
Hingga waktu malam tiba. Semua orang sedang berada di halaman belakang. Mereka sedang menyiapkan berbagai macam olahan daging-dagingan yang akan mereka santap di pesta barbeque ini.
Tungku arang sudah siap, begitupun bahan-bahan yang akan di bakar. Reno dan Andre yang sudah berdiri di depan pembakaran. "Kak, ini bahan yang akan di bakar." ucap Hilwa menyerahkan berbagai macam bahan. Seperti daging sapi, sosis, jagung dan masih banyak lagi. "Makasih Wa!" jawab Reno. "Kak! aku sudah tidak sabar ingin segera mencicipinya." usaha Stefani mencoba memisahkan Reno dan Hilwa jika mereka sedang berdekatan.
Kening Andre mengkerut melihat Reno di dekati perempuan lain dan Hilwa terlihat acuh. Apa ada ini. Apakah Reno mempunyai dua istri?, batin Andre.
Setelah melihat interaksi mereka berdua, sepertinya iya. Wah! hebat sekali si Reno. Aku aja satu pun belum ada nyantol. gumam Andre. "Bapak sedang bicara dengan siapa?" tanya Hilwa yang mendengar gumaman Andre. "Eum tidak! Saya tidak bicara dengan siapa-siapa." jawab Andre gelagapan.
"Hilwa! kamu bisa tidak jangan memanggil saya dengan sebutan bapak. Emang tampang saya seperti bapak-bapak apa? bahkan saya pun belum menikah." seloroh Andre. "Oh, maaf kalau begitu. Terus saya harus panggil bapak, eh Mas apa?" tanya Hilwa. "Nah itu, Mas saja. Itu lebih baik dari pada bapak." pintanya. "Baiklah kalau begitu mas Andre." ucap Hilwa tersenyum.
"Kata bapak, Mas donatur tetap di sekolah tempat bapak ngajar ya?" tanya Hilwa. "Iya begitulah. Saya alumni sana juga. Jadi saya ingin membantu anak-anak yang kurang mampu dan sudah tidak mempunyai orangtua." papar Andre. "Wah hebat sekali, Mas. Padahal Mas masih muda, tapi sudah punya jiwa sosial yang tinggi." puji Hilwa. Tentu saja wajah Andre bersemu merah mendapat pujian dari perempuan yang sudah menarik perhatiannya sejak pertamakali bertemu.
"Heum sayang! Tolong kamu bolak-balik daging ini donk." pinta Reno. Hilwa yang baru saja ingin mendekati suaminya, "biar aku saja kak. Aku yang dari tadi di sini kok." Stefani mengerucutkan bibirnya. "Nanti kandungan kamu kenapa-napa, aku nggak mau sampai terjadi sesuatu sama anak kita." kilah Reno. Nyut! hati Hilwa merasakan perih. "Nggak kok kak, cuma kaya gini mah. Aku juga masih sanggup." kekeuh Stefani. Dia tidak akan membiarkan Reno berdekatan dengan istri pertamanya.
Andre yang menangkap perubahan wajah Hilwa, merasa prihatin. Dia sudah bisa menduga semuanya, kalau Reno melakukan poligami. Kasihan kamu Hilwa, gadis sebaik kamu, harus berada dalam situasi rumit seperti ini. ucap Andre dalam hati.
Akhirnya Hilwa ikut membolak-balikkan daging yang bakar oleh Andre.
"Nak, apakah makanannya sudah siap?" pak Dedi dan pak Indra mendekati para anak muda itu. "Sebentar lagi ayah." jawab Hilwa. "Apakah ayah ingin mencobanya?," tawar Hilwa. "Tentu saja, aaa!" pak Dedi membuka mulutnya, dan Hilwa pun memasukkan satu potongan daging kecil ke mulut ayah mertuanya. "Wah, ini lezat sekali. Siapa yang membuatnya?" tanya pak Dedi.
__ADS_1
"Aku" jawab Hilwa
"Saya om" ucap Andre berbarengan.
"Wah kalian kompak sekali." pak Indra ikut menimpali. Seketika keduanya salah tingkah. Pak Dedi yang melihat itu, tersenyum samar. Ada sesuatu yang menggelitik hatinya.
Sedangkan Reno sedari tadi menahan amarah yang meluap-luap di dadanya. Melihat interaksi istrinya dengan laki-laki lain. Apa yang kamu lakukan Hilwa!. Apa kamu sengaja ingin membalas ku. batin Reno geram. Tapi dia masih berusaha menutupinya.
"Selesai!" ucap Hilwa.
Dan semua orang pun menyantap makanan yang sudah tersedia. Terdapat berbagai macam minuman juga. Seperti es buah dan sirup. Dengan suka cita, mereka berkumpul di tengah malam yang mulai merangkak naik, dengan beralaskan rumput dan beratap langit di penuhi bintang-bintang yang ikut menyaksikan kebahagiaan mereka.
Saat malam sudah sunyi, biarkan kekhawatiranmu memudar. Hanya tidur yang lelap bisa membantumu memulai hari esok dengan penuh energi. Tidak ada yang bisa menduga akan ada kejadian apa lagi esok hari, maka dari itu persiapkan mental dan panjatkan doa-doa dan harapan agar semuanya berjalan dengan baik.
* * *
Cahaya lampu di luar masih temaram, Hilwa mulai menggerakkan tubuhnya dan duduk di sandaran tempat tidur. Dia menarik nafas dalam. Setiap hari gadis ini selalu mempersiapkan mental untuk semua kemungkinan yang akan terjadi. Tidak ada ketenangan lagi, hari-harinya selalu di mulai dengan kegelisahan.
Dia bangun dari tepi tempat tidur dan masuk ke kamar mandi. Membersihkan diri dan mengambil wudhu untuk menunaikan shalat Subuh. Habis itu dia turun ke lantai bawah, untuk persiapan memasak.
__ADS_1
Di saat sebagian anggota keluarga masih asyik terlelap, Hilwa sudah memulai mempersiapkan sarapan untuk mereka.
Terdengar suara peralatan dapur yang saling beradu saat seorang pemuda turun menapaki anak tangga. Dia tidak sengaja menyunggingkan senyumnya saat melihat Hilwa sedang berada di dapur. Paginya sungguh indah, bisa melihat gadis yang dia sukai dalam diam untuk pertama kalinya.
"Hilwa? pagi-pagi sekali kamu sudah berada di dapur?" tanya Andre basa-basi. Hilwa menoleh, "eh ia Mas. Saya sedang mempersiapkan untuk sarapan kita. Apa mas mau teh atau kopi?" tanya balik Hilwa saat Andre duduk di kursi dapur. "Boleh, kalau kamu tidak keberatan." ucap Andre tersenyum hangat. "Masa keberatan sih Mas, cuma kopi ini. Kalau menggendong kamu tuh baru saya keberatan, hehe!." Aduh kenapa aku malah bercanda sih. ucap Hilwa dalam hati. Entahlah ada apa dengannya, tidak biasanya dia mudah akrab dengan laki-laki lain. Apalagi dia baru saja mengenal laki-laki ini.
"Bisa bercanda juga kamu Hilwa." ucap Andre, hatinya sedikit membuncah melihat senyum terbit dari bibir Hilwa.
"Ini kopinya Mas." Hilwa yang menyodorkan satu gelas kopi di hadapan Andre. "Makasih." dan mengalir lah obrolan-obrolan yang tiba-tiba mengakrabkan diri mereka masing-masing.
Langkah kedua orangtua paruh baya itu terhenti, kala mendengar suara tawa dari putra dan menantu mereka. Sejenak mereka melihat tawa yang jarang sekali mereka dengar akhir-akhir ini. Ya! pak Dedi dan pak Indra sudah keluar dari dalam kamarnya. Kenapa anak itu, tiba-tiba akrab dengan menantunya pak Dedi? tidak biasanya dia seperti itu. Jangankan akrab, menyapa gadis lain pun dia jarang melakukannya. Jangan-jangan?, ahh tidak mungkin. Apa yang aku pikirkan sekarang. Putraku masih waras bukan, mana mungkin dia menyukai gadis yang sudah bersuami. batin pak Indra.
Hilwa! seandainya dugaan ayah benar. Mungkin ayah akan menyetujuinya. Ayah akan mengikhlaskannya. Karena kebahagiaan kamu sangat penting bagi ayah. Jika kamu sudah tidak bahagia lagi dengan putra ayah, ayah akan mendukung apapun yang akan membuat kamu bahagia. ucap pak Dedi dalam hati.
"Wah! kalian pagi-pagi sekali sudah berada di dapur. dan kamu Ndre, sudah minum kopi buatan Hilwa. Biasanya om yang pertama Hilwa di buatkan teh, ya kan nak?" ucap pak Dedi yang sudah berdiri tidak jauh dari mereka. "Eh om, iya nih. Saya juga baru kali ini minum kopi pagi-pagi. Mumpung ada yang buatin" ucap Andre. "Ayah, Hilwa buatkan teh hangat ya." ucap Hilwa. "Boleh nak, semenjak kamu dan Reno pindah rumah, ayah sudah tidak pernah lagi meminum teh hangat buatan kamu Hilwa." ucap pak Dedi. Hilwa pun tersenyum, "Untuk bapak juga ya nak!" timpal pak Indra, tersenyum hangat. "Pasti pak." Hilwa langsung membuatkan teh untuk kedua orangtua itu, dan memberikannya beserta camilannya. "Terimakasih nak." ucap mereka bersamaan. Dan Hilwa pun kembali ke dapur. Andre sudah berkumpul dengan para orangtua di ruang tamu.
Mereka asyik mengobrol. Sesekali Andre menimpali perkataan para orangtua itu.
"Apa?! jadi putra mu itu melakukan poligami. Kenapa bisa? aku lihat, menantumu gadis yang baik. Tapi kenapa?-" kata-kata pak Indra menggantung melihat sahabatnya menarik nafas dalam. Dan pak Dedi pun terpaksa membuka aib keluarganya kepada mereka. Sebab dari dulu tidak ada yang bisa mereka tutup-tutupi apapun kejadian yang menimpa mereka.
__ADS_1
Kedua laki-laki beda generasi itu termenung, kenapa sesuatu yang menyedihkan bisa terjadi kepada gadis sebaik Hilwa. Itulah yang ada di pikiran mereka masing-masing.