
Reno Ardinata terlahir dari keluarga terpandang di tempat tinggalnya. ayahnya yang pensiunan pegawai bank dan sekarang mempunyai lapak untuk mengelola ikan di beberapa kolamnya.
Hidupnya sudah berkecukupan sejak kecil, dia yang anak bungsu dan laki-laki satu-satunya di keluarga pak Dedi tentu dirinya sangat di sayang oleh orangtua begitu dengan kakak perempuannya Anita.
Orangtua Reno tidak pernah menolak semua yang Reno inginkan. Bahkan saat Reno meminta izin untuk menikahi Hilwa gadis dari keluarga sederhana, orangtua dan kakak perempuannya tidak bisa bilang tidak.
Padahal kakak perempuannya sudah mengenalkannya dengan wanita yang jauh lebih baik, menurutnya. dan tentu yang sederajat dengan keluarganya. Tapi Reno tetap kekeh pada keinginannya.
Dan akhirnya mau tidak mau mereka harus merestui pernikahan Reno.
Sampai sekarang keluarga Reno, tidak bisa menerima Hilwa dengan baik. hanya ayah mertuanya saja yang mau menerima Hilwa sebagai menantunya dan menyayanginya seperti putri beliau sendiri.
Apalagi sampai sekarang, Hilwa belum memberikan keturunan untuk Reno. itu menjadi bahan bakar, untuk ibu mertua dan kakak iparnya agar bisa menyerang Hilwa.
"Bu, jam berapa kita berangkat ke kota?" tanya Anita yang sudah berada di rumah Reno. karena mereka sudah janjian untuk pergi ke kota.
"Ya kita tunggu Reno berangkat kerja. kan kita ikut dengannya" jawab ibu.
"Istri mu kemana, Ren? kok mbak belum melihatnya" Anita yang sejak tadi belum melihat Hilwa
"Hilwa sedang di kamar tuh. tadi dia terjatuh di kamar mandi, sampai tidak bisa berjalan. Makanya Reno telat untuk sarapan, bahkan tadi Reno memasak di dapur" ucap ibu antusias memberitahu keadaan Hilwa
"Oh ya, beneran kamu memasak di dapur Ren?" tanya Anita tidak percaya. "Bahkan seumur-umur kami belum pernah mengizinkan mu untuk pergi ke dapur. Tapi karena istri mu, kamu malah memasak. hahaha" Anita malah mentertawakan Reno.
Mereka malah memanas-manasi Reno. bukannya memberikan nasihat agar Reno mau merawat istrinya selagi dia tidak bisa melakukan apa-apa.
"Sudah-sudah ayo kita berangkat. nanti kamu telat Ren !" ibu yang mengakhiri obrolan mereka.
Reno bergegas masuk ke kamar untuk mengambil tasnya, tanpa mengatakan sepatah katapun kepada Hilwa, dia langsung berangkat dengan ibu dan kakaknya.
Sejak mendengar perkataan ibu dan kakaknya, hati Reno menjadi panas. Benar, dia merasa rendah diri setelah menikah dengan Hilwa. Dirinya yang belum mempunyai anak, di tambah lagi istrinya yang sakit. Dia bingung harus merawat dirinya dan juga istrinya.
Hilwa sedari tadi hanya diam mendengarkan obrolan mereka di luar kamar. sedangkan dirinya hanya bisa diam menangisi ketidakberdayaan nya. "Aku yang salah sudah masuk ke dalam keluarga suamiku yang kaya. Aku yang salah karena tidak bisa memberikan keturunan untuk suamiku ! Apakah memang aku yang salah Tuhan??? Tangis Hilwa pecah, dia menangis meraung di dalam kamar, meratapi nasibnya.
* * *
Reno meninggalkan rumah dan istrinya dengan pikiran yang kacau. Setelah tadi dia dengan sengaja mengacuhkan Hilwa yang tengah duduk di kasur, menahan rasa sakit di kakinya.
__ADS_1
Sungguh kini dia menyesalinya. Dirinya yang sedang memegang kemudi, sedangkan ibu dan kakaknya duduk di kursi belakang. Dia sama sekali tidak bisa fokus, untuk melajukan mobilnya.
Apa aku kembali saja ya, ke rumah? Tapi ibu dan mbak Anita kan lagi ikut. Aah nanti sajalah pas pulang aku minta maaf. batin Reno
Dia terus melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Di tengah perjalanan dia melihat seorang gadis yang dia merasa mengenalinya. Aahh, ya dia Stefani. Reno tidak berniat menyapanya, tapi ibu dan mbak Anita malah membuka kaca mobil dan menyapa Stefani.
"Nak Stefani ya?" tanya ibu memastikan. dan mau tidak mau Reno harus memberhentikan mobilnya.
"Eh iya Bu. ini Bu kan? Bu Tika??" jawab Stefani memastikan
"Iya benar. nak Stefani mau kemana?"
"Saya mau berangkat kerja Bu" ucap Stefani tersenyum ramah
"Oh ya sudah, kamu ikut kami saja. Bukankah kita searah?"
Stefani nampak berpikir "apa tidak merepotkan Bu?"
"Tidak, ayo masuk". ibu menyuruh Stefani untuk masuk ke mobilnya, dan tentunya duduk di samping Reno.
"Hai, kak. Apa kabar?" Stefani yang sudah duduk di samping Reno
"Baik, kamu?"
"Aku juga baik kak" hening. Mereka sama-sama merasakan kecanggungan. Stefani sudah tahu kalau Reno yang mengemudikan mobilnya, makanya dia mau ikut saat mendengar ajakan bu Tika.
"Nak Stefani ini kan yang dulu pernah dekat dengan Reno kan?" Bu Tika malah bertanya seperti itu, dia pasti sengaja.
"Eh iya Bu" Stefani terlihat salah tingkah dan wajahnya bersemu merah.
Sedangkan Reno dia malah tambah kesal. kenapa ibunya malah bertanya seperti itu.
"Terus sekarang apa kamu juga sudah menikah?"
"Eummmm belum Bu, jangankan menikah teman dekat pun saya tidak punya" ucap Stefani blak-blakan.
__ADS_1
"Kenapa kalian dulu putus sih, padahal kalian itu serasi sekali. kalau kalian sampai menikah, kan bisa barengan berangkat kerjanya seperti ini".
"Kak Reno yang mutusin saya Bu, katanya dia mau menikah". Memang benar Reno yang mutusin Stefani, karena waktu itu Stefani belum siap untuk menikah, dia masih ingin mengejar karier dulu.
"Huh, sayang sekali" ucapan Bu Tika malah membuat Stefani bahagia. apakah ibunya kak Reno mengharapkan ku untuk jadi menantunya? batin Stefani
"Kenapa kamu, berangkat kerja sendiri. bukannya kamu selalu bawa kendaraan sendiri yah?" tanya Anita yang sedari tadi hanya menyimak
"Iya mbak, sebenarnya mobil saya bannya kempes. jadi terpaksa saya harus mencari taksi online tapi keburu ibu mengajak saya.
"Kamu masih kerja di bank juga?" tanya mbak Anita lagi
"Iya masih mbak. letaknya tidak jauh dari kantor tempat kak Reno bekerja kok"
Mereka bertiga asyik bertanya dan mengobrol, sedangkan Reno malah asyik dengan lamunannya dan hanya menyimak saja percakapan Meraka.
Setalah Sampai di tempat tujuan, ibu Tika dan Anita turun dari mobil. sedangkan Stefani masih duduk di samping Reno, karena belum sampai di kantornya.
"Kak, bagaimana dengan kehidupan kakak setelah menikah. Apa kakak bahagia?" tanya Stefani karena hanya pertanyaan itu yang selalu dia pikirkan selama ini.
"Heum, jelas saya bahagia" ucap Reno singkat.
"Terus kenapa kamu tidak punya pacar lagi?" mulut Reno keceplosan. Sebenarnya dia tidak berniat bertanya seperti itu
"Nungguin kakak" ucap Stefani tanpa ragu
Reno menoleh "maksud kamu apa?"
"Saya menyesal kak, waktu itu saya memang benar-benar belum siap. Tapi sekarang saya siap dan menyesal sudah melepaskan kakak"
Deg. . .
maksudnya, apa dia berkata seperti itu? batin Reno.
Hening, mereka tidak saling bertanya lagi sampai Reno menurunkan Stefani di kantornya.
"Terimakasih ya kak, atas tumpangannya" ucap Stefani setelah turun dari mobil.
__ADS_1
Reno kembali melajukan mobilnya, dengan pikiran yang tambah kacau. Setelah tadi mendengar Stefani blak-blakan bicara akan menunggunya, jika suatu saat dia ingin mencarinya.
"Ahhh gila, mana mungkin aku meninggalkan Hilwa" gumam Reno.