DERITA MENANTU RAHIM YANG KOSONG

DERITA MENANTU RAHIM YANG KOSONG
Ke puncak lagi


__ADS_3

"Arrgghhh" prang. . .


Reno membanting benda yang berada di atas meja di rumahnya. Sejak tadi di rumah orangtuanya dia sudah tidak bisa menahan kemarahannya. Jika saat itu di rumah tidak ada ayahnya, tentu saat itu juga dia bisa meluapkan seluruh amarahnya.


"Kenapa Hilwa, kenapa hanya aku saja yang menderita disini. Apa begitu mudahnya kamu melupakan ku?" teriak Reno.


"Kamu tidak bisa dimiliki oleh orang lain. Kamu hanya akan menjadi milikku Hilwa." seru Reno terus berusaha meluapkan apa yang dia pendam selama ini.


"Kak, apa-apaan ini. Ada apa denganmu? jangan bilang kamu marah karena melihat Hilwa jadi bersinar setelah berpisah denganmu? kamu masih mempunyai perasaan kepadanya, iya?" tanya Stefani cukup geram.


"Kalau iya memang kenapa? Apa kamu keberatan. Ingat Stefani, Hilwa sudah lebih dulu mendampingi hidupku. Dan aku sangat mencintainya bahkan sampai detik ini." seru Reno. "Kak! kamu menganggapku apa selama ini. Apa aku tidak ada didalam hatimu?, kamu tidak pernah mencintaiku kak?" cerca Stefani.


"Kamu hanya sebuah kesalahan dalam hidupku Stefani. Jika bukan karena anak, aku tidak mungkin mempertahankan mu, apalagi berpisah dari Hilwa. Kamu tahu, ternyata hanya dia yang mampu membuatku jatuh cinta." ucap Reno dengan lantang.


Deg. . .seketika tubuh Stefani terasa lemas. Meskipun dia sudah menduganya, tapi jika mendengarnya secara langsung, benar-benar sangat menyakitkan bukan. "Kamu tega kak. Aku sangat mencintai kamu. Aku bahkan meninggalkan orangtuaku untuk bisa hidup bersamamu. Tapi apa yang aku dapat. Kenyataan yang sangat menyakitkan." sahut Stefani lirih.


"Salah kamu sendiri bukan. Kamu yang pertama menggodaku. Jadi terimalah takdir mu, hidup dalam bayang-bayang istri yang sangat aku cintai." ujar Reno.


"Mantan istri kak! Hilwa hanya bekas istrimu. Aku yang jadi istrimu sekarang bukan wanita mandul itu."


Plak!


Satu tamparan mendarat di pipi kiri Stefani dengan cukup keras. "Jangan kamu berani menghinanya. Meskipun dia tidak bisa mempunyai anak, tapi dia istri yang sempurna untukku." sergah Reno.

__ADS_1


Stefani langsung memasuki kamar dan menguncinya. Dia terduduk di lantai di balik pintu. Tubuhnya bergetar, menahan Isak tangis yang sangat menyayat hatinya. Kini karma itu mungkin sedang menimpanya. Dia tidak pernah menyangka bahwa kepergian Hilwa, malah menjadi awal kehancuran rumahtangganya. "Ayah, ibu. Aku ingin pulang. Apa kalian masih mau menerimaku setelah apa yang sudah aku perbuat. Aku sudah tidak tahan. hiks" gumam Stefani meratapi nasibnya.


* * *


Saat ini akhir pekan.


Hilwa sudah tinggal di rumah orangtua Andre selama 3 bulan lebih. Hanya sebulan sekali hilwa pulang ke rumah orangtuanya. Saat ini dia sangat bersinar dengan dunianya yang sekarang.


Semenjak pertama kali melakukan pemotretan dengan Bu Nita, Hilwa jadi sering di panggil untuk pemotretan majalah untuk edisi busana hijab di berbagai tempat. Hilwa berusaha menjalaninya, karena ini menjalani pengalaman pertamanya. Kalau dulu dia hanya menjadi ibu rumahtangga yang hanya berdiam diri di rumah, sekarang dia jadi wanita berkarir.


Tidak ada yang mengetahui bahwa Hilwa sudah pernah menikah dan akhirnya bercerai, karena usia Hilwa yang masih sangat muda sehingga mereka menyangka bahwa Hilwa masih seorang gadis. Sampai laki-laki pun mengantri untuk sekedar menggodanya bahkan ada yang terang-terangan mengajaknya menikah. Itu semua membuat Andre ketar-ketir takut Hilwa di pinang oleh orang lain.


"Bu, aku ingin menikah" ucap Andre, di saat ibunya sedang duduk di taman belakang rumah. Tentu saja itu yang Bu Eva harapkan dari putranya. "Benarkah, ibu sangat senang mendengarnya Ndre. Tapi siapa wanita yang ingin kamu nikahi?" tanya Bu Eva. Semoga dugaanku tidak salah. batin Bu Eva


"Iya, iya ibu tahu. Dan ibu sangat merestuinya. Hilwa gadis yang baik. Dan kami sangat menyayanginya." sahut Bu Eva akhirnya. "Terimakasih Bu, akhir-akhir ini banyak sekali yang mendekati Hilwa. Aku jadi takut dia dimiliki oleh orang lain." ujar Andre.


"Memang. Di butik ibu saja, banyak teman ibu yang ingin menjodohkan Hilwa dengan putranya. Apalagi setelah Hilwa sukses menjadi model majalah. Dia jadi semakin bersinar ya Ndre?" ujar Bu Eva menjelaskan


"Maka dari itu Bu. Aku ingin secepatnya mengikat Hilwa, bahkan kalau bisa langsung menikahinya. hehe" ucap Andre nyengir. "Sabar dulu donk. Kita tanya dulu, apa dia mau sama kamu, Ndre. Sebab kamu kan bujangan tua." ledek Bu Eva.


"Enak saja bujangan tua. Andre itu laki-laki mapan Bu. Dan umur kami tidak jauh beda, hanya selisih 4 tahun saja. Masa di bilang tua sih." gerutu Andre


"Iya, iya ibu hanya bercanda kok. Kamu jadi sewot kaya gini sih. Walaupun bujangan tua, tapi kamu laki-laki tertampan yang pernah ibu lihat setelah ayahmu tentunya. haha" Bu Eva terus saja menggoda putranya. Andre hanya mendengus mendengar perkataan ibunya yang absurd.

__ADS_1


Tapi memang. Andre mempunyai warisan wajah dari ayah dan ibunya. Pak Indra yang mempunyai badan tegap dan wajah yang gagah sedangkan Bu Eva mempunyai wajah yang imut dan manis. Keduanya sama-sama di wariskan ke putranya. Pikirkanlah sendiri ya, hehe.


"Bu, apa aku lamar Hilwa dulu ya. Ibu mau kan bantu aku?" tanya Andre. "Tentu, apa sih yang nggak untuk putra ibu ini." sahut Bu Eva sumringah


"Bagaimana kalau kita besok pergi ke villa yang ada di puncak. Kebetulan besok masih libur kan, kita ajak Hilwa dan disana kamu bisa melamarnya." saran Bu Eva. "Ide bagus Bu. Andre sudah tidak sabar." seru Andre. "Tunggu dulu. Kita harus meminta izin dulu ke ayahmu." sela Bu Eva. "Ya sudah biar Andre yang bicara sama ayah. Pasti ayah juga akan menyetujuinya bukan. Karena ayah sudah sangat menyukai Hilwa." sahut Andre antusias.


Setelah dengan bujukan Bu Eva akhirnya Hilwa mau ikut pergi ke puncak. Dan Andre pun sudah meminta izin kepada ayahnya, akhirnya mereka berempat mengisi liburan untuk mengunjungi villa mereka yang ada di puncak.


Semua orang berada dalam satu mobil. Andre yang memegang kemudi dan Hilwa yang duduk di sampingnya dengan alasan orangtua Andre tidak mau dipisah.


Sepanjang perjalanan hanya dua orang yang duduk di belakang yang mengeluarkan suara, sedangkan yang duduk di depan hanya terdiam menatap jalanan dengan pikirannya masing-masing.


Setelah menempuh perjalanan selama hampir satu setengah jam, akhirnya mobil itu sampai di villa yang dulu pernah Hilwa kunjungi bersama keluarga mantan suaminya. "Villa ini lagi Mas?" tanya Hilwa pelan yang hanya di dengar oleh Andre. "Iya Wa, nggak papa kan? karena memang villa ini satu-satunya milik kami." jawab Andre.


"Nggak papa Mas" sahut Hilwa, tapi yakinlah hatinya merasa gelisah, entah karena apa.


Mungkin dia mengingat kenangan pahit dan manis saat berkunjung ke villa ini waktu itu. "Ayo kita masuk" ajak Bu Eva dan Hilwa pun mengikutinya.


Setelah semua orang masuk ke dalam, "Hilwa, kamar kamu di atas yah. Biar ibu dan om yang tidur di kamar bawah. Maklum kami sudah tua, hehe." ujar Bu Eva. "Dan Mas, ada di sebelah kamar kamu, Wa." timpal Andre. Hilwa hanya tersenyum menanggapi perkataan nya.


Setalah Hilwa sudah menaiki tangga dan masuk ke kamarnya, barulah mereka berdiskusi untuk acara melamarnya. "Kapan Ndre kamu akan melamarnya?" tanya pak Indra. "Nanti malam yah, kita akan mengadakan makan malam romantis di villa ini. Ayah dan ibu boleh ikut menyaksikannya." seru Andre. "Iya tentu saja. Ayah ingin lihat seromantis apa putra ayah." sahut pak Indra. "Habis itu kita langsung menemui orangtuanya untuk melamar Hilwa secara resmi." timpal Bu Eva. Dan akhirnya mereka pun sepakat.


Mereka sengaja menyuruh Hilwa untuk beristirahat di kamar saja. Sementara mereka sedang mempersiapkan semua persiapan untuk acara makan malam.

__ADS_1


Sampai sore hari akhirnya semua persiapannya sudah selesai, area taman belakang di villa itu di sulap menjadi tempat yang cukup romantis untuk seseorang yang ingin meminang pujaan hatinya.


__ADS_2