
Hujan yang tadinya terus mengguyur, akhirnya mereda. Seperti kegelisahan hati Hilwa. Sekarang setelah bertemu dengan kedua orangtuanya, dia merasa jauh lebih baik. Memang di saat keadaan kita terpuruk atau pikiran kita yang sedang kacau, kadang perkataan orangtua lah yang kita perlukan.. Sebagai obat penenang dan sebagai sandaran di mana beban kita akan terasa ringan, jika orangtua sudah memihak kita.
"Sekarang gantilah pakaianmu. Nanti kamu sakit, nak." perintah Bu Tini. Hilwa pun mengangguk dan bergegas memasuki kamarnya. Kamar yang akan dia tempati lagi mulai dari sekarang.
"Eum maaf nak Andre, ibu belum sempat membuatkan minuman. Karena terkejut melihat Hilwa tadi." ucap Bu Tini yang baru menyadari belum menjamu tamunya. "Tidak apa-apa, Bu. Saya juga tadi terkejut kenapa Hilwa ada di jalanan di tengah hujan. Kalau begitu saya pamit pulang saja." ucap Andre yang hendak berdiri.
Tapi sebelum Andre beranjak dari tempat duduknya. Suara ketukan pintu terdengar. "Assalamu'alaikum." Ketukan pintu terdengar di iringi ucapan salam dari balik pintu. Sepertinya lebih dari satu orang. "Coba kamu buka Bu. Siapa yang bertamu lagi." perintah pak Marna.
Bu Tini pun bergegas menghampiri pintu dan membukanya. "Nak Amira dan-?" ucapan Bu Tini menggantung, dia belum mengetahui sosok laki-laki yang bersama Amira. Sedangkan Amira yang sudah sangat dia hafal. Karena dulu pernah beberapa kali bertemu, bahkan sudah pernah berkunjung ke rumah ini.
Setelah tadi mereka mencari keberadaan Hilwa di sepanjang jalan, dan sama sekali tidak menemukannya. Akhirnya mereka memutuskan untuk ke rumahnya. "Kak apa sebaiknya kita ke rumah orangtua kak Hilwa. Kita pastikan terlebih dahulu kalau dia sudah benar-benar sampai di rumah." ajak Amira. Tentu Ivan tidak menolaknya. Karena dia pun sangat mengkhawatirkan keadaan gadis itu. "Baiklah. Tapi kamu tahu dimana rumah orangtuanya?" tanya Ivan. "Tahu kak. Amira pernah berkunjung ke rumah orangtua kak Hilwa. Insyaallah Amira masih ingat alamat rumahnya." jawab Amira.
__ADS_1
Dan sinilah mereka berada. "Ini kakak saya, Bu. Apa kak Hilwa sudah sampai rumah?" tanya Amira tidak sabaran. "Ada. Dia baru saja sampai. Ayo masuk. Sekalian ibu buatkan teh hangat." ajak Bu Tini. Mereka berdua pun masuk ke dalam rumah.
Mereka terkejut karena ada seorang laki-laki yang tengah duduk di kursi bersama ayah Hilwa. Apalagi Ivan saat matanya bersirobok dengan Andre, keningnya mengkerut, dia terkejut setahunya Hilwa tidak mempunyai kakak laki-laki.
Begitupun Andre yang menatap selidik, siapa laki-laki yang bertamu ke rumah orangtua Hilwa. "Eh ada nak Amira. Silahkan duduk." perintah pak Marna. Mereka pun duduk, setelah bersalaman.
"Kami kesini untuk memastikan keadaan Hilwa pak. Kami khawatir apa dia sudah sampai di rumah atau belum." ucap Ivan setelah dia duduk di kursi. "Hilwa baru saja sampai. Dia sedang mengganti pakaiannya. Terimakasih kalian susah mengkhawatirkan keadaan putri bapak." ucap pak Marna. "Tadi Hilwa memang kehujanan, untung ada nak Andre yang bertemu Hilwa di jalan. Jadi dia dibawa nak Andre ke sini." timpal pak Marna lagi. "Syukurlah kalau begitu pak." ucap Ivan dan Amira bersamaan.
Pintu salah satu kamar terbuka. Hilwa keluar dengan keadaan yang lebih membaik. Dia sudah mengganti pakaiannya. Meski semua pakaian yang dia bawa semuanya basah. tapi Hilwa selalu menyimpan beberapa lembar baju di rumah orangtuanya. "Amira, kak Ivan. Kalian kesini?" seru Hilwa. Dia pun duduk di samping Amira. "Kenapa kalian bisa ada disini? apa kalian mencari ku?"tanya Hilwa. "Iya kak. Kami sangat mengkhawatirkan kakak. Kami sangat cemas saat tahu kakak pergi dari rumah kak Reno, apalagi dengan keadaan hujan seperti tadi." sahut Amira.
Tentu saja yang disebutkan namanya langsung melambung. Andre berdehem ketika semua tatapan beralih menatapnya. "Tapi kenapa laki-laki itu seperti tidak suka melihatku. Jangan bilang dia juga sudah mengincar Hilwa." gumam Andre dalam hati.
__ADS_1
"Syukurlah Wa. Kamu baik-baik saja. Dan maaf tentang kesalahpahaman tadi. Aku tidak habis pikir, kenapa si Reno bisa salah paham terhadap kita. Dan menyebabkan kekacauan ini." gerutu Ivan. "Sudahlah kak. Jangan pernah membahasnya lagi. Mungkin ini sudah jalannya, agar aku bisa segera mengakhirinya." sahut Hilwa. Dia tidak mau oranglain mengetahui tentang kesalahpahaman tadi, apalagi Ayahnya. "Apa kamu sudah benar-benar pergi dari kehidupan Reno Wa?" tanya Ivan antusias. Amira menyenggol siku kakaknya, yang seperti berbinar ketika menanyakan hal itu. "Maaf kak. Apa kakak tidak akan pernah kembali ke rumah kak Reno lagi?" tapi Amira pun penasaran. hehe
Hilwa pun mengangguk. "Kakak minta doanya untuk kehidupan kakak kedepannya. Semoga kakak bisa memulai kehidupan kakak yang baru." hanya itu yang mampu Hilwa katakan. Wah sepertinya benar, jawaban itulah yang ingin di dengar oleh Ivan. Terlihat dia menyunggingkan bibirnya sekilas. Tapi buru-buru dia mencoba menyembunyikan ekspresi bahagianya. Tapi telat, Andre sudah melihatnya. "Huh sepertinya benar. Dia juga menginginkan Hilwa. Ahhh sial! belum apa-apa aku sudah mendapatkan saingan." gerutu Andre dalam hati.
"Ini teh nya. Semoga bisa menghangatkan tubuh kalian. Makasih ya, sudah mengkhawatirkan putri ibu. Ibu sangat berterimakasih kepada kalian." ucap Bu Tini dan menyimpan beberapa cangkir teh di atas meja. Semua orang mengangguk dan meminum teh hangat itu bersamaan. Karena saat ini cuaca memang sangat dingin. Akibat hujan tadi yang mengguyur dengan sangat deras.
Mereka kembali melanjutkan obrolan. Sedangkan Andre dan Ivan yang sesekali menatap Hilwa intens. "Sepertinya kedua laki-laki ini menyukai Hilwa. Ahh, biarlah. Siapapun itu, biar Hilwa lah yang menentukannya." batin Bu Tini.
Dan pak Marna pun menyadari tatapan kedua laki-laki muda itu. Kali ini dia tidak akan gegabah jika harus memilih pendamping lagi untuk putrinya. Jika suatu saat Hilwa benar-benar terlepas dari Reno. Karena akan ada proses yang harus mereka hadapi, yaitu sidang perceraian.
"Kalau begitu saya pamit. Karena sebentar lagi akan malam." pamit Andre. "Kami juga kak. Kami pergi dulu ya kak. Jaga kesehatan kakak. Semoga kakak bisa menemukan kebahagiaan setelah ini." ucap Amira tulus. "Makasih Mira. Hati-hati di jalan. Sering-sering main kesini jika berkunjung ke rumah ayah Dedi." sahut Hilwa. "Pasti kak. Kamu begitu kita pamit ya pak, Bu." Amira dan Ivan bersalaman dengan semua orang.
__ADS_1
"Mas juga pamit ya. Kalau kamu butuh sesuatu, jangan sungkan untuk memberitahu Mas. Insyaallah untuk sementara Mas masih ada di kota ini. Karena Mas sedang ada urusan." ucap Andre kepada Hilwa. "Makasih ya Mas udah nganterin hilwa dan maaf Hilwa sudah merepotkan Mas Andre." sahut Hilwa.
Kedua orangtua Hilwa menyaksikan interaksi mereka berdua. "Sejak kapan mereka jadi akrab seperti itu?" tanya kedua orang Hilwa dalam hati.