mencemaskan menantunya. "Sepertinya masuk angin Bu. Semalam Andre mengajak Hilwa main di kamar mandi." sahutnya secara gamblang.
"Maksud kamu main air. Kenapa kamu mengajak istrimu main di kamar mandi sih. Kurang kerjaan saja." gerutu Bu Eva. Entahlah apa dia sedang loading atau memang polos, tidak tahu maksud dari perkataan Andre.
Tapi Andre pun tidak ingin menjelaskannya, biarlah ibunya berasumsi dengan pikirannya sendiri. Lagian dia pun malu jika harus menjelaskannya secara detail. "Sayang wajah kamu pucat sekali. Ibu panggilkan dokter yah. Biar dia memeriksa keadaan kamu." ujar Bu Eva yang kini sedang memijat tengkuk Hilwa.
"Ya sudah biar Andre yang menghubungi dokter langganan kita ya Bu." ujar Andre yang kembali masuk ke ruang makan. "Istrimu kenapa Ndre?" tanya pak Indra yang juga mencemaskan menantunya.
"Masuk angin yah. Andre ingin menghubungi dokter biar datang kesini." sahutnya, dan pak Indra pun mengangguk. Bu Eva menggandeng tangan Hilwa yang memang wajahnya memucat dan terlihat lemas.
"Kita ke kamar saja sayang. Biar Mas yang gendong kamu." ujar Andre yang langsung menggendong tubuh Hilwa ala bridal style. Hilwa pun tidak sempat protes dan membiarkan suaminya menggendong tubuhnya.
"Maafkan Mas, jika ide Mas semalam malah bikin kamu sakit." lirih Andre berucap. "Nggak papa Mas, Hilwa yang meminta maaf, tadi sempat membentak Mas Andre." sahut Hilwa tersenyum hangat. Andre menciumi kening Hilwa dengan sayang.
__ADS_1
Tidak lama kemudian, Bu Eva masuk dengan seorang dokter wanita. Mereka tersenyum saat melihat Andre sedang menciumi pipi istrinya dengan bertubi. "Masih pagi Ndre. Apa semalam belum puas?" ujar dokter wanita itu yang seusia dengan ibunya. Karena memang dokter itu teman Bu Eva. Andre hanya nyengir menanggapi perkataan wanita paruh baya itu. Sedangkan Hilwa menahan malu, dan wajahnya yang berubah memerah.
"Jangan malu, pengantin baru memang kaya gitu. Kita juga mengalaminya bukan?" sela Bu Eva yang melihat wajah menantunya. "Kamu kali Va, aku mah nggak!" kilah dokter itu. Bu Eva hanya melengos mendengar bantahan sahabatnya
Andre menggelengkan kepala melihat tingkah ibu dan sahabatnya. Ya, sahabatnya lah yang mampu mengalahkan perkataan ibunya.
"Hallo sayang. Apa yang kamu rasakan?" tanya dokter kepada Hilwa. "Pusing dan perut mual dok. Rasanya seperti di aduk-aduk." sahut Hilwa. "Ok kita periksa dulu yah." ujar dokter yang menempelkan alat di perut Hilwa.
"Kapan terakhir datang bulan sayang?" tanyanya. "Sepertinya pas 3 hari setelah menikah dok." sahut Hilwa. Karena memang setelah itu dia tidak mengalami datang bulan lagi. Dokter itu mengambilkan alat kecil dari dalam tasnya. "Tespek dok?" ujar Hilwa terkejut. Dia sangat sering menggunakan alat itu, sewaktu dulu kalau mengalami terlambat haid beberapa hari. Tapi untuk kali ini dia cemas untuk menggunakan alat itu lagi. Dia hanya takut, kekecewaan yang akan dia dapat.
"Iya sayang, untuk mengetahui apa kamu hamil atau tidak." Sahut dokter itu. "Iya sayang, nggak papa. Jangan takut, dokter hanya ingin mengetahui Untuk melanjutkan pemeriksaannya." timpal Bu Eva. "Ayo sayang Mas bantu. Jika pun tidak, Mas tidak akan berharap lebih kok. Ini hanya memastikan saja." ujar Andre yang menghampiri istrinya lagi dan menggenggam tangannya.
Hilwa pun mengangguk dan bergegas masuk ke dalam kamar mandi di bantu oleh Andre. Setelah beberapa menit Hilwa keluar, dia tidak sempat melihat hasilnya, karena dia masih trauma dengan hasil yang berpuluh-puluh kali mengecewakannya.
Dia memberikan tespek itu ke tangan dokter. "Selamat Ndre, akhirnya kamu akan menjadi ayah. Tokcer juga putramu Va, selamat yah." seru dokter yang memberitahukan hasilnya.
Andre langsung berkaca-kaca, "secepat inikah Tuhan. Terimakasih Engkau telah mengabulkan doa-doa kami." seru Andre yang memeluk tubuh istrinya. Sedangkan Hilwa masih terbengong, dia masih terkejut mendengar kalau dirinya sedang mengandung. "Ini bukan mimpi kan Mas?" lirih Hilwa. "Nggak sayang, ini nyata. Kita akan menjadi orangtua." sahut Andre yang menciumi seluruh wajah istrinya. "Mas, Tuhan sangat menyayangiku. Kini kebahagiaan terus menghampiriku bertubi-tubi." ucap Hilwa meneteskan air mata.
"Iya sayang. Kami juga sangat menyayangimu dan akan selalu begitu." sahut Andre menciumi wajah istrinya di seluruh sisi tanpa canggung di hadapan orangtua dan dokter.
* * *
Trimester pertama, Hilwa mengalami masa ngidam yang cukup merepotkan Andre. Tapi Andre selalu siaga menjadi calon ayah yang baik untuk calon bayinya. Semua keinginan Hilwa langsung di wujudkan nya tanpa mengeluh sedikitpun.
Trimester kedua, mereka mengadakan syukuran 7 bulanan yang cukup meriah. Orangtua Hilwa pun di datangkan langsung dari kotanya. Mereka sangat bahagia menyambut calon anggota keluarga baru mereka.
__ADS_1
Trimester terakhir, Hilwa dan ibu mertuanya mulai membeli semua perlengkapan untuk bayi yang sebentar lagi akan terlahir ke dunia ini. Cek-up rutin Hilwa lakukan sesuai anjuran dokter. Sesekali Bu Eva ikut dengan anak menantunya, karena dia pun penasaran ingin mengetahui perkembangan cucu yang masih dalam kandungan menantunya.
Dan tibalah saat yang di tunggu-tunggu.
"Mas, perutku sakit banget. Sepertinya sudah waktunya." ucap Hilwa saat dia terbangun dari tidurnya. Saat ini masih tengah malam, semua anggota keluarga sedang tertidur pulas. "Benarkah sayang. Kalau begitu ayo kita ke rumah sakit sekarang. Ibu! Mas harus memberitahu ibu dulu." ujarnya yang langsung keluar dari kamar, dia membiarkan Hilwa meringis sendiri di kamarnya.
"Ibu, ayah! Ayo kita ke rumah sakit sekarang, anakku ingin keluar." teriak Andre dan menggedor-gedor pintu kamar orangtuanya. Tidak lama pintu pun terbuka, "Andre kamu bisa tenang nggak, ibu harus bersiap-siap dulu." sahut Bu Eva. Dia sedikit kesal karena Andre terlalu keras menggedor-gedor pintu kamarnya.
"Mana bisa aku tenang Bu, aku takut terjadi apa-apa sama istri dan anakku. Ayo Bu cepatlah!" pinta Andre. "Ya sudah kamu temenin istrimu dulu. Nggak boleh di tinggal sendirian." ujar Bu Eva yang menutup kembali pintunya.
Akhirnya setelah ketegangan Andre membangunkan seisi rumah, Hilwa pun di bawa menuju rumah sakit. Bukan Hilwa, tapi Andre yang terus mengoceh sampai membuat kepala Bu Eva pusing. "Ndre kamu fokus saja, jangan banyak ngoceh. Seharusnya ayah aja yang nyetir, ibu jadi was-was." ujar Bu Eva
"Ok, aku akan tenang. Ya tuhan kenapa tanganku gemetaran kaya gini" ujar Andre. "Biar ayah saja yang nyetir. Nggak benar kamu Ndre, kamu mau bikin kita celaka dengan tangan kamu yang gemetaran kaya gitu." ujar pak Indra. Andre pun menuruti perkataan ayahnya dan turun dari mobil untuk bergantian menyetir.
Akhirnya setelah pak Indra yang memegang kemudi, situasi pun terkendali. Dan Hilwa bisa masuk ke rumah sakit tepat waktu.
Setelah hampir satu jam, akhirnya suara tangisan bayi pun terdengar dari ruang persalinan. "Alhamdulillah" seru Bu Eva dan pak Indra yang menunggu di luar ruang persalinan. Sedangkan Andre terkulai lemas melihat dengan mata kepala sendiri perjuangan istrinya untuk melahirkan putrinya secara normal.
Ya putri, karena Hilwa melahirkan seorang bayi perempuan yang sangat cantik. Dan itu pun keinginan semua anggota keluarga di keluarga Andre. Karena mereka ingin merasakan mendadani seorang putri di keluarganya.
Andre langsung mengadzani putrinya yang baru lahir, suaranya serak karena menahan keharuan di hatinya. Hilwa pun tidak kuasa meneteskan air matanya, semua penantiannya tidak ada yang sia-sia. Jika dulu takdir tidak, oh bukan tidak! tapi belum. Takdir belum memperkenankan Hilwa untuk mempunyai keturunan dari Reno. Tapi sekarang di saat rumah tangganya baru di mulai, secepat inikah takdir memberikan kebahagiaan untuk dirinya dan keluarganya.
Ini adalah sebagian dari kisah nyata. Semoga dapat kita ambil hikmah dari kisah Hilwa. Di saat sepasang suami istri sudah menjalani rumahtangga yang sudah bertahun-tahun, tapi belum juga di karuniai seorang anak. Tapi di saat mereka sudah berpisah, ternyata mereka malah mempunyai anak dari pasangan baru mereka masing-masing, dan ini nyata terjadi.
Entahlah, mungkin ini memang jalan takdir seseorang yang mau tidak mau harus mereka jalani dan mengikuti alur dari Sang Maha Pencipta.
__ADS_1
TAMAT!!!