
Sejak perceraiannya dengan Hilwa, kini hidup Reno sekilas terlihat menyedihkan. Bagaimana tidak, dia yang biasanya selalu terlihat tampan dengan perawakannya yang gagah dan penampilannya yang rapi. Tapi lihatlah dia sekarang. Badannya yang kurus, serta tatanan rambut yang dia biarkan memanjang.
"Ren, kamu ini kenapa sih. Emang Stefani nggak ngurusin kamu. Sampai-sampai hidup kamu terlihat menyedihkan seperti itu." ucap Bu Tika. Saat ini Reno sedang berkunjung ke rumah orangtuanya.
"Mungkin Stefani sibuk ngurusin bayinya kali Bu, jadi nggak sempet ngurusin suaminya." timpal Anita. Ya memang saat ini Stefani sudah melahirkan, dan bayi mereka berjenis kelamin laki-laki. "Nggak bisa gitu donk. Ibu juga ngalamin punya bayi, tapi ibu bisa ngurusin ayahmu juga." ketus Bu Tika berucap.
"Ya mungkin Stefani beda Bu. Jangankan ngurusin Reno, dirinya saja acak-acakan kaya gitu. Dia sudah terbiasa apa-apa di layani kan Bu. Jadi saat ini dia keteteran kalau harus ngurusin bayi seorang diri." sahut Anita. Sedangkan Reno hanya duduk termenung, entah apa yang dia pikirkan saat ini.
"Sepertinya kamu salah pilih istri deh Ren, buktinya Stefani tidak becus ngurusin kamu dan bayi kamu." sungut Bu Tika. "Ibu, ibu. Stefani kan pilihan ibu juga, kenapa sekarang malah nyalahin Reno sih." Anita yang selalu menyahuti perkataan ibunya.
"Kamu bisa diam nggak Anita. Ibu lagi bicara sama Reno. Lagian kamu kenapa sih Ren, dari tadi diam saja. Ibu ngomong dari tadi juga." protes Bu Tika.
"Ren, Reno!" teriak Bu Tika yang sudah mulai habis kesabarannya. "Kamu kenapa Ren, apa yang kamu pikirkan selama ini. Kamu udah seperti mayat hidup aja, selalu diam dan melamun nggak jelas." sergah Bu Tika.
"Aku merindukan Hilwa Bu, hiks." ucap Reno lirih. Dia sudah tidak bisa membendung lagi kerinduan dihatinya yang semakin hari semakin menggunung.
Deg, tentu saja Bu Tika dan Anita terkejut mendengar perkataan Reno. "Ren, apa kamu tidak sadar. Kamu sudah tidak berhak memikirkannya. Hilwa sudah bukan lagi istrimu." sahut Anita. Sedangkan Bu Tika hanya diam membisu. Dia benar-benar terkejut, tidak menyangka bahwa putranya masih sangat merindukan mantan istrinya.
"Aku benar-benar tersiksa mbak selama ini. Aku merindukannya, aku masih sangat mencintainya. Sangat Mbak. Tolong bantu aku." ucap Reno yang memelas. "Ren, sadarlah! Kamu sudah mempunyai Stefani dan kamu sudah mempunyai anak darinya. Kenapa kamu masih memikirkan wanita yang jelas-jelas sudah pergi jauh darimu." sahut Bu Tika geram.
__ADS_1
"Bu! apa salahku, jika aku tidak bisa menghilangkan cintaku kepadanya. Ini semua gara-gara kalian, kalian yang mendorongku untuk berpisah dari Hilwa. Aku tidak bisa hidup tanpanya, aku menderita." ucap Reno histeris.
"Jangan seperti ini Ren. Kamu membuat ibu sedih, maafkan ibu." sahut Bu Tika merangkul tubuh putranya. Anita pun tidak kuasa menahan kesedihan melihat adik laki-laki yang selalu menjadi kebanggaan di keluarganya, sekarang terlihat menyedihkan seperti ini.
"Apakah aku bisa kembali kepadanya, Bu? apa ada cara agar Hilwa mau kembali kepadaku. Jika ada tolong katakan." pinta Reno. Bu Tika dan Anita hanya menggeleng, mereka bingung harus menjawab apa. Karena mereka pun tidak yakin, Hilwa mau kembali menjadi bagian dari keluarga mereka.
"Iya Ren, tenanglah. Kita akan cari cara agar kamu bisa kembali bersama Hilwa. Ibu yakin kini Hilwa pun sedang berduka atas perpisahan kalian." ucap Bu Tika menenangkan.
"Benarkah Bu, ibu mau merestui kami kembali. Jika Hilwa bersedia menerimaku lagi?" tanya Reno menatap ibunya. "Iya nak. Ibu akan selalu mendukung apapun yang membuat mu bahagia. Itu pasti." sahut Bu Tika yakin. Dan barulah Reno bisa menenangkan dirinya. Dia mengusap wajahnya perlahan dan air mata yang tadi merembes di pipinya.
Tapi baru saja tenang. Stefani datang dengan sangat tergesa. "Bu, Mbak Anita lihatlah ini!" seru Stefani. Mereka semua pun menoleh, "ada apa Stefani, kenapa kamu tergesa-gesa seperti itu?" tanya Bu Tika penasaran.
"Sayang, kamu disini? bukannya langsung pulang ke rumah bantuin jagain anak kita. Kamu malah langsung ke rumah ibumu." ujar Stefani geram. Karena sejak tadi dia menunggu suaminya pulang kerja, eh malah ada di rumah ibunya.
Stefani hanya mendengus mendengar pembelaan dari ibu mertuanya. Selalu saja seperti itu, tidak boleh anaknya di tegur sedikitpun. Dasar anak mami. gerutu Stefani dalam hati.
"Ini, coba kalian lihat. Apa benar ini Hilwa?" tanya stefani yang menunjukkan majalah yang selalu dia lihat setiap harinya. Mendengar nama Hilwa tentu Reno langsung antusias dan merebut majalah yang di pegang oleh istrinya. Sesaat dia menatap lekat, "apakah benar ini Hilwa? kenapa dia tambah cantik begini." lirih Reno. Stefani nampak tidak suka dengan apa yang suaminya katakan.
"Mana, Mbak lihat!" Anita pun tidak kalah penasaran. Dia hanya diam termangu melihat foto seseorang yang ada di majalah itu. "Ini benar Hilwa. Ini namanya saja, jelas tertera disini." sahut Anita memastikan dan menunjuk nama Hilwa yang tertera di sana. "Wah, dia jadi model sekarang. Mbak benar-benar tidak menyangka." tambah Anita yang membuat semua orang terkejut.
__ADS_1
Sedangkan Bu Tika tidak bisa merespon apa-apa. Bibirnya terasa kelu untuk sekedar berucap tentang keterkejutannya. Dia benar-benar tidak menyangka, mantan menantunya kini, bisa menjelma menjadi seseorang yang berbeda. Di foto itu Hilwa sedang berpose layaknya seorang model, dengan menggunakan busana muslim modern dan nampak tersenyum merekah.
Bu Tika duduk di kursinya dengan lemas. Ia mengira Hilwa sama seperti Reno yang sedang terpuruk paska perceraiannya. Tapi nyatanya dia malah bersinar, dan tidak mungkin mau kembali kepada putranya yang menyedihkan ini.
Anita dan Reno tidak melihat ibunya yang diam termenung, mereka sibuk menelisik foto Hilwa yang menurut mereka sangat pangling. "Sepertinya aku salah menunjukkan majalah ini kepada mereka. Mereka jadi terlihat kagum begitu sih. Bodohnya aku!" batin Stefani merutuki kebodohannya.
"Ada apa ini?" tanya pak Dedi. Dia baru saja datang dari luar rumah. "Ini yah, Hilwa menjadi model sekarang." sahut Anita menunjukkan gambar Hilwa. "Benarkah, coba ayah lihat." pak Dedi pun antusias mendekati mereka. Beliau pun diam termangu menatap gambar mantan menantunya. "Syukurlah ternyata perkataan Indra benar. Kini Hilwa memang terlihat bahagia." ucapnya lirih.
"Apa maksud ayah. Apa hubungannya dengan om Indra? dan dari mana beliau tahu tentang keadaan Hilwa sekarang?" tanya Anita antusias, mewakili pertanyaan semua orang yang berada di sana.
"Hilwa di ajak Andre untuk bekerja di butik ibunya. Dan sekarang pun dia tinggal di rumah orangtua Andre. Tapi bapak tidak menyangka, kalau Hilwa lebih bersinar melebihi harapan ayah." jawab pak Dedi tersenyum sumringah.
"Apa?! Hilwa tinggal di rumah orangtua Andre? bagaimana bisa. Apa mereka jadi sering bertemu?" tanya Reno tanpa sadar. "Ya jelaslah. Tidak mungkinkan Andre tidak tinggal di rumah orangtuanya, kecuali kalau dia punya tempat tinggal sendiri." sahut Anita.
Seketika tangan Reno meremas gambar Hilwa. "Aku tidak akan membiarkan siapapun laki-laki mendekati Hilwa. Karena dia harus menjadi milikku lagi." gumam Reno tapi masih bisa di dengar oleh semua orang.
Tentu saja semua orang terkejut, kenapa Reno harus mengatakan hal itu. "Itu sesuatu yang mustahil Ren, karena Hilwa sudah sangat di sayangi di keluarga Andre. Dan sepertinya mereka sangat menginginkan Hilwa untuk menjadi menantu di keluarga itu." papar pak Dedi.
"Tidak mungkin ayah. Hilwa gadis yang mempunyai kekurangan. Mereka sepertinya belum mengetahui fakta itu. Jika mereka tahu, tidak mungkin Hilwa bisa diterima di keluarga mereka." protes Bu Tika yang sejak tadi hanya diam membisu.
__ADS_1
"Tidak semua orang seperti kita Bu. Yang mempermasalahkan sesuatu hal seperti itu. Apalagi mereka kaya raya, tentu tidak susah untuk melakukan pengobatan agar Hilwa bisa mempunyai anak." timpal Anita.
Reno tiba-tiba pergi dari hadapan mereka, dengan wajah yang memerah.