DERITA MENANTU RAHIM YANG KOSONG

DERITA MENANTU RAHIM YANG KOSONG
Resepsi


__ADS_3

Pagi-pagi sekali mereka sudah berangkat ke kota sesuai dengan rencana awal. Pak Indra dan Andre yang mengendarai mobilnya masing-masing. Orangtua Hilwa ikut dengan mobil Andre dengan Hilwa yang duduk samping kemudi.


Sedangkan Alif ikut dengan Bu Eva. Selama di perjalanan Alif tidak hentinya di unyel-unyel pipinya. Risih pastinya, tapi Alif membiarkannya. Dia sangat menghormati Bu Eva, karena tahu kalau beliau sangat menyayangi kakaknya.


"Sudah donk Bu, Alif jangan di unyel-unyel terus, dia kan sudah besar, bukan anak kecil ya kan lif?" seru pak Indra yang duduk seorang diri di depan kemudi. Beliau melihat dari kaca spion bagaimana kelakuan istrinya.


"Habis ibu gemes sih. Jadi keinget Andre dulu waktu masih kecil. Dia lucu seperti Alif ini. Nanti kalau ibu punya cucu, pasti tampan dan cantik seperti Hilwa dan Andre." ucap Bu Eva antusias.


Deg!


"Bu, bagaimana kalau kak Hilwa tidak bisa memberikan ibu cucu. Apa ibu masih mau menyayanginya? Alif takut sesuatu yang menyakitkan terulang lagi di kehidupan kak Hilwa." tanya Alif khawatir. Bu Eva dan pak Indra pun tersadar. "Alif jangan khawatir kan kak Hilwa, ibu sangat menyayanginya tanpa ada alasan apapun. Dan ibu sudah berjanji akan menerima kekurangannya. Tapi sebelum itu, ibu akan tetap berusaha untuk membawa kak Hilwa menjalani berbagai pengobatan. Jika Tuhan tidak menghendakinya juga, ibu akan tetap menyayangi kakak mu." sahut Bu Eva tersenyum hangat.


"Ibu janji kan, akan selalu menyayangi kak Hilwa bagaimanapun keadaannya?" tanya Alif memastikan. "Iya sayang, ibu janji. Karena putra ibu juga sangat menyayanginya. Jadi tidak ada alasan untuk ibu tidak menyayangi juga bukan?" sahut Bu Eva meyakinkan.


Nampak Alif bernafas dengan lega. "Kamu sangat menyayangi kakakmu?" tanya Bu Eva. "Iya Bu, Alif sangat menyayangi kak Hilwa. Dia sudah menderita selama ini. Meski Alif tahu, tapi Alif tidak bisa berbuat apa-apa. Tapi sekarang karena ibu sudah berjanji kepada Alif, dan melihat betapa kak Andre sangat menyayangi kak Hilwa. Alif jadi lega Bu." jawab Alif lirih.


Bu Eva nampak mengusap pucuk kepala Alif dengan sayang, dia begitu terharu mendengar perkataan Alif yang berharap kakaknya bisa hidup dengan bahagia. Dan pak Indra pun tersenyum mendengar pembicaraan dua orang yang berada di kursi belakang. Dia juga sangat beruntung, putranya bisa menikahi seorang gadis yang begitu di sayangi di keluarganya.

__ADS_1


Kini mobil pun melaju membelah kemacetan untuk menuju ke sebuah kota besar. Dimana nantinya Hilwa akan tinggal bersama keluarga suaminya.


Kedua mobil itu akhirnya sampai di tempat tujuan. Yaitu sebuah hotel mewah yang cukup terkenal di sana. Mereka akan menginap sebelum acara resepsi pernikahan di laksanakan esok hari.


Andre menyewa tiga kamar di hotel tersebut. Dan mereka pun memasuki kamar mereka masing-masing. Tidak banyak barang bawaan yang mereka bawa, karena semua fasilitas sudah mereka sediakan.


Malam ini mereka harus beristirahat cukup, karena besok pagi-pagi sekali acara resepsi itu akan dilaksanakan. Sedangkan di lantai ballroom sudah ada beberapa orang yang sedang mendekorasi dan menyiapkan segala persiapannya.


* * *


Pagi itu Hilwa di rias bak putri ratu. Dia memakai gaun berwarna silver dengan mahkota yang menghiasi hijabnya. Gaun panjangnya menjuntai, makeup soft mampu membuat Hilwa semakin pangling saja.


Kini Andre dan Hilwa sudah selesai di rias, meraka berjalan beriringan bak raja dan ratu saja. Semua mata menatap takjub pada paras kedua mempelai. Siapa yang menyangka bahwa Hilwa pernah menikah dengan orang lain sebelumnya, yang mereka tahu Andre dan Hilwa sangat serasi menjadi sepasang pengantin.


"Bukannya itu model majalah hijab yang lagi terkenal kan? Wah, ternyata dia menantunya Bu Eva yang memiliki butik langganan ku. Nampak Bu Eva juga sangat menyayangi menantunya yah?" ucap salah satu tamu undangan yang mengenal Bu Eva dan Hilwa.


"Pasti donk, menantunya cantik begitu. Udah gitu model yang sedang naik daun lagi, siapa sih yang nggak menyayanginya. Lagian wanita itu juga beruntung dapetin putranya Bu Eva, secara dia putra satu-satunya dengan kekayaan yang dia dan orangtuanya punya yang sangat melimpah ruah. Nggak bakalan habis tujuh turunan itu." timpal salah satu wanita yang juga mengenal kehidupan Bu Eva.

__ADS_1


Mereka pun manggut-manggut menanggapi perkataan para wanita yang melihat keserasian kedua mempelai.


Hilwa dan Andre sudah duduk di kursi pelaminan. Nampak para tamu mendatangi mereka dan mengucapkan selamat atas pernikahannya. Sebagian para tamu sudah mencicipi berbagai hidangan yang sudah tersedia di sana. Alunan musik yang syahdu mengiringi sepanjang acara berlangsung.


"Sayang apa kamu lelah? apa sebaiknya kita istirahat saja." tanya Andre di tengah-tengah acara pesta. "Nggak papa Mas, Hilwa bisa menahannya kok. Cuma hari ini saja kan. Hilwa tidak mau mengecewakan Mas Andre dan orangtua Mas. Para tamu yang hadir adalah kenalan kalian, jadi seharusnya Hilwa tetap berdiri disini. Tidak mungkinkan, Mas andre berdiri di sini seorang diri." sahut Hilwa


"Tapi Mas khawatir kamu kelelahan. Jika kamu sudah tidak kuat, bilang saja sama Mas." ujar Andre. "Iya Mas, jangan khawatir. Ayo kita lanjutkan, habis ini kita bisa beristirahat sepuasnya bukan." sahut Hilwa tersenyum manis.


Sampai menjelang malam, akhirnya Hilwa dan Andre bisa menyelesaikan acara resepsi pernikahan nya dengan tanpa kekurangan sesuatu apapun. Para tamu kini sudah membubarkan diri masing-masing. Sepasang suami-isteri itu sudah memasuki kamarnya. Begitupun dengan orangtua mereka yang ikut merebahkan tubuhnya di kasur yang empuk itu.


"Ahh akhirnya, selesai juga. Sayang apa kamu mau mandi terlebih dahulu. Atau kita mandi berdua saja?" goda Andre. "Apa Mas yakin bakalan kuat, jika kita mandi bersama. Hilwa belum selesai lho." sahut Hilwa menanggapi perkataan suaminya.


Andre nampak berpikir sejenak, "iya sih, Mas nggak bakalan kuat. Ya sudah kamu lebih dulu, habis itu Mas. Sini Mas bantu bukain gaunnya." ujar Andre yang kini mendekati tubuh Hilwa.


Hilwa pun mengangguk tanpa berpikir panjang, karena dia memang tidak bisa membuka resleting gaun yang dia pakai. Setelah resleting gaun terbuka, nampak Andre menelan Salivanya susah payah. Jakunnya naik turun, melihat bahu dan punggung Hilwa yang terbuka, Andre seperti kehausan. Kerongkongannya kering, dan tubuhnya menjadi panas dingin.


"Ahh ini gila! bagaimana ini, aku sudah tidak bisa lagi menahannya." ucap Andre dalam hati. "Eum sayang. Mas duluan saja ya yang mandi. Badan Mas jadi kegerahan kaya gini." ujar Andre yang langsung masuk ke dalam kamar mandi tanpa mendengar persetujuan dari istrinya.

__ADS_1


"Lho Mas Andre kenapa sih. Dia langsung main masuk aja. Apa jangan-jangan-" ucapan Hilwa menggantung karena membayangkan apa yang dilakukan suaminya di dalam sana.


Begitulah Hilwa, dia tidak polos ya. Karena dia sudah berpengalaman. hehe


__ADS_2