DERITA MENANTU RAHIM YANG KOSONG

DERITA MENANTU RAHIM YANG KOSONG
Mencoba memahami


__ADS_3

Bruk!


Lutut Bu Tini menyentuh lantai. Kakinya tidak bisa lagi menyanggah tubuhnya. Beliau benar-benar tidak bisa menerima keputusan putrinya untuk tetap bertahan di rumah ini. "Kamu tidak akan sanggup nak. Percaya sama ibu." ucap Bu Tini getir. Beliau tidak bisa membayangkan hari-hari putrinya akan menderita.


"Hilwa! apa kamu yakin akan tetap bertahan dengan keadaan seperti ini?" tanya Andre yang tiba-tiba masuk ke dalam rumah. Sebenarnya sejak tadi dia berdiri di depan pintu dan menyaksikan semua yang telah mereka ucapkan.


Tanpa sadar kakinya masuk dan berkata seperti itu. Tentu saja semua orang terkejut, kenapa bisa dia ada di sini. batin semua orang.


"Breng*sek! Kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya Reno dan mencengkram kerah Andre. Andre tidak menjawab pertanyaan Reno, dia malah tersenyum simpul seperti sedang meledek lawannya. "Jangan bilang kau yang sudah memberitahu orangtua Hilwa." cerca Reno yang menatap tajam.


"Kamu pikir kebusukan mu akan tertutup rapi. Lambat laun mereka akan mengetahuinya juga. Dan bagaimana bisa, ada laki-laki pengecut seperti dirimu di muka bumi ini." ledek Andre. Dan. . .


Bugh, bugh ! dua bogem mentah mendarat di rahang Andre.


Andre yang tidak siaga harus menerima kepalan tangan Reno. "Apa kamu sengaja dengan seperti ini, kamu bisa merebut Hilwa dariku. Jangan harap aku akan melepaskan Hilwa." ucap Reno menatap nyalang. "Huh dasar laki-laki egois. Apa kamu akan membiarkan wanita sebaik Hilwa hidup menderita bersamamu. Lihatlah! keadaan orangtuanya, apa kamu sanggup mengobati rasa sakit mereka?" tanya Andre tajam.


"Kurang ajar." Reno seperti akan melayangkan pukulannya lagi. Tapi dengan sigap Andre menghadang dan memberikan balasan dengan meninju pipi Reno. Dan sepertinya Reno pun tidak sigap sampai tubuhnya terhuyung ke belakang.


Adu jotos pun tidak bisa di hindarkan. Mereka sama-sama berusaha mengeluarkan amarah yang meluap-luap di dadanya. Yang satu ingin mempertahankan istrinya, dan Andre? entahlah apa motifnya. Yang jelas dia merasa marah melihat keadaan Hilwa saat ini.

__ADS_1


Pak Dedi mencoba melerai keduanya. Tapi beliau kewalahan, karena kalah tenaga. Sedangkan pak Marna hanya dia menonton pertunjukan itu, karena jika Andre tidak maju. Maka yang akan memukul Reno saat ini adalah dia sendiri.


"Hentikan!" Hilwa maju dan berada di tengah-tengah mereka. Keduanya yang ingin saling menonjok pun terhenti, karena kepalan tangan mereka tepat di wajah Hilwa. "Apa yang kalian lakukan. Berhentilah. Dan kamu Mas Andre, sebaiknya kamu pergi dari sini. Dan tolong bawa orangtuaku lagi. Aku mohon!" ucap Hilwa memelas. Entah kenapa tatapan Hilwa seperti semilir angin di tengah kemarau, rasanya sejuk. Dan Andre pun mengangguk, seolah mengerti apa yang ada di dalam hati Hilwa. "Baiklah. Jaga diri kamu baik-baik." ucapnya dan langsung mengajak orangtua Hilwa untuk pergi dari sana.


Akhirnya orangtua Hilwa pun pasrah. Beliau bisa memahami mungkin Hilwa perlu memantapkan hati untuk bisa keluar dari belenggu penderitaannya.


Maafkan Hilwa pak, Bu. Hilwa perlu waktu untuk menetapkan hati apa yang harus Hilwa ambil kedepannya. Sebab Hilwa tidak ingin ada keraguan lagi saat harus meninggalkan kehidupan yang sudah Hilwa jalani selama 5 tahun ini. batin Hilwa, menatap nanar kepergian orangtuanya.


* * *


Selama di perjalanan pak Marna diam membisu. Beliau tidak setuju dengan keputusan putrinya yang ingin tetap bertahan.


Tidak ada yang bisa di ucapkan oleh pak Marna. Beliau hanya menarik nafas berat, memang ada beban yang sedang menggerogoti hatinya. "Iya Bu, bapak akan mencoba memahami keputusannya. Bapak yakin hilwa tidak akan mengambil keputusan yang gegabah. Karena segala sesuatunya, dia selalu berpikir dengan matang. Itulah sifat putri kita Bu." ucap pak Marna bangga kepada putrinya.


Sungguh kamu wanita tangguh, Hilwa!. Dasar laki-laki tidak tahu diri, bisa-bisanya si Reno menyia-nyiakan istri sebaik kamu. Gerutu Andre dalam hati.


Setelah Andre mengantarkan orang tua hilwa ke rumahnya, dia langsung bergegas untuk pergi karena urusannya sudah selesai.


* * *

__ADS_1


Setelah kepergian orang tuanya, Hilwa langsung pulang ke rumah. "Pak, Bu maafkan Hilwa yang sudah mengecewakan kalian. Semua ini memang tidak mudah, Hilwa pun tidak tahu apa Hilwa sanggup untuk menjalaninya. Tapi setidaknya Hilwa tidak akan menyesal jika Hilwa sudah mencobanya dan ada sesuatu yang harus Hilwa selesaikan. Semoga bapak dan ibu memahami keputusan Hilwa." gumam Hilwa lirih dan terisak.


Sementara Reno masih memendam amarah kepada Andre yang sudah memberitahu orangtua Hilwa tentang keadaannya saat ini. Aahh sial! kenapa dia bisa bertemu dengan ayah Hilwa si. Apa mungkin dia ingin merebut Hilwa dariku. Dasar laki-laki tidak tahu malu, menginginkan perempuan yang sudah bersuami. Dan jangan harap aku akan melepaskan Hilwa. batin Reno geram.


Dia pun pulang ke rumah untuk menemui Hilwa. "Hilwa, bagaimana bisa kamu dan ayahmu mengenal Andre?, dan sejak kapan kalian menjadi dekat. Jangan coba bermain api di belakangku." kecam Reno yang sudah berada di dalam kamar berhadapan dengan Hilwa.


"Apa maksud kamu kak. Kamu menuduhku bermain api dengannya? apa kamu lupa, bukannya kamu yang sudah bermain api di belakangku?." jawab Hilwa tajam.


"Ah sudahlah. Yang jelas jangan coba-coba menemuinya lagi, jika tidak -"


"Jika tidak, apa kak? Apa yang akan kamu lakukan terhadapku. Apa kamu ingin menceraikan aku, begitu?" cerca Hilwa.


"Jangan coba-coba mengatakan kata itu terhadapku. Sebab sampai kapanpun, aku tidak akan pernah melepaskanmu." seru Reno. "Oh ya. Kalau begitu perlakukan aku dengan baik mulai sekarang. Bersikap adil lah. Dan aku akan mencoba menjalani sampai di mana batas kesabaranku." lantang Hilwa berbicara. Dia keluar dari hadapan Reno untuk pergi ke dapur. Sebab sedari tadi dia belum memakan apapun di rumah mertuanya.


Tangan Reno terkepal kuat, dia benar-benar merasa rumahtangganya dengan Hilwa sudah di ambang kehancuran. Mungkin hanya tinggal waktu saja, semua ketakutan Reno akan terjadi. Dimana istri yang dia cintai pergi meninggalkannya. "Bagaimana aku harus menyakinkan mu, bahwa kamu masih istri yang sangat aku cintai. Sampai detik ini pun tidak ada yang berubah dari hatiku." ucap Reno lirih.


Ya, memang seperti itu hati Reno. Dia masih terikat hati dengan Hilwa. Wanita yang selama 5 tahun ini menemaninya. Wanita yang selalu tersenyum hangat saat menyambut kedatangannya. Istri yang penurut dan sangat dia cintai. Itulah fakta sebenarnya.


Begitupun dengan Hilwa, dia tidak akan mudah melepaskan diri dari kisah cintanya. Meskipun akan tragis, tapi dia perlu untuk menyakinkan hatinya jika suatu saat dia harus mengakhiri kisah cinta dan perjalanan rumah tangganya dengan Reno. Dia ingin memiliki alasan yang kuat, untuk bisa melepaskan diri dan memulai kehidupannya yang baru jika rumahtangganya tidak bisa terselamatkan.

__ADS_1


Hanya saja, tali penghubung antara Reno dan Stefani lebih kuat yang tidak mungkin bisa dia hindari. Karena ada seorang anak yang memang sangat Reno nantikan kehadirannya. Anak yang tidak bisa Hilwa berikan untuk melengkapi kehidupannya.


__ADS_2