
Ruangan yang tadinya sunyi, sekarang semua anggota keluarga ada di kamar Hilwa. Karena mendengar suara keributan.
"Jangan asal bicara kamu. Atas dasar apa kamu menuduhku?" sergah Ivan. Reno yang sudah dibutakan oleh amarah pun tidak bisa berpikir jernih. Dia mempercayai apa yang telah dia lihat. Fakta kalau Ivan sedang berada di kamar istrinya dan Hilwa yang tergeletak di atas tempat tidur. Dia berasumsi sendiri, apa yang mereka lakukan sebelumnya.
"Dasar laki-laki breng*sek, kamu meniduri istriku!" sarkas Reno. "Kak! apa yang kamu katakan. Kenapa kamu menuduh kak Ivan meniduri ku. Atas dasar apa kamu menuduh kami?" kini Hilwa yang tidak terima dengan ucapan suaminya. "Oh jadi selama ini kamu berubah dan selalu menolakku. Karena kamu sudah mendapatkan kehangatan dari laki-laki lain. Iya?" tuduh Reno.
Plak!
Untuk pertamakali nya Hilwa berani mengangkat tangan kepada suaminya. "Kamu sudah menuduhku kak. Teganya kamu." sergah Hilwa. Reno menyeret tangan Hilwa dan berjalan keluar. "Jangan ada yang berani mengikuti ku." teriak Reno.
Semua orang yang tadinya ingin menghalangi jalan Reno, seketika menyingkir. Melihat kemarahan di wajah Reno yang saat ini sangat mengerikan. Hilwa terus meronta, dia ingin melepaskan diri dari cekalan tangan Reno. Untung sepanjang jalan Reno membawa Hilwa ke rumahnya tidak ada seorang pun yang mereka jumpai. Jika tidak, ini akan menjadi gosip hangat para netizen di sekitar lingkungannya.
"Lepasin aku kak!" pinta Hilwa yang meringis, karena cekalan tangan Reno semakin kuat. Reno sama sekali tidak menggubris ucapan Hilwa. Sampai mereka tiba di rumah Reno. Hilwa di seret untuk masuk ke kamar yang dulu mereka tempati.
Bugh, Reno mendorong tubuh Hilwa ke atas kasur. Tubuhnya terlentang, Hilwa cepat-cepat ingin bangun dan kabur dari situasi ini. Tapi Reno langsung menindih tubuh Hilwa tanpa sempat mengunci pintu kamarnya. Saat itu Stefani tidak ada di rumah, entahlah kemana dia.
Reno secara paksa ingin menggagahi istrinya. "Kak! apa yang kamu lakukan. Lepaskan aku." pinta Hilwa. "Kenapa? aku ingin membuktikan kalau memang tuduhan ku salah. Jika kamu tidak melakukannya dengan si breng*sek itu, tidak akan ada bekas di dalam tubuhmu." ucap Reno yang ingin membuka pakaian Hilwa. Dengan sekuat tenaga tangan Hilwa mendorong tubuh Reno. "Aku tidak akan melakukan hal sehina itu." sanggah Hilwa. "Kalau begitu buktikan kepadaku. Kalau benar tidak ada bekas dari hasil percintaan kalian." ucap Reno dengan tatapan tajamnya.
Nyut! nyeri di hati Hilwa semakin menganga. Bahkan kali ini Reno sengaja menaburkan garam di luka yang selalu dia torehkan. Tuduhannya sudah menghancurkan harga dirinya sebagai seorang istri. "Biar aku membukanya sendiri, agar kamu semakin puas. Kamu tidak akan menutup pintu, dan akan membiarkan orang lain melihat tubuh polos ku." ucap Hilwa getir. Reno berjalan ke arah pintu dan menguncinya.
__ADS_1
Dia masih berdiri di balik pintu. Melihat Hilwa yang melepaskan pakaiannya satu persatu sampai akhirnya benar-benar polos. "Coba kamu lihat kak! apa ada bekas percintaan yang kamu tuduhkan itu?" ucap Hilwa lirih. Kini amarah yang ada di dalam hati Reno meredup. Dia berjalan ingin menghampiri istrinya. "Cukup kak! Jangan berani menyentuhku lagi. Aku sudah terlanjur kotor di matamu. Jadi sebaiknya kamu mundur." kini tatapan Hilwa tajam menusuk ke relung hati Reno yang diliputi rasa bersalah karena sudah menuduh istrinya.
Sebelum Reno bertindak lagi, pintu kamar di gedor oleh seseorang. "Reno, buka pintunya. Kalau tidak ayah akan dobrak." teriak pak Dedi. Hilwa langsung memunguti pakaiannya dan masuk ke kamar mandi.
Reno menatap nanar punggung istrinya yang polos. Dia mengusap wajahnya kasar. Dia merutuki kebodohannya sendiri, bagaimana bisa dia menuduh Hilwa melakukan hal sehina itu. "Reno! buka pintunya. Jangan melakukan hal yang akan kamu sesali seumur hidup kamu. Cepat buka pintunya." pintu terus di gedor-gedor oleh pak Dedi.
Ceklek.
Terlihatlah wajah yang diliputi kecemasan itu. Pak Dedi menyapu seluruh ruangan tidak ada tanda-tanda menantunya disana. "Dimana Hilwa? Kamu apakan dia. Kamu tidak menyiksanya kan?" berondong pak Dedi. "Bagaimana mungkin aku menyiksa istri yang sangat aku cintai ayah." jawab Reno lirih.
Tidak lama terdengar suara gemericik air di dalam kamar mandi. Pak Dedi sudah bisa bernafas lega, sepertinya Hilwa ada di dalam kamar mandi. "Ayah ingin bicara kepadamu." ucap pak Dedi yang berjalan ke arah ruang tamu. Reno pun mau tidak mau mengekori ayahnya. "Atas dasar apa kamu menuduh Ivan dan istrimu?" tanya pak Dedi menatap tajam. "Maafkan aku ayah. Aku sudah terlanjur dikuasai amarah dan cemburu. Sampai akhirnya aku menuduh Hilwa melakukan hal sehina itu." jawab Reno dengan kepala tertunduk. "Kamu sudah tidak layak lagi untuk perempuan sebaik Hilwa. Kamu sudah terlalu jauh menyakiti hatinya." ucap pak Dedi lirih. "Maafkan aku ayah, sungguh aku tidak pernah bermaksud untuk menyakitinya. Sampai detik inipun aku bahkan masih sangat mencintainya, ayah." ucap Reno kini semakin tertunduk.
Tidak lama pintu kamar pun terbuka. Hilwa keluar dengan membawa tas nya. Dia berjalan dengan penuh keyakinan menghampiri kedua laki-laki yang duduk di kursi ruang tamu. "Lepaskan aku kak" satu kalimat Hilwa menjadi akhir dari sisa kesabarannya.
Deg, deg!
Kedua orang itu tentu saja terkejut dengan apa yang Hilwa ucapkan. "Aku mohon, aku hanya ingin pergi dari sini. Lepaskan aku kak." ucap Hilwa lagi. "Tidak Hilwa, apa maksud kamu. Kenapa kamu ingin pergi. Tetaplah disini bersamaku." sanggah Reno. "Tidak kak. Sisa kesabaranku sudah habis. Kamu bukan hanya saja menyakiti perasaanku, tapi kamu juga menghancurkan harga diriku. Kamu sudah meragukan ku, kak." ucap Hilwa tajam. "Tidak Hilwa, kakak mohon, maafkan kakak. Kakak janji tidak akan pernah mengulanginya lagi." rengek Reno. "Berapa Kali lagi kamu akan terus mengucapkan janji. Satu pun tidak ada yang kamu tepati. Berapa kali lagi kita akan berbuat dosa, jika kita terus saling mempertahankan hubungan yang sudah tidak sehat ini. Karena aku akan terus menolakmu. Dan sejujurnya aku tidak pernah bisa menerima semua perbuatanmu, kak. Aku tersiksa selama ini."
"Tolong berikan satu alasan, agar aku bisa terus bersamamu, kak?" ucap Hilwa getir. "Jika tidak ada, lepaskan aku dari belenggu cintamu yang menyiksa ini. Aku mohon, aku hanya ingin bebas kak." Ucap Hilwa yang terduduk di lantai. Tubuhnya semakin bergetar menahan sesak di dadanya. Reno pun ikut terduduk di lantai, tubuhnya seketika lemas melihat istrinya meminta untuk di lepaskan. "Apa sebegitu menyakitkannya Wa, untuk bertahan denganku?" tanya Reno lirih. "Sangat kak. Aku sudah tidak sanggup lagi mempertahankan hubungan ini. Kita hanya akan terus saling menyakiti jika tetap bersama." jawab Hilwa lirih.
__ADS_1
Pak Dedi hanya menatap iba kepada anak dan menantunya. Bagaimana bisa, dua orang yang dulu sangat saling mencintai, kini harus berakhir dengan cara seperti ini. Pak Dedi tidak bisa menahan air mata di pelupuk matanya. Tapi dia pun tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya merekalah yang harus memutuskan semuanya. "Bagaimana kakak bisa hidup tanpamu, Wa. Kakak masih sangat mencintaimu." ucap Reno getir. "Hilwa yakin kakak akan hidup bahagia bersama Stefani dan anak yang selalu kakak inginkan. Cintamu akan hilang seiring dengan waktu yang akan kita habiskan setelah berpisah." ucap Hilwa meyakinkan.
"Lepaskanlah dia, jangan biarkan belenggu cintamu semakin membuat dia terluka. Itu lebih baik, daripada harus saling menyakiti." ucap pak Dedi. Kini diapun harus benar-benar mengikhlaskan menantu yang sangat dia sayangi.
Hilwa mencoba berdiri. "Ayo lakukanlah kak."
"Bangunlah nak. Lakukanlah sebagai laki-laki yang bijaksana. Lepaskanlah perempuan yang lembut ini. Dia tidak akan pernah pergi, sebelum kamu sendiri yang melepaskannya."
Pak Dedi membantu putranya untuk berdiri. "Baiklah jika itu yang kamu inginkan. Hilwa Anindya, saya talak kamu saat ini. Dan mulai saat ini, kamu bukan lagi milikku. Tidak ada hubungan apa-apa lagi diantara kita. Kamu sudah terbebas dari hak-hak mu sebagai istriku." Reno berucap dengan bibir yang bergetar dan menahan suara seraknya.
Hilwa tersenyum getir "Baiklah kak. Hilwa terima dengan kalimat yang baru saja kamu ucapkan." hanya itu yang mampu Hilwa ucapkan. "Ayah Hilwa pamit, jaga kesehatan ayah. Dan terimakasih karena sudah menyayangiku selama ini. Hilwa tidak akan pernah melupakan ayah." ucap Hilwa dan mencium tangan ayah mertuanya untuk terakhir kali. "Pergilah nak. Semoga kamu menemukan kebahagiaan setelah ini. Restu ayah menyertaimu." ucap pak Dedi dengan bibir yang sama bergetar.
"Sayang! untuk yang terakhir kalinya, apa boleh kakak memeluk mu?" pinta Reno. Hilwa menatap ayah mertuanya, dan pak Dedi pun mengangguk.
Hilwa pun mengangguk. Reno langsung menghambur memeluk tubuh mantan istrinya itu. Tangis keduanya pecah, mereka tidak bisa membendung kesedihan yang ada di dalam hatinya masing-masing. Cukup lama mereka menumpahkan semua tangisnya.
Hilwa yang pertamakali mengurai pelukannya. "Hilwa pamit kak. Semoga kakak bahagia dengan Stefani." ucapnya dan berlalu dari hadapan mereka dengan menenteng tas pakaian yang tersisa di rumah itu.
Hilwa berjalan gontai menyusuri jalan yang dia lalui. Karena cuaca yang sebentar lagi akan turun hujan. Jadi tidak ada orang yang berlalu lalang. Hilwa sendiri, hanya tiupan angin yang mengantarkan kepergian.
__ADS_1